Raja Pedang

Raja Pedang
#13. Pertarungan di Hutan Bambu (2)


__ADS_3

Angin kering bertiup semilir di hutan bambu. Suara gemersik daun daun bambu terdengar bagai symphony alam yang sangat indah. Angin kering biasa dikenal dengan angin barat dan membawa uap panas. Angin kering menerbangkan daun daun bambu yang menguning.


Ditengah tengah hutan bambu tampak kondisi yang porak poranda.


Lindu tampak masih segar, berdiri tegak bersama Nirmala dan Seriti Merah yang dalam kondisi terluka. Seriti Merah memiliki luka luka yang lebih banyak dan lebih parah dibandingkan dengan Nirmala.


"Raja Pedang, katakan apa hubunganmu dengan Dewa Tanpa Bayangan ?" Baruak Panjali bertanya ragu ragu pada Lindu. Tatapan mata Lindu perlahan berubah tajam dan mencorong bagai tatapan naga sakti.


"Dia adalah guru ku." Lindu menjawab dengan suara yang dingin. Lindu meraih sesuatu di dari ruang hampa, tau-tau sebuah pedang pusaka tajam berkilau sudah ada dalam genggaman tangannya. Sesaat kemudian bilah pedang mulai ditutupi kabut. Aura dingin perlahan mulai meliputi hutan bambu.


"Kalian pilih siapa yang akan melaporkan kematian yang lain ke markas pusat ?


Tapi kau harus mati paling dulu."


Lindu menunjuk Kudu. Tidak ada gelombang energi atau hawa apapun. Hanya suara daun daun bambu yang bergesekan. Kudu jatuh diatas dua lututnya. Tulang dadanya patah patah dan jantungnya meledak. Mati !


Semua yang melihat kejadian itu merinding. Keringat dingin membasahi punggung Duo Baruak dan Kabau Basi. Bukan hanya mereka dari sekte Iblis Tambun Tulang. Tapi Seriti Merah juga kuyup punggungnya oleh keringat dingin. Perempuan itu tidak pernah membayangkan ada jurus yang begitu mengerikan seperti pukulan tanpa ujud.


"Bersiaplah untuk menemui kematian kalian."


Begitu suara Lindu menghilang udara tipis tersobek oleh Kilauan sinar pedang...


Crezz....!!


Crezz....!!


Crezz....!!


Peltak, tug tug tug...!


Sepuluh kepala anggota sekte Iblis Tambun Tulang berjatuhan menggelinding begitu saja. Semua anggota sekte Iblis Tambun Tulang pucat pasi. Baju mereka berasa lengket karena basah oleh keringat dingin. Tidak terkecuali Duo Baruak, Kabau Basi dan Seriti Merah. Kecepatan dan ketepatan dipadukan dengan tenaga yang sangat besar. Benar benar Monster sejati...!! pikir mereka.


Lindu tersenyum ringan tapi matanya menyorot tajam dan dingin. Tatapan yang lebih tajam dari mata pedang milik Lindu menyapu semua anggota sekte Iblis Tambun Tulang.


"Sekarang giliran kalian" begitu suaranya hilang, Lindu kembali bergerak.


Hujan pedang membasuh gunung


Seribu tusukan pedang datang seperti bayangan. Semua anggota sekte Iblis Tambun Tulang mati bersimbah darah. Tubuh mereka terpotong potong berserakan. Sungguh sangat mengerikan.


Eh... Tapi ada satu yang tersisa. Darah mengalir dari lengannya yang putus dan juga daun telinganya putus sebelah tersayat pedy. Lelaki itu mungkin sengaja disisakan Lindu untuk member laporan kemarkas pusat sekte.


Pemuda tampan itu kembali tersenyum. Tapi bagi semua musuhnya senyuman itu adalah senyum yang sangat menakutkan. Bagaimana bisa pemuda itu masih tersenyum ringan setelah membunuh begitu banyak orang ?


Seriti Merah menatap nanar kepada Lindu. Dia merasa horor melihat senyuman diwajah tampan itu, akan tapi matanya menyorot sangat dingin. Tidak ada sekilaspun rasa empati terlintas di mata pemuda itu. Hanya hawa dingin menusuk sangat berbeda dengan angin yang bertiup.


Lindu mendekati Duo Baruak dan Kabau Basi.


"Sekarang giliran kalian bertiga."

__ADS_1


Lindu berkata dan tersenyum lebar, seakan ngobrol sesuatu yang menarik dengan sahabat sahabatnya.


"Jangan besar kepala Raja Pedang. Rasakan ini...!!"


Mereka bertiga langsung menyerang Lindu dengan serangan kuat dan mematikan kepada Lindu.


Kera sakti menantang langit


Kera sakti mengguncang dunia


Tapak jagad


Tiga serangan datang dengan cepat mengarah tiga titik mematikan ditubuh Lindu. Angin tajam dengan energi besar datang dengan sangat cepat, tapi masih lambat di mata Lindu. Menggunakan sebelas langkah ajaib semua serangan luput dengan mudah.


Pertarungan berlangsung cepat dengan jurus jurus tingkat tinggi.


Bomm...


Dhuaarr...


kadang terjadi dentuman dentuman keras karena energi besar bertabrakan.


Lindu melayani semua jurus jurus sakti tingkat tinggi dari Duo Baruak dan Kabau Basi. Lindu tampak seperti sedikit terdesak dan itu menjadikan Duo Baruak dan Kabau Basi makin bersemangat menyerang Lindu. Meski tampak mulai terdesak, tapi tidak satupun serangan dari Baruak Panjali, Baruak Panjalu dan Kabau Basi yang bisa menyentuh Raja Pedang. Jika diperhatikan benar, Lindu seperti tengah bermain saja mereka. Namun lawannya masih belum merasakan nya


Tidak terasa dua jam berlalu, dan pertarungan mereka masih terus berlangsung dan makin seru. Hutan bambu semakin porak poranda. Banyak rumpun rumpun bambu terjungkal. Matahari sudah mulai tergelincir kearah barat.


"Baiklah, sudah cukup waktu main mainnya. Ayo, ucapkan selamat tinggal pada dunia."


"Kau yang akan mati bocah bangsaaatt...!!"


Kabau Basi menyerang Lindu dengan ilmu simpanannya.


Kabau Basi meremuk cadas


Kabau Basi menyerang Lindu. Kedua tangannya berubah warna menjadi hitam . Lindu tidak menghindar, dia menunggu kedatangan serangan Kabau Basi. Lindu menyalurkan energi mendalam setingkat Kabau Basi, namun dilampiri dengan sedikit zhenqi.


Seketika terjadi benturan dahsyat


Bomm...!!


Dhuaarr...!!!


Lindu tetap berdiri tegak ditempatnya. Kabau Basi terseret jauh 10 tombak, ada jejak selokan kecil dijalur yang ia lewati.


Kabau Basi kembali berdiri setelah memuntahkan darah. Kabau Basi segera berdiri, menyiapkan kuda kuda dan melesat kembali menerjang Lindu.


Tinju Saribu patuih


Lindu tersenyum kecil, pemuda itu menatap Nirmala. Tindakan yang dilakukan Lindu sangat menghina Kabau Basi. Ia mengisi serangan nya dengan 90% energi mendalam nya. Tekanan energi meningkatkan drastis. Suara menderu kencang ketika serangan Kabau Basi membelah angin. Kecepatan serangan juga meningkatkan meningkatkan sangat cepat.

__ADS_1


Nirmala menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Lindu menatap heran kearah Nirmala seakan bingung dengan reaksi Nirmala. Kabau Basi semakin dekat dan tekanan energi semakin tinggi. Petir petir menyambar bersama serangan Kabau Basi. Duo Baruak tersenyum lebar. Akhirnya tugas membunuh bocah geblek selesai juga, pikir mereka.


Kurang dari sejengkal lagi, Lindu menggerakkan tangannya memapak serangan Kabau Basi.


Dhuaarr....!!


Baammm....!!!


Terjadi ledakan yang sangat besar. Lidah petir menyambar kemana mana. Sebagian dari hutan bambu hangus terbakar.


Kabau Basi terpelanting melayang sejauh hampir 100 meter. Ia memuntahkan banyak dara dari mulutnya. Susah payah Kabau Basi mencoba bangkit. Lindu tersenyum kearah Kabau Basi.


"Sudah cukup bagimu menetap di dunia ini". Lindu mengayunkan Pedang Mustika Embun.


Dua larik kilau bayangan pedang melaju dengan kecepatan kilat menyambar kearah Kabau Basi. Lalu...


Crassz....!!


Craack....!!


Tubuh Kabau Basi terlempar menjadi empat bagian.


Mati !!


Semua mata terbelalak takjub dan ngeri melihat jurus pedang dari Raja Pedang Lindu. Duo Baruak tidak pernah melihat ilmu seperti yang diperlihatkan Lindu. Sepanjang perjalanan hidup mereka di rimba persilatan, tidak pernah bertemu dengan ilmu pedang seperti yang dimiliki Lindu.


Melihat semua itu Duo Baruak sadar betul bahwa mereka tidak akan pernah mampu berhadapan dengan Lindu. Gelar Raja Pedang memang sangat sesuai untuk pemuda itu.


Keringat dingin mengucur deras membasahi punggung Duo Baruak ketika Lindu menatap mereka. Duo Baruak tau telah memprovokasi orang yang salah. Duo Baruak buru buru mendekati Lindu terbungkuk bungkuk.


"Tuan Raja Pedang kami telah salah, kami maaf telah bersikap kurang ajar."


"Tidak perlu minta maaf, kalian tidak berbuat salah kepada ku."


Duo Baruak sangat senang mendengar jawaban Lindu. Mereka berfikir sudah lolos dari maut. Mereka menyerahkan dua kantong besar, masing-masing berisi sepuluh ribu koin emas.


"Untuk apa ini ?" Lindu bertanya tanpa mengambil kedua kantong tersebut.


"Tentu saja hadiah dari kami untuk tuan Raja Pedang."


"Tidak perlu....." jawab Lindu. Duo Baruak saling pandang sejenak. Mereka kemudian mengeluarkan dua kantong berisi kristal spiritual tingkat menengah dan bawah.


"Ambillah tuan" Duo Baruak kembali menyodorkan kantong kantong itu. Lindu tersenyum dan berkata...


"Tidak perlu...."


"Semua itu tetap akan jadi milik ku setelah aku mengirim kalian berdua kepada raja akhirat." Perlahan matanya mencorong dingin menatap Duo Baruak.


Duo Baruak terloncat mundur dengan warna wajah sebentar merah sebentar putih.

__ADS_1


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2