Raja Pedang

Raja Pedang
#113. Kekacauan di Luwahaziwara


__ADS_3

Kota pelabuhan siang itu Luwahaziwara sangat kacau. Terbunuhnya dua orang pentinggi sekte Tengkorak Merah bersama tiga orang tamunya menjadikan kota pelabuhan itu kacau balau.


Puluhan orang anggota sekte Tengkorak Merah melakukan pencarian. Berbagai tempat habis diobrak abrik. Namun pembunuhnya belum juga ketemu. Semua rumah makan, kedai, penginapan, bahkan rumah rumah warga diperiksa dengan teliti. Tetap saja hasilnya nihil.


Kejadian ini benar-benar telah menampar muka sekte sesat Tengkorak Merah. Bagaimana tidak. Kota pelabuhan Luwahaziwara adalah daerah kekuasaan sekte Tengkorak Merah. Sekarang dua orang petinggi tingkat menengah sekte yang sedang menemani tiga orang tamu dari Tionggoan dan Semenanjung Malayana terbunuh. Terbunuh ditengah kota pelabuhan Luwahaziwara yang ramai. Sampai sekarang tidak juga diketahui siapa yang jadi pembunuhnya. Bahkan orang yang dijadikan tersangka juga belum ada.


Informasi terakhir yang berhasil mereka dapatkan. Pembunuhnya ada sepasang. Tapi wajahnya tidak terlihat. Menurut orang-orang yang berusaha datang ketempat pertarungan.


"Kami tidak benar-benar bisa melihat wajah pembunuhnya. Saat kami mendekat, hanya terlihat dua bayangan yang menghilang dengan sangat cepat."


Celakanya pedagang kelapa muda tempat kejadian itu juga menghilang. Pemilik kedai kelapa itu, sudah melarikan diri saat pertengkaran terjadi. Dia sadar tidak akan pernah ada akhir yang baik jika terus berada disana.


"Anak muda tunggu...!" Seorang pria tengah baya meminta Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi untuk berhenti. Pria tengah baya itu berjalan dengan cepat diikuti oleh lima orang rekannya.


Tanpa menoleh, Raja Pedang menarik tangan Bidadari Suvarnabhumi dan melesat dengan cepat meninggalkan pria tengah baya itu.


"Hai... Tunggu...!!" pria tengah baya itu berteriak. Raja Pedang tidak peduli. Dia mempercepat larinya sambil tetap menggandeng tangan Bidadari Suvarnabhumi.


Pria tengah baya itu segera melesat mengejar Raja Pedang diikuti oleh lima orang rekannya.


Raja Pedang terus berlari cepat kearah hutan. Dia mengatur kecepatan sehingga pria paruh baya dengan lima rekannya secara perlahan berhasil menyusul dirinya dan Bidadari Suvarnabhumi.


Mereka terus berlari dengan cepat memasuki hutan yang berada di barat daya dari kota pelabuhan Luwahaziwara. Hutan itu cukup gelap karena hujan basah.


"Berhenti kalian !!" Pria tengah baya membentak begitu dia melewati Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi.


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi segera dikurung oleh enam orang yang terlihat seperti orang-orang dari Semenanjung Malayana dan Tionggoan.

__ADS_1


"Siapa kalian ? Kenapa kalian semua mengejar kami ??". Suara Bidadari Suvarnabhumi terdengar tajam dan sedikit melengking. Wajahnya memerah karena marah. Namun terlihat semakin cantik menawan.


"Kenapa kalian melarikan diri ketika kami panggil." Pria tengah baya itu tersenyum mengejek. Lima orang rekan pria tengah baya menatap tajam penuh curiga kepada Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi.


"Ayo sekarang jelaskan pada kami, kenapa kalian berdua melarikan diri ketika kami panggil ?" Bidadari Suvarnabhumi mendengus dingin.


"Kalian memang sengaja mau cari gara-gara. Sebutkan siapa kalian, agar kami tidak salah tangan !!" Bidadari Suvarnabhumi membentak dengan nada tajam.


"Ha haa haaa haaa haaah... Ketahuilah Nona, aku Kuto Arik salah seorang tetua dari sekte Tengkorak Merah. Sedangkan dia..." Pria tengah baya yang bernama Kuto Arik itu menunjuk seorang pria gundul bertubuh gempal. Pria yang ditunjuk, mengusap kepalanya yang gundul licin sambil menyeringai. Mungkin maksudnya itu tersenyum.


"Dia adalah Kilek Langik salah seorang dari ketua divisi Pembunuh Gembira. Belum pernah ada lawan yang lolos dari kematian jika berhadapan dengan Kilek Langik.


Empat orang yang lain adalah Tun Dayak dan Seramban dua orang Pendekar kelas puncak dari Semenanjung Malayana. Pria dengan rambut dikepang itu adalah Gu Xiang si Kerbau Xiangjin. Sedangkan pria yang terakhir juga orang Tionggoan salah seorang tetua dari sekte Tengkorak Merah pusat di Negeri Atap Dunia. Dia adalah Mo Sin Xianseng si Iblis Sakti Xian, salah seorang Patriak cabang utama sekte Tengkorak Merah.


Apakah itu cukup untuk mu Nona ? Sekarang kalian harus menjelaskan siapa diri kalian dan mengapa kalian melarikan diri ketika kami panggil."


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi saling berukar pandang. Senyum ringan yang khas tersungging dibibir Raja Pedang. Kuto Arik dan Kilek Langik beserta empat rekan mereka mengerutkan jidat melihat sikap pemuda itu.


Sekarang kalian bersiaplah untuk mati." Suara dingin Raja Pedang terdengar sangat menakutkan.


Udara dalam hutan itu tiba-tiba bergejolak hebat. Aura tempur muncul menekan enam orang yang mengelilingi Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi. Melihat lawan lawannya tidak begitu terpengaruh, Raja Pedang meningkatkan aura esensi energi tempurnya ketingkat agung.


Selain Mo Sin Xianseng, semua meringis gemetar menahan tekanan energi tempur Raja Pedang. Iblis Sakti Xian itu hanya tergetar dan masih mampu bergerak. Tidak seperti rekan mereka yang tampak sangat sulit bergerak.


"Yayaang, kamu habisi Kilek Langik dan pria Seramban yang disebelahnya sekarang." Raja Pedang mengirim intruksi pada Bidadari Suvarnabhumi.


Slaash...!! Craasssh...!!

__ADS_1


Tanpa menunggu Pedang Mustika Embun berkelebat sangat cepat. Dalam jurus Bidadari memetik bunga dua kepala menggelinding jatuh.


Kuto Arik dan tiga rekannya terbelalak melihat kejadian itu.


Kilek Langik dan Seramban berjalan beberapa langkah lalu jatuh tersungkur. Kedua orang itu tewas dengan cepat. Mo Sin Xianseng bergerak menerjang kearah Bidadari Suvarnabhumi. Meski tubuhnya gempal, pria itu bisa bergerak sangat cepat. Pedangnya berkelebat menebas kearah leher dan lambung Bidadari Suvarnabhumi.


Traaanggg...!! Traaanggg...!!


Benturan keras terjadi ketika Pedang Mustika Embun menahan serangan itu. Mo Sin Xianseng dan Bidadari Suvarnabhumi sama-sama tersurut tiga tindak. Ini menunjukkan tingkat energi mendalam mereka seimbang.


Bidadari Suvarnabhumi tidak menunda waktu. Wanita cantik itu segera balas menyerang. Pedang Mustika Embun meliuk liuk mengikuti gerakan ilmu pedang Tarian Bidadari. Gerakan yang indah gemulai itu menyembunyikan gerakan yang setiap saat bisa merenggut nyawa lawan.


Tidak mau berlama-lama. Melihat Mo Sin Xianseng menyerang ganas Bidadari Suvarnabhumi. Raja Pedang mendesis...


Pukulan tanpa ujud...


Tapak tangan Raja Pedang mengembang, mengarah kepada Gu Xiang dan Kuto Arik. Tubuh kedua orang yang masih agak sulit bergerak itu tersentak.


Baaaaammm...!! Dhuuuaaaarrr...!!


Gu Xiang dan Kuto Arik terangkat dan terpelanting dengan dada remuk. Kedua orang hebat sekte Tengkorak Merah itu tewas ketika tubuh mereka masih melayang.


Tun Dayak merinding melihat kemampuan Raja Pedang. Sepanjang hidupnya, belum pernah sekalipun bertemu lawan yang tidak terukur kemampuannya. Ada secuil penyesalan dihatinya telah memburu Raja Pedang.


Menyadari tidak mungkin lagi melawan Raja Pedang. Tun Dayak berbalik dan melesat untuk melarikan diri.


'Jurus apa yang digunakan raja Pedang sehingga dua orang rekannya mati tanpa mengetahui serangan tiba. Itu belum menggunakan pedang, padahal gelarnya adalah Raja Pedang. Seperti apa jurus-jurus ilmu pedangnya.' Pikir Tun Dayak sambil melesat melarikan diri.

__ADS_1


"Mau kemana kau ?!" Tun Dayak terkejut ketika Raja Pedang sudah berada didepannya. Senyuman ringan tersungging dibibirnya. Tun Dayak merinding melihat senyuman unik Raja Pedang.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2