
Nirmala terlihat melesat tinggi keudara. Setelah bersalto dua kali, gadis cantik dengan lesung pipi itu menukik sangat cepat kearah lawannya.
Lelembut menembus bayangan
Nirmala meluncur dengan kecepatan sangat tinggi kearah Kala Emas. Merasa tidak mungkin lagi untuk terus bertarung. Karena hampir semua rekannya sudah tergeletak tak bernyawa. Hanya tinggal dirinya yang menjadi permainan lawannya. Dia tidak pernah menyangka hari ini adalah hari terakhir bagi dirinya dan mungkin juga hari terakhir sekte Kala Hitam.
Kala Emas menghimpun esensi energi mendalam dan zhenqi nya secara maksimal. Dia bersiap untuk beradu nyawa saat serangan Nirmala menyentuh dirinya. Namun Kala Emas tiba-tiba terkejut karena Nirmala hilang begitu saja dari pandangannya.
Craasssh...!!
Dalam kondisi bingung, tiba-tiba kepalanya jatuh dan menggelinding ditanah. Tetua Agung sekte Kala Hitam itu mati tanpa mengetahui sebab kematiannya. Matanya masih melihat bingung ketika tidak lagi menggelinding.
Tinggal pertarungan Bidadari Suvarnabhumi dengan Kala Biru. Semua anggota rombongan sekte Kala Hitam sudah berhenti. Tidak satupun dari mereka yang selamat dari kematian.
Melihat tidak ada lagi seorang jua pun yang bertahan hidup. Semangat tempurnya Kala Biru hilang begitu saja. Tetua kelima sekte Kala Hitam itu membuang pedangnya dan menyerah. Melihat Kala Biru menyerah, Lindu langsung menyegel dantiennya.
"Rimba Rasam..." terdengar suara penuh rasa kecewa dari mulut Tungka Bulian.
"Bunuhlah aku sekarang.." tapi Rimba Rasam hanya menatap Patriak sekte Kala Hitam itu. Tidak ada satu suarapun keluar dari mulutnya. Ada perang berkecamuk didalam dadanya. Keinginan besar melampiaskan dendam yang selama ini mengikuti langkah nya. Serta keinginan untuk memberi kesempatan kedua bagi Tungka Bulian.
"Apakah kau tidak ingin membalas dendam kepada ku, yang telah membunuh dua orang tua mu ? Bukankah aku juga telah melecehkan ibumu ?" Tungka Bulian mencoba memprovokasi Rimba Rasam, agar Kepala Desa Semak itu segera membunuhnya. Rimba Rasam menatap dalam kepada Tungka Bulian. Kepala Desa Semak itu menghela nafas panjang. Lalu dengan pelan ia bicara.
"Bukankah apa yang sedang kau alami sekarang lebih buruk dari pada kematian ? Aku tidak tertarik untuk membunuh mu. Tapi kalau kau benar-benar mau mati. Kenapa kau tidak membunuh dirimu sendiri ?" Tungka Bulian terdiam dengan cara Rimba Rasam bertanya.
Tentu saja sangat berbeda situasinya antara bunuh diri dengan dibunuh. Bunuh diri adalah kematian yang sangat hina bagi seseorang pendekar sedangkan mati dibunuh lawan adalah satu kehormatan.
Tungka Bulian saling tatap dengan Rimba Rasam. Banyak hal yang mereka berdua komunikasikan lewat tatapan itu. Setelah cukup lama saling diam, Tungka Bulian menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan keras.
__ADS_1
"Baiklah... Jika memang kau tidak mau mencabut nyawaku akan mati dengan cara paling hina ini." Rimba Rasam hanya menatap Tungka Bulian dalam diam.
Patriak sekte Kala Hitam itu mengambil pedangnya dan berdiri tegak dengan kaki terpentang. Tungka Bulian meletakkan mata dilehernya. Dia melihat kearah Lindu, lalu melihat sekilas kepada Mayang Mangurai. Ada rasa lara, kasih dan sesal ketika melihat kepada Mayang Mangurai.
Tungka Bulian benar-benar ingin menikahi gadis manis anak dari Kepala Desa Semak. Dia tidak pernah mengira ketika rasa cinta dan kasih yang tulus datang. Ketika keinginan untuk memiliki istri yang dia cintai. Dia juga harus melepaskan kehidupan nya.
Tungka Bulian memindahkan pedang dari lehernya. Ujung pedang sekarang berada di dadanya. Tepat didepan jantungnya. Tungka Bulian menatap Rimba Rasam agak lama. Pria gagah, Patriak sekte Kala Hitam itu lalu menganggukkan kepalanya sedikit, dan...
Jleebb...!!
Pedang ditangan Tungka Bulian menembus dadanya, jantung dan terus kepanggung lelaki itu. Dia melihat kearah Mayang Mangurai dan seulas senyum tulus tergambar di bibirnya. Tubuh Tungka Bulian jatuh diatas kedua lututnya, lalu rebah kearah kiri. Patriak sekte Kala Hitam mati sambil menatap Mayang Mangurai.
Kala Biru tergetar hatinya melihat kematian Patriak sekte Kala Hitam. Sekarang adalah giliran dirinya.
Tetua Hampu dan Sabai merubah penampilan mereka. Tidak terlihat sama sekali dari tampilannya bahwa mereka adalah sisa-sisa sekte Awan Bararak. Sekarang mereka berdua lebih terlihat seperti pelancong. Tetua Hampu memakai pakaian berwarna serba coklat dengan bordiran warna emas. Dia mengenakan deta dengan warna senada sebagai ikat kepala. Sabai memakai baju ringkas warna kuning dengan sabuk lebar warna merah.
Setelah mendapatkan kereta dan kuda yang baik, Hampu dan Sabai melanjutkan perjalanan mereka. Rencana Hampu mereka akan jalan memutar, melewati tingkatan Balingka terus ke Malalak baru akan dilanjutkan menuju sekte Alang Barat di Sunua.
Lindu menatap Kala Biru yang diam tertunduk. Tetua kelima sekte Kala Hitam tampak lesu dan seperti tidak memiliki semangat lagi. Setelah melihat kematian para Tetua sekte. Semua anggota sekte yang ikut dan terakhir adalah cara mati hina Patriak Tungka Bulian. Ketika Lindu memberi sebutir pil, dia dengan rela menelan pil itu.
"Jelaskan dimana markas sekte Kala Hitam." perintah Lindu.
Kala Biru menjelaskan secara detail kepada Lindu.
"Markas besar berada di hutan andaleh di lembah hutan Bulian. Untuk menuju kesana butuh waktu sekitar lima jam dengan kuda yang bagus. Tuan hanya berjalan lurus menuju timur. Setelah menemukan hutan rawa sagu, belok ke kiri. Tuan harus menyusuri hutan rawa yang penuh jebakan....." Kala Biru menjelaskan secara detail tanpa paksaan. Tidak ada raut sesal diwajahnya, seakan dia memang sudah berniat untuk membeberkan semua tentang sekte Kala Biru.
Setelah hening sejenak. Kala Biru kemudian melanjutkan penjelasannya.
__ADS_1
"Ada tiga ratus lebih anggota sekte Kala Hitam saat ini berada dimarkas. Diluar itu ada dua orang Tetua yaitu Kala Perak, tetua pertama dengan tingkat langit puncak. Lalu tetua ketiga, Kala Hijau yang berada ditingkat langit menengah. Masih ada lagi dua orang tamu yang menjadi utusan Tengkorak Merah. Seorang lelaki orang benua Tionggoan bernama Ang Coa Mosin, dan seorang wanita bernama Iblis Binal Lembah Tengkorak.
Orang Tionggoan itu tingkatan nya sangat tinggi. Bahkan sedikit lebih tinggi daripada Tungka Bulian. Iblis Binal Lembah Tengkorak sepertinya juga sudah berada setidaknya ditingkat suci awal atau mungkin menengah." Kala Biru menatap Raja Pedang, mengakhiri penjelasannya.
Kila Biru tidak melihat sedikit riak pun diwajah Raja Pedang. Pendekar besar itu terlihat biasa saja. Tapi ketika Kala Biru mengalihkan pandangan kepada Sepasang Bidadari dia sedikit merinding.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala saling pandang dan tersenyum lebar. Kedua wanita cantik menawan itu sangat senang mendengar akan ada lawan hebat.
"Uda... apakah kita berangkat sekarang menuju markas Kala Hitam ?" Nirmala bertanya antusias kepada Lindu.
Mendengar pertanyaan dari Nirmala, Lindu melihat kearah Dhamma Mayang. Kemudian Lindu mengangguk. Sesaat kemudian kemudian mereka melesat keudara dan menghilang.
Semua yang melihat orang di tempat itu tidak bisa menahan rahang mereka berjatuhan.
"Sekte Kala Hitam sudah usai" Kala Hitam berkata dalam hati. Tiba-tiba suara Raja Pedang terdengar sangat jelas.
"Rimba Rasam kami pergi ke markas sekte Kala Hitam. Aku serahkan Kala Biru kepada kalian."
Mendengar suara Raja Pedang, Rimba Rasam dan semua orang menjura hormat kearah perginya Raja Pedang dan Sepasang Bidadari.
\=\=\=***\=\=\=
Fyi.
Telah mulai tayang cerita silat khas Minangkabau. Berkisah tentang seorang pendekar sakti bernama Mandaga yang ikut terlibat dalam proses sampai berdirinya kerajaan Pagaruyung.
Ikuti kisahnya di novel Pandeka Pedang Bulan Sabit.
__ADS_1