Raja Pedang

Raja Pedang
#115. Kematian Mo Sin Xianseng


__ADS_3

Pedang Mustika Embun embun melesat berkelebat sangat cepat. Mo Sin Xianseng segera melenting membuang diri menghindar dari tebasan yang dilakukan Bidadari Suvarnabhumi.


Craasssh...!!


Kali ini pundak Mo Sin Xianseng somplak ditebas Pedang Mustika Embun.


Mo Sin Xianseng bersalto dua kali kebelakang.


Pria asal Tionggoan itu sangat kesal, marah dan putus asa. Dia mau bicara, mau negosiasi. Tapi mereka saling tidak mengerti bahasa. Tidak ada pilihan lagi selain bertarung sampai mati. Karena melarikan diri sudah pasti tidak mungkin. Apalagi pemuda yang menyebut dirinya Raja Pedang itu, pasti langsung menghalangi jika dia mencoba kabur.


Merasa benar-benar tidak ada pilihan lagi. Mo Sin Xianseng merapatkan bibirnya. Dia menghela nafas dalam-dalam dan mengempos energi mendalamnya bersama dengan hawa murninya.


"Matilah...!!"


Mo Sin Xianseng melesat sangat cepat kearah Bidadari Suvarnabhumi. Dua bentuk pukulan beruntun dia lepas. Kedua tangannya berkilauan dibalut energi yang sangat kuat.


Udara bergetar hebat, angin menderu mengaum...


Whhaaaammm...!!


Baaaaammm...!! Traaakk...!!


Deeess...!! Ctar...!


Esensi energi yang sangat besar bertemu menimbulkan ledakan besar dan kerusakan dalam hutan. Serangan susulan dengan rambut kepang bagaikan cambuk menghantam pundak Bidadari Suvarnabhumi.


Bidadari Suvarnabhumi terdorong mundur lima langkah. Dia meludahkan segumpal darah yang memenuhi mulutnya akibat hantaman rambut kepang Mo Sin Xianseng yang keras bagaikan besi.


Menggunakan dua belas langkah ajaib, Bidadari Suvarnabhumi kembali menyerang.


Slaash...!!


Pedang Mustika Embun berkelebat merobek bagian pinggang Mo Sin Xianseng.

__ADS_1


Salah satu orang kuat sekte Iblis Darah dari negri Atap Dunia itu semakin melemah. Darah yang banyak keluar dari luka-luka di tubuhnya, menguras kekuatan dan kemampuan Mo Sin Xianseng.


Matanya mulai berkabut dan badannya terasa mengawang. Mo Sin Xianseng menatap kearah istri Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi dengan kebencian yang amat sangat.


Tanpa peduli dengan apapun yang dilakukan oleh Mo Sin Xianseng. Bidadari Suvarnabhumi kembali menggunakan dua belas langkah ajaib.


**Sszzzt... set**...


Tiba-tiba dia sudah berada di dekat Mo Sin Xianseng. Pedang Mustika Embun bergerak sangat cepat bagaikan hujan deras.


Puluhan bahkan ratusan tusukan pedang menerpa tubuh Mo Sin Xianseng. Meski berusaha untuk menangkis dan menghindar. Tak ayal lagi belasan tusukan menembus tubuh Mo Sin Xianseng. Darah kental muncrat kemana mana. Mo Sin Xianseng bagai tirisan saking banyaknya lobang di tubuhnya.


Patriak salah satu cabang utama sekte Tengkorak Merah dari Tionggoan itu perlahan rubuh. Tubuhnya terasa lemas dan dia bertumpu dengan kedua lututnya. Mo Sin Xianseng menceracau dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Bidadari Suvarnabhumi dan Raja Pedang.


Mo Sin Xianseng melihat kearah Raja Pedang. Dia merasa kabut semakin tebal menutupi matanya. Perlahan Mo Sin Xianseng jatuh, rebah, tengkurap ditanah. Kematian merangkul pria Tionggoan itu bertemu Raja neraka.


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi meninggalkan hutan dan kembali ke penginapan.


Udara terasa panas di daerah pelabuhan Luaha. Mungkin karena tingkat kesibukkan yang sangat tinggi. Jauh dari kondisi biasa.


Berfikir begitu Dupak semakin gelisah. Dia melirik Malin dan Nuri yang tengah menikmati pesanan mereka. Ketika Dupak hendak berdiri untuk pergi meninggalkan rumah makan itu.


"Kenapa anda terlihat gelisah saudara Dupak ?" Dupak menyembunyikan rasa kaget dalam hatinya. Dia tidak mengira Nuri, gadis manis dengan rambut pendek itu diam diam memperhatikan dirinya. Namun dia lebih kaget lagi ketika mendengar suara Malin.


"Rekan mu yang telah pergi dan menghilang dari pelabuhan itu mungkin sudah mati." Dupak terbelalak. Tanpa disadari keringat dingin menjalar membasahi punggungnya.


"Siapa kalian berdua sebenarnya ?!" Dupak bertanya dengan nada keras membentak kepada Nuri dan Malin.


"Bukan siapa siapa. Kami hanya kelompok yang datang untuk menghancurkan sekte Tengkorak Merah.


Itu saja." Malin menyeringai menatap Dupak dengan mata yang menghina.


"Apakah kau pikir kami tidak mengetahui apa yang sedang kau kerjakan disini ? Apakah kau pikir kami tidak tau bahwa adalah team pengintai, yang merupakan anggota telik sandi gerombolan Tengkorak Merah ??" suara Malin terdengar bagaikan ledakan granat di telinga Dupak.

__ADS_1


Sszzzt...!!


Dupak segera melenting melewati balkon untuk segera melarikan diri. Begitu tubuhnya melayang melewati pagar balkon. Satu bayangan melesat melewati Dupak.


Craasssh...!!


Kepala dupak jatuh lebih jauh dari tubuhnya. Kepala itu berhenti menggelinding didepan seorang wanita hamil yang sedang berjalan dengan suaminya.


Aaaaahhh...!!


Jeritan perempuan itu melengking tinggi. Dia jatuh pingsan dan langsung jatuh ke pelukan suaminya. Jeritan wanita itu membuat orang orang disekitarnya melihat kearah wanita itu.


Kehebohan segera terjadi. Orang orang berkumpul melihat mayat yang jatuh dari balkon rumah makan dengan kepala terpisah. Sebagian dari mereka melihat kearah balkon tapi tidak ada siapapun disana.


Seorang berpakaian pengemis keluar dari kerumunan. Dia segera melesat pergi dengan cepat. Dia harus segera melapor ke posko unit telik sandi yang berada di hutan dipinggir kota Luaha. Dupak sudah tewas, berarti mereka sudah ketahuan.


Dua bayangan mengikuti pengemis yang tengah berlari kencang. Pengemis itu terus berlari dengan cepat. Dia ingin segera sampai diposko telik sandi untuk segera melapor. Pengemis itu terus berlari dan tidak sadar jika dia tengah diikuti.


Sesampai didepan sebuah pintu hutan. Pengemis itu berhenti sejenak. Dia mengedarkan pandangannya kesegala arah. Setelah yakin tidak ada yang mengikutinya, dia kemudian melesat masuk ke dalam hutan. Tidak terlalu jauh, segera terlihat sebuah bangunan cukup besar dengan pagar tinggi.


Pengemis itu langsung masuk dan menghilang dibalik gerbang. Dua bayangan yang mengikuti si pengemis mengawasi bangunan itu dari balik rimbunan pepohonan. Bayangan itu tidak lain adalah Malin dan Nuri.


"Nuri, aku pikir kamu mencari saudara Rao Mudo dan Marda. Sementara aku akan terus mengawasi bangunan itu."


"Apakah kau yakin, tidak apa-apa disini ?" Nuri melihat kedalam bola mata Malin. Pemuda tampan yang selalu tampil rapi itu tersenyum kecil memberi keyakinan pada Nuri.


"Malin kamu harus hati-hati benar. Jalan mengambil tindakan apapun yaa." Malin tersenyum sambil meremas jemari tangan Nuri. Hatinya buncah dengan rasa senang atas perhatian yang diberikan oleh Nuri.


"Aku tidak apa-apa dan tidak akan melakukan hal-hal yang konyol. Kamu tenang saja.


Pergilah, dan cepat kembali." ucap Malin sambil melepas genggaman tangannya.


"Kamu hati-hatilah disini"

__ADS_1


"Kau juga, cepat temukan Rao Mudo dan Marda."


\=\=\=\=\=***


__ADS_2