Raja Pedang

Raja Pedang
#107. Menghadang Sekte Darah Hitam


__ADS_3

"Hua hah hah haa haaa.... Kalian benar-benar tolol. Bermimpi terlalu jauh. Hanya dengan Begu Homang dan Sigulambak saja. Tidak perlu waktu lama. Kalian semua akan dikirim menghadap raja neraka !! Hua hah haa haaa..."


Setelah mencoba mendeteksi situasi sekitar dengan kekuatan batinnya. Pandeta Iblis Haloan merasa sangat yakin bahwa dia dan semua kelompoknya akan melindas enam perdekar muda didepannya.


"Hem... anak-anak muda naif. Berlagak mau jadi pahlawan, tapi kesiangan." pikirnya.


"Pandeta Iblis Haloan..." suara Wisesa terdengar keren.


"Apakah kau udah siap untuk melihat kehancuran sekte Darah Hitam mu ??" Pandeta Iblis Haloan lebih terlihat bingung daripada marah.


Wajah Patriak sekte Darah Hitam itu menjadi muram. Pelan tapi pasti api amarah mulai menyala didalam dadanya.


"Aku bersumpah, akan berhenti jadi Patriak sekte Darah Hitam. Jika hari ini, aku gagal membunuh mu !!" Pandeta Iblis Haloan menunjuk kening Hanusa dengan tangan kirinya.


"Hahaha haa haaa hahaha... sesudah hari ini. Kau memang tidak perlu jadi Patriak sekte Darah Hitam. Karena setelah hari ini sekte Darah Hitam yang konyol itu. Tidak aka ada lagi... he hee heee..." Wisesa tertawa sarkastis.


Pandeta Iblis Haloan tidak sanggup lagi menahan emosi yang sudah membakar habis jiwanya. Bukan hanya dia. Tetapi semua anggota sekte Darah Hitam yang ada disana merasa sangat-sangat marah.


"Patriak, tidak perlu menahan diri lagi. Kita cincang saja enam setan keparat ini, sampai jadi bubur daging" tetua Begu Homang berteriak marah. Tanpa menunggu perintah dari Pandeta Iblis Haloan. Begu Homang menyerang Wisesa dengan ganas.


Angin pukulan dengan esensi hawa sangat panas menderu membelah udara. Lengan Begu Homang berubah warna menjadi merah membara.


Tinju inti magma...!


Begu Homang berseru. Wisesa membentang kedua tangannya yang sudah menggenggam sepasang kerambit pusaka. Lalu melesat kedepan mengayun sepasang kerambit bersilang.


Dua larik sinar keemasan melesat menyambut pukulan Begu Homang.


Baaamm...!! Dhuuuaaaarrr...!!


Benturan keras beruntun terdengar memekakkan telinga. Begu Homang dan Wisesa sama-sama terdorong mundur tiga tombak. Kedua orang itu kembali menyusun langkah bersiap untuk melakukan serangan.

__ADS_1


Melihat Begu Homang telah menyerang lawan, Tetua Walet Iblis, Birong Biang dan Birong Bodat ikut maju menyerang. Birong Biang langsung disambut tuan muda klan Manusia Harimau Rao Mudo. Sedangkan Birong Bodat langsung dihadang oleh Sabai. Adapun Walet Iblis yang melesat kedepan untuk menyerang Lenggo tiba-tiba tertahan oleh sosok bayangan putih.


Baaamm...!!


Benturan keras terjadi dan tubuh Walet Iblis terdorong lima tombak. Seorang perempuan yang sangat cantik berdiri dengan pakaian putih berdiri anggun dengan sikap agung dihadapan Walet Iblis.


Walet Iblis tidak menduga akan muncul sosok lain untuk menahan serangannya.


"Siapa kau. Kenapa kau ikut campur dengan urusan yang bukan urusanmu ?!" Walet Iblis membentak perempuan cantik menawan didepannya. Perempuan berpakaian putih itu menatap tajam kepada Walet Iblis.


"Orang-orang rimba hijau biasa memanggil ku dengan nama Bidadari Suvarnabhumi" perempuan jelita itu berkata dengan suara dingin.


Raja Pedang juga tiba-tiba muncul dihadapan Patriak sekte Darah Hitam, Pandeta Iblis Haloan dan tetua Sigulambak.


"Naaah... kalian berdua akan menjadi lawanku." Raja Pedang tersenyum ringan dan ditangannya terhunus sebuah pedang bewarna hitam dengan guratan warna emas. Dari Pedang hitam merembes keluar aura kematian yang pekat. Itulah Pedang Penakluk Iblis.


Pandeta Iblis Haloan dan Sigulambak tergetar hantinya merasakan aura kematian yang kuat dari pedang hitam itu. Mereka berdua tau, pedang itu paling rendah adalah pusaka tingkat langit. Tidak ada senjata yang memiliki aura begitu kuat jika bukan pusaka langit atau legenda. Dari mata Pandeta Iblis Haloan dan Sigulambak terpancar keserakahan.


'Pedang pusaka itu harus menjadi milikku' pikir Pandeta Iblis Haloan.


"Bagaimana kau bisa membuat kematian yang tidak menyakitkan ?" Raja Pedang bertanya dengan wajah serius dan melihat pedang hitam di genggamannya.


"Oh itu mudah. Aku akan memenggal lehermu dengan cepat. Bahkan lebih cepat dari sambaran kilat." Pandeta Iblis Haloan langsung bergerak bagai kilat. Pedangnya melintas sangat cepat kearah leher Raja Pedang.


Traaanggg...!!


Benturan dua pedang terdengar sangat nyaring. Mereka kembali berdiri berhadap-hadapan.


"Hem... ternyata kau ingin batang lehermu ditebas. Baik, tapi aku akan melakukan secara bertahap." Raja Pedang mengembalikan ucapan Pandeta Iblis Haloan. Dia, Lindu tersenyum ringan. Senyuman unik yang selalu terpampang jika niat untuk membunuh muncul dihatinya.


"Seperti yang telah ku katakan diawal. Kalian berdua majulah dan aku akan menebas batang leher kalian sesuai dengan harapan kalian." Suara Raja Pedang terdengar sangat dingin.

__ADS_1


Sementara itu pertempuran antara Nuri, Malin, Mardan, Lenggo dan Binu sudah pecah melawan tiga ratusan orang anggota sekte Darah Hitam. Teriakan kesakitan dan jeritan kematian terdengar memecah keheningan hutan.


Sabai mengeluarkan Pedang Bintang. Dia menyerang Birong Bodat dengan jurus jurus Pedang Awan Bararak.


Birong Bodat tidak mengira gadis muda didepannya punya kemampuan yang sangat tinggi. Pertarungan mereka berdua tampak berimbang. Latih tanding yang sering dilakukan Sabai dengan tetua Hampu dan kadang dengan gurunya Dewa Tanpa Bayangan. Sangat banyak berguna dalam pertarungan menghadapi Birong Bodat.


Berbeda dengan Birong Bodat, kondisi Birong Biang sangat memprihatinkan. Tuan muda klan Manusia Harimau, Rao Mudo langsung menekan habis Birong Biang. Dalam waktu singkat, Birong Biang langsung terdesak hebat. Luka demi luka mulai terlihat di tubuh Birong Biang. Bahkan sudah dua kali Birong Biang memuntahkan darah.


Rao Mudo kembali menerjang ganas kepada Birong Biang. Dia mengeram menggetarkan jantung Birong Biang.


Grrrmrrhh... Grroooaaarrr...!!


Rao Mudo melompat tinggi, mengayunkan lengannya susul menyusul bergantian. Birong Biang menangkis semua serangan Rao Mudo sambil mundur.


Daak... Duugh... Daak...


Breeett...!! Aaauuggghhh...!!


Birong Biang menjerit, ketika cakar Rao Mudo merobek pipi kirinya. Darah mengucur deras dari luka itu. Sebagian daging pipi Birong Biang lepas. Sehingga geraham Birong Biang terlihat jelas dan bewarna merah karena digenangi darah.


Birong Biang agak keliengan. Dia merasa agak lemas. Rao Mudo tidak mau membuang waktu. Dia kembali menyerang dengan gerakan seperti harimau liar. Cakarnya merobek dada dan punggung Birong Biang. Tetua sekte Darah Hitam itu semakin lemah.


"Terimalah kematian mu Birong Biang !" Rao Mudo kembali menyerang Birong Biang bertubi tubi. Sampai pada satu kesempatan.


Craakk...!! Grooukk...!!


Cakaran Rao Mudo merobek leher Birong Biang. Urat leher Birong Biang putus tercerabut. Birong Biang bergerak tidak karuan sambil memegang batang lehernya yang sudah robek. Tidak lama kemudian, tubuh Birong Biang jatuh dan berkelejotan seperti ayam dipotong. Lalu tubuhnya meregang kencang dengan mata terbelalak. Sesaat kemudian Birong Biang diam terbujur kaku. Mati !!


Birong Bodat yang tidak terlalu jauh, tertegun sejenak melihat saudaranya mati menggenaskan. Dia meningkatkan ritme pertarungannya dengan Sabai.


Tapi tiba-tiba Rao Mudo masuk kedalam pertarungan mereka. Birong Bodat jadi menghadapi dua lawan.

__ADS_1


"Sabai, kita bereskan setan ini segera. Agar kita bisa cepat membantu pertempuran Lenggo dan kawan-kawan." Sabai melirik sekilas kearah Rao Mudo. Gadis remaja yang cantik itu mengangguk.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2