Raja Pedang

Raja Pedang
#34. Lereng Kupu-kupu


__ADS_3

Mereka terus berjalan cepat melewati jalan kecil yang tertata rapi menuju ke tebing cula menjerit. Dinamakan tebing cula menjerit karena itu adalah rongga pada dinding karang. Bentuk seperti tekukan cula badak. Jika musim hujan angin, kadang kadang terdengar jeritan dari tebing itu.


Sesampainya didepan tebing cula menjerit, Tuangku Nan Sati memasuki sebuah gerbang batu karang. Gerbang batu itu bagaikan pintu masuk ke sebuah dunia lain. Ada anak tangga yang cukup dalam dan panjangnya sekitar 500 meter menuju satu dataran yang cukup luas.


Dataran itu sangat unik. Hampir 60 persen merupakan dataran batu karang datar, tampak seperti baru dipotong dengan pedang besar yang sangat tajam. Sisa dataran itu berupa tanah hitam yang subur dan sedikit lembab. Dataran itu ditumbuhi aneka bunga dan tanaman spiritual seperti sebuah taman yang tertata. Sangat rapih dan resik.


Banyak sekali kupu kupu dari berbagai jenis beterbangan di taman itu. Mulai dari kupu-kupu berukuran kecil sampai yang besar ada disitu. Warnanya juga berbeda-beda. Ada putih, hitam, kuning, biru juga kombinasi beberapa warna. Semua terbang melayang lalu hinggap berpindah dari satu bunga ke bunga lain. Karena itulah tempat itu dinamakan lereng Kupu-kupu.


Beberapa tanaman spiritual tumbuh disela-sela bunga bunga yang indah, bahkan Lindu menemukan tanaman spirit yang sangat langka ada disitu. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala terpesona melihat begitu banyak kupu-kupu beterbangan di taman itu.


Berdiri di atas dataran karang, Lindu melihat pemandangan alam yang luar biasa indah. Bentangan laut dengan warna biru bergradasi dan hamparan sawah seperti permadani yang dibatasi hutan. Ada garis pantai dan pohon nyiur yang menjadi pembatas antara lautan dan hamparan sawah. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala berdiri di sebelah kiri kanannya Linduml. Mereka ikut menikmati pemandangan luar biasa itu.


Hembusan angin membawa wangi aroma tubuh Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi ke hidung Lindu. Meski aroma berbeda namun membawa efek menenangkan yang sama. Pemuda itu tersenyum kecil menikmati semua itu. Sampai terdengar suara Tuangku Nan Sati menarik kembali Lindu keluar dari kenikmatan sesaat.


"Ayo kita ke pusara abak jo amak kau." Pemuda itu berbalik ketika mendengar suara kakeknya, mengangguk dan mendekati Tuangku Nan Sati. Tuangku Nan Sati melangkah di jalur tapakan kecil menuju belakang taman bunga. Dibelakang taman, ada dua pusara dengan batu pualam sebagai nisannya. Pada nisan sebelah kanan terukir indah nama Datuk Kayo Baso. Nisan yang sebelah kiri terukir nama Mayang Sari.


Lutut Lindu terasa lemas melihat dua pusara abak jo amaknya. Pemuda itu jatuh, bertumpu dengan lututnya di hadapan pusara itu.

__ADS_1


"Abak... Amak... maafkan Lindu, baru sekarang bisa menemui pusara abak jo amak. Semoga abak jo amak bisa tenang disana." Suara Lindu terdengar basah. Bahu pemuda belia itu tampak sedikit berguncang. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi ikut berlutut di kiri dan kanan Lindu. Dua anak sungai bening mengalir di pipi kedua gadis cantik jelita itu. Tuangku Nan Sati memalingkan wajahnya kearah lautan.


"Lindu memenuhi pesan amak untuk terus bertahan hidup. Tapi... Lindu minta abak jo amak bisa memahami. Lindu tidak bisa membalaskan dendam abak jo amak. Namun Lindu akan berupaya memusnahkan kejahatan yang ada di alam persada ini. Agar tidak ada lagi kejahatan dan juga tidak ada lagi anak yang menerima nasib seperti Lindu." Lindu menarik nafas dalam-dalam. Pemuda belia itu berusaha menenangkan hatinya. Ada rasa pilu begitu menekan dalam dadanya.


"Kami berdua akan selalu membantu uda Lindu, untuk melawan kejahatan di alam persada ini abak dan amak." Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala kompak mengucapkan kata-kata yang sama. Tuangku Nan Sati menatap kedua gadis cantik itu agak lama.


"Abak... Amak... bimbing Lindu dari alam sana, agar Lindu tidak tersesat. Kami juga mohon pamit pada Abak jo Amak. Istirahatlah Abak jo Amak dengan damai."


"Nirmala dan Mayang juga mohon pamit pada Abak dan Amak." Kedua gadis cantik itu ikut mengucapkan salam perpisahan.


Mereka bertiga berdiri dan mengikuti Tuangku Nan Sati, duduk di bangku bangku batu yang ada ditaman.


Tuangku Nan Sati berdiam sejenak, menarik nafas panjang. Seakan lelaki tua itu mencoba memperbaiki semua kenangan masa lalunya. Lelaki tua itu lalu melanjutkan


"Orang tua mu, suka berlatih silat disini." Tuangku Nan Sati menujuk kearah dataran karang.


"Mereka juga selalu melakukan kultivasi di goa rembulan ganda." Tuangku Nan Sati menujuk kearah cerukan yang ada dibelakang pusara.

__ADS_1


"Goa rembulan ganda itu secara rutin dibersihkan. Tempat itu mestinya sesuai untuk kau, juga kamu Nirmala dan Mayang untuk berkultivasi. Kalian bisa merasakan aura energi yang lebih padat di lereng kupu-kupu inikan ? Dalam goa rembulan ganda itu kalian bisa merasakan energi langit dan bumi yang sangat tebal. Selain itu juga berasa esensi energi lain yang begitu kuat disana."


Tuangku Nan Sati kembali terdiam sejenak. Lelaki tua itu menatap Nirmala dan Mayang bergantian. Dua wanita baik dan cantik luar biasa. Memiliki karakter berbeda, yang satu ceria penuh energi dan lainnya lemah lembut dan tenang. Kedua wanita itu sepertinya sudah sepakat menjadi pendamping Lindu cucu kesayangannya.


Tanpa sadar lelaki tua itu kembali menghela nafas panjang. Dia setuju setuju saja memiliki dua cucu mantu yang sangat cantik. "Lihatlah olehmu Mayang dan Sutan (panggilan Tuangku Nan Sati untuk menantunya), Lindu putra kalian tumbuh menjadi pendekar muda yang tampan dan pilih tanding. Sekarang ada dua gadis yang sangat cantik sepakat dan berharap bisa jadi pendampingnya" lelaki tua itu berbisik dalam hati.


"Ayo kita melihat goa rembulan ganda sekarang" Tuangku Nan Sati berdiri, mengajak Lindu, Mayang dan Nirmala untuk melihat goa rembulan ganda. Mereka lalu beriringan menuju goa rembulan ganda.


Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala berdiri didepan pintu goa. Pintu goa itu tidak terlalu besar, namun didalamnya ada ruangan goa cukup besar. Ada sebuah dipan (tempat tidur) cukup besar terbuat dari kayu ulin hitam mengkilap. Juga ada meja teh bundar dari batu dengan tiga bangku batu mengelilinginya.


Agak kebelakang ada celah sempit dan ruangan lagi. Luasnya mungkin sepertiga dari ruangan goa sebelah depan. Disana ada sebuah kolam kecil sekitar empat sampai lima meter persegi. Air kolam kecil itu sepertinya berasal dari berbagai stalaknit yang selalu meneteskan air. Dari kolam itu terpancar suatu energi esensial unik yang sangat besar. Tidak tau benda apa yang ada didasar kolam sehingga bisa memancarkan esensi energi unik dan sangat kuat begitu.


Dua sisi ruangan yang ada kolam di goa itu banyak ditumbuhi tanaman spiritual. Tanaman itu memancarkan cahaya kehijauan. Dari tanaman spiritual itu keluar aura energi langit dan bumi yang sangat kuat. Sepertinya itu tanaman spiritual jenis latuik-latuik perak dan begonia hati dewa yang berwarna kehijauan bercahaya. Kedua jenis tanaman spiritual itu memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan energi langit dan bumi.


Lindu tersenyum senang, dia melihat kepada Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi.


"Lala, Mayang... Goa ini sangat cocok untuk berkultivasi. Usai kompetisi besok, sebaiknya kita berkultivasi disini. Mestinya tidak butuh waktu terlalu lama bagi kalian untuk naik dua level, atau mungkin satu tingkatan besar.

__ADS_1


Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tersenyum senang menatap Lindu. Mereka menganggukan kepala berbarengan. Mereka dengan senang hati memenuhi ajakan Lindu.


"Lindu, Mayang dan Nirmala, kakek keatas duluan. Karena hari ini ada pertemuan dengan para tetua pendamping sekte sekte. Kalian lihat-lihat dan nikmati dulu suasana disini." Tuangku Nan Sati beranjak meninggalkan Lindu, Nirmala dan Mayang.


__ADS_2