Raja Pedang

Raja Pedang
#61. Kedatangan Ang Mo Ong (Raja Iblis Merah)


__ADS_3

"Kami tidak lelah. Ada apakah Palimo ?" suara Mangaraja Tohir terdengar lebih serius.


Kale Lepak Sakti menghela nafas dalam. Patriak sekte Tapak Dewa itu melihat agak lama kepada Kaisar Dharma Andaleh.


Kaisar Dharma Andaleh mengerti arti tatapan Patriak sekte Tapak Dewa itu. Tapi dia berlagak tidak tau apa apa.


"Jadi begini..." Kale Lepak Sakti kembali menghela nafas dalam. Dia bingung harus memulai dari mana. Dalam kondisi itu dia melihat kearah Lindu dan Nirmala. Lalu kembali bicara kepada Mangaraja Tohir.


"Begini Mangaraja... sebelum kami tau bahwa Nirmala adalah putrimu. Sekitar setahun yang lalu. Bertepatan dengan kegiatan pelatihan bersama di sekte Alang Barat. Kami tel...." kalimat yang hendak diucapkan oleh Kale Lepak Sakti di potong oleh Lindu.


"Bapa Maharaja. Apa yang hendak dibicarakan oleh pak tua Kale Lepak Sakti terkait dengan urusanku." Lindu melihat kearah Kale Lepak Sakti. Patriak sekte Tapak Dewa itu mengangguk dan tersenyum lebar. Lindu kemudian menatap Nirmala dan Ratu Shima. Ratu yang cantik menawan itu tersenyum dan mengangguk. Mangaraja Tohir menaikkan alis mata kirinya. Jidatnya mengernyit menatap Lindu.


"Sebelumnya aku mohon maaf karena berfikir besok baru membicarakan ini dengan Bapa. Tapi pak tua Palimo sudah memulainya. Tentu aku yang harus bicara langsung dengan Bapa."


Mangaraja Tohir melihat pada Lindu dengan tatapan tajam. Pria gagah Patriak klan Mangaraja itu menyuruh Lindu melanjutkan bicaranya.


Lindu menjelaskan secara detail semuanya pada Mangaraja. Termasuk hasil pembicaraan dengan Ratu Shima dan Kaisar Dharma Andaleh.


Setelah mendengar semua ucapan Lindu. Mangaraja Tohir melihat kearah Ratu Shima istrinya, lalu menatap Nirmala dan Dhamma Mayang. Terakhir Patriak klan Mangaraja itu menatap lama kepada Kaisar Dharma Andaleh. Kaisar Dharma Andaleh mengangguk kepada Mangaraja Tohir.


"Baiklah, karena semua pihak sudah setuju. Aku juga harus menyetujui semua ini. Namun aku ingin merasakan sendiri kekuatan dan kemampuan mu Lindu." Mangaraja Tohir beralih menatap Kale Lepak Sakti dan berkata.


"Palimo, aku pinjam ruang pelatihan mu." setelah itu Mangaraja Tohir berdiri dan melihat kearah Lindu.


"Ayo Raja Pedang, ikuti aku." Ucapnya dan melangkah mengikuti Kale Lepak Sakti.


Begitu mereka memasuki ruang latihan. Kale Lepak Sakti langsung memasang formasi pelindung agar tidak terjadi kerusakan akibat apapun akii benturan atau energi pukulan nyasar.


Dalam waktu singkat ruang latihan khusus Patriak sekte Tapak Dewa penuh oleh para Patriak dan Tetua berbagai sekte. Mereka adalah peserta yang sudah datang untuk acara pertemuan besar sekte golongan putih benua Emas dan Semenanjung Malayana. Mereka mendengar saja berita bahwa Raja Pedang akan diuji langsung oleh siperkasa Mangaraja Tohir. Siapapun pendekar di benua Emas dan Semenanjung Malayana tau betapa kuatnya Patriak klan Mangaraja itu.


Lindu berdiri tegak ditengah ruang latihan itu. Mangaraja Tohir perlahan melangkah dan berdiri tegak tepat didepan Lindu. Pemuda tampan itu menjura.


"Mohon petunjuk Bapa" ucap Lindu dan bergerak menyerang.


Meremuk gunung merobek bulan


Lindu memodifikasi ilmu pedang langit dan bumi menjadi serangan tangan kosong. Lindu melesat sangat cepat menyerang Mangaraja Tohir. Angin tajam berkesiut dan menderu bergemuruh mengaum menuju Mangaraja Tohir. Patriak klan Mangaraja itu tersenyum. Membangun kuda-kuda bertahan dan membentuk lapisan transparan bewarna emas yang menyelimuti tubuhnya.


Blaarrr...!!


Bumm....!!


Dhuaarr....!!


Tiga benturan keras terjadi, dinding transparan yang menyelimuti Mangaraja Tohir retak besar. Lalu pecah berderai...

__ADS_1


Krrraaeeet....! Prangg...!!


Formasi pelindung bergetar hebat. Mangaraja Tohir terseret mundur tiga langkah.


Pria gagah itu tersenyum makin lebar.


"Luar biasa...!!


Sekarang giliran ku...!!"


Mangaraja Tohir bergerak pelan, antep menyerang Lindu. Kedua tangannya terbungkus cahaya biru terang dengan percikan lidah petir.


Tinju petir mengoyak jagad !


Gemuruh suara guntur berderam keras menuju Lindu. Dinding formasi pelindung bergetar karena tekanan energi sangat besar membelah menuju Lindu.


Raja Pedang menyongsong serangan membuat dinding pelindung serta melakukan serangan balasan.


Benteng dunia menantang surga...


Pukulan tanpa ujud...!


jari telunjuk Lindu mengarah ke dada Mangaraja Tohir.


Bamm...!!


Benturan sangat keras terjadi ketika serangan Mangaraja Tohir menghatam dinding pelindung yang dibuat Lindu. Dinding pelindung itu bergetar hebat.


Serangan pukulan tanpa ujud yang dilepas Lindu berhasil dihindari Mangaraja Tohir. Sebagai pendekar tingkat agung menengah. Pria gagah itu bisa merasakan desiran yang sangat halus. Lindu tersentak kaget ketika Mangaraja Tohir bisa lolos dari serangan pukulan tanpa ujud. Hanya pendekar tingkat agung puncak keatas yang mampu menyadari serangan pukulan tanpa ujud.


Pukulan tanpa ujud menyasar. Dinding formasi pelindung menjadi sasaran bergetar hebat lalu pecah...


Prangg...!!


Dinding formasi tingkat menengah yang sangat kuat itu hancur berantakan. Imbas angin pukulan tanpa ujud itu menyebar kearah penonton. Ratu Shima langsung membuat dinding pelindung untuk semua penonton.


Semua penonton terperangah tidak bisa membayangkan kekuatan yang amat sangat besar dari pukulan terakhir yang dilepas Lindu. Mereka juga sangat mengagumi Mangaraja Tohir yang bisa tau ada serangan sangat kuat tanpa ada sedikitpun gerak dan riak energi sedikitpun. Benar-benar dua pendekar yang sangat hebat.


Mangaraja Tohir merasa amat senang. Patriak klan Mangaraja itu tertawa lebar. Dia tidak menyangka ada pemuda sehebat Lindu. Mangaraja Tohir yang waktu dianggap jenius puncak benua Emas diusia Lindu sekarang hanya mencapai tingkat suci awal.


"Cukup Lindu. Luar biasa, aku bisa melihat kehebatan pukulan tanpa ujud." Pria gagah itu masih tertawa lebar dan menjura kepada Lindu. Lalu dengan santai merengkuh bahu pemuda tampan itu.


"Bagaimana kabarnya gurumu Dewa Tanpa Bayangan ?" Patriak klan Mangaraja sudah merasa yakin Lindu pasti murid Dewa Tanpa Bayangan. Tanpa bertanya kepada Lindu pria gagah itu sudah yakin dengan melihat pukulan tanpa ujud.


Nirmala dan Mayang melesat berdiri didepan Mangaraja Tohir dan Lindu.

__ADS_1


"Gimana ayah...??" Nirmala bertanya dengan nada bangga dan Bidadari Suvarnabhumi berdiri disebelahnya dengan senyuman paling manis yang dia miliki.


"Tidak salah... tidak salah.... Ha... haa... haaa..." Mangaraja Tohir menanggapi dengan tawa keras.


Mereka kembali ke kediaman Patriak sekte Tapak Dewa.


---***


Ketika semua undangan sudah berada di aula utama gerombolan Tengkorak Merah. Tiba-tiba terdengar suara keras...


"Yang mulia Ang Mo Ong telah datang..." semua yang hadir terkejut dan langsung berdiri. Seorang pria dengan rambut merah tergerai lepas berjalan masuk diikuti empat orang dengan rambut panjang dikepang tergantung sampai ke pinggang.


Ang Mo Ong (Raja Iblis Merah) adalah Grand Master Pangcu atau ketua tertinggi dari gerombolan Tengkorak Merah. Organisasi induk dari gerombolan Tengkorak Merah berada disebelah Utara benua Tionggoan. Tepatnya adalah di Kekaisaran Atap Dunia. Aura energi yang sangat kuat merembes keluar dari orang tersebut. Semua yang hadir merasa seperti ditindih satu gunung. Bahkan ada yang jatuh pingsan dengan bibir merah oleh darah. Itulah kekuatan dewa awal yang amat sangat mengerikan. Sesaat kemudian Ang Mo Ong menarik kembali aura yang dilepasnya.


Setan Merah, Patriak dari gerombolan Tengkorak Merah benua Emas segera mengosongkan kursi utama yang besar.


"Selamat datang Yang Mulia Ang Mo Ong, Grand Master Pangcu Tengkorak Merah." Setan Merah menjura menekuk rendah tubuhnya.


Ang Mo Ong mengangguk, ia menatap Setan Merah.


"Aku sengaja datang melihat perkembangan organisasi di benua Emas ini. Lanjutkan acara ini, aku hanya menjadi pendengar." Ang Mo Ong kemudian duduk di kursi utama yang ada.


Setan Merah memulai acara pertemuan besar golongan hitam. Agenda yang dibahas adalah pengaturan tugas dari tiga sekte besar golongan hitam yang menjadi afiliasi. Juga dibahas tentang bagi hasil, dukungan timbal balik antara tiga sekte besar dan gerombolan Tengkorak Merah.


Agenda kedua yang sangat membuat seluruh ruangan heboh adalah rencana penyerangan dan penaklukan kekaisaran Suvarnabhumi.


Agenda ke tiga adalah menyatukan kekuatan semua golongan hitam. Menjadikan Patriak Tengkorak Merah sebagai Master.


Pembicaraan terkait rencana penyerangan dan penaklukan kekaisaran Suvarnabhumi menjadi pembicaraan paling panas di pertemuan itu.


Patriak sekte Dubilih Enggano, Dubilih Galo bicara.


"Setan Merah atas dasar apa kau berfikir bahwa kita bisa menaklukkan kekaisaran selatan Suvarnabhumi ? Tidak kah kau tau, bahwa ada kekuatan yang sangat kuat dibelakang kekaisaran Suvarnabhumi ?? Selain itu, menantu Kaisar Dharma Andaleh adalah pendekar yang sangat kuat ???" Semua sekte yang paham dengan kekaisaran Suvarnabhumi mengangguk setuju.


Setan Merah juga sangat setuju dengan apa yang disampaikan Patriak Dubilih Enggano. Dia kemudian menjawab dengan yakin.


"Aku paham. Karena itu kami Tengkorak Merah mengajak kita semua bersatu. Dengan begitu apakah kita tidak bisa menaklukkan kekaisaran Suvarnabhumi ?


Setelah itu kita bisa mengatur untuk menaklukkan kekaisaran tengah. Terakhir kekaisaran Madania. Setelah itu benua Emas akan berada dibawah kekuasaan kita.


Kalian sekte utama golongan hitam akan jadi penguasa di masing-masing kekaisaran."


Setan Merah berhenti sejenak menghela nafas. Patriak sekte Darah Hitam, Pandeta Iblis Haloan berdiri.


"Jika kami menjadi penguasa di masing-masing kekaisaran, lalu apa untungnya bagi kalian Tengkorak Merah ?" Para Patriak dan Tetua dari sekte besar golongan hitam setuju dengan pandangan Pandeta Iblis Haloan.

__ADS_1


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2