
Wisesa Pendekar Kerambit Maut, menatap rekannya satu demi satu. Semua telah hadir, Nuri, Malin, Rao Mudo, Lenggo, Sabai, Binu dan Marda. Hanya Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi yang belum terlihat batang hidungnya.
"Sebelum kita lanjutkan, mungkin Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi mungkin akan langsung menuju Lembah Tengkorak."
Semua yang hadir kaget dan melihat Kerambit Maut dengan sorot mata penuh tanya.
"Bisa kak Wisesa lebih menjelaskan ?" Sabai bertanya dengan ujung alis mata yang hampir bertemu.
"Yaa, sebelum kita berpencar kemaren ini. Sebelum pergi, Raja Pedang mengatakan jika hari ini dia dan Bidadari Suvarnabhumi tidak muncul. Itu artinya mereka langsung menuju Lembah Tengkorak." Sabai dan yang lainnya mengangguk paham. Wisesa melanjutkan dengan...
"Bagaimana dengan hasil perjalanan kalian...?"
Satu demi satu mereka mulai melaporkan hasil kerja mereka. Semua orang lalu berdiskusi membahasnya.
Lewat tengah malam akhirnya mereka mendapatkan sebuah kesepakatan. Setelah Sabai dan Marda memberi masukan.
"Aku merasa, pasukan gabungan sudah mulai bergerak menuju Lembah Tengkorak. Karena dari hasil pengamatan kita di semua pelabuhan. Semua pasukan telah datang beberapa hari lalu." Pemikiran yang disampaikan Sabai didukung penuh oleh Marda.
"Aku setuju. Sebaiknya kita juga mulai bergerak menuju Lembah Tengkorak. Jika memungkinkan, kita bisa membersihkan semua jebakan yang ada di tiga jalur yang akan dilewati oleh pasukan gabungan." Semua yang hadir mengangguk setuju dengan usulan itu.
"Kalau begitu, kita pecah menjadi dua kelompok dan bergerak dari dua arah. Kita pilih dua jalur. Yaitu jalur utama dari arah pelabuhan Luaha dan jalur dari arah Hilinaghe sini. Sedangkan dari arah Luwahaziwara kita berharap Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi sudah membersihkan."
"Saudara Kerambit Maut, kapan kita mulai ? Oh ya, bagaimana pembagian kelompok ini ?"
"Besok pagi usai sarapan kita berangkat. Sebaiknya kita tetap dengan susunan kelompok yang sudah kita jalani." Wisesa, pendekar Kerambit Maut mengakhiri pertemuan kelompok pendekar muda benua Emas di koto Hilinaghe.
Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi melesat dari kerimbunan satu pohon ke pohon lainnya. Sepasang pendekar sakti itu meninggalkan kota pelabuhan Luwahaziwara menyusuri jalan yang memang sudah ada menuju Lembah Tengkorak.
__ADS_1
Jalanan itu sangat berbahaya. Selain harus melewati jalan di pinggir jurang terjal dan sangat dalam. Juga harus melewati hutan larangan yang terkenal sangat angker.
Saat mereka sampai di jalur maut, yaitu jalanan yang tidak terlalu lebar. Disatu sisi adalah dinding bukit batu dengan beberapa pohon yang sangat rimbun. Adapun sisi yang lain, merupakan tebing karang curam.
Raja Pedang berdiri dipinggir tebing yang sangat curam. Dia melihat kebawah. Terlihat ombak-ombak besar menghantam dinding karang yang hitam. Setiap kali ombak besar menghantam karang tampak buih bewarna putih memenuhi permukaan laut di bawah.
"Hmm... pasti tidak ada yang akan selamat. Andai saja rombongan pasukan gabungan diserang anggota sekte Tengkorak Merah ketika melewati jalur ini." Raja Pedang berkata mendusin dalam hati.
"Yayaang, aku pikir kita perlu menghilangkan semua jebakan dan apapun yang bisa mengganggu dan merusak kekuatan pasukan gabungan jika ada yang meliwati jalur maut ini." Mendengar ucapan Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi ikut berdiri di pinggir jurang. Lalu dia mengedarkan pandangannya kesegala arah.
Kemudian wanita cantik jelita yang suka berpakaian putih itu mengangguk kecil kepada Raja Pedang. Tiba-tiba saja mereka menghilang. Ada dua puluh orang lebih mengawasi mereka dari atas bukit setengah batu. Juga ada belasan orang dengan anak panah dan busur terentang siap untuk ditembakkan jadi kaget. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
"Apakah mereka hantu...?" Seorang pemanah bertanya pada rekan di sebelahnya.
"Bukan, kalau mereka hantu, tentu tidak bisa muncul siang siang begini." Seorang teman pemanah lain yang cukup pintar menanggapi pertanyaan rekannya itu.
"Jika itu benar Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi. Apakah Patriak sanggup menghadapi mereka ?" Rekan rekannya yang lain melihat kearah teman mereka yang berbicara pelan. Sebelum ada yang sempat memberi tanggapan.
"Benar-benar kalian dari sekte Tengkorak Merah bersiap untuk menyergap di jalur ini." Semua anggota sekte gerombolan Tengkorak Merah tersentak kaget.
"Seorang yang terlihat seperti kepalanya membentak Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi dengan keras. Dia sengaja melakukan sambil menenangkan degup jantungnya yang berdetak keras tak beraturan. Tentu saja dia sadar, bahwa itu adalah sepasang muda mudi yang tadi berada dijalan di bawah.
"Siapa kalian...? Mau apa kesini... ?!!"
"Sudah ketahuan, lalu pura bertanya dengan suara keras begitu ??
Nah matilah. Rasakan sendiri seperti apa jika jatuh dan ditimpa batu ke jurang sana."
__ADS_1
Raja Pedang mengebutkan tangan.
Tiba-tiba muncul hembusan angin yang sangat kuat. Itu adalah bagian dari pukulan tanpa ujud.
Semua anggota sekte gerombolan Tengkorak Merah yang ada diatas bukit itu terbang. Terpelanting dari atas bukit jatuh ke jurang disambut batu karang dan terjangan ombak besar besar. Ternyata bukan hanya mereka, tetapi semua tumpukan batu batu besar yang ada disana ikut berjatuhan dan masuk kedalam jurang.
Semua anggota pasukan pemanah yang bersembunyi dibalik rimbunan daun terdiam dan melongo melihat kejadian itu.
"A... ap... apa yang terjadi ?" beberapa dari mereka saling bicara dengan kebingungan. Salah seorang dari mereka berteriak...
"Ayooo... kita tinggalkan tempat ini...!!" Namun saya sekali tiba-tiba muncul tiupan angin yang sangat kencang. Seluruh dedaunan yang ada pada pohon pohon tempat mereka bersembunyi rontok.
Anggota pemanah terlihat semua memeluk erat batang pohon agar tidak terbang tertiup angin.
Melihat itu, Bidadari Suvarnabhumi menimpuk lengang mereka satu persatu dengan sangat cepat. Akibat timpukan itu mereka tidak mampu lagi bertahan dan semua jatuh kedalam jurang terjal.
Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi melanjutkan perjalanan mereka. Ketika pasukan gabungan kelompok ketiga yang melewati jalur. Semua melihat banyak pohon pohon yang tidak memiliki daun.
Tiga anggota telik sandi berlari tergopoh-gopoh ingin menemui Patriak sekte gerombolan Tengkorak Merah.
"Ada apa dengan kalian ??" tetua yang menangani divisi telik sandi membentak ketiga anggota telik sandi itu.
Dengan suara terputus putus dan nafas yang masih tersengal mereka memberi laporan.
"Aku Lincia, bertugas di Luwahaziwara. Pasukan gabungan sudah bergerak kesini. Mereka sudah melewati jalan tebing maut. Tapi tidak terjadi apa-apa. Ketika aku memeriksa, tidak ada satu orangpun anggota kita ada disana. Juga tidak ada tumpukan batu dan... dan pohon-pohon tempat dimana seharusnya anggota pemanah berada. Semua pohon sudah gundul dan tidak ada pasukan pemanah satu orang jua."
\=\=\=\=\=***
__ADS_1