
Hampu kembali bangkit. Pria itu mengempos esensi energi mendalamnya. Sesaat Hampu menarik nafas dalam dan melesat menyerang orang terlemah dari pengeroyoknya. Pedang pusaka Hampu menderu ganas.
Tiga Badak yang mengeroyok Hampu adalah , Badak Gata, Badak Culun dan Badak Cigin. Mereka adalah Badak ke2, Badak ke4 dan Badak ke5.
Kelompok penyamun Limo Badak pada awalnya adalah sekte Limo Badak. Sekte ini memiliki lebih dari lima ratus orang. Pertempuran yang terus menerus dengan sekte Buayo Lalok. Menjadikan anggota sekte menurun drastis. Karena itu mereka memutuskan untuk pindah dari hutan Mukomuko jauh ke hutan Malalak.
Saat ini jumlah anggota sekte Limo Badak kurang dari dua ratus orang. Tidak banyak harta yang bisa mereka bawa. Karena itu mereka berubah bentuk dari sekte menjadi kelompok penyamun. Dalam tiga bulan sejak mereka pindah. Pekerjaan utama mereka adalah membegal orang-orang yang melewati hutan Malalak, sekali sehari.
Jika saja Hampu tidak memaksakan diri untuk tetap jalan sore ini. Dia pasti akan aman-aman saja melewati hutan Malalak bersama Sabai.
Sabai melompat keluar dari kereta. Gadis kecil itu tidak bisa membiarkan Hampu mati sia-sia. Dia berdiri didepan Hampu dengan kaki terpentang dan pedang kecil melintang didepan dada.
"Jangan ganggu lagi pamanku atau kalian semua mati !?!" Sabai berteriak lantang dengan suara kecilnya. Tiga Badak tertawa melihat sikap gadis kecil itu.
"Nona kecil. Apakah kau akan melindungi paman mu ?" Badak Culun bertanya kepada Sabai.
"Paman Hampu tidak boleh kalian sakiti. Aku tidak akan tinggal diam jika kalian tidak mau berhenti." suara Sabai terdengar lantang. Gadis itu membuka posisi awal ilmu pedang Awan Bararak. Kaki kanannya maju setelah tindak dengan ujung jari menyentuh tanah. Pedang membuka ke sisi luar menunjuk ketanah. Sedangkan jari tengah dan telunjuk menunjuk lurus kedepan. Sabai terlihat sangat gagah.
"Mundur lah nak." terdengar suara Hampu serak. Lelaki itu berusaha bangkit meski dia terseok-seok karena sudah terluka parah.
"Tidak, paman Hampu rehat saja dulu. Sabai akan mengalahkan mereka untuk paman." gadis kecil itu berkata dengan mantab. Hampu merasa sangat terharu.
Badak Cigin menyerang Sabai. Dia mengayunkan goloknya kearah leher Sabai. Gadis kecil itu menyiapkan diri untuk menahan serangan Badak Cigin. Hampu melenting melewati Sabai menebas Badak Cigin. Badak Culun begitu melihat Hampu, segera melesat menerjang.
Trangg...!! Tringg...!!
Benturan keras terjadi ketika pedang Hampu berpapasan dengan pedang Badak Cigin dan tombak Badak Culun. Hampu terlempar menabrak Sabai. Mereka bergulingan.
Hampu kembali muntah darah. Kondisinya semakin parah. Bibir Sabai juga tampak merah oleh darah. Benturan dengan Hampu yang terlempar oleh benturan energi mendalam tingkat bumi awal. Terlalu berat untuk ditahan gadis itu.
__ADS_1
Sabai melenting, pedangnya samar samar membentuk awan gelap. Ujung pedang membuat banyak tusukan bagaikan lidah petir. Itu adalah jurus pertama dari ilmu Pedang Awan Bararak.
Petir dibalik mendung
Namun gerakan Sabai yang masih ditingkat emas tampak sangat lambat bagi Badak Cigin yang setengah langkah lagi memasuki tingkat bumi awal.
Trang...!!
pedang Sabai terlepas dan tubuhnya terlempar jauh.
"Sabai...!!!" Hampu berteriak tetapi ia sudah nyaris tidak mampu lagi untuk bergerak. Bekas tetua sekte Awan Bararak itu merasa sangat bersalah kepada Tuanku Labai Karat yang menitipkan Sabai kepadanya.
Hampu berusaha bangkit tapi semua menjadi gelap. Dia tak lagi mampu bertahan dan jatuh pingsan. Hampu tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Tapi bulir air mata merembes dipipinya.
Sabai melayang jauh. Akibat benturan tenaga mendalam dengan Badak Cigin membuat organ dalamnya terguncang hebat. Sabai memuntahkan banyak darah. Saat itulah sebuah bayangan menyambar tubuh mungil itu. Bukan itu saja, bayangan itu juga menyambar tubuh Hampu. Lalu bayangan itu hilang begitu saja.
Penyamun Limo Badak dan anak buahnya bingung. Mereka tidak membayangkan ada orang yang mampu untuk datang, mengambil tubuh dan menghilang kurang dari satu detik. Tiga Badak itu langsung merinding. Tiba-tiba terdengar suara dari atas langit.
Hening. Tiada satu suarapun terdengar sesudah itu. Hanya ada desau angin.
"Uh..." Hampu menggeliat dan terbangun dari pingsannya. Dunia terasa masih berputar. Tiba-tiba dia tersentak...
"Sabai...!!" dia berteriak dan mencoba bangkit.
"Hm... kau sudah bangun. Tenanglah, gadis kecil yang kau cari ada dikamar sebelah." Seorang pria gagah tampak berusia antara tiga dan empat puluh tahun berdiri disamping ranjang. Hampu merasa sedikit lebih tenang.
"Apakah dia baik baik saja ?"
"Ya... gadis itu baik-baik saja."
__ADS_1
Hampu berusaha bangkit dari tidur nya. Tenggorokan nya terasa kering, dia menatap pria gagah didepannya. Pria itu tersenyum kecil dan menuangkan air dari kendi kumala.
"Minumlah..." pria itu menyodorkan sebuah gelas. Hampu menerima dan menghabiskan dalam satu kali teguk.
"Terimakasih, tuan telah menyelamatkan kami. Bolehkah aku tau siapa nama tuan penolong yang mulia ?" Hampu menjura dalam keadaan duduk. Pria itu tersenyum dan mengangguk. Dia memberikan sebuah pil tanchi pada Hampu.
"Aku biasa dipanggil dengan nama Dewa Tanpa Bayangan. Telan dan serap semua esensi energinya." Pria itu berbalik dan menghilang.
Disebuah tebing dijorong Silaing, dibalik sebuah batu sebesar rumah. Ada sebuah gua yang tertutup tanaman rambat jenis pakis. Tanaman rambat itu tiba-tiba bergerak sendiri lalu terkuak. Muncul dari sela tanaman pakis itu Alang Babega dan disusul oleh Seriti Merah.
"Hm... kita ternyata keluarnya ditebing Silaiang." Alang Babega bergumam setelah memandang berkeliling. Seriti Merah hanya mengangguk kecil.
"Mestinya, mereka berhasil lolos. Mungkin mereka sekarang menuju sekte Alang Barat." Alang Babega berkata kepada Seriti Merah. Seriti Merah kembali mengangguk.
"Mestinya begitu uda Sutan. Sebaiknya kita ke koto Panjang dulu. Besok pagi-pagi kita kembali ke sekte. Bisa jadi mereka duluan sampai di sekte dari pada kita." Seriti Merah menanggapi, perkiraan Alang Babega. Alang Babega mengangguk.
"Ayo...!" Alang Babega menarik tangan Seriti Merah. Hatinya terasa lebih tenang. Dia menatap istrinya dengan penuh kasih lalu memeluk Seriti Merah.
Nirmala memeluk erat tubuh Lindu. Pagi ini wanita cantik itu tiba-tiba merasa sangat menginginkan Lindu. Perlahan bibirnya menyetuh bibir Lindu. Lalu mulai **********. Lindu mulai bereaksi, tangannya mulai menelusuri lekuk tubuh Nirmala. Dhamma Mayang yang baru habis mandi, jadi bergairah melihat apa yang dilakukan Nirmala dan Lindu. Wanita cantik menawan itu langsung bergabung. Mereka sudah biasa, terkadang melakukan hubungan suami istri bertiga. Kata mereka lebih menantang dan .... Pagi itu mereka juga berendam bertiga di bak mandi besar yang tersedia dikamar yang mereka tempati.
Ketika sarapan, Lindu berkata kepada Dhamma Mayang dan Nirmala.
"Kita harus segera meningkatkan kekuatan dan kemampuan kita. Uda merasa gerombolan Tengkorak Merah tidak bisa dianggap enteng." Dhamma Mayang dan Nirmala mendengarkan serius apa diucapkan Lindu.
"Kita akan melanjutkan perjalanan dengan cepat menuju Talago Dewi. Kita akan meningkatkan kekuatan dan kemampuan kita disana." Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala mengangguk setuju.
Rimba Rasam bersama putri nya Mayang Mangurai meluncur menuju penginapan Lindu dengan kereta kuda mewah. Dia belum sempat bertemu dengan Raja Pedang dan Sepasang Bidadari setelah pertempuran dengan Tungka Bulian dua hari lalu. Semalam dia dapat informasi dari mata-matanya Raja Pedang sudah kembali dari hutan Bajubang.
Namun kepala desa Semak itu harus kecewa. Dia sampai di penginapan sesaat setelah Raja Pedang dan Sepasang Bidadari pergi.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=