
Seminggu sudah setelah kehancuran markas Rawa Hitam. Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi mohon izin kepada bunda Ratu Shima. Mereka bertiga harus melanjutkan perjalanan menuju kekaisaran Suvarnabhumi.
Ratu Shima memberikan sebuah kristal bewarna merah bening kepada Lindu.
"Jika nanti perang besar benar terjadi. Pecahkan kristal ini, maka Bunda dan pasukan tempur istana Bunian akan tiba membantu perang besar itu." begitu pesan terakhir dari Ratu Shima.
---***
Badak Mantagi dan Iblis Cantik Tambun Tulang berdua melangkah naik kapal layar. Sebuah kapal layar besar dan besar, panjang dan lebar. Ada tiga tiang layar besar dengan posisi layar berlapis lapis. Sibua Buali, itu nama kapal mereka naiki. Nama itu terukir disisi kiri dan kanan kapal dekat haluan. Tampak sangat mencolok dengan cat warna kuning.
Setelah menunggu selama lima hari, barulah kapal yang mereka tunggu-tunggu ada. Itu berarti mereka mundur dua hari lebih lama dari janji pihak pelayaran.
Begitu pihak perusahaan pelayaran memberikan informasi bahwa kapal untuk menuju Tano Niha telah siap. Badak Mantagi langsung meninggalkan penginapan bersama Iblis Cantik Tambun Tulang.
Setelah naik keatas kapal, Badak Mantagi langsung menuju kamar yang mereka pesan. Iblis Cantik Tambun Tulang mengikuti dengan santai dari belakang. Ketika akan memasuki kamar Iblis Cantik Tambun Tulang mendengar suara-suara yang cukup ramai.
Iblis Cantik Tambun Tulang buru-buru masuk kedalam kamarnya lalu mengintip. Melalui celah kecil yang telah disediakan dipintu kamar Iblis Cantik Tambun Tulang bisa leluasa melihat keluar.
Hampir tiga puluh orang memasuki kapal beriringan. Iblis Cantik Tambun Tulang kaget melihat kenalannya Mantiak Rayo ikut didalam rombongan itu. Namun Iblis Cantik Tambun Tulang menahan diri untuk tidak keluar kamar. Dia berfikir bisa menemui Mantiak Rayo dalam perjalanan nantinya.
"Aku melihat rombongan sekte Dubilih Enggano juga ikut kapal ini ke Tano Niha." Perempuan montok yang masih terlihat muda itu berkata kepada Badak Mantagi.
"Apakah itu bagus atau buruk untuk sekte kita ?" Badak Mantagi balik bertanya.
Peluit kapal tiba-tiba berbunyi kencang. Sekelompok orang memacu kudanya lebih cepat menuju pelabuhan.
Kapal mulai bergerak pelan meninggalkan pelabuhan. Perlahan namun pasti, kapal bergerak menjauh dari dermaga menuju laut lepas.
Rombongan berkuda berusaha memacu lari kuda mereka supaya lebih cepat. Siapakah rombongan penunggang kuda itu ?
Mereka adalah rombongan klan Mangaraja. Setelah usai menyelamatkan kedua tetua yang terluka akibat melawan Badak Mantagi yang datang membuat gaduh. Mereka mulai membuat gambar penyusup yang sempat terlihat saat pertarungan. Gambar wajah itu mereka sebar dan juga dikirim ke pusat klan Mangaraja.
Setelah beberapa minggu informasi tentang penyusup, datang dari pusat distrik klan Mangaraja yang ada dipusat kekaisaran Madania.
Menurut informasi dari pusat, penyusup itu adalah Badak Mantagi tetua pertama dari sekte Iblis Tambun Tulang. Satu sekte golongan hitam terbesar dibenua emas tengah. Tidak tau kenapa mereka bisa berada di koto Lumut.
Namun apapun itu tindakan mereka membuat gaduh dan melukai tetua klan cabang Mangaraja tetap harus dia bayar lunas beserta bunganya.
__ADS_1
Dalam upaya memburu dua tetua sekte Iblis Tambun Tulang. Mangaraja Adongma menyebarkan banyak mata mata. Setelah sekian lama akhirnya ada berita bahwa Badak Mantagi dan teman wanitanya berada di kota Babilang Kaum.
Mangaraja Adongma segera berangkat menuju kota Babilang Kaum. Bersama empat orang tetua dan lima orang pendekar terkuat di klan cabang Mangaraja mereka memacu kuda tunggangan mereka dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di penginapan tempat Badak Mantagi menginap di kota Babilang Kaum. Mangaraja Adongma mendapat kabar yang kurang bagus. Badak Mantagi, orang yang dia cari telah lebih dulu meninggalkan penginapan. Menurut pelayan penerima tamu yang bertugas. Badak Mantagi bersama teman wanitanya, menuju pelabuhan sekitar dua jam yang lalu.
Tiba-tiba sayup terdengar bunyi peluit kapal. Mangaraja Adongma tersentak dan buru-buru mengambil kudanya dan memacunya dengan kencang. Semua anggota rombongan Mangaraja segera mengikuti apa yang dilakukan sang ketua klan cabang koto Lumut.
Kapal telah berada agak ke tengah laut. Para kelasi mulai menurunkan layar dan kapal, melaju kencang dilautan lepas.
Mangaraja Adongma cepat menghentikan kudanya dengan perasaan kesal. Dia menatap jauh ketengah laut melihat kearah kapal yang ditumpangi Badak Mantagi dan teman wanitanya.
Badak Mantagi sedang berdiri di buritan kapal. Tetua pertama sekte Iblis Tambun Tulang menatap kedaratan yang makin jauh tertinggal. Ketika baru berbalik lelaki itu mendengar ringkikan kuda dari arah daratan. Lelaki gempal itu melihat satu rombongan berkuda baru tiba di pelabuhan. Tapi Badak Mantagi tidak tau siapa mereka.
---***
Kale Lepak Sakti menatap semua Tetua dan pengurus sekte serta Tapak Dewa. Semua murid berbakat dan beberapa murid inti juga hadir dipertemuan itu.
"Kalian semua pasti telah mendengar tentang gerombolan Tengkorak Merah." Kale Lepak Sakti melihat yang hadir satu demi satu. Berbagai ekspresi terukir di wajah wajah yang hadir.
"Patriak, kami beberapa kali bentrok dengan anggota Tengkorak Merah. Itu terjadi ketika kami sedang menunaikan misi." Mahendra seorang murid inti memberi tanggapan.
"Yaa... mereka ada beberapa markas di wilayah selatan ini. Lembah Mussie, di Bukit Kemuning dan dekat kota Pajang." Tetua ketiga Boulidar ikut memberi masukan.
Suara suara mulai terdengar bergaung dalam ruangan itu. Orang-orang yang hadir berbicara dengan orang disebelahnya. Kale Lepak Sakti mengangkat tangannya. Ruangan kembali hening. Semua perhatian kembali tertuju pada Patriak sekte Tapak Dewa.
"Kemaren ini, saat penutupan kegiatan pelatihan bersama. Kami membahas gerombolan Tengkorak Merah dan sepak terjangnya." Kale Lepak Sakti diam sejenak. Semua yang hadir diam menunggu kelanjutan bicaranya.
"Sekitar lima purnama kedepan akan diadakan pertemuan golongan putih. Pertemuan itu akan diikuti oleh semua sekte golongan putih dari benua Emas dan Semenanjung Malayana. Masalah utama yang akan di bicarakan terkait dengan gerakan yang dilakukan gerombolan Tengkorak Merah.
Kita akan menjadi tuan rumah acara tersebut. Jadi, tugas kita saat ini adalah bersiap menjadi tuan rumah yang baik dan kalian."
Kale Lepak Sakti berhenti sejenak untuk menghela nafasnya. Patriak sekte Tapak Dewa itu melanjutkan.
"Kalian harus mencari informasi sebanyak mungkin tentang Tengkorak Merah selama menjalani misi sekte."
Semua yang hadir mulai mengatur pembagian tugas. Mulai dari menyiapkan tempat sampai dengan yang tugas mengantar undangan.
__ADS_1
---***
Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi berlari cepat melintasi hutan Sijunjung. Tiba-tiba Dhamma Mayang berhenti. Gadis cantik itu melihat Lindu dan Nirmala.
"Aku mendengar suara pertarungan." suara gadis cantik itu terdengar halus dan lembut. Lindu mengangguk...
"Ayo kita lihat." Lindu segera melesat keatas pohon. Nirmala dan Dhamma Mayang segera menyusul.
"Bukankah itu gerombolan Tengkorak Merah ?" Nirmala berbisik pada Dhamma Mayang.
"Ya, sepertinya mereka tengah merampok rombongan pedagang." Dhamma Mayang membenarkan dugaan Nirmala.
Dihadapan mereka tampak rombongan dengan dua kereta dan tiga pedati. Kereta dan pedati itu berhenti disebuah lapangan dipinggir sungai kecil. Sementara dekat kereta dan pedati sedang terjadi pertempuran yang cukup sengit. Terlihat sebelas anggota Tengkorak Merah. Beberapa dari mereka terlihat ada luka ditubuhnya.
Lawan yang mereka hadapi adalah pasukan pengawal rombongan pedagang. Ada sekitar lima belas orang yang masih bertahan dengan tubuh penuh luka. Sementara tujuh orang sudah tergeletak tanpa nyawa.
"Hentikan...!!" teriakan kuat terdengar nyaring. Disusul dengan munculnya dua orang wanita yang sangat cantik bagaikan bidadari. Mereka berdua datang secara melayang seperti turun dari langit.
Pertempuran terhenti. Semua melihat kearah datangnya Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala. Rahang semua orang jatuh dengan mata terbelalak. Semua terpesona melihat dua bidadari turun dari langit. Tidak pernah seumur hidup mereka melihat kecantikan sempurna seperti sekarang.
"Kalian kelompok perampok perampok segera minggat dari sini." Suara Bidadari Suvarnabhumi terdengar lantang penuh tekanan.
"Siapa kalian Nona. Sebaiknya anda berdua menjauh agar tidak terjadi sesuatu. Mereka adalah gerombolan Tengkorak Merah yang ganas." seorang pria gagah yang menjadi pemimpin rombongan pedagang bicara pada Bidadari Suvarnabhumi. Dia tidak tega jika dua orang gadis yang sangat cantik itu, jika sampai ditangkap oleh gerombolan Tengkorak Merah.
"Waaaah wah wahh. Sungguh hari ini kita untung besar. Duo Bidadari datang kepada kita. Ketua pasti akan senang jika kita bawakan duo bidadari ini sebagai hadiah." Pemimpin gerombolan Tengkorak Merah segera memberi perintah kepada anak buahnya.
"Jangan libatkan kedua Nona itu." Kepala rombongan pedagang berteriak sambil menghadang kembali serangan dari anggota Tengkorak Merah. Pertempuran kembali terjadi.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala bergerak ikut dalam pertarungan. Dalam waktu singkat anggota gerombolan Tengkorak Merah mulai berjatuhan meregang nyawa. Bidadari Suvarnabhumi segera menyerang lelaki ketua gerombolan. Sebentar saja dia segera terdesak. Hanya dalam dua serangan berikutnya, dua larik cahaya pedang berkilau melewati lelaki itu. Kepalanya jatuh dan tubuhnya terbelah dua.
Melihat ketua mereka tewas dengan menggemaskan. Anggota gerombolan yang sisa lima orang berbalik untuk melarikan diri. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi membiarkan satu orang lolos dan membunuh empat anggota gerombolan Tengkorak Merah yang lain.
Lindu segera mengikuti orang yang melarikan diri dari udara. Beberapa kali dia melihat kebelakang untuk melihat ada yang mengikutinya. Setelah berlari cepat sekitar beberapa lama. Lelaki itu berhenti. Setelah melihat berkeliling dan merasa aman dia menyelinap dan menghilang.
Lindu kembali dengan sangat cepat. Dia melihat Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi sedang berbincang dengan rombongan pedagang. Lindu segera mengirim suara yang hanya bisa didengar oleh dua gadis itu.
"Lala, Yayang, aku sudah menemukan markas mereka."
__ADS_1
Kedua gadis cantik itu berdiri dan meninggalkan semua orang.
\=\=\=***\=\=\=