
"Maaf, boleh kami duduk bersama anda ? Semua meja sudah penuh hanya meja anda yang masih ada tempat." Seorang wanita cantik dengan model rambut pendek bertanya kepada pria yang duduk di balkon rumah makan di dekat pelabuhan Luaha.
Pria itu menatap kearah sigadis sebentar dan mengangguk.
"Oh silahkan Nona" katanya ramah. Gadis itu menarik sebuah kursi duduk dan menghembuskan nafas lega. Temannya seorang pria yang rapi juga menarik kursi dan duduk. Dia langsung memanggil pelayan dan membuat pesanan.
"Terimakasih untuk izinnya saudara." pria rapi dan gadis rambut pendek itu adalah Malin dan Nuri, mengangguk sopan pada pria didepannya.
"Apakah anda berdua juga baru turun dari kapal itu ?" pria yang tidak lain adalah Dupak bertanya sambil lalu. Kesannya seperti orang berbasa basi.
Nuri dan Malin saling pandang dan mengangguk. Mereka berdua sudah tau kalau Dupak adalah anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah.
"Yaa... rasanya capek juga karena kapal yang kami tumpangi sangat rame." Malin menanggapi pertanyaan sambil lalu Dupak seperti orang mengeluh.
Budui dan Morita menatap dua pemuda dihadapan mereka dengan tatapan tajam penuh selidik. Mereka berdua memasang sikap siaga.
"Siapa kalian...?!" Budui membentak dua pemuda dihadapannya. Kedua pemuda yang tidak lain adalah Rao Mudo yang menatap Budui serta Morita dengan tatapan intimidasi. Bersama Tuan Muda klan Manusia Harimau itu adalah Marda yang tersenyum menyeringai.
"Kami berdua adalah utusan raja akhirat yang menjemput kalian berdua." Suara berat Rao Mudo terdengar datar tanpa nada. Dingin dan menyeramkan.
"Apa salah kami terhadap kalian ? Kita tidak saling kenal dan tidak pernah bersinggungan !!" Nyaring suara Morita.
"Kesalahan kalian hanya satu. Menjadi bagian dari sekte iblis Tengkorak Merah.
Baiklah, kalian bersiaplah untuk bertemu raja akhirat. Kau pilih yang mana Marda ?" usai bicara dan bertanya pada Marda. Rao Mudo melesat kearah Budui. Marda geleng kepala dan menyerang Morita.
Tamparan inyiak Rao...
Tuan Muda klan Manusia Harimau Rao Mudo melesat dengan tamparan dan cakar susul menyusul kearah kepala Budui.
Dug... Dag... Deb...
Budui menangkis serangan berantai yang dilakukan Rao Mudo. Tidak mau berhenti, Rao Mudo terus menerus Budui.
Disuatu serangan Rao Mudo melenting dalam gerakan loncek harimau. Dia melintas diatas kepala Budui. Cakarnya mengenai tengkuk Budui.
__ADS_1
Srraaakkk...!!
Rao Mudo menarik kuat cakarnya. Kulit dari tengkuk hingga kepala terkelupas, memperhatikan tulang tengkorak Budui.
Wuaaaacchhh...!!
Budui menjerit keras. Darah kental meleleh deras membasahi punggung dan tubuh Budui. Rao Mudo meliuk berputar. Tumit kakinya menghantam pelipis Budui. Terdengar letupan dan suara keratakan tulang patah.
Doooss... Kraakkk...!!
Tubuh terlempar melintir dan jatuh terbanting bagaikan gedebong pisang. Nyawanya minggat sebelum tubuhnya jatuh ketanah.
Mati...!
Melihat kematian rekannya, Morita sangat ketakutan. Kemampuan bertarungnya tidaklah tinggi. Kekuatan utamanya adalah dalam ilmu pakasiah dan meringankan tubuh. Tidak mungkin baginya memenangkan pertarungan.
Morita menatap dalam kearah Marda, bibirnya bergerak gerak. Marda tersenyum menyeringai menatap Morita. Kemudian terdengar dia merintih dan terisak...
"Tolong... tolong jangan bunuh aku. Aku tidak tahu apa-apa. Tolong Tuan Muda, jangan bunuh aku." Marda tiba-tiba tertegun.
"Selamat aku Tuan Muda. Kau boleh melakukan dan berbuat apa saja padaku..." suara Morita mulai mendesah lirih. Wanita itu mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Kulit halus putih dibawah lehernya terlihat menawan.
Menggelegar suara Rao Mudo membangunkan jiwa Marda yang mulai terguncang. Pemuda itu terkejut dan wajahnya memerah.
Zhiiiiingg... Craasssh...!!
Kilau pedang berkelebat melintasi Morita. Kepala wanita itu jatuh lepas dari batang lehernya. Darah memancur dari batang leher Morita.
"Saudara Rao Mudo, terimakasih atas bantuannya."
"Kita adalah team Marda. Perempuan itu menggunakan ilmu pakasiah yang kuat. Wajar jika kau terguncang kawan." Marda merasa lega mendengar penjelasan Rao Mudo.
"Sepertinya itu kapalnya Laskar Gabungan bang Wisesa." suara Sabai terdengar halus ditelinga Wisesa, Binu dan Lenggo.
"Sepertinya begitu" ucap Binu menguatkan.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan abang Wisesa ?" Lenggo menatap Wisesa menunggu jawaban.
"Kita memecah diri jadi berdua berdua. Binu, kau berdua Sabai. Kalian berdua mengawasi dari utara. Aku bersama Lenggo dari arah selatan.
Jangan ragu dalam bertindak. Kalau perlu membunuh, jangan ragu untuk melakukan."
"Baik lah kalau begitu aku dengan Sabai akan pergi ke bagian Utara pelabuhan.
Ayo Sabai kita berangkat sekarang" gadis kecil itu mengangguk lalu melesat menghilang mengikuti binung yang sudah menuju ke bagian Utara pelabuhan.
"Lenggo, ayo !" Wisesa menarik tangan Lenggo. Mereka berjalan menuju bagian selatan pelabuhan.
Para penumpang kapal mulai turun satu demi satu. dari penampilannya mereka adalah para pendekar yang cukup kuat. udara bergetar oleh aura esensi energi yang besar. terlihat pendekar tombak sakti, Patriak sekte secabik kafan berjalan menuruni kapal bersama ketua agung Datuak Rajo Ameh. di belakang mereka ada para tetua sekte secabik kafan dengan puluhan anggota.
Terlihat banyak pendekar pengelana juga turun dari kapal yang sama. dari kapal kapal lain juga turun para pendekar dari berbagai sekte dan klan.
Dari kapal yang lain, turun dengan gagah tiga ratusan orang sambil menunggang kuda kuda yang gagah. Semua penunggang kuda berpakaian serba hitam dengan garis perak pada kerah baju mereka. Tubuh mereka terlihat tegap dengan wajah yang tegas bersegi.
Itulah pasukan khusus kekaisaran Madani. Tiga yang paling depan merupakan pemimpin pasukan.
Seorang pria gagah, diatas kuda coklat tua dengan sedikit warna putih dikepala. Dia adalah Naga Balga seorang pendekar papan atas yang juga menjadi Panglima Utama pasukan khusus Macan Hitam yaitu pasukan khusus kekaisaran Madani.
Sebuah tombak kepala golok terikat dipunggung kudanya. Tombak dengan kepala golok itu sangat terkenal di rimba hijau dunia persilatan sebagai pusaka surgawi, tombak golok langit.
Tombak golok langit itu merupakan hadiah dari Kaisar Maraja Banua. Tombak golok langit diberikan oleh kaisar Maraja Banua ketika Naga Balga menjadi Panglima Utama pasukan khusus Macan Hitam.
Tiga orang pria bagaikan bayangan mengamati semua kejadian dipelabuhan. Mereka duduk santai diatas wuwungan sebuah bangunan tinggi. Sehingga nyaris tidak terlihat dan tidak diperhatikan oleh orang-orang. Mereka saling bicara dengan suara pelan, hanya terdengar oleh mereka bertiga.
"Gila... ada belasan kapal yang membawa Laska Gabungan melalui pelabuhan ini. Bagaimana dengan pelabuhan Luwahaziwara dan Luaha ya ?" salah seorang dari mereka bicara seperti berbisik hanya bisa terdengar oleh rekan disebelahnya.
"Jika didua pelabuhan Luaha dan Luwahaziwara yang datang seperti ini juga. Meski sekte kita sudah dapat bantuan dari pusat Tionggoan dan cabang Semenanjung Malayana, Siam, dan lainnya.
Tetap saja tidak mudah bagi sekte untuk menang."
"Sssstttt....!
__ADS_1
Kalian lihat itu. Sepertinya itu pasukan khusus kekaisaran Madania. Perhatikan pria yang paling depan itu. Bukankah itu Naga Balga yang sekarang menjadi anjing kekaisaran Madani.
\=\=\=\=\=***