Raja Pedang

Raja Pedang
#46. Menuju Istana Bunian


__ADS_3

Malam itu Patriak, Matriak dan para Tetua sekte berkumpul di ruangan Patriak sekte Alang Barat. Lindu ikut hadir dalam pertemuan itu. Mereka membahas gerakan yang dilakukan gerombolan Tengkorak Merah. Datuak Batungkek Ameh menjelaskan bahwa markas unit Tengkorak Merah yang sudah hancur di hutan Tebo, adalah akibat perbuatannya dengan Wisesa muridnya.


Pandeka Sati Batuah memberi tahukan bahwa Badak Mantagi bersama Iblis Cantik Tambun Tulang sedang menuju Tano Niha. Tujuannya adalah markas besar daripada gerombolan Tengkorak Merah. Dewi Bulan memberi penjelasan lain.


"Dari informasi yang kami dapatkan, rombongan sekte Dubilih Enggano juga menuju Tano Niha. Mereka berjumlah hampir tipa puluh orang. Rombongan sekte Dubilih Enggano dipimpin langsung oleh Dubilih Galo, Patriak sekte. Informasi lain yang berhasil kami dapatkan, markas besar gerombolan Tengkorak Merah berada di hutan Hilinaghe bagian timur dari Tano Niha. Dimarkas itu akan diadakan pertemuan besar golongan hitam."


Dewi Bulan juga menjelaskan mereka masih terus mencari informasi tentang gerombolan Tengkorak Merah dan gerakan mereka. Datuak Batungkek Ameh melihat kearah Lindu dan bertanya...


"Bagaimana menurutmu Raja Pedang, apa yang akan kau lakukan setelah mendengar semua ini ?"


"Berdasarkan semua informasi tadi, sepertinya gerombolan Tengkorak Merah sudah menyebar cukup luas di benua Emas. Aku akan ikut memantau pergerakan gerombolan itu.


Namun dalam dua hari dari sekarang, aku akan pergi ke istana Bunian, setelah itu menuju kekaisaran Suvarnabhumi. Tujuan utama tentunya terkait dengan ikatan perjodohan ku. Jika semua berjalan baik, aku akan minta Ratu Shima ibunda Nirmala bisa ikut membantu apabila kekacauan besar terjadi.


Pastinya aku akan menyerap semua informasi tentang gerombolan Tengkorak Merah. Semua informasi itu akan aku sampaikan nanti saat pertemuan di sekte Tapak Dewa.


Aku akan pergi bersama Nirmala dan Mayang. Pada kesempatan ini aku minta restumu Ungku, Matriak Dewi Bulan, Bibi Seriti Merah, Dewi Rambut Emas dan semua yang hadir di ruangan ini"


Ucap Lindu sambil menghaturkan sembah. Dalam hatinya Lindu bertekad akan menghancurkan semua markas gerombolan Tengkorak Merah dan sekte maupun klan yang telah bergabung dengan gerombolan Tengkorak Merah. Pandeka Sati Batuah menanggapi Lindu.


"Raja Pedang, aku percaya kau tidak akan tinggal diam. Dengan kekuatan yang kau miliki, ada baiknya kau mengurangi kekuatan gerombolan Tengkorak Merah selama perjalanan mu."


"Pasti, aku akan melakukan semua yang Patriak katakan." jawab Lindu tegas.


---***


"Ungku... Kami mohon diri" Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala membungkuk memberi hormat pada Alang Bangkeh kakeknya. Setelah berpamitan juga dengan Seriti Merah gurunya Nirmala dan Dewi Rambut Emas gurunya Bidadari Suvarnabhumi serta semua yang ikut mengantar.


"Lindu... kami percayakan Nirmala dan Dhamma Mayang kepada mu. Lindungi mereka dengan nyawamu dan jaga kehormatan mereka." Dewi Rambut Emas dan Seriti Merah memberi pesan yang sama kepada Lindu. Lalu kedua wanita itu memberi wejangan terhadap murid mereka masing-masing.

__ADS_1


Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala meninggalkan sekte Alang Barat menuju bukit Gunuang Ledang.


Mereka bertiga jalan dengan santai sambil menikmati perjalanan. Mereka berjalan sambil ngobrol ringan seolah mereka lagi tamasya.


Setelah lewat tengah hari, mereka melihat ada warung makan di bukit Kiambang. Lindu mengajak kedua gadis cantik itu untuk istirahat dan makan. Warung makan itu cukup ramai dengan pengunjung. Ada beberapa anak dagang dan pendekar pengalana.


Mata semua lelaki yang ada di dalam warung makan melotot melihat kecantikan sempurna dari Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala. Hampir semua menelan ludahnya. Bahkan ada yang sampai meneteskan air liurnya. Lindu bersama dua gadisnya melangkah tenang kedalam dan memilih meja untuk mereka. Lindu manggil pelayan. Nirmala memesan tiga ekor gurame bakar, ayam bakar, sayur daun pucuak parancih jo lado uwok serta tiga butir kelapa muda.


Melihat dua orang gadis yang sangat cantik dengan pemuda yang terlihat lemah, beberapa lelaki nakal menjadi lebih berani menggoda Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Seorang lelaki botak berbadan besar dan seorang yang agak pendek dan wajahnya ditutupi jambang berdiri dari kursi mereka menuju meja Lindu. Kawan-kawannya bersorak dan bersuit memberi semangat. lelaki botak menatap mesum pada Nirmala dan berkata..


"Nona, ayo bergabung dimeja kami. Kalian boleh makan apa saja sepuasnya. Kami juga akan memberi kalian rasa puas yang lebih setelah itu." Lelaki botak itu mengulurkan tangannya mencoba meraih tangan Nirmala. Gadis cantik berlesung pipi itu melengos dan


Plak...!!


Sebuah tamparan keras tanpa energi mendalam mendarat diwajah si botak. Lelaki botak itu mengusap pipinya sambil menyeringai...


Plakk...!!


Auch...!!


Kali ini tamparan yang berikan Nirmala dilampiri sedikit energi mendalam. Si botak berteriak kesakitan, terlempar dengan pipi bengkak membiru. Sebuah gerahamnya lepas dan darah mengalir keluar. Si botak merasa sangat malu dengan kejadian itu. Lelaki botak itu bangkit dan memaki Nirmala.


"Dasar sundal, dibaikin malah ingin cara kasar..." si botak menubruk Nirmala dengan cepat. Niatnya jelas ingin menangkap dan memeluk Nirmala. Tentu saja gadis cantik itu tidak tinggal diam. Dia memutar tubuhnya, kaki kirinya mencuat menghantam dada si botak.


Dugh...!!


Huackh...!!


Si botak tersentak dan jatuh sambil memegang dadanya. Matanya berkunang-kunang, ia mencoba bangkit dan berteriak kepada semua kawannya.

__ADS_1


"Tangkap gadis itu dan bunuh mereka kalau melawan." Semua kawan si botak berdiri mengurung meja Lindu. Pelayan yang datang untuk mengantar pesanan Nirmala tidak berani mengantarkan pesanan. Pelayan itu berbalik kembali ke belakang. Salah seorang kawan si botak maju


"Sebaiknya kalian menyerah saja. Kami adalah anggota gerombolan Tengkorak Merah." dia berucap dengan gaya jumawa dan suara yang lumayan keras. Pengunjung yang mendengar, satu persatu keluar meninggalkan warung makan. Siapa yang tidak tau gerombolan Tengkorak Merah yang akhir-akhir ini namanya begitu menakutkan. Lebih baik menjauh dari pada nasib buruk menimpa mereka. Kawan si botak juga berfikiran sama. Gadis sangat cantik itu juga akan ketakutan bersama dua kawannya. Tapi dia amat kaget mendengar gadis sangat cantik itu berkata...


"Jika kalian adalah anggota gerombolan Tengkorak Merah ataupun sekedar antek-antek nya, pergilah buruan ke neraka."


"Ha ha haa haaa..." semua anggota Tengkorak Merah itu tertawa mendengar omongan Nirmala. Mereka merasakan aura yang dipancarkan oleh Nirmala hanya ditingkat raja awal. Mestinya dua temannya tidak akan jauh berbeda. Mereka berenam hanya dua orang ditingkat emas puncak. Lainnya berada ditingkat raja dan raja puncak. Apalah yang ditakutkan dari tiga pendekar tingkat raja. Bahkan seorang pendekar ditingkat bumi menengah bisa mereka kalah kan. Si brewok berkata dengan lantang.


"Sebaiknya kalian menyerah daripada mati sia-sia."


"Apa kalian begitu yakin...??" Terdengar suara merdu dari bibir Nirmala.


"Baik, berlututlah kalian" si brewok yang berada ditingkat raja puncak menyerang Lindu, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala dengan memakai aura kematian yang begitu menekan. Udara menjadi berat menekan dalam warung.


"Kenapa wajahmu seperti orang mau buang kotoran ?" Nirmala bertanya sambil menahan tawanya pada si brewok. Brewok dan kawan kawannya terkejut melihat gadis cantik itu dengan kedua temannya sama sekali tidak terpengaruh. Tiba-tiba mereka semua jatuh berlutut dengan wajah meringis kesakitan. Nirmala melepas aura penindasan terhadap mereka. Semua orang yang mengaku anggota gerombolan Tengkorak Merah berkeringat dingin.


"Am...amp... ampun Nona. Maafkan kami yang punya mata tapi tidak bisa melihat." si botak bicara terbata bata. Dia menyesal telah salah memprovokasi gadis cantik jelita itu.


"Aku memaafkan mu, setelah kau tinggalkan satu mata dan satu tanganmu yang hendak memegang ku. Kalian...." Nirmala menunjuk pada yang lainnya. "Lepaskan nyawa busuk kalian disini" Nirmala melepas ajian Api penghancur jiwa. Ajian itu merupakan satu ilmu yang didapat setelah segel jiwanya berhasil dilepaskan Lindu.


Cahaya kemerahan membungkus semua anggota gerombolan Tengkorak Merah kecuali si botak. Semua mereka menjerit-jerit histeris kesakitan. Mereka merasa api yang sangat panas membakar organ dalam tubuh mereka. Si botak merinding merasa ngilu melihat kawan kawannya yang menjerit-jerit kesakitan seperti terbakar. Hanya sebentar semua diam terbujur kaku.


Tubuh mereka masih terlihat utuh. Hanya saja jika baju mereka dibuka, akan tampak sebuah bulatan kecil di dada mereka seperti habis terbakar. Melihat semua itu si botak berbalik cepat melarikan diri. Baru berada dua langkah di luar pintu warung, tubuh si botak terhenti dan diam. Lalu jatuh tersungkur, mati. Lindu telah meremukan dada si botak beserta isinya dengan pukulan tanpa ujud.


Lindu minta pemilik warung makan untuk mengurus semua mayat gerombolan Tengkorak Merah setelah lebih dulu menguras semua harta mereka. Mereka bertiga berkelebat dan menghilang begitu saja dari warung makan.


Kematian enam orang anggota gerombolan Tengkorak Merah dibunuh tanpa disentuh seorang wanita cantik berpakaian lila segera menjadi berita heboh.


\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2