
Pandeta Iblis kaget. Dia langsung memancarkan aura membunuh yang sangat kuat. Esensi energi yang sangat kuat langsung menekan semua orang yang berada di haluan kapal dan sekitarnya. Aura esensi energi tingkat suci puncak, setengah langkah menuju tingkat agung memang mengerikan. Bahkan kapal yang mereka tumpangi berderak dan berderit.
Wajah-wajah Kelompok Enam meringis menahan tekanan besar.
Raja Pedang mengedarkan aura bertarungnya. Aura murni itu langsung menetralkan kembali suasana dan keseimbangan di kapal Sibangkion Bingsat. Tiba-tiba terdengar suara bersipongang diudara terbuka.
"Hentikan pertarungan kalian. Jangan merusak kapal ini. Kalian bisa lanjutkan nanti pertarungan kalian didaratan."
Kelompok Enam menyadari itu suara Raja Pedang. Namun mereka diam saja.
Pandeta Iblis menarik kembali aura membunuhnya. Sesaat kemudian mereka kembali ke kamar kabin mereka. Pandeta Iblis merasa ada satu kekuatan besar tersembunyi di kapal. Dia tidak mau ada bentrokan dengan kekuatan besar yang dia tidak tau.
Namun sebelum pergi, Patriak sekte Darah Hitam, Pandeta Iblis Haloan masih sempat meninggalkan ancaman terhadap Kelompok Enam.
"Kita akan bereskan urusan ini nanti setelah naik ke darat."
Raja Pedang kembali ke buritan kapal menikmati kopi yang belum habis. Dia mengirim transmisi suara kepada Wisesa dan Sabai agar semua berkumpul di kabin Raja Pedang.
"Kekuatan tertinggi dari sekte Darah Hitam hanya ditingkat suci puncak. Tepatnya setengah langkah keranah agung.
Besok setelah naik kedarat, kalian Kelompok Enam awasi mereka. Sekte Darah Hitam menjadi bagian dari Tengkorak Merah yang kita bereskan.
Bagaimana menurut kalian ?"
Raja Pedang menyampaikan pandangan nya kepada semua rekannya setelah mereka berkumpul di kabinnya Raja Pedang.
"Aku setuju. Kami Kelompok Enam akan memancing mereka. Tentu saja kalian dari Kelompok Empat harus membayangi kami." ucap Wisesa.
__ADS_1
"Rao Mudo, apakah kau bisa memberikan gambaran kekuatan mereka saat ini ?" Raja Pedang bertanya kepada tuan muda klan Manusia Harimau Rao Mudo. Semua mata menatap kearah Rao Mudo. Semua menunggu jawaban tuan muda klan Manusia Harimau itu. Rao Mudo merubah posisi duduknya dan berdehem beberapa kali.
"Seperti yang sudah pernah ku jelaskan, sekte Darah Hitam menjadi sekte sesat atau sekte golongan hitam terkuat di wilayah Utara. Tentu saja itu dengan mengabaikan sekte Tengkorak Merah. Karena semua sekte sesat besar yang ada di benua Emas ini kelihatannya sudah tunduk kepada sekte Tengkorak Merah.
Tadi sudah dijelaskan oleh Raja Pedang. Patriak sekte Darah Hitam, Pandeta Iblis Haloan telah berada diranah setengah langkah menuju tingkat agung. Ini jelas sebuah kekuatan yang sangat besar. Tadi kami berenam tidak ada yang kuat menahan tekanan aura membunuhnya yang begitu kuat dan pekat.
Dari rombongan mereka yang naik kapal ini, ada sekitar lima orang tetua dari tujuh tetua sekte itu. Mereka yang ikut diantaranya tetua Birong Biang, Birong Bodat dan tetua Walet Iblis. Itu mereka yang terlihat ada di area haluan kapal tadi.
Kemaren ini, ketika mereka naik kapal, aku ada melihat tetua Begu Homang dan tetua Sigulambak. Kedua tetua yang aku kemaren lihat itu kalau tidak salah adalah tetua agung dan tetua utama. Begu Homang dan Sigulambak mereka berada ditingkat suci puncak.
Diluar mereka masih ada anggota sekte Darah Hitam sebanyak tiga ratusan orang dengan tingkat raja, emas dan perak. Untuk saat ini, itulah kekuatan yang pasti kita hadapi didaratan nanti." Rao Mudo menarik nafas dan mengakhiri penjelasannya.
Semua juga menghela nafas panjang. Semua memutar kepala gantian menatap kepada Lindu. Lindu menarik nafas panjang dan semua tiba-tiba tertawa bersama. Tidak tau kenapa, mungkin karena wajah Raja Pedang yang terlihat lucu.
"Dengan kekuatan seperti yang disampaikan Rao Mudo. Kita harus mengatur pola tempur dengan mereka.
Bagaimana menurut mu Wisesa?" Raja Pedang minta pandangan Wisesa. Giliran Wisesa yang menarik nafas panjang.
- Setengah langkah ketingkat agung satu orang.
- Dua orang tingkat suci puncak.
- Satu orang ditingkat suci menengah.
- Dua orang ditingkat bumi.
- Tiga ratus orang ditingkat raja, emas dari perak.
__ADS_1
Nah, untuk posisi situasi begini. Kau mau menghadapi yang mana Raja Pedang ?" Wisesa menatap Raja Pedang dengan tatapan penuh tanya.
"Kita semua ada sepuluh orang. Mereka jumlah mereka dengan kekuatan bumi keatas ada enam orang. Sedangkan kita berada paling rendah ada ditingkat bumi.
Aku pikir, aku akan menahan Patriak sekte Darah Hitam dan Begu Homang. Wisesa saudaraku, kau menghadapi Sigulambak. Istriku Bidadari Suvarnabhumi menghadapi tetua yang ditingkat suci menengah. Sementara tetua yang lain yang ditingkat bumi akan dihadapi oleh Rao Mudo dan Sabai.
Binu, Marda, Lenggo, Malin dan Nuri kalian menghadapi tiga ratus anggota sekte Darah Hitam. Kau yang jadi koordinator untuk melawan semua anggota sekte Darah Hitam.
Kami yang bisa mengalahkan tetua sekte Darah Hitam. Akan langsung membantu team kamu menghadapi semua anggota sekte Darah Hitam." Raja Pedang berhenti sejenak menatap semua rekannya.
"Mestinya yang menjadi lawan Birong Biang dan Birong Bodat bisa cepat menuntaskan pertarungan. Jadi bisa langsung membantu melawan semua anggota sekte Darah Hitam." Sabai ikut memberi masukan.
"Aku setuju dengan Sabai. Mestinya Sabai dan saudara Rao Mudo langsung menghadapi lawannya yang tadi. Jadi pertarungan kalian mestinya tuntas lebih cepat." Bidadari Suvarnabhumi memberi usulan. Sabai dan Rao Mudo mengangguk setuju. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing dan mulai melakukan semadi untuk mengokohkan kekuatan mereka.
Waktu terus berjalan. Satu hari berlalu dengan tenang. Menjelang siang kapal Sibangkion Bingsat merapat di dermaga pelabuhan di Tano Niha. Mereka berencana menghadang rombongan sekte Darah Hitam sebelum koto Hilinaghe.
Sementara itu rombongan sekte Darah Hitam telah memasuki hutan sebelum koto Hilinaghe. Pandeta Iblis Haloan telah menyuruh belasan anggotanya untuk mencari enam pendekar muda yang menjadi lawan mereka kemaren pagi. Namun enam orang itu tidak kelihatan lagi meski cuma bayangannya.
Ketika rombongan sekte Darah Hitam berada ditengah hutan. Enam orang tiba-tiba muncul menghadang mereka.
"Hah ha haa haaa... Dicari cari tidak ketemu. Sekarang malah sendiri yang datang mengantarkan nyawa hah ha haa haaa..." Pandeta Iblis Haloan tertawa keras melihat empat orang pemuda dan dua gadis cantik berdiri ditengah jalan. Gadis yang satu terlihat masih sangat muda.
"Kau terlalu banyak berkhayal Pandeta Iblis Haloan. Apakah kau yakin bisa mengalahkan kami ?
Jangan-jangan ini adalah hari terakhir kalinya kalian bisa melihat terangnya cahaya matahari..." Wisesa berkata dengan wajah sungguh sungguh. Wajah Pandeta Iblis Haloan menjadi merah. Anak muda didepannya hanya berada ditingkat suci puncak. Yang lainnya ada di tingkat suci menengah, tingkat suci awal dan tingkat bumi. Semua mereka tidak akan pernah mampu menghadapi dirinya yang sudah berada ditingkat yang jauh lebih tinggi. Setengah langkah menuju tingkat agung.
Sejenak dia mencoba mengedarkan kesadaran batinnya. Namun dia tidak ada mendeteksi makhluk lainnya disekitar. Lalu dia menyeringai dan tertawa horor.
__ADS_1
"Hua hah hah haa haaa.... Kalian benar-benar tolol. Bermimpi terlalu jauh. Hanya dengan Begu Homang dan Sigulambak saja. Tidak perlu waktu lama. Kalian semua akan dikirim menghadap raja neraka !! Hua hah haa haaa..."
\=\=\=\=\=***\=©