Raja Pedang

Raja Pedang
#59. Mengajar Kaisar Dharma Andaleh


__ADS_3

Pangeran Tualang Buwana sedang berlatih ilmu pedang dihalaman belakang istana Suvarnabhumi. Badannya basah kuyup oleh keringat.


"Jangan ditahan ayunan pedang mu Buwana. Ikuti ayunan itu sampai ke ujung, baru tarik untuk membuat tusukan dan tebasan melintang." Lindu menberi arahan pada pangeran Tualang Buwana.


Pangeran Tualang Buwana menyesuaikan gerakan silat nya sesuai dengan petunjuk Lindu.


"Posisi kuda-kuda mu jangan terlalu lebar dan rendah. Itu akan mengurangi kecepatan dan kelenturan gerakan mu Buwana." Lindu kembali mengingatkan adik lelaki dari Dhamma Mayang. Tualang Buwana sangat senang ada Lindu calon iparnya yang sangat hebat. Berkat petunjuk yang diberikan Lindu, terjadi peningkatan signifikan dalam kemampuan pangeran Tualang Buwana.


"Kak Lindu..." terdengar suara Dhamma Nitata. Gadis kecil itu berlari kearah Lindu. Lindu tersenyum melihat kearah Dhamma Nitata.


"Kak Lindu, aku kapan diajari ilmu terbang diatas rumput ?" Dhamma Nitata bertanya dengan nada manja.


"Kakak akan mengajarkan itu nanti. Sekarang kamu harus menguasai dulu ilmu pedang Tarian Bidadari. Ayo perlihatkan kepada kakak penguasaan ilmu pedang mu."


Lindu juga memberi arahan kepada Dhamma Nitata.


Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala berencana akan pergi ke sekte Tapak Dewa. Waktu pertemuan besar golongan putih tinggal tiga minggu lagi. Ketika mereka pamit, Kaisar Dharma Andaleh menyuruh mereka untuk naik kuda saja. Tapi Dhamma Mayang berkata mereka akan terbang menuju sekte Tapak Dewa. Dengan begitu waktu yang diperlukan hanya beberapa jam saja.


Kaisar Dharma Andaleh dan Ratu Ayu Puspita menatap mereka bertiga seperti orang bodoh.


"Apa kalian mau naik pencalang ?" Ratu Ayu Puspita akhirnya tidak bisa menahan diri dan bertanya.


"Tidak Bunda. Uda Lindu telah mengajarkan kami berdua untuk bisa terbang. Kalau ada kesempatan kami harus melatihnya agar kemampuan kami terus meningkat." Dhamma Mayang menjelaskan. Ratu Ayu Puspita dan Kaisar Dharma Andaleh saling pandang.


"Bukankah kemampuan untuk terbang itu sudah lama menghilang ? Apa kau benar memiliki ilmu itu ??" Kaisar Dharma Andaleh bertanya sangat serius pada Lindu. Sebelum Lindu menjawab, Dhamma Mayang sudah melayang terbang berkeliling dalam ruangan besar itu. Gadis itu tampak begitu cantik bagaikan bidadari yang sedang menari di udara.


Lindu dan Nirmala tersenyum melihat tingkah Dhamma Mayang. Tapi Kaisar Dharma Andaleh dan Ratu Ayu Puspita sangat-sangat terpesona dan rahang mereka jatuh tanpa bisa dikontrol.

__ADS_1


"Ba... bagaimana kau bisa melakukan itu ?" Kaisar bertanya dengan sedikit tergagap. Timbul keinginan besar didalam hatinya untuk bisa terbang. Penguasa wilayah selatan benua Emas itu menatap Lindu dengan penuh harapan dan semangat. Lindu tersenyum melihat laku Kaisar yang terlihat lucu. Pemuda tampan itu lalu mengangguk.


"Aku akan mengajarkan ilmu itu kepada ayahanda Kaisar. Dengan kemampuan ditingkat suci tinggi pasti bisa. Silahkan berganti pakaian ringkas dan kosongkan waktu anda hari ini." mendengar ucapan Lindu, Kaisar Dharma Andaleh langsung menghilang. Lalu kembali dalam waktu singkat dengan pakaian ringkas setelah mendengar ucapan Lindu. Dhamma Mayang tertawa melihat kelakuan ayahnya.


Seharian penuh Lindu melatih kemampuan terbang kepada Kaisar. Pada ujung hari, Kaisar Dharma Andaleh mulai bisa terbang sedikit.


"Maukah kau mengundur waktu barang dua hari lagi baru pergi ke sekte Tapak Dewa Lindu ?" Kaisar Dharma Andaleh minta Lindu mau menunda waktunya. Lindu tersenyum dan mengangguk. Kaisar senang sekali dia sampai memeluk Lindu karena rasa senangnya.


Selama dua hari berikutnya tiada waktu tanpa dipakai buat latihan. Setelah dua hari, Kaisar Dharma Andaleh sudah bisa terbang meskipun belum stabil. Lindu mengingatkan cara menciptakan posisi seimbang saat terbang kepada Kaisar. Kaisar Dharma Andaleh mengangguk paham kepada Lindu.


"Terimakasih anak mantu, atas ilmu yang kau berikan. Ayah akan melatih lebih giat. Saat bertemu nanti dengan mu di sekte Tapak Dewa ayah akan memperlihatkan hasil pelatihan ayah kepada mu." Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.


"Kakak... kami juga ingin bisa terbang." pangeran Tualang Buwana dan Putri Dhamma Nitata berkata bareng. Mereka sangat kagum dan terpesona melihat Dhamma Mayang dan Nirmala saat terbang memberi contoh kepada ayah mereka.


"Tentu, tentu bisa. Tapi kalian harus naik dulu ketingkat suci." Lindu menjawab permintaan mereka sekaligus mendorong semangat kedua adik iparnya.


Keesokan harinya, setelah sarapan bersama. Kaisar, Ratu Ayu dan pangeran Tualang Buwana serta Putri Dhamma Nitata mengantar kepergian Lindu, Dhamma Mayang dan Nirmala lewat taman samping.


Setelah terbang selama tiga jam. Gerbang utama sekte Tapak Dewa mulai terlihat. Dhamma Mayang memilih tempat sepi untuk mendarat. Kemudian mereka berjalan santai menuju gerbang sekte Tapak Dewa.


Gerbang utama sekte Tapak Dewa dijaga oleh enam murid luar dan satu orang murid dalam. Dalam setiap melakukan tugas jaga, murid dalam dalam berperan sebagai kepala penjaga yang bertugas. Aturan sudah berjalan lebih dari seratus tahun. Terus berjalan sampai sekarang.


Murid dalam yang bertugas saat itu bernama Yashua. Seorang pemuda pemuda cakap dan rendah hati. Dia baru beberapa bulan naik jadi murid inti setelah lolos ujian yang diadakan enam bulan sekali. Yashua adalah tuan muda kedua dari klan Kiemas. Berbeda dengan saudaranya Halu yang angkuh dan suka bersenang-senang. Kiemas Yoshua sangat tekun dan juga mudah bergaul dengan siapa saja.


Yoshua baru keluar dari pos jaga untuk melakukan patroli. Patroli memang harus selalu dilakukan petugas jaga gerbang utama. Saat itulah dia melihat tiga orang berjalan santai menuju gerbang. Setelah memperhatikan lebih teliti Yoshua tersenyum lebar.


"Selamat datang Bidadari Suvarnabhumi." Dia menyapa Dhamma Mayang yang balas mengangguk.

__ADS_1


"Kau yang tugas jaga hari ini Yoshua ?" Dhamma Mayang bertanya sebagai basa basi. Yoshua tersenyum, dalam hati dia kaget karena Bidadari Suvarnabhumi menjawab sapaannya. Dia melihat sikap Bidadari Suvarnabhumi lebih ramah. Tidak ada lagi kesan dingin yang selama ini sudah menjadi ciri khasnya.


Yoshua ingat berita yang cukup viral dilingkungan sekte Tapak Dewa. Selain akan ada pertemuan besar golongan putih. Berita paling viral lain adalah ikatan perjodohan dari Bidadari Suvarnabhumi dan Raja Pedang. Mengingat hal itu Yoshua langsung melihat pemuda yang datang dengan Bidadari Suvarnabhumi.


Yoshua melihat seorang pemuda yang sangat tampan dan tampak bersahaja. Tidak terlihat seperti orang berilmu tinggi.


"Apakah ini Raja Pedang ?" Yoshua bertanya-tanya dalam hati.


Kale Lepak Sakti keluar dari ruangannya diikuti tetua Dewi Rambut Emas dan beberapa tetua lainnya. Mereka mendengar berita Bidadari Suvarnabhumi telah datang bersama dua temannya. Para murid yang melihat itu kaget dan saling berbisik.


"Siapa yang datang sehingga Patriak keluar menyambut." pikir mereka.


"Selamat datang di sekte kami Raja Pedang dan Sepasang Bidadari" sapanya ramah sambil menjura. Lindu dan Nirmala buru-buru menjura lebih dalam. Dhamma Mayang menatap Patriak sekte Tapak dengan jidat berkerut. Lindu memberi kode dan Bidadari Suvarnabhumi, gadis cantik itu buru-buru menjura.


Murid-murid yang melihat kejadian itu terkaget-kaget melihat pemuda tampan yang berdiri disamping Bidadari Suvarnabhumi itu adalah Raja Pedang yang sangat terkenal.


"Gila, masih muda banget dan tampan sekali." mereka saling berbisik. Tiba-tiba terdengar teriakan diantara murid-murid wanita.


"Raja Pedang, aku juga mau jadi istrimu...!!" Tidak jelas siapa yang berteriak tapi teriakan itu disambut riuh tawa dan teriakan lainnya. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi langsung menampilkan wajah sangar mereka. Walaupun begitu, murid-murid wanita tidak ada yang peduli.


Namun dimata murid-murid pria. Sepasang Bidadari yang berusaha menampilkan wajah sangar itu terlihat semakin cantik menawan. Bahkan ada yang meneteskan salivanya melihat kecantikan sempurna kedua gadis itu.


Kale Lepak Sakti mengajak Lindu bersama kedua gadis ke ruang pertemuan sekte. Dewi Rambut Emas dan Halimun serta tetua yang lain mengikuti dari belakang.


Bidadari Suvarnabhumi jalan disebelah gurunya setelah terlebih dahulu menjura dalam penuh hormat.


"Guru, maaf baru bisa melihat guru lagi" Dhamma Mayang menyapa Dewi Rambut Emas gurunya. Wanita cantik dengan rambut emas itu tersenyum lembut.

__ADS_1


"Guru sangat bangga dengan mu Mayang. Dalam usia muda kamu telah menorehkan nama besar di dunia hijau rimba persilatan."


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2