
Empat orang pemuda dan pemudi memasuki pelabuhan dikota Babilang Kaum. Selisih beberapa waktu setelah empat pemuda pemudi itu kapal. Muncul lagi enam orang pemuda pemudi naik kapal yang sama.
Empat orang pemuda dan pemudi itu adalah Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi, serta Nuri dan Malin. Sedangkan enam kelompok yang lain terdiri dari Wisesa, Marda, Rao Mudo, Sabai dan Lenggo serta Binu dari klan Caniago.
Kedua rombongan itu menaiki kapal Sibangkion Bingsat. Satu kapal yang sangat besar dan bisa membawa hampir tujuh ratus orang penumpang.
Beberapa waktu sebelum kapal berlayar meninggalkan pelabuhan, naik satu rombongan besar sekitar tiga ratus lima puluh orang. Wisesa sedang berdiri diselasar kapal menghadap ke pantai bersama Marda, Rao Mudo, Sabai dan Lenggo. Mereka melihat rombongan berpakaian serba hitam dengan ikat kepala beda warna. Ada yang ikat kepalanya warna putih, hitam, merah dan kuning. Sepertinya warna ikat kepala mereka menentukan tingkat mereka dalam rombongan itu.
"Sepertinya mereka dari sekte sesat Darah Hitam." Rao Mudo bergumam, tapi terdengar cukup jelas dikuping rekan nya yang lain.
"Apakah kau mengenal sekte Darah Hitam itu saudara Rao ?" Wisesa bertanya kepada Rao Mudo. Kesan yang ditampilkan Wisesa seakan itu bukan sesuatu yang penting.
"Iya bang Rao, Lenggo dan Sabai juga ingin tau." Lenggo ikut bertanya kepada abangnya. Rao Mudo menarik nafas panjang, dia melihat sekilas kearah Sabai yang tampak menunggu dengan antusias. Setelah berdehem sedikit dia mulai bercerita.
"Sekte Darah Hitam boleh dibilang sebagai sekte golongan hitam terbesar di kekaisaran Utara ini. Sekte itu sudah berusia ratusan tahun.
Patriak sekte Darah Hitam sekarang Pandeta Iblis Haloan merupakan seorang pendekar tingkat tinggi. Kalau tidak salah, dia baru naik ketingkat suci menengah atau tinggi. Aku kurang pasti levelnya yang mana pasnya.
Sekte Darah Hitam mempunyai anggota lebih dari seribu orang. Mereka memiliki beberapa bisnis pelesiran dan rumah judi. Mungkin ada di tiga kota di kekaisaran Utara Madani selain kota kekaisaran Madania. Mereka juga memiliki usaha rentenir, dan jasa keamanan khusus.
Sejauh yang aku tau, mereka sudah membangun aliansi dengan Tengkorak Merah cukup lama. Mungkin sudah belasan tahun." Rao Mudo, tuan muda klan Manusia Harimau memaparkan apa saja yang dia tau.
"Waaahhh... kapalnya mulai bergerak...!" suara Sabai terdengar senang. Gadis remaja yang cantik itu baru pertama kali ini naik kapal. Dia menikmati ayunan lembut kapal ketika memecah gelombang.
"Sabai kamu kelihatan senang banget. Apakah ini pertama kali naik kapal ?" Mendengar ucapan Wisesa, gadis remaja itu mengangguk dengan mata berbinar.
"Apakah kak Wisesa sudah sering naik kapal ?" Wisesa tersenyum mendengar suara antusias Sabai. Dia kemudian menggeleng pelan.
"Tidak sering. Hanya beberapa kali. Memang menyenangkan naik kapal, menikmati ayunan lembut tubuh kapal saat membelah gelombang." Sabai setuju dan menganggukan kepalanya beberapa kali. Wisesa dan Lenggo tertawa melihat tingkah Sabai. Gadis remaja yang lugu itu juga tertawa senang.
__ADS_1
Kapal terus berlayar tenang membelah gelombang laut. Haloan si Pandeta Iblis, Patriak sekte Darah Hitam heran, dia merasakan aura Manusia Harimau.
"Birong Biang dan Birong Bodat, aku merasakan aura seorang gadis manusia harimau. Coba kalian cari diam-diam. Jangan sampai ada keributan terjadi di kapal ini."
"Baik Patriak..." Birong Biang dan Birong Bodat kemudian memisahkan diri dari Pandeta Iblis, Haloan.
"Ah... kuping kiriku berdeging. Pasti ada orang yang lagi ngomongin aku." ucap Lenggo yang sedang berjalan menuju kamarnya bersama Sabai.
"Emang kalau kuping kiri berdengung tanda ada orang yang lagi ngomongin diri kita ?" Sabai bertanya sambil tertawa-tawa kepada Lenggo. Mereka berdua tertawa lucu berdua dan masuk kamar kabin mereka.
Sementara itu Biang Bodat sedang berjalan menyusuri selasar dan koridor kapal Sibangkion Bingsat. Diam diam dia melepas presepsi batinnya. Tujuan Birong Bodat agar tidak ada yang tau dia sedang mencari seseorang. Dengan menggunakan presepsi batin akan lebih mudah mendeteksi makhluk campuran seperti manusia harimau atau manusia setengah lelembut. Namun dia tidak sadar jika tindakan yang dia lakukan tertangkap oleh beberapa orang. Mereka adalah Sabai, Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi.
Sabai segera menutupi aura khas Lenggo sehingga tidak bisa terdeteksi oleh siapapun.
Birong Bodat terus menelusuri semua koridor dan selasar kapal. Didepan kamar yang ditempati oleh Rao Mudo dan Binu. Birong Bodat berhenti sejenak. Lalu melanjutkan langkahnya setelah menggelengkan kepala.
Setelah berkeliling disemua tempat termasuk haluan dan buritan kapal. Birong Bodat dan Birong Biang kembali menemui Pandeta Iblis Haloan.
"Yaa, aku juga mendeteksi tiba-tiba auranya menghilang. Kalian coba awasi pemuda manusia harimau itu. Setelah itu tau, perintahkan anak-anak untuk mengawasinya."
"Baik Patriak !" Birong Biang dan Birong Bodat keluar dari kabin Patriak sekte Darah Hitam.
Malam pertama diatas kapal berlalu dengan tenang. Pagi datang membawa keceriaan. Kelompok enam bergabung di haluan kapal menikmati sarapan pagi. Makanan untuk sarapan pagi tidak sesuai dengan selera Sabai. Ikan laut direbus dengan rebung dan dikasih santan. Udang dibakar alakadarnya. Alhasil semua dilahap oleh Lenggo dengan senang hati. Sabai akhirnya mengambil makanan dari kalung penyimpanan miliknya. Gadis remaja itu mengambil sepotong lemang dan kue sangko lalu menikmati peganan itu sebagai sarapan.
Wisesa mendorong dua buah manggis kearah Sabai.
"Apakah ini untuk ku kak Wisesa ?" Sabai menatap Wisesa dengan mata bintangnya. Wisesa tersenyum mengangguk kecil.
"Yaa... Ini untuk mu. Aku lihat sarapan dikapal ini kurang sesuai dengan selera mu."
__ADS_1
"Aah... terimakasih kak Wisesa." ucap Sabai gembira. Manggis adalah buah kesukaan nya. Apa lagi yang namanya manggis muda. Bisa bisa Sabai menikmati dengan setengah kalap. Wisesa senang melihat Sabai menyukai apa yang dia berikan.
Marda dan Binu lagi asik menyeruput kopi gula aren mereka ketika seorang pria mendekati meja mereka. Pria itu berdiri dekat Lenggo dan menyapa ramah gadis cantik manusia harimau itu.
"Permisi semua, saya Bonar. Bolehkah bergabung dengan anda Nona cantik ?" setelah menyapa semua dia bicara lembut kepada Lenggo. Sebelum Lenggo dan yang lain menjawab. Seorang pria sekitar tiga puluhan datang mendekat.
"Hoi bung... Jangan coba-coba kau ganggu Nona itu." Pria yang mengaku bernama Bonar itu kearah pria yang berteriak. Tiba-tiba wajahnya berubah jerih.
Melihat pakaian pria yang berteriak itu, Bonar tau pria itu anggota sekte Darah Hitam. Dia langsung ngeloyor pergi.
"Huh...! Tidak punya kepandaian saja, berani mendekati seorang gadis cantik." ucapnya sambil mendengus. Kemudian dia bicara ramah dibuat buat kepada Lenggo.
"Aaa... Nona cantik, saya mewakili tuan besar disana untuk mengundang anda bergabung." Sambil sedikit membungkuk dia menunjuk kearah meja yang ditempati Pandeka Iblis Haloan bersama Birong Biang dan Birong Bodat serta seorang wanita cantik yang sudah agak berumur.
Lenggo melirik sekilas lalu mendengus. Mata abangnya Rao Mudo berkilat menatap pria tiga puluhan itu.
"Siapa kau yang berani mengganggu adikku ??!" Namun pria itu tidak menggubris. Dia menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Lenggo. Tentu saja tindakan pria itu membuat semua anggota Kelompok Enam kesal.
Sesaat sebelum tangan pria itu menyentuh tangan Lenggo.
Praaakk...!!
Marda memukul keras tangan pria itu. Pria itu sangat kaget dan merasa tulang tangannya ngilu. Pria itu sangat marah, Dia langsung menyerang Marda.
Plaakk...!! Duughhh...!!
Aachh...!!
Tangan dan kaki Marda bergerak menghantam wajah dan lambung si pria. Pria itu terdorong tiga langkah dan merasa mules.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***