Raja Pedang

Raja Pedang
#60. Berjumpa Mangaraja Tohir


__ADS_3

"Guru sangat bangga dengan mu Mayang. Dalam usia muda kamu telah menorehkan nama besar di dunia hijau rimba persilatan." Dewi Rambut Emas berbisik dengan suara lembut pada Dhamma Mayang. Gadis cantik jelita itu menatap gurunya.


"Apakah itu yang dimaksud Patriak dengan Sepasang Bidadari ?" Dhamma Mayang balik bertanya kepada gurunya Dewi Rambut Emas.


"Ya... kalian bertiga menjadi buah bibir orang rimba hijau dunia persilatan sekarang ini." Dewi Rambut Emas membenarkan pertanyaan Dhamma Mayang.


Nirmala melangkah santai disamping Lindu. Matanya asik berkeliaran melihat kesana-kemari. Gadis cantik itu menikmati semua tatapan kagum yang terarah kepada dirinya. Lindu tersenyum kecil melihat laku gadisnya yang ceria itu. Lindu tetap tenang melangkah bersisian dengan Kale Lepak Sakti.


---***


Kapal layar besar Sibua Buali mulai merapat di dermaga pelabuhan teluk Belukar. Para penumpang kapal bersiap untuk turun.


Iblis Cantik Tambun Tulang berjalan dengan Mantiak Rayo turun dari kapal. Badak Mantagi ikut berjalan dalam rombongan Dubilih Galo. Lelaki bertubuh gempal itu melangkah disisi tetua Sagalo Lincia. Mereka menjadi dekat setelah perkenalan diatas kapal. Mereka berdua juga menjajaki kerjasama sekte Iblis Tambun Tulang dan sekte Dubilih Enggano.


Setelah mendapatkan kuda kuda mereka, rombongan itu melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka adalah markas besar gerombolan Tengkorak Merah. Markas gerombolan Tengkorak Merah berada disebuah lembah dekat koto Hilifalawo. Lembah angker itu bernama Lembah Tengkorak.


Butuh waktu satu setengah hari berkuda tanpa henti dengan kuda yang bagus. Itu berarti mereka harus istirahat di koto Hilinaghe.


Dua hari kemudian mereka sudah berdiri didepan pintu gerbang markas besar gerombolan Tengkorak Merah. Gerbang markas itu sangat menyeramkan. Tiang gerbang dilapisi tulang rangka manusia. Pada bagian atas tersusun berjejer tengkorak asli.


Dua orang penjaga gerbang maju mendekati mereka.


"Dari sekte mana Tuan ?" dia bertanya dengan sikap cukup baik. Patriak Dubilih Galo menyerahkan token miliknya tanpa turun dari kudanya. Penjaga itu menerima token dari Dubulih Galo dengan wajah kurang ramah. Sejurus kemudian, penjaga itu berubah sikap. Dia langsung menjura dalam setelah melihat token Patriak Dubilih Enggano.


"Silahkan masuk Patriak sekte Dubilih Enggano dan semua rombongan." Penjaga itu mempersilahkan Patriak Dubilih Enggano dan semua anggota rombongannya.


Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang tidak ikut masuk. Lelaki gempal itu menyerahkan token miliknya. Penjaga yang menerima token kembali menjura.


"Tetua Badan Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang. Silahkan masuk." Penjaga itu mengembalikan token milik Badak Mantagi dan milik Iblis Cantik Tambun Tulang.

__ADS_1


Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang cukup kagum melihat markas yang sangat luas dan bersih. Ada banyak tamu dari berbagai sekte golongan hitam disitu. Badak Mantagi sedikit tidak nyaman hanya datang berdua dengan Banowati dan tanpa undangan.


Tetua pertama sekte Iblis Tambun Tulang itu tidak tau. Undangan untuk pertemuan sekte golongan hitam itu datang dua hari setelah dia dan Iblis Cantik Tambun Tulang berangkat. Seorang anggota Tengkorak Merah mengantar mereka ke bungalow khusus yang telah disediakan untuk sekte Iblis Tambun Tulang.


Masih ada waktu satu minggu kedepan untuk pertemuan resmi. Para Patriak dan Tetua dari berbagai sekte yang sudah hadir lebih dulu saling bertukar cerita. Pada kondisi itu pula Badak Mantagi baru mengetahui jika dia dan Iblis Cantik Tambun Tulang jadi burunon klan Mangaraja. Tentu saja dia kaget dan tidak menyangka hal itu akan terjadi.


Sehari sebelum hari pertemuan dilaksanakan. Harimau Kumbang, Patriak sekte Iblis Tambun Tulang dan Kalo Mantiko beserta sepuluh anggota senior sekte Iblis Tambun Tulang tiba di markas Tengkorak Merah.


Mereka juga mendengar kabar bahwa klan Mangaraja telah menyatakan perang dengan sekte Iblis Tambun Tulang. Namun Harimau Kumbang dan rombongan menghindari bentrok dengan klan Mangaraja mengingat waktu pertemuan yang sudah kasib.


Pada hari yang sama dengan kedatangan Harimau Kumbang. Datang pula Haloan yang terkenal dengan gelar Pandeta Iblis Patriak sekte Darah Hitam bersama dua Tetua sekte dan sepuluh anggota senior sekte. Tetua yang ikut adalah Birong Biang dan Birong Bodat. Kedua tetua sekte Darah Hitam berada ditingkat langit puncak.


Tiga hari sebelumnya Badak dan Iblis Cantik Tambun Tulang sudah menghadap Patriak Tengkorak Merah Setan Merah. Pada waktu itu Setan Merah menjanjikan akan mengerahkan semua cabang gerombolan Tengkorak Merah di wilayah tengah untuk memburu Raja Pedang.


Patriak Tengkorak Merah juga akan mengirim seorang tetua Tengkorak Merah Pati Marpuang seorang Tetua tingkat suci tinggi untuk menumpas Raja Pedang.


---***


"Begini caramu menyambut tamu Palimo ??" terdengar suara Mangaraja Tohir penuh tekanan. Suara yang dilampiri tenaga mendalam tingkat tinggi itu menggetarkan dada semua orang.


"Ha haa haaa... Akhirnya kau datang juga ketempatku Tohir. Selamat datang sobat lama. Ha haa haaa..." terdengar suara tawa besar Kale Lepak Sakti sebelum orangnya muncul.


"Bunda...!!" terdengar suara bening merdu disusul sosok Nirmala yang langsung memeluk Ratu Shima. Wanita cantik menawan itu langsung memeluk Nirmala dan tersenyum lembut. Wajahnya lebih cerah setelah melihat putrinya.


"Selamat datang Bunda Ratu" Lindu dan Dhamma Mayang menjura bersama kepada Wanita cantik menawan itu. Ratu Shima memeluk Bidadari Suvarnabhumi dan menepuk lembut bahu Lindu.


"Ayo kita ke pondok ku" ajak Kale Lepak Sakti.


Mangaraja Tohir, Ratu Shima bersama Kale Lepak Sakti menuju kediaman Patriak sekte Tapak Dewa. Nirmala, Lindu dan Dhamma Mayang mengikuti mereka.

__ADS_1


"Tohir, Palimo... tunggu aku" sebuah suara penuh kharisma terdengar diudara. Mereka serempak melihat keudara. Begitu juga dengan orang orang yang masih berada di lapangan. Seorang pria gagah dengan kharisma kuat turun dari langit. Pria itu adalah Kaisar Dharma Andaleh.


"Waaah... diam-diam kau telah mendapatkan ilmu baru Dharma ?!!" terdengar teriakan kagum Kale Lepak Sakti. Kaisar Dharma Andaleh tersenyum lebar dengan gaya bangga. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Lindu. Lindu, Dhamma Mayang dan Nirmala tersenyum melihat tingkah Kaisar Dharma Andaleh.


Setelah berpelukan erat dengan Mangaraja Tohir. Kaisar bertukar sapa dengan Ratu Shima dan memeluk putrinya Dhamma Mayang, dan menepuk hangat pundak Lindu.


Mereka berkumpul diruang tengah kediaman Kale Lepak Sakti yang luas. Ratu Shima menjelaskan tentang Nirmala kepada Mangaraja Tohir.


"Suamiku, ini adalah Nirmala putri kita. Sesuai petujuk wangsit, sejak bayi dia telah aku titipkan pada Seriti Merah."


Pria gagah yang duduk disebelah Ratu Shima itu menatap dalam pada Nirmala. Dia yang merasakan debaran di dadanya tidak karuan sejak melihat Nirmala berpelukan dengan istrinya. Langsung mendekati dan memeluk erat Nirmala.


"Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini Lala putriku." suara Mangaraja Tohir terdengar mengambang. Matanya tiba-tiba buram ditutupi kabut. Ada rasa bahagia, haru, sedih dan rasa marah berkecamuk di dalam dadanya.


"Jangan nangis kau Tohir" Kaisar Dharma Andaleh mencandai Mangaraja Tohir. Mangaraja Tohir menghela nafas berat dan tersenyum mendengar candaan Dharma Andaleh.


"Kau adalah orang paling was was kalau pergi sendirian, diantara kita Dharma. Mana budak budak yang selalu menjagamu dari gangguan hantu ??" Mangaraja Tohir balas ngeledekin Kaisar Dharma Andaleh. Mereka tertawa keras bersama. Saat-saat seperti ini, tidak kelihatan jika Dharma Andaleh adalah seorang Kaisar yang sangat berkuasa di wilayah selatan dan paling disegani di benua Emas.


Mereka semua larut dalam kebahagiaan. Lindu merasa ada kehangatan didalam dadanya. Pemuda tampan itu tersenyum mengamati semua yang terjadi.


"Tunggu..." Kale Lepak Sakti bicara pada semua orang.


"Apakah kau Mangaraja dan Ratu Shima masih lelah dan perlu istirahat dulu." Mangaraja Tohir merubah posisi duduknya. Jika Palimo menyebutkan namanya dengan Mangaraja pasti ada sesuatu yang penting. Dia melihat kearah istrinya, lalu menggeleng.


"Kami tidak lelah. Ada apakah Palimo ?" suara Mangaraja Tohir terdengar lebih serius.


\=\=\=***\=\=\=


#budak-budak maksudnya adalah para pengawal kaisar.

__ADS_1


__ADS_2