
Tok tok tok....
Pintu kamar Seriti Merah diketuk perlahan. Nirmala membuka pintu kamar. Ni Nur berdiri didepan pintu sambil tersenyum.
"Masuk Nur..." Seriti Merah mengajak Ni Nur duduk di kursi meja teh yang ada dekat jendela. Setelah mereka duduk, Seriti Merah bertanya,
"Ada apa Nur ?"
"Aku hanya mau kasih tau besok lusa ada acara lelang di Ustano Menara Gading. Salah satu barang yang ikut dilelang adalah barang yang selama ini Nona Seriti Merah cari." Seriti Merah terkejut mendengar penjelasan Ni Nur. Perempuan berpakaian serba merah itu teringat pesan yang dia terima sepuluh tahun lalu. Pesan itu datang dari Ratu Sijundai, penguasa Nagari Bunian.
Masih sangat jelas terukir dalam benak Seriti Merah detail kejadian itu.
Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.
Seorang gadis cantik berpakaian serba merah bergerak cepat dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi di kaki Bukit Gunuang Ledang.
Bukit Gunuang Ledang adalah serangkaian gunung penuh misteri. Belum pernah ada terdengar berita ada yang mampu menembus hutan Bukit Gunuang Ledang untuk bisa naik kepuncak gunung itu. Ada sembilan puncak di Bukit Gunuang Ledang. Dipuncak tertinggi terdapat sebuah istana Silap Mato yang hanya terlihat saat purnama penuh.
Istana Silap Mato adalah pusat kekuasaan nagari Bunian. Nagari Bunian merupakan negri alam gaib dan dihuni oleh bangsa lelembut.
Seriti Merah terus berlari cepat semak belukar dan rawa-rawa. Sayup-sayup Seriti Merah mendengar tangisan bayi. Seriti Merah mengalirkan energi mendalam ketelinga untuk menajamkan pendengarannya. Dia mencari dari mana sumber suara tangisan bayi itu. Setelah menemukan tempat sumber tangisan bayi itu, Seriti Merah dengan cepat menuju kesana.
Sesampainya Seriti Merah di dekat pohon bodhi yang sangat besar, dia melihat seorang bayi perempuan berbedong dan berselimut kain sutra tebal bewarna lila. Bayi perempuan dalam keranjang itu langsung berhenti menangis melihat Seriti Merah. Bayi perempuan itu tersenyum dan menggerak gerakan tangan menggapai kearah Seriti Merah. Seriti Merah berjongkok didekat keranjang dan menatap bayi yang terus-terusan menggerakkan tangannya.
Bayi perempuan itu sangat cantik. Matanya indah berkilau seperti bintang, dagunya bagaikan lebah bergayut, ada lesung Pipit dipipinya. Perlahan tangan Seriti Merah terulur mengangkat bari perempuan itu. Sepertinya hati sibayi sangat senang. Suara suara lucu keluar dari bibirnya seperti mengajak Seriti Merah ngobrol.
__ADS_1
"Ga...ga gu gu...
Ga ga ga gu...."
Seriti Merah memeluk lembut sang bayi dan mulai berbicara dengan bermain dengan si bayi.
"Baiklah bayi cantik, aku akan membawa mu. Aku beri kamu nama Nirmala." Seperti mengerti apa yang diucapkan Seriti Merah, bayi mungil itu memegang pipi Seriti Merah. Seriti Merah menaruh kembali bayi itu ke keranjang bayi.
Ketika Seriti Merah mau mengangkat keranjang bayi, muncul pendar cahaya di samping pohon bodhi. Seriti Merah terkejut tapi tetap tenang melihat pendar cahaya itu. Sesaat kemudian dari pendar cahaya itu muncul tiga sosok wanita. Seorang wanita cantik jelita dengan mahkota kecil di atas kepalanya.
Wanita itu memancarkan aura keagungan seorang penguasa. Dibelakang wanita cantik menawan itu, berdiri dua wanita yang juga sangat cantik. Yang satu berpakaian ringkas seperti Seriti Merah dan satu lagi seperti seorang panglima perang. Mereka menatap Seriti Merah dengan seksama. Setelah beberapa waktu, wanita yang di depan berbicara. Suaranya terdengar merdu tetapi juga terdengar agung.
"Terimakasih nona Seriti Merah sudah berkenan untuk datang ketempat ini. Ini sesuai dengan hitungan waktunya."
Seriti Merah tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dihatinya. Wanita cantik berpakaian serba merah itu menatap wanita didepannya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Wanita cantik bermahkota itu menjelaskan untuk menjawab pertanyaan dihati Seriti Merah.
"Bayi perempuan itu adalah putri ku." Ratu Sijundai diam sejenak, wajahnya tampak beriak sekilas. Wanita cantik itu menarik nafas dalam-dalam, suaranya sedikit tergetar. Kelihatan kalau wanita itu mencoba untuk menahan gejolak dalam batinnya. Sima atau Ratu Sijundai melanjutkan,
"Bayi itu tidak bisa tumbuh di nagari Bunian. Karena tidak berdarah murni bangsa kami. Darah campuran dari darah lelembut dan manusia.
Kami sudah mengetahui sejak tiga hari lalu, Nona akan melewati jalur ini. Karena itu aku menaruh bayiku dibawah pohon bodhi ini. Ketika Nona memberikan nama Nirmala kepada bayiku, kami langsung keluar melalui portal dimensi itu." Ratu Sijundai menunjuk ruang kosong disamping pohon bodhi.
"Nona Seriti Merah, sepertinya putriku memang berjodoh dengan mu. Nona juga memberikan nama yang sama dengan yang kami berikan kepadanya yaitu Nirmala." Seriti Merah tersenyum kecil, dia kembali menggendong Nirmala. Dia memang merasa ada ikatan batin dengan bayi perempuan itu. Seriti Merah bersiap untuk pergi, dia menaruh kembali Nirmala ke dalam keranjang bayi. Setelah menaruh Nirmala dan melihat apakah posisinya sudah aman.
__ADS_1
"Tunggu Nona Seriti Merah,". Ratu Sijundai menyerahkan sebuah gelang suasa pada Seriti Merah. Gadis itu menerima sebuah gelang suasa yang berukir indah.
"Apa ini ?" Seriti Merah bertanya.
"Itu adalah sebuah gelang ruang untuk menyimpan berbagai macam benda. Nona juga bisa menyimpan makanan yang sudah dimasak ataupun mentah, dan makanan itu tidak akan pernah busuk." Seriti Merah kembali dibikin kaget. Gelang ruang adalah pusaka tingkat tinggi. Sangat jarang orang memiliki pusaka itu. Kebanyakan pendekar tingkat tinggi hanya memiliki kantong penyimpanan dengan tempat penyimpanan seluas satu sampai tiga meter persegi. Sedangkan pusaka gelang ruang, mempunyai ruang penyimpanan seluas seribu sampai sepuluh ribu meter persegi.
"Berikan setetes darah Nona ke gelang itu. Maka gelang itu baru bisa berpisah dengan Nona karena kematian. Ada sedikit harta dan sumber daya dan dua kitab disana." Seriti Merah memberikan setetes darahnya. Gelang suasa itu bersinar terang dan terpasang dengan sendirinya di tangan kiri Seriti Merah. Sekilas Seriti Merah memeriksa isi gelang ruang. Matanya terbelalak melihat isinya.
Seriti Merah mengangkat keranjang dan bersiap untuk pergi. Ratu Sijundai berkata,
"Ada satu lagi Nona. Tolong cari dan dapatkan kembang Wijaya Kusuma warna ungu. Bunga itu untuk Nirmala, akan sangat baik jika bunga itu sudah didapatkan sebelum Nirmala berusia dua belas tahun." Setelah Ratu Sijundai menjelaskan segala sesuatu yang dirasakan perlu. Dua wanita cantik itu berpelukan, saling berterima kasih dan berjanji akan bertemu lagi saat Nirmala berusia lima belas tahun.
Sejak itu Seriti Merah mulai berusaha menemukan bunga Wijaya Kusuma warna ungu. Menurut informasi yang berhasil dikumpulkan. Bunga Wijaya Kusuma warna ungu hanya tumbuh di lembah selaksa racun di balik bukit Siguntang di Suvarnabhumi.
"Nona, kenapa melamun ?" Ni Nur menarik Seriti Merah dari kenangan masa lalu.
"Atur ruangan khusus untuk ku, berarti kami akan menginap disini tiga malam." Seriti Merah mengingatkan Ni Nur.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu" Ni Nur menjawab sambil berdiri dan meninggalkan kamar Seriti Merah.
Nirmala duduk di bangku dibawah pohon waru bersama Lindu. Gadis cantik itu mengajak Lindu untuk menikmati pemandangan matahari terbenam. Saat itu sepertiga matahari mulai terbenam. Hamparan laut dan langit diatasnya bewarna merah oranye. Angin laut menerbangkan anak rambut Nirmala yang kadang mengenai muka Lindu. Lindu membiarkan anak rambut Nirmala bermain bersama angin dan mengenai wajahnya. Bunyi deburan ombak terdengar menyenangkan di telinga dua remaja itu. Nirmala menyandarkan kepalanya di bahu Lindu. Gadis cantik itu merasa sangat damai dan tenang bersama Lindu. Sang Buana akhirnya tenggelam penuh. Siluet siluet warna merah dilangit mulai hilang diganti kegelapan. Lindu dan Nirmala kembali ke penginapan One. Mereka janjian untuk menjual hasil buruan di hutan Rimbo Toboh ke Ustano Menara Gading esok harinya. Lindu juga diingatkan untuk ngajak Wisesa oleh Nirmala.
Malam itu berlalu dengan damai. Memberi kesempatan pada Lindu untuk tidur nyenyak.
Pagi hari usai sarapan, Lindu, Wisesa dan Nirmala minta izin untuk melihat lihat kota Pariaman.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=