Raja Pedang

Raja Pedang
#28. Bermalam di Istana Penguasa Kota


__ADS_3

Anak buah Inyiak Karambit Sati memasuki ruangan khusus dengan takut takut. Kelabang Iblis melepaskan sedikit aura menekan pria itu hingga jatuh berlutut.


"Ketua..." Dia menatap Inyiak Karambit Sati. Patriak sekte Kerambit Sakti itu menatap anggota sektenya yang bertumpu pakai lutut.


"Orang orang dari ruangan VIP-15 itu berjumlah sembilan orang. Mereka sekarang lagi menuju istana penguasa kota bersama komandan pengawal kota." Inyiak Karambit Sati saling pandang dengan Kelabang Iblis, Iblis Cantik Tambun Tulang, Ular Hitam dan Biso Pati.


"Kembali ikuti mereka dan laporkan semua perkembangan yang terjadi." Inyiak Karambit Sati.


Sekte Kerambit Sakti adalah salah satu sekte golongan netral. Inyiak Karambit Sati meskipun seorang Patriak lebih suka dipanggil dengan sebutan ketua. Dia merasa panggilan ketua lebih pas, dibanding sebutan Patriak.


Selama ini sekte Kerambit Sakti lebih tertutup dibandingkan dengan sekte dan klan lain. Sekte yang sedikit misterius ini tidak suka ikut dengan urusan apapun. Namun memang kadang menyerempet aturan dalam memenuhi kepentingan sekte. Karena diam diam sekte Kerambit Sakti juga menjalankan misi sebagai pembunuh bayaran. Namun hanya segelintir orang yang mengetahui hal itu.


Sekte Kerambit Sakti sejak beberapa bulan lalu telah ditundukkan oleh gerombolan Tengkorak Merah.


Tidak mengherankan sekte Kerambit Sakti ini memiliki hubungan sekte Iblis Tambun Tulang dan sekte Selaksa Racun. Dalam rangka meningkatkan kekuatan sekte, Inyiak Karambit Sati yakin harus memiliki Kerambit Kumala.


Dewi Rambut Emas bersama Halimun si Pendekar Kabut Maut dan Dhamma Mayang beserta rombongan dibawa masuk kehadapan Tuanku Bandaro Sati.


"Selamat datang di kota Pariaman pendekar pendekar muda. Maaf jika kami agak memaksa mengundang anda kesini."


Dewi Rambut Emas, Pendekar Kabut Maut serta Dhamma Mayang melihat sekilas kearah Tuanku Bandaro Sati. Tidak ada suara keluar dari mulut rombongan Tapak Dewa. Namun sikap penguasa kota yang ramah menetralkan rasa kesal yang sempat ada dihati mereka. Rombongan Tapak Dewa menunggu lanjutan dari Tuanku Bandaro Sati.


"Sebetulnya kami ingin membeli satu butir pil tanchi yang anda menangkap di acara lelang tadi." Tuanku Bandaro Sati diam sejenak menunggu reaksi dari pihak Tapak Dewa. Namun pihak rombongan Tapak Dewa masih diam.


"Kenapa kalian diam saja ?" Tuanku Bandaro Sati bertanya kepada rombongan Tapak Dewa.


"Anda tau, semua orang sangat menginginkan pil tanchi. Meskipun hanya satu butir. Apakah karena anda seorang penguasa kota bisa mendapatkan begitu saja ?"


Bidadari Suvarnabhumi balik bertanya dengan suara datar. Dubalang Silangkaneh jendral kepercayaan penguasa kota langsung membentak Dhamma Mayang di Bidadari Suvarnabhumi.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu Nona !" Dhamma Mayang tersinggung mendengar ucapan sang jenderal.


"Terus apa mau mu ?!" Gadis itu balik membentak Dubalang Silangkaneh. Bagaimanapun dia adalah tuan putri dari kekaisaran terbesar di benua Emas. Istana Suvarnabhumi jauh lebih besar dan seribu kali lebih megah dari istana penguasa kota. Apalah arti seorang penguasa kota di hadapan seorang tuan putri kekaisaran Suvarnabhumi ?


"Kau harus diajar adat, biar tau alur dan patut." Dubalang Silangkaneh menyerang Bidadari Suvarnabhumi dengan pukulan Ombak memecah karang. Angin pukulan menderu mengarah Bidadari Suvarnabhumi. Gadis cantik jelita itu memasang kuda-kuda menyambut serangan Dubalang Silangkaneh. Dewi Rambut Emas, Pendekar Kabut Maut dan semua anggota rombongan Tapak Dewa mundur beberapa langkah.


Dhuaarr...!!


Ledakan keras terdengar akibat benturan tenaga mendalam Dubalang Silangkaneh dengan Bidadari Suvarnabhumi. Jenderal Dubalang Silangkaneh terseret mundur tiga langkah, sedangkan Bidadari Suvarnabhumi terseret mundur lima langkah. Ini menandakan kekuatan mereka seimbang. Bidadari Suvarnabhumi terdorong sedikit lebih jauh. Karena dia mendapat tekanan lebih dari energi serangan yang datang.


Pertarungan segera berlanjut. Setelah beberapa waktu terlihat pertarungan berjalan seimbang. Jenderal Dubalang Silangkaneh selalu membuat serangan yang mantap dan terarah. Bidadari Suvarnabhumi mengimbangi dengan tangkisan dan serangan balik yang cepat karena ilmu meringankan tubuhnya lebih bagus.


Meski tampak seimbang, dengan kelebihan dalam kecepatan Bidadari Suvarnabhumi bisa mengalahkan jenderal Dubalang Silangkaneh. Tetapi pengalaman tempur hidup mati yang banyak dimiliki jenderal Dubalang Silangkaneh, pertarungan itu terus berjalan seimbang.


Pertarungan semakin seru dan suasana mulai memanas.


"Hentikan pertarungan...!!" Dia berteriak dan melompat ke tengah-tengah pertarungan. Jenderal Dubalang Silangkaneh menahan serangan dan melompat mundur. Bidadari Suvarnabhumi juga melakukan hal yang sama.


Mereka kaget ketika ada yang masuk begitu saja ketengah pertarungan mereka. Seorang pemuda tampan dengan wajah pucat berdiri diantara mereka. Sedikit darah merembes di bibirnya. Pemuda itu berwajah tampan dengan alis mata tebal seperti golok menaungi mata yang bersinar tajam. Dia adalah Malin Tanjung putra tunggal Tuanku Bandaro Sati.


Ya Tuanku Bandaro Sati selain penguasa kota Pariaman juga Patriak dari klan Tanjung.


Pemuda itu menatap tajam kepada jenderal Dubalang Silangkaneh. Ia memalingkan wajahnya melihat Bidadari Suvarnabhumi mau menjura hormat. Namun ketika melihat wajah Bidadari Suvarnabhumi pemuda itu jadi bengong sendiri. Ia terpesona melihat kecantikan Bidadari Suvarnabhumi.


"Malin...!!" suara Tuanku Bandaro Sati mengembalikan kesadaran Malin. Pemuda itu mengangguk hormat dan tersenyum kepada Bidadari Suvarnabhumi.


"Ada apa Ayah kenapa paman Dubalang menyerang Nona itu ?" Malin Tanjung bertanya pada ayahnya Tuanku Bandaro Sati. Tuanku Bandaro Sati yang tadi mulai agak marah, langsung melunak melihat putranya. Ia akhirnya menceritakan semua sabab musabab semua itu terjadi.


"Begitulah Malin. Ayah berniat membeli satu butir pil tanchi untuk mengobati luka dalam mu." Tuanku Bandaro Sati mengakhiri penjelasan pada Malin. Malin tersenyum penuh rasa terima kasih dan mengangguk. Pemuda itu berbalik dan menjura pada Bidadari Suvarnabhumi.

__ADS_1


"Nona, saya Malin Tanjung putra dari penguasa kota mohon maaf atas kejadian ini. Mohon Nona memberikan maaf pada kami dan melupakan kejadian ini. Uhuk.. huk... huk...!"


Malin Tanjung terbatuk batuk di ujung kalimatnya. Darah kembali merembes di bibirnya. Pemuda itu tersenyum membersihkan bibirnya dengan sebuah saputangan.


Melihat keadaan Malin, Halimun segera menghampiri pemuda itu. Pendekar Kabut Maut segera memeriksa kondisi Malin Tanjung. Seberkas kabut tipis menyentuh Malin Tanjung. Kabut itu menyelimuti Malin dan membawa pemuda itu duduk bersila.


Halimun segera memasukkan sebutir pil tanchi kemulut Malin. Pemuda itu segera menyergap esensi energi pil tanchi. Perlahan luka dalam Malin Tanjung mulai membaik dan bukan hanya itu. Energi besar terasa membanjiri meridian ditubuhnya. Malin merasakan desakan dalam tubuhnya sebuah dorongan untuk melakukan terobosan. Setelah sekitar sepenanakan nasi terdengar bunyi kaca pecah


Prank....!


Malin Tanjung merasakan energi tingkat emas puncak. Kemudian mengepalkan tangannya. Malin bangkit lalu bersujud dihadapan Halimun.


"Terimakasih tuan. Bolehkah saya mengenal siapa adanya tuan penolong ?" Halimun mengangkat Malin Tanjung untuk berdiri. Tuanku Bandaro Sati tau-tau sudah berdiri di sebelah Malin Tanjung. Penguasa kota menjura dalam kepada Halimun.


"Terimakasih tuan pendekar, saya mohon maaf jika cara saya tadi salah." Halimun tersenyum dan mengenalkan diri dan rombongan mereka.


"Kami berasal dari sekte Tapak Dewa yang ada di Suvarnabhumi. Saya dikenal orang dengan Pendekar Kabut Maut, ini senior saya Dewi Rambut Emas guru dari tuan putri Dhamma Mayang yang lebih dikenal sebagai Bidadari Suvarnabhumi."


Tuanku Bandaro Sati sangat terkejut mengetahui jati diri semua tamunya. Siapa di benua Emas yang tidak tau dengan sekte Tapak Dewa. Salah satu dari lima sekte terbesar di benua Emas. Tuanku Bandaro Sati dan Malin Tanjung lebih terkejut lagi dan membungkuk dalam kepada Dhamma Mayang setelah mengetahui jati diri gadis cantik jelita itu. Jenderal Dubalang Silangkaneh juga buru-buru minta maaf pada Bidadari Suvarnabhumi.


Diam-diam Malin Tanjung mengucapkan selamat tinggal kepada mimpinya yang baru terbentuk.


Suasana canggung berubah jadi cair. Tuanku Bandaro Sati memaksa untuk makan malam bersama. Sekalian selamatan atas kesembuhan dan Malin Tanjung juga menerobos satu level.


Mereka semua duduk mengelilingi meja makan besar. Aneka jenis makanan terhidang di atasnya. Tuanku Bandaro Sati duduk di kepala meja. Malin Tanjung berbaur dengan semua murid sekte Tapak Dewa. Sesekali dia mencuri pandang mengagumi kecantikan Bidadari Suvarnabhumi.


Malam itu akhirnya rombongan sekte Tapak Dewa bermalam di istana penguasa kota Pariaman. Sementara orang orang Inyiak Karambit Sati menanti dari tempat persembunyiannya manyariangik. Seorang dari mereka kembali melapor pada Inyiak Karambit Sati.


\=\=\=***\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2