
Hatinya sedikit bergetar tapi dia menutupi dengan tertawa lantang.
Ha... haa... haaa...!!
"Siapa kau Buyuang busuak ?" Kacak Mudow bertanya dengan suara lantang. Wisesa menatap lurus kedalam mata Kacak Mudow.
"Orang-orang rimba hijau dunia persilatan memberikan nama kepada ku Kerambit Maut." Kacak Mudow dan dua temannya tersentak kaget mendengar nama Kerambit Maut. Seorang pendekar yang namanya cukup santer saat ini wilayah derek.
Namun sebagai pendekar tingkat bumi awal, tentu saja Kacak Mudow merasa lebih hina jika buru-buru keluar dari kedai simpang Selayo itu. Apa lagi saat ini dia bersama Kabau Hitam dan Dewi Kecubung Maut.
"Ha... haa... haaa... Kerambit Maut, pendekar muda yang lagi naik daun. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir kau menikmati udara di dunia ini.
Seraaang...!!"
Kacak Mudow dan Kabau Hitam serta Dewi Kecubung Maut melesat menyerang kearah Wisesa, Malin dan Nuri. Kacak Mudow langsung menerjang Wisesa, Kabau Hitam menyerang Malin. Sedangkan Dewi Kecubung Maut menerjang Nuri dengan cakar racunnya.
Dug...!!
Benturan keras terdengar ketika lengan Malin menahan pukulan Kabau Hitam. Lengan Malin terasa kesemutan saat berbenturan. Tenaga luar yang sangat besar milik Kabau Hitam ternyata mampu menembus energi mendalam Malin. Walaupun mereka sama-sama terdorong mundur tiga tindak. Namun sensasi benturan dengan tenaga luar benar-benar membuat Malin terkejut. Dia tidak menyangka tenaga bisa begitu kuat.
Tenaga luar atau gwakang terbentuk melalui pelatihan yang sangat berat dan keras. Kabau Hitam memang telah melatih tubuhnya secara gila gilaan. Dia mampu berlari naik turun gunung sambil memikul beban seberat dua ton. Selain itu Kabau Hitam telah melatih jurus Tinju Selaksa Kati, yang mampu merubah batu sebesar kerbau menjadi halus seperti tepung.
Nuri menyambut kedatangan serangan Dewi Kecubung Maut. Meski cakar Dewi Kecubung Maut, Nuri tidak ragu untuk menyambutnya. Tingkat energi mendalamnya yang sangat tinggi tidak akan pernah bisa ditembus cakaran Dewi Kecubung Maut.
Nuri sudah berada ditingkat bumi puncak, sedangkan Dewi Kecubung Maut masih tingkat raja. Jarak kekuatan mereka begitu jauh berbeda bagaikan langit dan bumi.
Ketika terjadi benturan, saat Nuri menahan serangan yang datang. Dewi Kecubung Maut menjerit keras.
Baaamm...!! Aagrrrhhh...!!
__ADS_1
Kraakkk...!!
Terdengar suara garing tulang patah dari lengan Dewi Kecubung Maut. Tangan Dewi Kecubung Maut terkulai. Dia tidak mengira gadis muda yang dia serang memiliki kekuatan yang sangat besar.
Ada penyesalan besar dalam hati Dewi Kecubung Maut. Dia yang selama ini sangat ditakuti di kawasan Solok Singkarak sama sekali tidak berarti apa-apa didepan gadis yang tidak dikenal ini.
Serangan balasan Nuri sama sekali tidak bisa dihindarkan Dewi Kecubung Maut. Pukulan tanpa jurus apapun, namun dilampiri tenaga mendalam tingkat bumi. Menghantam dada Dewi Kecubung Maut dengan telak.
Duaaaghhh...!! Huuaghh...!!
Dewi Kecubung Maut terpental jauh dan jatuh terus meluncur dan baru berhenti setelah menabrak dinding. Dewi Kecubung Maut muntah darah beberapa kali setelah itu tergeletak pingsan. Dia mengalami luka dalam yang sangat parah. Selain itu tulang dadanya juga patah patah.
Nuri langsung melesat membantu Malin yang mulai terdesak oleh lawannya.
Kacak Mudow yang masih melesat kearah Wisesa tertegun karena Kerambit Maut tiba-tiba berubah jadi kilasan kilat tajam. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba
Sreett...! Slash...!! Sreett...!
Dua luka lebar terbentuk menyilang didada Kacak Mudow. Bukan hanya itu, pangkal lengan kirinya juga sobek besar. Darah segar segera mengalir dari luka-luka itu.
Kacak Mudow segera berbalik dan berusaha untuk segera lari meninggalkan kedai makan simpang Selayo. Lawannya Kerambit Maut jauh lebih lihai dan kuat. Tidak mungkin bagi Kacak Mudow untuk terus melawan. Namun langkahnya terhenti...
"Siapa yang mengizinkan kau untuk pergi ?" Kerambit Maut sudah ada didepan nya. Kacak Mudow tidak mengira Kerambit Maut bisa bergerak begitu cepat.
"Tubuh mu harus tetap tinggal disini dan nyawamu boleh minggat ke akhirat." Wisesa berkelebat sangat cepat. Kerambit pusaka miliknya meninggalkan jejak kilauan diudara.
Craakk...!! Crash...!!
Lambung Kacak Mudow terbelah, sebelum jerit kesakitan terdengar. Lehernya dipapas oleh kerambit pusaka Wisesa. Darah muncrat bagai air mancur. Kacak Mudow berusaha menutupi luka leher nya dengan tangan. Matanya melotot melihat Kerambit Maut. Lalu semuanya menjadi gelap. Tubuh Kacak Mudow jatuh ngeloso di tanah. Semua lantas menjadi hitam, dan nyawanya minggat ke akhirat.
__ADS_1
Kabau Hitam menjadi pucat. Dia yakin Kacak Mudow dan Dewi Kecubung Maut sudah mati terbunuh. Pria besar berkulit hitam itu merasa gamang dan takut. Saat itu pula pedang Malin melintas membelah tubuhnya. Kabau Hitam terbelalak, dia masih sempat melihat tubuhnya terpotong dua. Setelah itu semua menjadi hitam, lebih hitam dari kulitnya.
Dua anggota sekte Palajang bersujud dihadapan Kerambit Maut.
"Ampun tuan pendekar. Kami tidak berani lagi. Kami tidak mau sebetulnya bergabung dengan sekte Palajang. Kami dipaksa." Wisesa tersenyum sinis menatap tajam kepada kedua anggota sekte Palajang yang kini bersujud didepannya. Lalu dia mendesis dingin.
"Selalu alasan itu yang aku dengar dari kacung kacung busuk aliran sesat. Matilah kalian,.."
Hia...!! Baamm...!! Baamm..!
Wisesa menghancurkan dantien mereka. Kedua orang anggota sekte Palajang itu menjerit keras. Darah merembes dibibir mereka. Mereka berdua melihat Kerambit Maut dengan tatapan penuh amarah. Melihat itu Wisesa tertawa dingin dan berkata...
"Tidak puas kan ?!!
Matilah...!!" Wisesa bergerak. Kerambit pusaka miliknya memotong leher kedua anggota sekte Palajang.
"Setelah kejadian itu kami berpisah dengan Wisesa. Kami dengar si Kerambit Maut menghancurkan sarang sekte Palajang." Malin dan Nuri mengakhiri ceritanya. Lindu menganggukan kepalanya mendengar semua itu. Dia tersenyum senang mendengar Wisesa sudah berkembang jauh.
"Bagaimana berita kawan kawan yang lain ?" Lindu bertanya kepada Malin dan Nuri. Lindu mendapatkan jawaban semua baik. Selain itu semua berencana untuk bergabung dengan kelompok pendekar di kota Babilang Kaum.
"Oh ya Lindu, aku pikir Mangaraja Tohir juga akan berada di kota Babilang Kaum. Karena penyerangan ke markas besar gerombolan Tengkorak Merah telah menjadi agenda utama saat ini." Lindu terdiam mendengar ucapan Malin. Dia melihat kepada Nirmala dan Mayang. Namun kedua gadis itu hanya mengangkat bahu.
Lindu sedikit ragu. Jelas dia ke Madania untuk bertemu Mangaraja Tohir, ayah Nirmala yang juga Patriak klan Mangaraja. Jika perjalanan sangat jauh menuju Madania itu menjadi sia-sia karena mertuanya tidak ada disana, sungguh tidak lucu.
"Baiklah, aku akan bicara dulu dengan Nirmala nanti malam. Oh iya, kamu jadi malam ini tidurnya bareng Nuri, Yayang ?" Lindu bertanya pada Bidadari Suvarnabhumi. Gadis jelita itu mengangguk dan tersenyum.
"Tidak apa-apakan Uda Lindu ? Mayang sudah sangat lama tidak ngobrol berdua Nuri." Lindu tersenyum dan membelai lembut kepala Dhamma Mayang.
"Baiklah, selamat bernostalgia ya cantik." Lindu membiarkan Mayang pergi masuk kamar bersama Nuri. Mereka semua memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***\=\=