
Rombongan Lindu, memasuki hutan Malalak. Mereka mencari sebuah tempat untuk beristirahat.
"Limin dan kau Angin Barat, buatlah teduhan untuk kita bermalam. Api unggun jangan lupa. Aku akan mencari makanan untuk kita." Lindu memberi perintah kepada dua murid inti sekte Alang Barat.
"Baik Raja Pedang." jawab mereka serempak.
"Aku ikut denganmu uda." Nirmala langsung berdiri di sebelah Lindu. Raja Pedang mengangguk dan mereka langsung menghilang.
Malam masuk semakin jauh. Seekor rusa muda panggang sudah dihabiskan oleh mereka berenam. Nirmala dan Mayang duduk bersandar dibahu Lindu. Dihadapan nya diseberang api unggun yang masih nyala. Alang Babega diapit oleh Limin dan Angin Barat. Udara terasa semakin dingin. Tiba-tiba terdengar suara tawa keras disusul dengan kemunculan enam puluh orang penyamun.
Ha haa haaa haaa...!!
Mayang dan Nirmala segera merubah posisi duduknya. Lindu tersenyum lebar melihat para penyamun.
"Siapa diantara kalian yang bergelar Limo Badak ?" Suara Lindu yang tenang, membuat para penyamun itu terdiam. Mereka menatap sedikit ragu kepada enam orang yang sedang duduk melingkari api unggun.
Alang Babega bangun secara perlahan. Dia menatap empat orang dari Limo Badak.
"Hm... Galiman, badak kesatu dari sekte Limo Badak. Benar dugaan ku, pastilah penyamun Limo Badak ini dari sekte Limo Badak yang melarikan diri."
"Alang Babega, rupanya kau yang malam ini datang mengantarkan nyawa ?!" Seorang lelaki tinggi besar ada codet melintang dipipi kirinya.
Pria itu adalah Galiman, Patriak sekte Limo Badak. Mereka baru kembali setelah merampok disebuah desa dekat hutan Malalak arah Balingka. Dalam perjalanan balik mereka melihat nyala api unggun. Tidak mau menyia nyiakan kesempatan, mereka langsung menuju kearah api unggun. Melihat hanya enam orang dengan dua wanita cantik, Galiman merasa dapat durian runtuh. Dia harus bisa menangkap dan memberikan kedua wanita cantik itu, untuk hadiah kepada pemimpin baru mereka Badak Mantagi.
Badak Mantagi mungkin sedang bersenang-senang dengan Tino Badawi, satu satunya wanita dari Limo Badak. Setelah mengalahkan Limo Badak dalam pertarungan satu lawan lima. Sejak hampir sebulan lalu Badak Mantagi menjadi Patriak baru dikelompok Limo Badak. Tino Badawi yang selama ini adalah pasangan kegiatan purbanya, kini selalu mendampingi Badak Mantagi.
Namun alangkah terkejutnya Galiman, ternyata orang yang mau mereka rampok adalah rombongan Alang Babega. Tetua sekte Alang Barat yang menjadi musuh bebuyutannya Tanpa sadar, Galiman meraba codet dipipinya. Codet yang terjadi karena pertarungannya dengan Alang Babega.
Sekarang Alang Babega berada tepat didepannya. Mestinya bangsat ini bersama murid-murid dari sekte Alang Barat pikirnya. Dia merasa ini adalah kesempatan untuk balas dendam. Dia segera menyuruh satu anak buahnya menjemput semua anggota Limo Badak dan Patriak baru mereka.
__ADS_1
Tidak ada yang menyadari jika Lindu menghilang mengikuti anggota yang menuju markas mereka. Lindu hanya berbisik pada Nirmala dan Mayang. Ketika Lindu pergi mengikuti anggota penyamun, enam puluh orang itu bergerak untuk menyerang Alang Babega dan rombongan.
Galiman langsung menyerang Alang Babega. Sementara tiga orang badak lainnya langsung mengurung Nirmala dan Mayang. Jika saja mereka tau siapa Nirmala dan Mayang, pasti mereka sudah lintang pungkang melarikan diri. Jerit kesakitan dan kematian mulai terdengar membelah malam yang sepi.
Tidak terlalu jauh, Lindu segera sampai di markas Limo Badak. Tanpa menunggu lagi, dia mulai menyerang dan membunuh para penyamun. Hiruk pikuk dan jerit kematian memaksa Badak Mantagi dan Tino Badawi yang tengah asik menikmati kesenangan purba mereka keluar dengan marah. Begitu tiba dilaman markas, Badak Mantagi menjadi pucat dan berbalik untuk melarikan diri.
"Mau kemana lagi kau Badak Mantagi ? Malam ini jemput lah kematian mu." suara Lindu terdengar dingin menusuk. Badak Mantagi merinding, punggungnya menjadi dingin. Basah oleh keringat yang mengalir deras. Lindu menunjuk Badak Mantagi.
Pukulan Tanpa Ujud
Raja Pedang berbisik pelan. Suasana terasa aneh, sunyi, tiba-tiba angin seperti berhenti. Tiada suara dan gerakan apapun terdeteksi.
Baamm...!! Huek !!!
Badak Mantagi terbanting keras ke tanah. Pria berbadan gempal itu memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
Sriiing...!! Zeeessst...!!
Aaaaahh...!!
Badak Mantagi menjerit pilu. Tangan kanan dan kaki kirinya putus ditebas pedang Mustika Embun yang tiba-tiba muncul ditangan Lindu.
"Raja Pedang, bunuh saja aku. Kenapa kau hina aku dengan cara ini !!" Badak Mantagi berteriak dengan suara perih kepada Lindu. Raja Pedang tersenyum ringan, melihat kearah Badak Mantagi.
"Kau tau Badak Mantagi, rasa ketika perasaan putus asa memenuhi hatimu. Pernah kau berfikir betapa sakitnya rasa putus asa. Itu pula yang dirasakan oleh orang-orang yang selama ini kalian siksa.
Badak Mantagi merasa sakit hati. Kematian jauh lebih baik dari pada penghinaan ini. Pria gempal itu mengerahkan energi mendalam ketangan kirinya. Tanpa pikir panjang dia memukul kepalanya. Namun Lindu belum mengizinkan Badak Mantagi untuk mati.
Zhiiiiingg...!!
__ADS_1
Craasssh...!! Pletak...!
Lengan kiri Badak Mantagi putus dan jatuh ke tanah. Melihat itu, Tino Badawi dan semua anggota merinding ngeri. Menurut mereka Raja Pedang terlalu kejam. Tino Badawi maju menjura dalam kepada Lindu.
"Raja Pedang, kami tidak ikut campur dalam urusan Anda dengan Badak Mantagi. Anda silahkan menyelesaikannya Raja Pedang."
"Ha haa haaa... Dengar, aku kesini untuk menghancurkan kalian manusia durjana dari sekte Limo Badak. Bersiaplah untuk mati. Karena sudah terlambat untuk menyesali apa yang kalian buat selama ini."
Usai bicara Raja Pedang berkelebat sangat cepat dan membunuh semua anggota penyamun Limo Badak. Jerit kematian terdengar bersahut sahutan diselingi sumpah serapah. Hanya kurang dari satu jam seratus orang lebih mati terbunuh.
Tino Badawi berjuang habis habisan. Namun Raja Pedang jarak kemampuan mereka terlalu jauh. Tino Badawi tidak lebih dari seekor semut bagi Raja Pedang.
"Mati lah !!"
Akhirnya Lindu menghabisi nyawa Tino Badawi. Cara mati yang cukup elegan. Lindu menusuk jantung Tino Badawi dengan cepat. Petinggi sekte Limo Badak itu melepaskan nyawanya dengan tenang.
Pedang membelah badai
Alang Babega menerjang sangat cepat kearah Galiman. Kesiutan angin tajam terdengar kuat ketika pedang membelah angin. Galiman menahan dan mementahkan serangan Alang Babega.
Zhiiiiingg...!
Traaanggg...!! Triiiingg...!!
Golok milik Galiman menahan pedang Alang Babega. Benturan keras beruntun mengoyak malam. Alang Babega dan Galiman bertarung sangat ketat.
Mayang dan Nirmala hanya bermain-main saja melawan tiga badak. Setiap kali tiga badak Mayang dan Nirmala akan berkelit dan menampar mereka dengan keras. Dalam rentang waktu sekian lama, wajah tiga badak nyaris tidak lagi berbentuk.
Yang paling heboh adalah pertarungan Limin dan Angin Barat menghadapi anggota penyamun Limo Badak. Sudah lebih tiga puluh orang anggota penyamun yang mati. Namun Limin dan Angin Barat juga mengalami cukup banyak luka ditubuh mereka.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=