Raja Pedang

Raja Pedang
#6. Seriti Merah


__ADS_3

Berita kekalahan dan terbunuhnya Arit Setan oleh seorang pemuda tanggung menyebar dengan cepat. Para pendekar yang melihat pertarungan, meski hanya dari luar restoran. Mereka saling cerita membahas kejadian itu.


Bagaimana ga heboh. Arit Setan adalah seorang jagoan pilih tanding. Mempunyai kultivasi tingkat Bumi. Dengan energi mendalam yang dimilikinya, ia mampu meratakan satu sekte kecil dalam dua atau tiga jam. Hanya dengan satu pukulan, sebuah batu karang sebesar rumah bisa hancur lebur.


Selain itu, Arit Setan menempati posisi sebagai salah satu orang kepercayaan Kelabang Iblis. Kelabang Iblis merupakan salah seorang tetua di sekte Iblis Tambun Tulang. Tidak sembarang lawan bisa menghadapi Arit Setan. Apa lagi Arit Setan dibantu oleh seorang pendekar raja dan dua pendekar emas. Kejadian ini benar benar mencoreng nama besar sekte Iblis Tambun Tulang, terutama Kelabang Iblis.


Braaakk...!!


Meja batu itu hancur berantakan dipukul Kelabang Iblis. Mukanya menghitam. Kemarahan besar membakar dadanya. Berita terbunuhnya Arit Setan bersama tiga anggota sekte yang bersamanya oleh anak muda tak dikenal memjadikannya sangat terhina.


"Panggil Duo Baruak kesini...!!"


Kudu yang tangan sudah hilang sebelah saat bertarung bersama Arit Setan dan rekannya melawan Lindu menjawab dengan cepat dan...


"Baik tetua"


Langsung minggat mencari Duo Baruak. Dalam waktu singkat, Kudu sudah kembali bersama dua orang tinggi besar bertelanjang dada. Wajah kedua orang itu sangat mirip. Nyaris tidak ada yang bisa membedakan mereka. Muka, dada dan kedua tangan mereka penuh bulu.


Duo Baruak adalah saudara kembar. Yang tua bernama Baruak Panjalu dan yang muda Baruak Panjali. Tapi dunia lebih mengenal mereka dengan Duo Baruak.


"Kami menunggu perintah tetua"


Mereka bicara berbarengan begitu berdiri dihadapan Kelabang Iblis.


"Bawa anggota kalian ke koto Panjang. Cari dan bunuh anak muda yang telah membunuh Arit Setan dan anggota kita."


Kelabang Iblis melirik kearah Kudu.


"Kau ikut mereka...!"


---***


Di istana penguasa kota. Rajo Gadang menatap jendral nya dengan kerutan di jidat. Berita terbunuhnya Arit Setan sungguh membingungkan. Rajo Gadang tau benar, Arit Setan sekuat apa. Lima tahun yang lalu mereka pernah bertarung. Setelah pertarungan dalam waktu lama ia baru bisa mengalahkan Arit Setan. Itupun dengan luka yang banyak ditubuh. Pada pertarungan itu Arit Setan terlalu cukup parah dan berhasil melarikan diri.


"Dubal...


Ini tidak mudah. Perkuat keamanan kota. Sekte Iblis Tambun Tulang pasti akan datang mencari pemuda itu. Kirim beberapa prajurit khusus mengawasi restoran dan penginapan Aia Badarun."


Rajo Gadang memberi perintah kepada jendral Dubal.


"Baik yang mulia, segera dilaksanakan"

__ADS_1


Jendral Dubal pergi mengatur prajurit untuk meningkatkan pengawasan keamanan kota.


---***


Lindu perlahan membuka matanya ketika sinar matahari jatuh ke wajahnya. Lindu telah berkultivasi selama dua hari. Perlahan dia bangun dan berdiri dipinggir jendela. Kota sudah mulai ramai dengan orang lalu lalang.


Setelah mandi dan ganti pakaian, Lindu turun ke restoran untuk sarapan. Pelayan restoran buru buru menyabut dan mengantar Lindu ke meja kosong.


"Mari tuan muda, silahkan. Tuan muda mau sarapan apa ?" Pelayan bersikap sangat ramah pada Lindu. Lindu memesan lontong pitalah dengan rendang daging rusa. Saat menikmati sarapan Lindu mendengar tiga pendekar muda lagi ngobrol. Meja mereka berjarak satu.


"Sejak kemaren aku melihat lebih banyak pengawal" pemuda yang berpakaian biru bicara pada temannya.


"Ya... itu terkait dengan pertarungan dua hari lalu." pemuda yang berpakaian warna abu menanggapi.


"Kalian ga tau ya ?"


Pemuda yang lain menanggapi. "Dua hari lalu di sini Arit Setan bersama tiga anggota inti sekte Iblis Tambun Tulang lainnya dibunuh. Katanya mereka dibunuh dengan satu serangan oleh pemuda tak dikenal. Karena itu penguasa kota meningkatkan pengawasan dan keamanan kota."


Lindu mendengar semua percakapan tiga pendekar muda itu. Dia tetap mendengar obrolan mereka sambil menikmati sarapan nya.


Seusai sarapan Lindu berjalan menyusuri keramaian kota. Hatinya terkagum kagum melihat kota yang begitu ramai. Sesekali ada kereta kuda melintas di jalanan yang lebar. Berbagai toko berjejer rapi sepanjang jalan.


Ketika Lindu melihat lihat dibagian pakaian mahal pelayan wanita yang mengiringi Lindu mendengus sedikit. Lindu melirik pelayan itu. Ketika melihat ada pelayan wanita lain dan kelihatan masih baru, Lindu memanggilnya. Pelayan itu buru buru datang menyapa Lindu dengan ramah.


"Ya tuan muda, boleh saya bantu ?"


Lindu tersenyum ringan mengangguk. Pelayan pertama yang mengiringi Lindu, melihat kepada Lindu dengan marah. Dia mendengus kesal meninggalkan Lindu sambil ngedumel.


"Miskin aja betingkah. Huh..."


Walau hanya berbisik dan tidak ada yang mendengar. Omelan itu terdengar jelas oleh Lindu. Lindu cuek aja. Dia tidak begitu suka sikap pelayan itu. Merendahkan pembeli yang tampak tidak punya cukup uang.


Lindu mengambil lima stel pakaian. Butuh waktu sedikit lama. Lindu bolak balik memilih dan mematut matut sebelum memutuskan.


"Berapa semua ?" Pelayan itu melihat semua pilihan Lindu.


"10 keping emas" Lindu menyerahkan 10 keping emas dan tiga keping perak. Pelayan itu menatap Lindu bingung.


"10 keping emas tuan" dan mengembalikan tiga keping perak pada Lindu. Lindu tersenyum,


"Itu untuk mu. Terimakasih sudah melayani dengan sabar dan ramah. Dimana aku bisa ganti ?"

__ADS_1


Pelayan itu senang sekali dan mengucapkan terima kasih berulang ulang. Tiga keping perak sama besar dengan gajinya satu bulan. Pelayan itu mengantar Lindu ke tempat ganti.


Lindu keluar setelah berganti pakaian. Ia tampak semakin tampan dan gagah. Beberapa orang gadis meliriknya diam diam.


Keluar dari toko pakaian, Lindu kembali menyusuri jalanan kota. Dekat taman kota, ia melihat bangunan besar seperti menara. Lindu mendatangi bangunan tersebut. Ternyata itu adalah toko yang menjual sumber daya. Ustano Menara Gading nama toko sumber daya itu. Papan namanya diukir dengan warna emas terpampang diatas pintu masuk.


Lindu memasuki Menara Gading. Ia melepas sedikit auranya ke tingkat pendekar raja awal. Penjaga pintu membiarkan Lindu masuk, sedikit mengangguk kagum merasakan aura pendekar raja. Pasti seorang jenius dari sebuah klan besar pikir mereka.


Seorang pelayan langsung menyapa Lindu ketika masuk Menara Gading.


"Apa yang bisa kami bantu tuan muda ? A Lung yang akan melayani tuan muda" Pelayan itu menyapa ramah dan mengenalkan diri. Pelayan di Menara Gading semua adalah orang orang yang punya kemampuan. Minimal berada ditingkat perak menengah. Pelayan yang menyambut Lindu malah mempunyai tingkat kultivasi di emas awal. Itu yang menyebabkan Menara Langit sangat disegani banyak kawan dan lawan, termasuk Sekte dan klan besar. Sekilas ada sinar kekaguman melintas dimatanya, ketika aura tingkat raja merembes dari Lindu. Pelayan itu akan muntah darah kalau ia tau tingkat kultivasi Lindu. Kepala cabang Menara Gading di kota itu hanya tingkat langit.


"Saya mencari sebuah pedang pusaka." Lindu memberi tau pelayan. A Lung mengajak Lindu ke bagian senjata. Memilih sebuah pedang dan menyerahkan ke Lindu. Itu adalah pedang pusaka tingkat fana. Sebuah pedang bagus. Tapi Lindu tidak tertarik. Ia berbisik ke A Lung.


"Adakah yang pusaka langit, atau nirwana ?"


A Lung menatap Lindu sejenak.


"Ayo kelantai tiga" ajak nya. Mereka naik bersama. Setelah dilantai tiga, A Lung minta Lindu menunggu. Ia masuk ke sebuah ruangan dan kembali menemui Lindu bersama pria setengah baya. Pria itu tersenyum lebar pada Lindu.


"Aku Limbubu" katanya mengenalkan diri. Limbubu adalah pimpinan Ustano Menara Gading untuk Padang Panjang.


"Lindu Alam, panggil saja Lindu" kata Lindu juga mengenalkan dirinya.


Limbubu kemudian mengambil sebuah pedang dari sebuah kotak hitam. Pedang berkilau saking tajamnya. Ada hawa dingin merembes dari pedang itu.


"Ini pusaka langit. Pedang Mustika Embun" sambil menyerahkan pedang pada Lindu. Lindu menerima pedang itu. Sedikit pendek dibanding dengan pedang yang biasa. Dipangkal batang pedang, ada ukiran setetes air bewarna putih. Buatannya sangat halus dan terasa mantap saat digenggam.


"Saya mau ini" Lindu memutuskan untuk membeli Pedang Mustika Embun.


"Harganya agak mahal tuan muda Lindu. 5.000 keping emas" Limbubu memberi tau Lindu. Lindu menyerahkan 50 kristal spirit kelas rendah. Satu kristal spirit kelas rendah sebanding dengan 100 keping emas.


Setelah menyelesaikan transaksi, Lindu pamit pada Limbubu. Ketika Lindu baru saja berdiri, terdengar suara halus perempuan menyapanya.


"Kita bertemu lagi anak muda" Lindu berbalik dan melihat perempuan berpakaian merah ditemani gadis remaja berpakaian warna lila. Lindu ingat dua makhluk cantik itu ada di restoran ketika membunuh Arit Setan.


"Aku Seriti Merah, dari sekte Angso Duo, dan ini muridku Nirmala" Perempuan itu tersenyum ramah dan gadis cantik itu juga tersenyum ramah. Nirmala menatap Lindu dengan mata berbinar.


"Lindu Alam, hanya seorang kelana biasa" balas Lindu sambil menganggukan kepalanya.


\=\=\=***\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2