
Matahari baru saja muncul menyinari persada, ketika tiga bayangan berkelebat di lereng gunung Singgalang. Tiga sosok bayangan itu terus bergerak keatas. Dalam waktu singkat mereka telah sampai didepan sebuah rumah besar dekat Talago Dewi.
"Siapa kalian. Kenapa tiba-tiba muncul di sini ?" Sebuah suara anak perempuan terdengar menyambut kedatangan Lindu.
Raja Pedang terkejut melihat seorang gadis kecil menatap garang kepadanya. Gadis kecil itu adalah Sabai. Lindu lalu tersenyum kepada gadis kecil itu.
"Apakah kau murid Dewa Tanpa Bayangan, adik kecil ?" Lindu bertanya dengan suara lembut. Melihat sikap Lindu, Sabai langsung teringat perkataan Dewa Tanpa Bayangan dua hari lalu.
"Sabai, dua hari lagi kakak seperguruan mu akan datang. Kau sambutlah kedatangan kakak mu itu."
"Apakah benar kakak Lindu akan datang ? Kenapa guru tidak menyambut nya ?" Sabai bertanya balik kepada Dewa Tanpa Bayangan.
"Guru mau bersemadi sampai tiga hari kedepan. Karena itu kamu yang harus menyambut kedatangan kakak mu."
Cara Sabai menatap Lindu sedikit berubah, namun masih penuh selidik.
"Apakah engkau kakak Lindu ?" Sabai bertanya dengan suara ragu-ragu.
Lindu tersenyum.
"Ya... Aku Lindu. Kau pasti murid guru yang baru ya ? Siapa namamu ??"
"Aku Sabai kak. Ayo kak Lindu, Sabai sudah menyiapkan makanan kasukaan kakak." Sabai menarik tangan Lindu. Tapi kemudian dia berhenti dan berbalik kearah Nirmala dan Mayang.
"Maaf kak Lindu, dua kakak cantik ini siapa ?" Sabai bertanya kepada Lindu sambil mengerling kearah Nirmala dan Mayang.
"Kami adalah kakak iparmu Sabai. Aku Nirmala dan ini kakak Mayang." Nirmala menjawab pertanyaan Sabai, dia memeluk gadis kecil itu. Melihat Sabai, Nirmala jadi ingat dengan masa kecilnya.
Sabai membalas pelukan Nirmala dengan pelukan kuat. Sabai tiba-tiba merasa sangat dekat dengan Nirmala. Setelah itu dia beralih menyalami Mayang, tapi tuan putri dari kekaisaran Suvarnabhumi malah ikut memeluk Sabai. Tanpa terasa dua bulir air mata jatuh dipipi Sabai.
Mereka berempat duduk di palanta yang ada didepan rumah. Diatas palanta sudah terhidang ikan bakar dan jamur tapak dewa. Juga tanaman spiritual lainnya sebagai lalap. Mereka menikmati suasana kebersamaan sambil menikmati ikan bakar dan jamur tapak dewa.
__ADS_1
Sabai berteriak girang ketika seorang pria tiga puluhan muncul.
"Paman Hampu !? Kau sudah balik ?" Gadis kecil bersorak melihat lelaki itu.
"Sini paman. Ini kak Lindu juga baru datang bersama kakak Nirmala dan kak Mayang."
Hampu tersenyum lebar melihat Sabai yang begitu penuh semangat. Dia lalu mendekat dan mengucapkan salam.
"Selamat datang Raja Pedang. Selamat datang Sepasang Bidadari benua Emas." Hampu menjura hormat kepada Lindu, Nirmala dan Mayang. Lindu, Mayang dan Nirmala balas menjura kepada Hampu.
"Jangan sungkan paman Hampu" Lindu menyapa ramah Hampu. Mereka lanjut bercerita.
Hampu kemudian bercerita pada Lindu, kenapa dia dan Sabai bisa sekarang tinggal di Talago Dewi. Dia memulai kisah dari sekte Awan Bararak yang diserang oleh sekte Iblis Tambun Tulang. Jika hanya sekte Iblis Tambun Tulang, sekte Awan Bararak pasti bisa bertahan. Tapi sekte Iblis Tambun Tulang, saat itu ada orang dari Tengkorak Merah yang ikut membantu. Sehingga sekte Awan Bararak hancur. Hampu membawa Sabai, putri tunggal Patriak sekte Awan Bararak. Tuanku Labai Karat, minta Hampu membawa Sabai ke sekte Alang Barat agar dibimbing oleh pamannya.
Kami memilih jalan memutar untuk menghindari jalur lembah Anai. Karena jalur lembah Anai sekarang, sangat tidak aman. Jalur lembah Anai merupakan wilayah yang sepenuhnya dikuasai Iblis Tambun Tulang. Namun ternyata jalur Malalak juga ada penyamun Limo Badak. Kami dikeroyok oleh tiga orang pimpinan mereka. Ketika kematian sudah didepan mata, Dewa Tanpa Bayangan menyelamatkan kami. Berkat surga untuk Sabai, sekarang dia dibimbing oleh Dewa Tanpa Bayangan."
"Siapa yang mau kalian temui di sekte Alang Barat ?" Lindu bertanya setengah menyelidik
"Jadi paman Alang Babega itu paman dari Sabai ?"
"Yaa, betul. Apakah anda kenal dengan tetua Alang Babega, Raja Pedang ?"
"Paman Hampu, jangan lagi memanggilku dengan nama Raja Pedang. Panggil saja aku Lindu.
Alang Babega adalah adik dari nenek ku. Walaupun dia jatuhnya adalah kakek bagiku. Tapi aku memanggil dia paman. Istri dari paman Alang Babega adalah guru istriku Nirmala." Lindu mencoba menjelaskan pada Hampu. Pria seumuran Alang Babega itu terbelalak, takjub dengan jalan takdir. Lindu kemudian melanjutkan.
"Itu artinya Sabai masih termasuk bibi kecilku." Lindu menatap penuh sayang kepada Sabai. Gadis kecil itu juga menatap Lindu dan menghamburkan diri kedalam pelukan Lindu, ketika Lindu membuka kedua tangannya.
"Kakak Lindu..." Sabai terisak dalam pelukan Lindu. Nirmala dan Mayang juga ikut serta memeluk mereka.
"Ungku guru... Terimalah sembah hormat ku." Lindu bersujud dihadapan Dewa Tanpa Bayangan.
__ADS_1
"Nirmala, Mayang... beri sembah hormat kepada ungku guru." Nirmala dan Mayang segera berlutut dan
"Sembah dan salam hormat dari kami kepada Ungku guru."
"Bangunlah, tidak perlu kita banyak adat disini." ucap Dewa Tanpa Bayangan. Lelaki setengah dewa, yang terlihat seperti orang berumur tiga sampai empat puluh tahun itu tersenyum lembut. Dia lalu menatap agak lama kepada Nirmala, dan berkata lembut.
"Nirmala kamu..." ucapan Dewa Tanpa Bayangan dipotong Nirmala.
"Betul Ungku guru Dewa Tanpa Bayangan. Lala adalah putri dari Ratu Shima dan Mangaraja Tohir. Saya juga menyampaikan salam dari bibi Larasati. Sebelum kami meninggalkan istana Silap Mato, bibi Larasati menitipkan salam. Jika suatu hari bertemu dengan Ungku guru Dewa Tanpa Bayangan." Nirmala kembali menghampar sembah kepada Dewa Tanpa Bayangan. Dewa Tanpa Bayangan tersenyum lembut. Wajah gagah itu tetap tenang tanpa riak sedikipun.
"Bagaimana kabarnya dinda Larasati sekarang ?" Dewa Tanpa Bayangan bertanya dengan suara lembut.
"Bibi Larasati terlihat baik walau kadang dia terlihat suka merenung." Dewa Tanpa Bayangan tersenyum arif mendengar penjelasan Nirmala. Manusia setengah dewa itu kemudian menatap Lindu.
"Aku lihat kamu sekarang sudah ditingkat agung menengah Lindu. Kalian berdua juga sudah berada ditingkat suci menengah.
Kau tidak sekedar pulang untuk memperkenalkan istri mu bukan ?" Lindu menatap gurunya sejenak, lalu bertutur
"Aku mohon maaf Ungku, karena baru sekarang datang melihat guru. Aku datang pasti karena sudah kangen sama Ungku dan juga mengenalkan Mayang dan Nirmala kepada Ungku.
Selain itu juga ada hal lain yang hendak aku sampaikan kepada Ungku guru." Dewa Tanpa Bayangan diam menunggu Lindu melanjutkan bicaranya.
"Guru... akhir-akhir ini sekte sekte golongan hitam makin berani. Mereka berani untuk menyerang dan menindas, bahkan menghancurkan sekte dan klan golongan putih serta golongan netral.
Bulan lalu kami bentrok dengan mereka di hutan Bajubang. Orang yang aku hadapi adalah utusan dari Tengkorak Merah. Dia berada ditingkat yang sama dengan ku.
Aku sengaja kembali ke Talago Dewi dan akan tinggal paling tidak untuk enam bulan kedepan. Aku berfikir untuk menaikkan tingkat kekuatan dan kemampuan diriku dan mereka." Lindu menunjuk pada Mayang dan Nirmala. Dewa Tanpa Bayangan melirik kearah Nirmala dan Mayang.
"Baiklah jika itu kalian ingin lakukan. Kau Mayang, lakukan kultivasi didalam Talago Dewi. Kau Nirmala lakukan kultivasi di ngalau Canduang, yang ada di barat Talago itu. Ini pil bulan untuk mu Mayang, ini pil matahari untuk mu Nirmala. Telan pil ini saat kalian mau mulai melakukan kultivasi."
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1