
Pertempuran itu lebih tepatnya disebut dengan pembantaian terhadap tiga ratusan anggota sekte Darah Hitam. Kemanapun para pendekar muda itu bergerak. Pasti ada anggota sekte Darah Hitam yang tumbang. Kalau tidak mati, mereka pasti dalam kondisi terluka parah.
Pandeta Iblis Haloan melesat sangat cepat kearah Raja Pedang. Suara gemuruh terdengar ketika senjata menebas bersilangan. Bukan menghindar ataupun menangkis serangan Pandeta Iblis Haloan. Raja Pedang melepas bagaikan kilat menerjang dengan Pedang Penakluk Iblis.
Pedang Penakluk Iblis memotong senjata Pandeta Iblis Haloan seperti membelah tahu. Pedang Penakluk Iblis terus meluncur membelah tubuh Pandeta Iblis Haloan. Tubuh Patriak sekte Darah Hitam hitam itu jatuh bertebaran.
Pertempuran berakhir sudah. Tidak satupun anggota sekte Darah Hitam yang tersisa, lebih dari tiga ratus orang semua tewas dibantai oleh Raja Pedang dan kelompok sepuluh mereka. Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi membagikan pil yang berfungsi untuk menyembuhkan luka dan mengembalikan tenaga.
Setelah beristirahat selama satu jam.
"Kita lanjutkan perjalanan menuju koto Hilinaghe. Kita kembali menjadi kelompok enam dan kelompok empat." Raja Pedang bangkit dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu, kumpulkan dulu semua kantong penyimpanan mereka. Setelah itu kita jalan." Wisesa mengingatkan.
Dimarkas utama sekte Tengkorak Merah.
"Patriak... Patriak..." Hiliang Rupo salah seorang pimpinan dari kelompok pengintai sekte Tengkorak Merah. Dia datang tergopoh-gopoh.
"Ada apa Hiliang ??!" Patriak sekte Tengkorak Merah Setan Merah bertanya dengan jidat berkerut dalam.
"Semua orang dari... dari sekte Darah Hitam..." suara Hiliang Rupo terputus putus. Dia masih merasakan getar kengerian dalam hatinya. Setan Merah menatap Hiliang Rupo dengan kening berkerut.
"Semua orang dari sekte Darah Hitam, dipimpin langsung oleh Patriak sekte Pandeta Iblis Haloan. Juga ada beberapa panatua sekte tengah menuju kesini dengan tiga ratusan anggota."
"Ha haa haaa... Bagus bagus..! Mereka akan jadi tambahan kekuatan bagi kita." Setan Merah tertawa senang. Dia menyela ucapan Hiliang Rupo.
Wajah Hiliang Rupo makin putih mendengar kata kata Setan Merah.
"Bukan... bukan begitu Patriak. Mereka semua... mereka semua telah mati..."
"Aappaaa....??" Setan Merah berteriak keras. Matanya melotot menatap Hiliang Rupo.
"Bagaimana mereka bisa mati semua...?!!! Apakah Patriak sekte Darah Hitam Pandeta Iblis juga mati ??!" tangan Setan Merah bergetar meremas tangan kursinya. Kursi yang terbuat dari batu hitam teramat keras tersenyum hancur menjadi bubuk.
__ADS_1
"Mereka semua, termasuk para Tetua dan Pandeta Iblis Haloan.
Mereka diserang oleh kelompok pendekar berilmu tinggi di hutan sebelum koto Hilinaghe. Pertempuran itu hanya terjadi dalam waktu kurang dari tiga jam." Setan Merah tertegun mendengar penjelasan Hiliang Rupo.
Patriak sekte gerombolan Tengkorak Merah sangat mengerti dan paham dengan kemampuan Pandeta Iblis Haloan. Patriak sekte Darah Hitam itu adalah pendekar tangguh tingkat suci puncak. Bahkan sudah setengah langkah menuju tingkat agung.
Yang membuat dia tidak habis mengerti siapa yang menjadi lawan Pandeta Iblis Haloan. Seberapa tinggi kemampuan orang itu. Apakah ditingkat agung awal seperti dirinya ? Atau lebih tinggi lagi ?
"Hiliang, beritahu kepada seluruh tetua, serta Patriak dan tetua sekte pendukung yang sudah tiba. Kita kumpul di aula utama." Setan Merah segera memberi perintah.
Dalam waktu singkat, berita kehancuran rombongan sekte Darah Hitam dengan sangat cepat menyebar. Beberapa hari menjadi berita utama di rimba hijau dunia persilatan.
Ruang pertemuan di posko Laskar Gabungan sedang ada pertemuan pendekar. Ada lebih dari lima ratus orang yang ikut dalam pertemanan itu. Selain dari pihak tiga kekaisaran, hadir para Patriak dan tetua atau panatua berbagai sekte dan klan besar dan menengah.
Dipodium utama duduk berjejer kaisar Dharma Andaleh, jendral Nala Punta, Kale Lepak Sakti, Mangaraja Tohir bersama Ratu Shima serta Pendekar Tombak Maut Patriak sekte Secabik Kafan dengan tetua agung Datuak Batungkek Ameh dan Alang Bangkeh Patriak sekte Alang Barat kakeknya Lindu.
Setelah kata sambutan dari jendral Nala Punta, kaisar Suvarnabhumi Dharma Andaleh memimpin pertemuan.
"Menurut informasi yang bisa dipercaya..." kaisar Dharma Andaleh diam sejenak menatap kearah semua peserta rapat. Semua hadirin menatap penuh tanya kearah kaisar Dharma Andaleh.
Ruangan itu langsung berdengung. Hampir semua yang hadir berbicara dengan orang disebelah mereka.
"Jadi Patriak sekte Darah Hitam sudah tewas ditangan Raja Pedang ?"
"Apakah itu berarti sekte Darah Hitam sudah menjadi sekte kelas bawah ?"
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menghancurkan kekuatan golongan hitam di benua Emas ini."
Berbagai ungkapan keluar. Suasana pertemuan jadi bergalau. Kaisar Dharma Andaleh mengangkat tangannya dan berdehem.
"Ehhemm..." ruangan kembali tenang. Perhatian dari semua pihak kembali fokus pada kaisar Dharma Andaleh.
"Saudaraku para pendekar. Ini adalah momen yang tepat untuk kita berangkat menuju Tano Niha. Dengan apa yang telah dilakukan oleh Raja Pedang dan kawan-kawannya.
__ADS_1
Bisa dipastikan, saat ini kelompok golongan hitam, khususnya gerombolan Tengkorak Merah terguncang hebat. Bagaimana menurut Anda semua ??" kaisar Dharma Andaleh kembali melempar bola kepada semua pendekar yang hadir. Sebagai mantan pendekar kaisar Dharma Andaleh sangat mengerti sifat para pendekar. Karena itu, meski sudah sangat ingin berangkat ke Tano Niha. Dia tetap minta masukan dari semua yang hadir.
Patriak klan Caniago si Pedang Kilat angkat tangan. Dia langsung bicara setelah mendapatkan izin untuk bicara dari kaisar Dharma Andaleh.
"Maaf Kaisar. Apakah ada informasi bantuan untuk gerombolan Tengkorak Merah dari Semenanjung Malayana, benua Tionggoan dan lainnya Bagaimana peta kekuatan mereka saat ini ?"
Para pendekar mengangguk membenarkan pertanyaan Pedang Kilat. Peta kekuatan lawan sangat diperlukan untuk mengatur strategi. Juga menjadi bahan pertimbangan utama sebelum penyerangan dimulai.
Kaisar Dharma Andaleh tersenyum dan menarik nafas. Mangaraja Tohir, Patriak klan Mangaraja bicara setelah kaisar Dharma Andaleh mengangguk.
"Berdasarkan pengamatan kami, bantuan dari Semenanjung Malayana, Tionggoan, Siam dan lainnya telah tiba.
Ada sekitar dua ratus orang. Ada seorang pria Tionggoan dengan rambut dikepang. Sepertinya dia adalah orang yang memimpin rombongan. Orang kami tidak mampu membaca tingkatannya.
Mungkin sudah ditingkat agung, tapi tidak tahu level mana. Ada belasan orang berada di tingkat suci. Ada puluhan di tingkat bumi. Yang terendah adalah tingkat raja.
Seperti itu gambarannya. Untuk kekuatan dalam ada sekitar lima ribuan yang terdiri dari dua ribu dari gerombolan Tengkorak Merah. Tiga ribuan adalah dari anggota aliansi.
Aah.... mungkin kurang dari tiga ribu. Karena sekte Darah Hitam sudah musnah." Mangaraja Tohir mengakhiri penjelasannya. Bisik-bisik kembali mendengung memenuhi ruangan pertemuan.
"Bagaimana kekuatan kita Laskar Gabungan ?" Pimpinan klan Manusia Harimau, Datuk Rao Api bertanya. Yang lain m
"Sesuai data kita, laskar gabungan terdiri dari sekte, klan, pendekar kelana dan pasukan khusus dari tiga kekaisaran. Kita semua berjumlah empat ribu lima ratus orang. Tapi nanti akan datang bantuan pasukan dari kerajaan Ratu Shima.
Peta kekuatan kita juga ada beberapa orang ditingkat agung, ada sekitar tiga puluh orang ditingkat suci, kemudian ada ditingkat langit, bumi dan raja. Yang paling banyak ada ditingkat emas.
Namun dari delapan ribu orang itu, ada sekitar lima ratus orang adalah pasukan pemanah.
Pasukan pemanah ini, akan sangat berguna dalam pembukaan serangan. Karena kita juga telah menyiapkan panah api."
"Kalau begitu, tinggal atur cara pemberangkatan. Perlu diatur juga cara dan tempat kapal-kapal kita merapat."
Pertemuan itu terus berlanjut.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***