
Dua wanita sangat cantik keluar dari goa rembulan ganda. Yang satu berpakaian indah dengan warna lila. Hidungnya mancung dengan bibir penuh menantang. Ada lesung pipinya. Rambutnya panjang ikal mayang terurai lepas dipunggung dan sebagian tergerai bebas diatas dadanya. Sangat cantik menawan.
Disampingnya melangkah anggun wanita lain dengan pakaian indah dari satin sutera bewarna putih kehijauan. Rambutnya hitam panjang diikat keatas, namun tetap tergerai lepas. Ada sebuah mahkota kecil dari platinum bertahtakan batu baiduri merah. Matanya lebar berbentuk daun, dengan hidung mancung mungil dan bibir sensual. Sungguh cantik jelita.
Mereka berdua adalah dua kecantikan benua Emas. Yaa Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala. Kedua gadis cantik itu menuju taman di lereng kupu-kupu. Lindu yang duduk di bangku taman, hanyut oleh kecantikan mereka berdua.
"Uda..." terdengar suara Nirmala memanggil.
"Kenapa Uda seperti orang bengong begitu ?" Dhamma Mayang ikut menimpali. Kedua gadis itu tentu saja sangat mahfum jika Lindu terpesona melihat kecantikan mereka berdua.
"Ah... eh... Ayo kita makan dulu" ucap Lindu tergagap. Kedua gadis cantik itu terkikik melihat tingkah Lindu.
Mereka duduk melingkari meja batu yang ada disana. Diatas meja batu itu ada dua ekor ikan kerapu bakar dan dua ekor entok bakar dan beberapa makanan lainnnya. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tersenyum melihat makanan yang ada dimeja.
"Makanan dari mana Uda ? Masih hangat lagi..." Nirmala menatap makanan itu penuh selera.
Mereka bertiga menikmati makan malam diterangi oleh siraman cahaya purnama. Setelah selesai makan, mereka pindah duduk bertiga dibangku yang agak panjang. Menikmati suasana purnama dan melihat kelap kelip lampu dari perahu nelayan yang melaut. Semua terasa indah dan sempurna. Nirmala dan Dhamma Mayang kemudian menyandarkan kepala mereka dibahu Lindu. Kedua tangan Lindu melingkari pinggang ramping kedua gadis cantik itu.
Angin menerbangkan anak rambut Nirmala dan Mayang menerpa wajah Lindu. Aroma wangi lembut kedua gadis itu memenuhi rongga hidung Lindu. Menjadikan dadanya buncah oleh rasa bahagia. Tanpa disadari mereka bertiga tertidur dibangku batu itu.
Masih sangat pagi ketika Lindu tersentak bangun. Dia melihat Nirmala dan Mayang masih tertidur lelap dibahu dan dadanya. Kedua gadis cantik itu tertidur sambil memeluk erat dirinya. Tangan dan bahu Lindu terasa agak kebas, kesemutan. Ketika Lindu mencoba untuk menarik menggerakkan tangannya Nirmala dan Mayang bangun dari tidurnya bersamaan.
"Hayo sana, bersihkan diri kalian dan siap-siap untuk mulai berlatih." Lindu kemudian menyalurkan energi mendalam pada kedua tangannya.
Setelah membersihkan diri, Lindu bicara dengan kedua gadis cantik itu.
"Uda lihat kalian berdua sudah mulai mengerti apa itu niat pedang. Matangkan kemampuan kalian dengan berlatih lebih keras. Setiap memulai latihan, lakukan dulu semua gerakan dasa pedang. Ulang gerakan dasar pedang itu sebanyak tiga kali." Kedua gadis cantik itu menatap Lindu dengan serius. Lindu melanjutkan...
"Sampai tujuh atau mungkin sepuluh hari kedepan, Uda akan berkultivasi. Sudah saatnya bagiku untuk menerobos. Selama waktu Uda melakukan kultivasi, kalian berdua harus berlatih sungguh-sungguh.
Nah ini kantong penyimpanan, berisi makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan kalian."
Kedua gadis itu menatap Lindu dengan sedih. Itu berarti selama seminggu kedepan mereka tidak bisa bersama bercengkrama. Lindu bisa mengerti dengan sikap mereka. Lindu tersenyum memeluk mereka. Sejenak tubuh kedua gadis cantik itu mengejang, namun kemudian balas memeluk Lindu dengan erat.
"Kalian berdua juga akan ku bimbing, setidaknya mencapai tingkat agung. Karena aku akan membawa kalian melihat dunia ini sampai ke benua Tionggoan." Lindu berbisik pada kedua gadisnya. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tersenyum manis. Mereka saling menatap dan mengangguk. Nirmala dan Mayang melepas pelukan Lindu.
__ADS_1
"Ayo kak Mayang kita mulai berlatih" Nirmala menarik tangan Dhamma Mayang.
Lindu masuk kedalam goa rembulan ganda. Dia memilih sebuah ceruk duduk bersila dengan posisi teratai. Lindu meletakkan batu kristal alam yang dibelinya melalui acara lelang di Pariaman. Pemuda itu kemudian menelan pil panca warna yang mempunyai dua fungsi. Untuk meningkatkan kualitas tubuh juga meningkatkan daya serap dan daya tampung energi alam semesta.
Lindu mulai menarik kesadaran menuju posisi hening menyatu dengan semesta. Dia mulai menyerap esensi energi yang tersimpan di batu kristal alam. Dengan menerapkan metode nafas semesta proses penyerapan berlangsung dengan cepat.
---***
Dua ekor kuda bugi yang perkasa bewarna hitam dan coklat melaju kencang meninggalkan koto Agam. Kuda yang hitam ditunggangi seorang lelaki bertubuh besar. Mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam dengan garis merah. Dia mengenakan jubah warna merah hati, sebagai pelindung terluar.
Kuda dengan bulu bewarna coklat, membawa seorang wanita cantik dengan tubuh montok dan seksi. Sikap wanita itu terlihat genit. Dia berpakaian kuning dengan sabuk bewarna merah. Berpakaian ringkas seorang pendekar dengan jubah warna biru. Mereka adalah Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang.
Seminggu yang lalu mereka meninggalkan markas besar sekte Iblis Tambun Tulang. Tujuan mereka adalah markas besar gerombolan Tengkorak Merah. Butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk sampai ke Tano Niha. Selain menempuh perjalanan berkuda sampai kota Babilang Kaum. Dari kota Babilang Kaum mereka melanjutkan perjalanan dengan kapal layar selama lima belas hari.
Kuda yang mereka tunggangi mulai memasuki jalur Hutan Barangin. Sebuah hutan luas melintasi pegunungan dan lembah Barangin yang sangat anker. Jalur yang harus dilewati Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang saat ini merupakan salah satu jalur paling berbahaya di benua Emas.
Jalur hutan Baringin dipenuhi oleh perampok perorangan sampai gerombolan. Menurut desas-desus yang banyak beredar, salah satu tempat di lembah Barangin merupakan markas dari kelompok sadis Buyuang Celek yang terkenal sebagai penjahat pedagang budak. Selain itu terkadang ada binatang spiritual tingkat tinggi melintasi jalan tanah di hutan itu.
Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang terus memacu kuda mereka dengan cepat. Kuda kuda mereka berlari kencang melibas semua yang ada didepan. Semakin jauh memasuki wilayah hutan Barangin terasa keadaan semakin gelap dan lembab. Iblis Cantik Tambun Tulang merapatkan posisinya mendekat kepada Badak Mantagi.
Badak Mantagi tiba-tiba berteriak..
"Awaaas Banowati...!!"
Iblis Cantik Tambun Tulang tersentak. Ular anaconda raksasa itu menyerang dan sangat cepat dari belakang. Iblis Cantik Tambun Tulang melenting tinggi kedepan melewati Badak Mantagi. Namun...
Zzzssstt... Bugh...!!
ekor menghantam punggung Iblis Cantik Tambun Tulang yang sedang salto diudara. Badak Mantagi melompat menyambar tubuh Iblis Cantik Tambun Tulang. Ia mendarat jauh kedepan.
"Kau terluka Bano ?"
Badak Mantagi bertanya melihat Iblis Cantik Tambun Tulang memuntahkan seteguk darah.
"Istirahatlah, aku akan membunuh ular sialan itu" Badak Mantagi berbalik dan melihat kuda tunggangan Iblis Cantik Tambun Tulang tengah ditelan ular.
__ADS_1
Badak Mantagi bergerak sangat cepat menyerang ular dengan pukulan beruntun.
Duugh...!!
Buagh...!! Bamm...!!!
Pukulan beruntun dari Badak Mantagi menghantam kepala dan badan ular. Namun kulit ular itu sangat keras. Meski terlempar cukup jauh, ular itu langsung menyerang balik dengan ekornya.
Badak Mantagi meninju keras ekor ular itu.
Bamm...!!
ekor ular terdorong, namun segera berbalik menusuk kearah lambung Badak Mantagi. Bersamaan dengan tusukan ekornya menyembur Badak Mantagi dengan uap bewarna hijau kehitaman. Namun Badak Mantagi bukan seorang yang dengan mudah dikalahkan. Pria besar itu menangkap ekor ular dan menariknya kesamping. Uap hijau kehitaman luput terus meluncur menerpa belukar dan sebuah pohon besar. Belukar dan pohon yang terkena luluh lantak dan mencair.
Dagh...!! Bamm...!!
Serangan Badak Mantagi kembali menghantam bagian samping kepala dan leher ular itu. Ular itu terlempar berputar kesamping. Ia kembali bangkit mendesis keras. Pada
kepala ular yang mulai berdiri muncul sesuatu seperti sayap yang terbentuk dari kulit yang memipih.
Namun Badak Mantagi sempat melihat tonjolan sebesar bola pingpong dibagian belakang kepala ular. Badak Mantagi segera mencabut Piarik pusaka miliknya. Dia berfikir benjolan sebesar bola pingpong di pangkal kepala ular sialan itu adalah titik lemahnya. Ular itu kembali menyerang jauh lebih cepat. Badak Mantagi melenting sangat tinggi, melewati kepala ular. Dengan sangat cepat Badak Mantagi menusuk benjolan dipangkal kepala ular. Sedetik lagi Piarik Badak Mantagi mencapai sasaran...
Buagh....!!
ekor ular menghantam rusuk Badak Mantagi sangat keras. Lelaki berbadan besar itu terlempar jatuh bergulingan. Badak Mantagi sangat kesal. Ular yang dihadapinya sangat lihai. Lelaki bertubuh besar itu merapal ajian gampo bumi. Tangan kirinya mengepal dan bewarna hitam seperti besi. Piarik ditangan kanannya bersinar terang.
Ular raksasa itu kembali menyerang. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan taring besar menakutkan. Badak Mantagi melakukan gerakan pesong merendah ketanah. Tangan kirinya memukul keras dagu ular raksasa. Ular itu terangkat dan terbanting. Namun ular raksasa itu bangkit menyerang kembali lebih ganas.
Setelah bertarung dengan ular raksasa hampir dua jam. Badak Mantagi mengeluarkan jurus simpanannya.
Petir menyambar dunia bergoncang
Badak Mantagi melompat tinggi, dengan cepat tinjunya menghantam kepala ular raksasa. Energi besar dari ajian gampo bumi terhempas ke tanah. Saat itu pula Piarik ditangan kanannya menusuk menembus benjolan dipangkal kepala ular raksasa. Badak Mantagi menoelkan Piarik miliknya. Sebuah kristal bewarna hitam besar melenting ke udara.
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1