Raja Pedang

Raja Pedang
#116. Pertarungan Malin


__ADS_3

Rao Mudo berjalan santai bersama Marda dikawasan pelabuhan Luaha.


"Marda, Bagaimana kalau kita mencari minuman yang segar dulu ? Udara disini terlalu terik. Sepertinya rombongan Laskar Gabungan juga sudah pada keluar semua.


Nanti setelah minum kita cari Malin dan Nuri untuk berkunjung ke posko Laskar Gabungan di Luaha ini ?"


"Boleh banget Rao. Aku juga merasa haus setelah bertarung dengan anggota sekte Tengkorak Merah tadi."


Nuri masih terus mencari Rao Mudo dan Marda. Setelah mencari keberbagai tempat dia tetap tidak menemukan Rao Mudo dan Marda.


Matahari bersinar makin terik. Udara terasa panas sekali. Nuri melangkah perlan sambil melihat keberbagai arah mencari Rao Mudo dan Marda.


'Aaah... aku cari minum dulu di warung itu' Nuri berkata dalam hatinya.


Begitu memasuki warung kelapa, dia melihat Rao Mudo dan Marda lagi meneguk kelapa muda.


Nuri langsung duduk di bangku seberang dua pemuda itu. Tanpa basa basi dia meraih kelapa muda yang ada didepan Marda. Lalu dengan santai meneguk air kelapa itu nyaris sampai habis.


Gluk... gluk... glek....


Hhaashhh...


"Hai non... itu kelapa ku" Marda bersungut-sungut melihat Nuri meneguk kelapa mudanya sampai nyaris habis.


"Aaahhh... pelit kali kau. Kan bisa pesan lagi,, aku haus banget, gilaa... Udaranya terlalu panas." Rao Mudo tersenyum kecil melihat keakraban itu.


"Nona Nuri, mana saudara Malin ??"


"Waduh... sampai lupa aku. Ayo aku sengaja mencari kalian berdua. Sekarang ajo Malin lagi menunggu kita.


Ayo berangkat, nanti ku ceritakan sambil jalan." Nuri bicara dengan gaya dan irama orang Tano Niha.


Tiga pendekar muda itu segera keluar meninggalkan warung. Sesaat kemudian mereka melesat dari wuwungan satu bangunan ke bangunan lain.


Sementara itu, didepan pos unit telik sandi sekte Tengkorak Merah, Malin hening dalam diam. Dia terus mengawasi segala kejadian yang dalam lingkungan. Orang yang meninggalkan pelabuhan dengan buru buru tadi memasuki sebuah ruangan khusus. Tungka kepala pasukan telik sandi sekte Tengkorak Merah menatap tajam kepada Bardun yang baru masuk dengan tergopoh-gopoh. Bardun anggota pengintai atau pasukan telik sandi sekte Tengkorak Merah masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.


"Ada apa Bardun ?" suara halus namun tajam milik Tungka terdengar menusuk telinga.

__ADS_1


"Kepala... pasukan gabungan pendekar yang akan menyerang markas sudah tiba di pelabuhan Luaha. Mereka sudah turun semua." Suara Badrun terputus putus karena nafasnya masih tersengal. Dia terus berlari dari pelabuhan Luaha sampai ke posko tanpa henti. Dia harus segera melaporkan keganjilan yang ditemukan di Luaha.


Mendengar laporan itu, Tungka menjadi sangat marah. Suaranya melengking tinggi.


"Kenapa kau baru melapor ?! Mana yang laiiin...!!!?"


"Mereka... mereka semua telah terbunuh Ketua." Tungka terkejut mendengar laporan Bardun.


"Apakah ada yang mengikuti kau kesini ??" Tungka menatap Bardun penuh selidik.


"Tidak ada Ketua."


"Panggil semua anggota yang diluar untuk berkumpul disini. Sekarang !!" Bardun segera menghilang dari ruangan remang itu untuk memanggil rekan rekannya.


Dalam waktu singkat semua masuk berdiri didepan Tungka. Ada sebelas orang semua termasuk Badrun dan Tungka.


Melihat semua orang menghilang. Malin melesat masuk kedalam posko telik sandi sekte Tengkorak Merah. Pemuda itu perlahan mengendap endap mencari dimana orang orang itu menghilang. Didekat sebuah ruangan Malin mendengar suara halus tajam sedang bicara.


Tiba-tiba seorang anggota pasukan telik sandi yang baru balik dari buang air melihat Malin. Dia langsung berteriak dan menyerang Malin.


"Ada penyusuuup...!!"


Traaanggg...!!


Terdengar dentang benturan dua logam padat. Orang itu terdorong mundur. Tungka, Badrun dan anggota telik sandi segera keluar untuk membantu rekannya. Malin sudah melenting keluar.


Dihalaman posko, Malin segera dikelilingi oleh dua belas orang anggota telik sandi.


"Hebat...! Kau bernyali besar berani masuk ke sarang macan. Sebutkan siapa kau, agar aku bisa menuliskan nama di nisan mu." Tungka bicara dengan suara yang melengking. Malin menatap kearah Tungka.


"Apakah kau yang jadi pemimpin di tempat ini ?"


"Betul, aku Tungka, ketua telik sandi sekte Tengkorak Merah untuk Luaha. Sekarang sebutkan siapa kau dan mau apa kesini ?!"


"Aaaa..." Malin berkata dengan suara mengayun.


"Aku Malin. Aku kesini tentu saja untuk membunuh kalian semua !" Mendengar itu Tungka tidak bicara banyak lagi. Perintah segera keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Seraaang...!! Tangkap orang tolol itu !!" Semua anggota telik sandi segera menyerang.


Traaanggg...!! Triiiingg...!!


Benturan senjata beradu mulai terdengar. Meski lawan lawannya berada ditingkat emas dan raja, namun karena jumlah mereka lumayan banyak cukup membuat repot Malin.


Beberapa orang mulai terluka. Jerit kesakitan dan sumpah serapah serta makian terdengar diantara pertarungan itu.


Tiba-tiba Malin membuat gerakan tipuan. Seorang anggota telik sandi yang mau menyerang dan berada dibelakangnya. Malin maju setengah tindak, pemuda itu mendoyongkan badannya kedepan. Lalu dalam kondisi doyong dia meliuk berputar. Pedangnya mencuat keatas. Anggota sekte Tengkorak Merah yang menyerangnya tersentak ketika ditusuk oleh pedang Malin bagian ulu hatinya. Dia langsung terjengkang dan tewas.


Melihat itu Tungka langsung nimbrung menyerang Malin. Adanya Tungka yang ikut menyerang merobah situasi pertarungan. Setiap kali Malin melakukan serangan kepada anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah, maka Tungka akan segera menyerang dirinya. Jika dia memburu Tungka, maka semua anggota telik sandi akan menyerangnya. Pelan namun pasti posisi Malin mulai ditekan.


Sampai suatu waktu ujung pedang Tungka menggores sedikit punggungnya. Darah langsung mengucur dari luka itu dan membasahi punggung Malin. Lukanya tidak seberapa namun sedikit banyak telah mempengaruhi Malin.


Putra tunggal penguasa nagari rantau Piaman kembali menata posisi serangnya. Dia melesat dengan cepat kearah seorang anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah yang paling lemah.


Orang itu tersentak ketika Malin sudah berada persis didepannya.


Zleeebb...!!


Pedang Malin menembus dada anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah. Dia jatuh terjengkang. Darah memuncrat dari bekas luka di dadanya. Mati !!


Melihat rekannya mati, anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah menyerang Malin semakin ganas. Serangan mereka datang susul menyusul.


Malin memutar pedangnya bagai kintiran. Sesekali dia balas menyerang. Ketika melihat satu celah, Malin menebas kearah satu anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah. Pria itu tidak sempat menghindar. Dia mengayun goloknya untuk menangkis. Namun kalah cepat dengan lintasan pedang Malin.


Craasssh...!! jerit kematian terdengar dari mulut pria itu. Dia menahan bekas luka diperutnya. Namun luka itu terlalu lebar dan dalam. Sebagian ususnya menjuntai keluar. Pria itu berupaya untuk menahan dan memasukkan kembali. Kakinya bergetar lalu jatuh tersungkur dan mati !


Slaash...!! Aach!!


Malin juga menjerit. Satu tusukan yang dilakukan Tungka. Serangan Tungka menembus bahu kanannya dari belakang tembus kedepan. Malin maju dua tindak kedepan. Tusukan pedang Tungka lepas. Darah mengucur membasahi pakaian Malin di bagian dada dan punggung.


Luka yang makin banyak dan darah yang terus membuat Malin merasa lemas. Dia melirik kearah gerbang posko. Mencoba mencari cari bayangan Nuri, Rao Mudo dan Marda.


"Ha haa haaa haaa... Bersiaplah kau untuk bertemu raja neraka !" Tungka berkata dengan jumawa. Dia melihat Malin yang makin lemas.


Tungka melesat kearah Malin. Kelewangnya mengayun cepat menebas menuju leher Malin. Malin tak mampu lagi menangkis serangan Tungka. Dia melempar tubuhnya kebelakang. Lehernya selamat tapi pundaknya sobek cukup lebar bahkan tulang pundaknya sampai terlihat.

__ADS_1


Tungka tidak berhenti. Dia kembali menerjang, pedangnya menusuk lurus kearah jantung Malin. Tidak mungkin lagi untuk menghindar ataupun menangkis. Malin memejamkan matanya dan bersiap menerima kematian.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2