Raja Pedang

Raja Pedang
#80. Berita Kehancuran sekte Buayo Lalok


__ADS_3

"Tolong bunuh aku Raja Pedang. Aku tidak mungkin bisa hidup seperti ini. Bunuhlah aku, demi ayah dan ibu mu." Kalo Mantiko memohon kematian segera diberikan Lindu kepadanya.


Jika Lindu tidak mau memberi kematian kepadanya. Tanpa tangan dan kaki, bagaimana mungkin dia bisa tetap hidup? Sungguh aneh, ternyata bisa juga kematian menjadi suatu keinginan yang sangat mewah saat itu.


Lindu masih diam menatap Kalo Mantiko. Kalo Mantiko juga memohonkan kematian untuknya kepada Nirmala dan Mayang. Kedua wanita jelita itu diam dan menatap Lindu. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan Lindu. Pelan terdengar suara Lindu.


"Apa yang akan kau lakukan, seandainya kedua tangan dan kakimu masih utuh ?" Kalo Mantiko menatap Lindu dan merasa bingung. Dalam hati dia mendusin. "Untuk apa lagi berandai-andai jika kondisinya sudah begini ?"


"Kenapa kau diam saja ?" Lindu kembali bertanya dan memperhatikan air muka Kalo Mantiko. Bekas tetua sekte Iblis Tambun Tulang akhirnya menjawab.


"Jika saja bakal jadi begini, lebih baik aku menjadi petani. Bukan menjadi pendekar hitam seperti ini." Terdengar suara putus asa dan sesal dari mulut Kalo Mantiko.


"Baiklah, aku akan kembalikan tangan dan kakimu. Aku juga akan menghancurkan dantien mu. Pergilah jauh dan jadilah petani." Lalu Lindu memasang segel penghancur pada dantien Kalo Mantiko. Setelah itu dia memasukkan pil penumbuh dua butir kemulut Kalo Mantiko dan berpaling kepada Mayang dan Nirmala.


"Ayo ambil cincin ruang dan harta mereka, lalu bebaskan semua tahanan jika ada." Lindu mengajak Nirmala dan Mayang. Mereka lalu pergi meninggalkan Kalo Mantiko yang terus menggeliat menahan rasa sakit tidak terucapkan.


Hampir satu jam, Lindu, Mayang dan Nirmala kembali ketempat Kalo Mantiko. Tampak Kalo Mantiko sedang menunggu kedatangan Lindu.


"Raja Pedang, terimakasih untuk semuanya. Silahkan kau hancurkan dantien ku. Setelah itu aku akan pergi ke lereng Talang menjadi petani disana.


Alang Babega duduk menatap laut. Kemudian dia melempar pandangan jauh keujung jalan menuju sekte Alang Barat. Segelas kopi pahit berada disampingnya, mulai dingin. Singkong rebus dan sepiring kecil gulo anau serta kelapa parut ada disebelah singkong rebus.


Alang Babega malah belum menyentuh makanan peganan kesukaannya. Dia begitu larut dengan pikiran sendiri.


"Ah... bagaimana kondisi Sabai sekarang ? Siapa yang membantunya kabur ? Apakah gadis kecil itu baik-baik saja ?" Banyak kemungkinan buruk bermain dalam kepalanya. Hal yang semakin menjadikan Alang Babega gundah.


"Kenapa uda Sutan ? Percaya saja, surga pasti tidak akan membiarkan Sabai terlantar." Seriti Merah, istri Alang Babega berusaha meyakinkan suaminya. Setelah tiga tahun menikah, Seriti Merah hamil. Kehamilannya telah berusia delapan bulan. Mestinya tidak lama lagi Alang Babega dan Seriti Merah segera memiliki seorang putra.


Alang Babega tersenyum melihat Seriti Merah. Pria itu segera bangkit dan membimbing istrinya.

__ADS_1


"Tidak apa Seriti. Memang aku sering terpikir masalah Sabai. Aku merasa bersalah kepada mendiang Labai Karat karena tidak tahu dimana kini Sabai berada. Semoga saja pemikiran mu benar."


"Kok kopi dan rebus singkong ini tidak uda Sutan sentuh ?" Seriti Merah mengalihkan pembicaraan. Alang Babega tersenyum mahfum kepada istrinya.


"Uda Sutan, apa uda sudah menyiapkan nama untuk calon anak kita ?" Seriti Merah bertanya dengan nada manja. Pria gagah itu beranjak duduk kesebelah istrinya, perlahan dia membelai perut istrinya yang sudah besar.


"Ehm... ehm,..." Tiba-tiba terdengar suara tiga orang berdehem. Alang Babega dan Seriti Merah kaget dan mereka teriak berbarengan


"Lindu, Nirmala...!!"


"Mayang...!! Ayo masuk, masuk !" Seriti Merah segera bangkit meski sedikit agak lambat.


"Guru...?! Apakah aku segera mempunyai adik ??" Nirmala menyerocos melihat gurunya.


"Selamat ya bibi Seriti, selamat paman Alang" Lindu dan Mayang memberi ucapan selamat.


"Paman Alang, kami juga membawa pesan khusus untuk mu. Karena itulah kami belum menemui Ungku." Lindu terdengar mulai serius.


"Kakek mu mestinya tiga hari lagi baru bisa kau temui. Lusa menurut jadwalnya, beliau baru keluar dari pelatihan tertutupnya.


Apa pesan yang hendak kau sampaikan ?" Alang Babega menatap serius kepada Lindu.


"Ini berkaitan dengan Sabai paman." kaget Alang Babega begitu Lindu menyebut nama Sabai. Tanpa sadar dia memajukan duduknya dengan wajah serius.


"Sabai berhasil lolos dari maut ketika sekte Awan Bararak diserang oleh sekte Iblis Tambun Tulang dengan bantuan Tengkorak Merah. Tetua Hampu berhasil membawa Sabai keluar dari sekte Awan Bararak melalui lorong rahasia.


Mereka berniat untuk mencari paman kesini, ke sekte Alang Barat. Namun sayangnya Sabai dan tet..." Kalimat Lindu dipotong oleh Alang Babega. Suaranya terdengar penuh rasa khawatir.


"Kenapa dengan Sabai ??"

__ADS_1


"Tenang dulu paman Alang, dengarkan dulu. Jadi saat mereka menuju kesini, saat melintas hutan Malalak. Mereka dibegal kelompok penyamun Limo Badak. Unt..." Lindu lalu menjelaskan secara detail. Alang Babega lebih terkejut lagi, namun dia merasa sangat senang dan bangga.


"Apa ?? Ka... kau bilang Sabai sekarang menjadi murid Dewa Tanpa Bayangan ?


Tunggu... sejak kapan ada kelompok penyamun Limo Badak ? Sejauh yang aku tau, yang ada hanya sekte Limo Badak. Namun markas mereka berada jauh di daerah Tapan dikawasan pesisir selatan benua Emas, bukan di hutan Malalak." Lindu, Mayang dan Nirmala menjadi agak bingung mendengar Alang Babega. Mereka memang tidak ada yang tau dengan sekte Limo Badak sebelumnya. Lindu berkata...


"Apa karena gejolak yang sangat kencang di rimba hijau dunia persilatan mereka pindah paman ?"


"Bisa jadi. Mungkin juga sekte itu diserang sekte lain dan sebagian lolos dan pindah ke hutan Malalak ?" Mayang ikut menimpali.


"Bisa jadi seperti apa yang kau katakan Mayang." Seriti Merah menimpalinya.


"Sekte Limo Badak termasuk sekte sesat menengah. Bisa jadi mereka diserbu oleh sekte Buayo Lalok. Sehingga jumlah mereka berkurang jadi seratus atau dua ratus anggota. Sehingga kelompok terpaksa meninggalkan markas mereka untuk bisa bertahan."


"Baiklah, apa yang akan kita lakukan sekarang ? Karena ada berita, sekte Buayo Lalok sekarang juga telah diserang oleh sekte Dubilih Enggano. Sekte Buayo Lalok sekarang bisa dibilang sudah tidak ada. Sisa-sisa muridnya yang lolos karena sedang menjankan misi, sekarang terpencar.


Dua dari mereka berlindung di sekte Alang Barat ini. Menurut khabar, sekte Dubilih Enggano dibantu oleh Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak. Kedua orang itu berasal dari gerombolan Tengkorak Merah. Katanya, Ang Coa Mosin tingkatan nya sangat tinggi. Katanya sudah ditingkat agung. Sehingga tak ada satu orang pun di sekte Buayo Lalok yang sanggup untuk menghadapi mereka.


Itulah yang menyebabkan sekte Buayo Lalok hancur.


Perlu kau ketahui Lindu, juga kamu Mayang dan Nirmala. Saat ini, sebetulnya sudah cukup banyak sekte dan klan menengah yang dihancurkan. Sekte Buayo Lalok adalah satu-satunya sekte besar yang telah berhasil mereka hancurkan." Alang Babega mengakhiri penjelasannya.


"Sebenarnya sebelum kesini, kami sudah menghancurkan sekte Iblis Tambun Tulang. Atas informasi paman Alang, kami juga akan menghapus keberadaan penyamun Limo Badak di hutan Malalak." Lindu menyampaikan niatnya kepada Alang Babega.


"Aku akan ikut. Sebaiknya kita tunggu Patriak keluar dari latihan tertutup dua hari lagi."


Lindu kemudian menempati sebuah bungalow bersama istri-istrinya.


\=\=\=***\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2