Raja Pedang

Raja Pedang
#117. Tungka Terbunuh


__ADS_3

Malin memejamkan matanya. Pemuda itu berbisik dalam hati.


'Maafkan aku Nuri. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi janji untuk menikahi mu didunia ini'


Tinggal sejengkal lagi ujung kelewang Tungka akan menembus dada Malin dan mengoyak jantungnya.


Traaanggg...!!


Terdengar benturan keras suara logam padat bertemu. Tusukan kelewang tidak berlanjut. Tungka melompat mundur.


Setelah menunggu tidak ada terjadi apapun. Malin perlahan membuka kedua matanya. Dia melihat Nuri berdiri didepannya dan Tungka yang menjadi lawannya tengah menata kembali posisi berdiri nya.


"Siapa kau ?" Nuri menatap dengan tatapan tajam membunuh kearah Tungka. Suaranya terdengar sangat dingin ketika menjawab pertanyaan Tungka.


"Aku adalah El maut yang ditugaskan mengambil nyawa busuk mu." Nuri minta Malin untuk beristirahat. Gadis dengan rambut pendek itu bersiap menyerang Tungka, setelah Malin mundur dan bersandar dipokok pohon bodhi yang ada disana.


"Hati-hati Nuri. Meski ilmunya tidak terlalu tinggi, namun orangnya sangat licik." Nuri mengangguk dan memberikan senyuman yang paling manis kepada Malin.


Rao Mudo dan Marda langsung mengamuk dan menyerang anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah. Dalam waktu singkat tiga orang berhasil dibunuh Rao Mudo dan Marda.


Pertarungan antara Rao Mudo dan Marda melawan sembilan sisa anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah terlihat agak lucu. Dua orang terlihat mengepung sembilan orang. Rao Mudo dan Marda berdiri berhadapan, sedangkan anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah berdiri beradu punggung. Sebagian mereka menghadap Rao Mudo dan sebagian lainnya menghadap Marda.


Rao Mudo melakukan lompek harimau yang sangat terkenal. Kedua tangannya membentuk cakar seperti cakar harimau. Lima anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah yang menjadi lawan bersiap dengan senjata mereka untuk menyambut Rao Mudo.


Bukannya menarik kembali serangannya. Rao Mudo meningkatkan esensi energi mendalam di kedua tangannya. Terbentuk lapisan energi tebal yang sangat kuat. Lapisan energi itu menabrak anggota telik sandi. Senjata dan bahkan dua orang terdorong jauh. Rao Mudo melihat dua orang dari mereka pertahanan mereka terbuka.


Craasssh...!! ****Craaack****...!! Aaaassh...!!


Kedua orang itu langsung terluka oleh cakaran Rao Mudo. Yang satu robek dadanya dan yang lainnya koyak bahunya serta tulang selangka nya copot. Dia berteriak karena rasa sakit yang sangat. Butiran keringat dingin sebesar butiran jagung muncul memenuhi keningnya.

__ADS_1


Pada waktu yang nyaris bersamaan. Madra melesat kedepan. Pendekar muda dari sekte Secabik Kafan itu mengacungkan pedangnya beberapa kali. Lintasan beberapa tebasan pedang, menciut membelah lapisan udara yang tipis menuju empat orang yang berada didepannya.


Traaanggg...!! Traaanggg...!!


Treeeng...!! Uugh. Aaaaa...!!


Dua orang berhasil menahan serangan Marda. Yang satu lagi membuang diri dan mengayunkan pedangnya mendorong lintasan pedang. Namun pria sebelumnya memergoki Malin tidak bisa menghindar ataupun menangkis. Dia menjerit keras ketika lintasan pedang menghantam lambungnya. Tubuhnya terlempar dengan perut belah. Nyawanya minggat sebelum tubuhnya jatuh ke tanah.


Traaanggg...!! Traaanggg...!!


Nuri menangkis semua serangan Tungka. Sebagai pimpinan pasukan telik sandi sekte Tengkorak Merah untuk wilayah Luaha. Dia memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi. Selain itu dia juga mampu untuk bergerak dengan sangat cepat.


Nuri menghela nafas dalam. Dia menghimpun esensi energi mendalam yang besar. Perlahan dia memejamkan dua matanya dan menguatkan cipta. Setelah mengalami banyak luka meski tidak berbahaya. Nuri merubah pola bertarung. Dengan memejamkan mata dan meningkatkan cipta. Nuri bisa melihat dan mengikuti pergerakan Tungka.


Esensi energi mendalam yang sangat besar terhimpun sudah. Nuri menyalurkan energi itu ke senjatanya. Gadis manis dengan rambut pendek itu tetap memejamkan matanya. Tungka tersenyum lebar. Serangannya semakin dekat. Nuri tetap diam dalam hening.


"Mati kau !!" teriakkan Tungka membahana. Kurang dari satu jengkal lagi pedang Tungka dari batang leher Nuri.


Slaash...!! Uuughh...!!


Pedang milik berhasil dihindari namun sebuah luka yang cukup lebar masih menebas pinggangnya. Darah mengucur cukup deras dari luka itu. Tungka terdorong mundur lima tindak. Dia segera menotok beberapa titik dibagian lambung dan dada agar darah yang mengucur bisa berhenti.


Namun Nuri tidak mau melepas Tungka. Gadis itu sudah kembali berada didepan Tungka. Pedangnya menusuk lurus kearah jantung Tungka.


Traaanggg...!!


Tungka mengayunkan pedangnya keluar menghantam pedang Nuri. Pedang Nuri terdorong keluar. Nuri tidak menolak ayunan kuat akibat benturan yang terjadi. Dia mengikuti dorongan dan memiuh arah pedang.


Craasssh...!! Aaachhhh...!!

__ADS_1


Pedang itu menebas pundak Tunggal. Daging pundaknya sompak dan memperlihatkan tulang yang terbaret. Tungka mengeluh dan mengkerut dengan luka besar dipundaknya. Darah kembali menetes dari luka dipinggangnya.


Malin perlahan bangkit. Semua lukanya sudah mulai membaik. Dia menelan pil tanchi yang pernah diberikan oleh Lindu. Esensi energi mendalam miliknya sudah pulih malahan semakin padat.


Malin langsung melesat kearah Tungka. Dia menerjang dengan tebasan kearah leher. Tungka mencoba untuk menahan tebasan itu.


Itulah kesalahan fatal yang dilakukan Tungka.


Begitu pedang mereka bersentuhan. Malin merobah gerakan dari menebas leher jadi menusuk kearah jantung.


Jleebb...!!


Tak bisa ditangkis atau dihindari lagi. Karena jarak yang terlalu dekat. Pedang Malin menusuk dada dan jantung Tungka. Malin menarik pedangnya agak sedikit miring. Jantung Tungka sober, nyaris putus menjadi dua bagian. Darah memuncrat deras dari luka dan mulutnya.


Tungka masih sempat menatap Malin dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Namun sesaat kemudian matanya tidak lagi memiliki cahaya kehidupan. Kepala telik sandi sekte Tengkorak Merah untuk wilayah Luaha itu tewas.


Anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah yang masih tersisa tiga orang langsung menyerah. Mereka melihat Tungka, ketua mereka sudah tewas. Tidak mungkin lagi bagi mereka untuk melawan. Mereka berharap dengan menyerah nyawa mereka akan diampuni.


"Ampuni nyawa kami Tuan. Kami menyerah..." Namun apa yang mereka harapkan sangat jauh dari harapan.


"Bunuh saja mereka. Lakukan dengan cepat." Nuri berkata pada tiga rekannya.


"Tapi mereka sudah menyerah dan sebaiknya dihukum saja." Marda menyanggah perintah Nuri. Nuri, Malin dan Rao Mudo menatap Marda dengan penuh tanya.


Ketiga anggota telik sandi sekte Tengkorak Merah menatap penuh harap pada Marda. Mereka berfikir ada peluang untuk selamat dari kematian. Mereka langsung memohon kepada Marda.


"Tolong ampuni kami Tuan Muda."


Marda balik melihat kepada mereka. Mukanya datar tanpa ekspresi. Dia kemudian melihat kearah Nuri, Malin dan Rao Mudo. Dia mengerti arti tatapan ketiga rekannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan mengampuni mereka Marda ?" Nuri akhirnya tidak bisa menahan rasa penasaran dalam hatinya. Dia menatap Marda dengan alis mata yang hampir bertemu kedua ujungnya.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2