
Begitu benturan keras terjadi, tubuh Lebai Karat terlempar tinggi keatas. Kondisi itu menolong Labai Karat dari terkena pukulan telak. Serangan Pati Marpuang menyerempet pinggangnya.
Desszd...!!
Tuanku Lebai Karat terbanting dan terseret jauh. Tidak mau memberi lawan lawannya kesempatan untuk posisi Pati Marpuang kembali menyerang Lebai Karat.
Pukulan Tengkorak Merah
Dua bayangan tinju melesat dengan sangat cepat kearah Labai Karat. Patriak sekte Awan Bararak itu berusaha memperbaiki posisinya. Walaupun tidak benar benar siap, Patriak sekte Awan Bararak itu berusaha untuk bisa menahan serangan Pati Marpuang.
Bamm...!!
Dhuaarr...!!
Dua benturan keras kembali terjadi. Lebai Karat terlempar lebih dari dua puluh tombak. Dia memuntahkan darah dari mulutnya.
Para Tetua dan anggota aliansi golongan hitam kagum melihat ketangguhan Lebai Karat. Patriak sekte Awan Bararak kembali berupaya untuk bisa bangkit. Meskipun tampak sudah luluh lantak, Lebai Karat menata kembali posisi menyerang meskipun tampak oleng.
Pukulan tengkorak merah
Pati Marpuang kembali menyerang dengan pukulan jarak jauh. Sekarang tiga bayangan tinju melesat kearah Lebai Karat.
Labai Karat mencoba berkelit dan menahan serangan Pati Marpuang. Dua serangan dari Pati Marpuang berhasil tahan dan dihindari. Namun tindu ke tiga dengan telak bersarang di dada Labai Karat. Tubuhnya terangkat dan terlempar lagi lebih jauh.
Labai Karat megap megap. Darah berceceran dari mulutnya. Patriak sekte Awan Bararak itu merasa umurnya akan berakhir hari ini. Labai Karat teringat putrinya. Dia telah menyimpan pusaka Pedang Awan dan kitab Ilmu Pedang Awan Bararak dikalung ruang putrinya. Labai Karat berbisik dalam hati. Sabai kau harus menguasai ilmu pedang Awan Bararak nak. Tegakkan kembali sekte Awan Bararak.
Pati Marpuang berdiri dengan kaki terpentang didepan Labai Karat. Dia mengayunkan pedangnya ke leher Tuanku Labai Karat.
"Matilah...!"
Crack...!!
Pedang Pati Marpuang menebas leher Tuanku Labai Karat. Kepala Patriak sekte Awan Bararak terpisah sudah dari tubuhnya. Sejak hari itu tidak ada lagi sekte Awan Bararak.
"Aaayyaaaahh...!!" Sabai yang sedang berlari bersama tetua Hampu, tiba-tiba berteriak sangat keras. Gadis itu berhenti, dua anak sungai mengalir dipipinya. Sabai tiba tiba merasa Tuanku Labai Karat sudah tidak ada lagi di dunia.
__ADS_1
Sabai berdiri dengan kaki terpentang dan kedua tangan terkepal erat. Gadis kecil putri tunggal Patriak sekte Awan Bararak menatap kearah Bukit Surungan.
Hampu tersentak kaget. Tetua Hampu berbalik melihat pada Sabai. Dia kaget melihat gadis kecil itu berdiri tegak air mata mengalir dipipinya.
"Ayah paman..."
Hampu berjongkok didepan Sabai. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya gadis kecil itu. Sebetulnya Hampu juga sangat sedih dan terluka. Dia ingin bertempur sampai mati mempertahankan sekte Awan Bararak. Tapi menyelamatkan Sabai saat ini adalah menjadi prioritas utama.
"Kuatkan hatimu nak. Suatu hari nanti, kita akan kembali dan membalas semua ini. Sekarang kita harus bisa mencapai sekte Alang Barat. Kita akan melaporkan keadaan ini mamakmu Alang Babega.
Lindu menatap kearah pintu rumah makan. Tampak satu rombongan, sekitar lima belas orang berjalan menuju rumah makan. Lindu melihat Cakra berada dalam rombongan itu. Pemuda tampan itu langsung mengirim benang aura perasa miliknya. Dia cukup terkejut merasakan energi tingkat suci menengah dari pria yang memakai jubah warna merah.
"Itu orangnya !!"
Cakra menujuk kearah meja yang ditempati Lindu bersama Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala. Seorang pria agak gemuk dengan perut buncit membentak dengan suara keras.
"Kalian bertiga yang..."
Pria itu tertegun, tidak jadi mengeluarkan makian ketika Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala berbalik menatap dan tersenyum.
"Kalian mau apa ?" Nirmala bertanya dengan suara merdu mendayu.
Apa lagi ketika melihat kecantikan sempurna milik Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Menguap begitu saja segala amarah yang memenuhi dada dan kepalanya. Melihat gaya Ampo Tulung, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi berdiri dan pindah kesebelah Lindu. Mereka berdua melihat Ampo Tulung dengan tatapan takut dan memeluk lengan Lindu.
"Anak muda..." Ampo Tulung berkata kepada Lindu.
"Aku akan melepaskan mu dan menganggap tidak ada lagi urusan diantara kita. Kau boleh pergi dan tinggalkan kedua gadis itu disini."
Lindu menatap Ampo Tulung sejenak. Lalu dia melihat kearah Gordo, Cakra serta semua pengawal dan warga yang makin banyak menonton dari luar rumah makan.
"Kalau tidak mau pergi karena tidak mau kehilangan kedua gadis cantik ini gimana ?" Lindu balas bertanya dengan suara bernada lucu. Orang orang yang berada diluar rumah makan merasa kasihan melihat Lindu. Mereka semua tau siapa Gordo. Pria sangat kejam yang jadi pelindung penguasa kota.
Lindu sengaja bicara begitu. Dia tau Gordo pasti seorang penting dari markas cabang gerombolan Tengkorak Merah yang ada dekat kota kecil Banyu Lincia dari seragam yang dikenakannya.
"Kalau kau maunya begitu maka kau harus mati..." Pengawal yang ada bersama Ampo Tulung bergerak untuk segera membunuh Lindu.
__ADS_1
"Tunggu...!" Lindu mengangkat tangannya. Semua pengawal berhenti melihat aba-aba Ampo Tulung. Lindu melanjutkan bicaranya.
"Bagaimana kalau aku pergi tapi aku bawa kepala monyet berjubah merah itu ?" Lindu bertanya dengan wajah polos.
Semua orang yang ada disitu menjadi pucat. Termasuk Ampo Tulung dan Cakra.
"Ha haa haaa..." Gordo tertawa ngakak, mendengar perkataan Lindu.
"Kau boleh membawa kepala ini, jika kau mampu untuk mengambilnya sendiri. Ha haa haaa..." Gordo tertawa keras.
"Baiklah kalau begitu" jawab Lindu. Suaranya terdengar dingin menusuk, dan...
Slash... Crezz...!!
Segaris kilat melintas dengan sangat cepat. Kepala Gordo lepas dan menggelinding di lantai rumah makan. Matanya masih menatap bingung.
Dia sempat melihat Lindu mengambil sebuah pedang dari ruang hampa. Kemudian seperti ada kilauan dan lalu semua menjadi gelap. Pedang Mustika Embun kembali menghilang dari tangan Lindu.
Ketua markas cabang gerombolan Tengkorak Merah itu tidak pernah menyangka akan mati begitu mudah. Sebagai pendekar tingkat suci menengah boleh dikatakan tidak ada orang yang mampu melawan dirinya selama ini.
Ampo Tulung pucat pasi melihat semua itu. Kakinya lemas dan tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Penguasa kota kecil Banyu Lincia itu terduduk dilantai. Air bewarna kekuningan dan bau pesing menggenang ditempat dia duduk.
"A... am... ampun tuan muda. Sudah setua ini mataku tidak bisa melihat dengan jelas. Ampunilah aku..." Ampo Tulung menyembah pada Lindu diikuti Cakra dan semua pengawal. Lindu tersenyum ringan. Senyuman khas dan unik miliknya. Senyum yang muncul bila keinginan kuat membunuh lawannya muncul.
"Akun hanya membiarkan satu orang dari yang boleh pergi dalam keadaan hidup." Suara Lindu terdengar dingin menusuk.
Semua langsung berdiri menghunus senjata mereka. Pertarungan diantara mereka mulai terjadi. Orang-orang yang menonton jadi heboh. Semua senang dan juga ngeri melihat kematian Gordo. Beberapa pendekar yang ikut menonton juga sangat kaget. Seorang diantara mereka berkata setengah bertanya.
"Apakah itu Raja Pedang !?!"
Yang menimpali.
"Ya... itu pasti Raja Pedang" Kemudian ada sekitar lima orang pendekar memasuki rumah makan. Mereka bersama membunuh penguasa kota dan semua pengawalnya.
"Raja Pedang dan Sepasang Bidadari. Kami siap menjadi penunjuk jalan menuju markas Tengkorak Merah." seorang dari pendekar itu berkata sambil menjura pada Lindu dan Dhamma Mayang serta Nirmala. Yang lain mengangguk membenarkan.
__ADS_1
Raja Pedang dan Sepasang Bidadari mengangguk, lalu mengikuti lima pendekar tersebut. Mereka berjalan kearah timur kota, menuju hutan Kepayang.
\=\=\=***\=\=\=