
Pedang Mutiara Biru terus bergerak sangat cepat menebas leher Kala Putih.
Jleb...! Jleb....!!
Crassz...!!
Kepala Kala Putih jatuh menggelinding ditanah dan berhenti dekat pertarungan Nirmala. Kala Emas sang Tetua Agung sekte Kala Hitam sekaligus sahabat Tungka Bulian terkejut. Dia tidak mengira Tetua Kala Putih mati dengan kondisi seperti itu. Dia sangat paham dengan tingkat kemampuan yang sangat tinggi dari Kala Putih. Bisa dibilang bahwa Kala Putih termasuk seorang pendekar pilih tanding.
Perhatiannya yang teralihkan hanya sekitar satu detik itu menjadi petaka besar. Nirmala membuat serangan sangat cepat.
Seriti menyisir gelombang
Serentetan tusukan datang susul menyusul. Serangan sangat cepat itu berhasil ditahan dan dihindarkan Kala Emas. Namun tebasan pedang Bintang tidak bisa dihindari nya.
Tringg...!! Track...!!
Tringg...!! Slash... Crassz...!!
Kala Emas tiba-tiba merasa lengan kirinya tebal dan panas.
Aaachhhh...!!
Pria setengah tua itu terkejut melihat tangan kirinya sudah hilang sampai diatas siku. Saat dia merasa kaget dan berteriak. Pedang Bintang nya Nirmala sudah berada dekat dengan lehernya. Kala Emas buru-buru menangkis sambil membuang badannya kesamping.
Trangg...!! Crassz...!!
Pedang Bintang merobek pundak Tetua Agung sekte Kala Hitam. Darah semakin banyak mengucur membasahi tubuhnya.
"Gadis keparat !! Aku akan mengadu jiwa dengan mu !!!" Teriakan keras Tetua Agung sekte Kala Hitam itu disambut tawa kecil Nirmala.
"Nyonya, bukan gadis" ucap Nirmala sambil tertawa. Gadis cantik itu melanjutkan.
"Aku tidak mau mengadu nyawa, aku hanya membantu mu bertemu Raja Akhirat pak tua."
Nirmala membuat serangan. Pedang Bintang kembali berkelebat sangat cepat. Hanya tampak garis putih keemasan melintas bolak balik.
Crassz...!! Crezz...!!
Dua sayatan melintang muncul di dada dan lambung Kala Hitam. Lelaki setengah tua itu menjatuhkan dirinya bergulingan menjauh.
__ADS_1
Trangg...!!
Suara benturan keras dan nyaring terdengar ketika Bidadari Suvarnabhumi menangkis pedang Kala Biru yang hampir menebas leher Komandan pengawal. Kala Biru tersentak kaget ketika pedangnya berbenturan dengan pedang milik Bidadari Suvarnabhumi. Tangan Kala Biru yang memegang pedang terasa kesemutan. Dia tidak menyangka gadis cantik itu memiliki tenaga yang sangat besar.
Sementara itu. Pertarungan Raja Pedang melawan Tungka Bulian tampak sangat tidak seimbang. Setiap kali Patriak sekte Kala Hitam melakukan serangkaian serangan, Raja Pedang menghindar atau menahannya dengan mudah. Namun setiap kali pedang Mustika Embun berkelebat, satu luka baru pasti terukir di tubuh Tungka Bulian. Tampak jarak kemampuan mereka berdua terlalu jauh. Tungka Bulian tidak bisa memikirkan tingkat kemampuan Lindu.
Patriak sekte Kala Hitam itu merasa frustasi menghadapi Raja Pedang. Sudah dua kali dia mencoba mencoba untuk melarikan diri. Tapi tetap saja Raja Pedang sudah berada didepannya. Dia merasa seperti anak kecil berhadapan dengan orang dewasa.
Melihat tidak ada peluang untuk melarikan diri, apalagi memenangkan pertarungan. Tungka Bulian memutuskan untuk meledakkan dirinya. Dengan itu besar peluang baginya untuk mati bersama atau paling tidak membuat Raja Pedang cacat atau terluka parah.
Patriak sekte Kala Hitam itu mulai menarik nafas panjang dan menghimpun esensi energi alam. Semua esensi energi itu mampatkan di dantien dan simpul meridian. Jika esensi energi itu bisa mencapai seratus persen, dia akan melesat kepada Raja Pedang dan meledakkan diri.
Pertarungan lima pendekar pelindung dan pengawal desa Semak berlangsung sangat seru. Puluhan pengawal desa Semak dan anggota sekte Kala Hitam telah pada tewas. Mayat mereka berserakan di mana-mana.
Kelima pengawal khusus yang menjadi pelindung Kepala Desa. Tanpa merasa ragu, berusaha membunuh anggota sekte Kala Hitam yang berada dihadapan mereka. Meski tubuh mereka juga mengalami luka sayatan pedang. Mereka telah membunuh lebih dari sepuluh lawan. Pertempuran terus berlangsung sengit. Perlahan tapi pasti, semua anggota sekte Kala Hitam akan mati terbunuh.
Rimba Rasam mulai terlihat sedikit lebih unggul dari Kala Merah yang menjadi lawannya. Pertarungan mereka tampak sudah menuju puncaknya. Rimba Rasam dan Kala Merah menata posisi menyerang. Mereka bersiap melepaskan serangan tingkat tinggi.
Pedang membelah gunung
Rimba Rasam melesat sambil mengayunkan pedangnya secara vertikal. Angin tajam berkesiut membelah udara tipis.
Benteng hitam tikaman maut
Baammm...!!
Benturan sangat keras terjadi ketika dua esensi energi besar bertemu. Rimba Rasam terpental kembali keudara. Kepala Desa Semak bersalto tiga kali untuk mementahkan efek benturan. Dia kembali mendarat mulus.
Sementara itu Kala Merah terdorong mundur lima tombak. Tusukan yang coba dia lakukan tidak terlaksana. Tetua keempat sekte Kala Hitam itu muntah seteguk darah. Posisinya agak goyah.
Tanpa menunggu waktu, begitu mendarat Rimba Rasam langsung membuka serangan baru. Pedangnya menebas miring menuju kearah pangkal leher. Dibalik tebasan mematikan itu, satu pukulan mematikan menuju jantung Kala Merah.
Kala Merah segera menata kembali posisinya. Tetua ke empat sekte Kala Hitam maju menyambut serangan.
Trangg...!!
Duaghhh...!! Uhuk...!!
Benturan keras kembali terjadi ketika pedang mereka bertemu. Pukulan Rimba Rasam menghantam dada Kala Merah. Dia terlempar dan muntah darah. Mukanya pucat pias. Kepala Desa Semak itu kembali melakukan serangan berganda. Pedangnya melesat lurus menuju leher Kala Merah sementara kakinya mengayun dengan esensi energi besar menuju lambung Kala Merah.
__ADS_1
Kala Merah pindah dua tindak kesamping. Tusukan kearah leher berhasil dihindari, namun pedang Rimba Rasam meliuk. Bergerak melintang membelah kearah dadanya dengan kecepatan tinggi. Kala Merah terpaksa menahan tebasan itu dengan pedangnya. Saat itu pula tendangan Rimba Rasam menetak lambungnya.
Trangg...!!
Buaghhh...!! Hugh...!!
Kala Merah kembali terlempar dan muntah darah lebih banyak lagi. Rimba Rasam seperti mendapatkan energi berlimpah. Tanpa jeda dia melesat kembali menerjang Kala Merah yang sudah kepayahan. Dua tebasan beruntun kembali menuju Kala Merah.
Kala Merah mencoba mundur dua tindak. Tapi kalah cepat dengan datangnya pedang Kepala Desa Semak.
Craack...!! Craasssh...!!
Tebesan pertama hanya melukai sedikit pundak Kala Merah. Namun tebasan kedua membelah perutnya. Tetua sekte Kala Hitam itu berdiri sangat goyah.
Tusukan seperti kilat dari Rimba Rasam tak terhindar lagi menembus jantungnya.
Jleebb...!!
Mata Kala Merah membulat besar. Tetua keempat sekte Kala Hitam itu tewas sebelum Rimba Rasam menarik balik pedangnya.
Rimba Rasam menghela nafas panjang. Dia menatap tubuh Kala Merah yang jatuh tak berdaya ke tanah. Lalu Kepala Desa Semak itu bergeser melihat pertarungan Raja Pedang dan Tungka Bulian.
Raja Pedang menatap dingin Patriak sekte Kala Hitam yang tampak sudah berputus asa. Dia mengulas senyum unik, khas miliknya. Tungka Bulian mempercepat proses untuk memampatkan esensi energi di dantien dan seluruh simpul meridian ditubuhnya.
Pada saat Tungka Bulian telah menghimpun esensi energi sampai delapan puluh lima persen. Raja Pedang menusuk menggunakan niat pedang. Bayangan nyata pedang Mustika Embun bergerak lurus dengan cepat bagaikan kilat. Pedang Mustika Embun berputar sangat cepat bagaikan mata bor. Karena serangan itu menggunakan niat pedang tidak akan bisa ditahan atau ditangkis. Serangan itu menusuk dantien Tungka Bulian.
Drrrt... Jleebb...!!
Baamm...!! Joossszz....!!
Aaaaaaahhh...!!!
Tungka Bulian menjerit keras histeris. Esensi energi yang dihimpun tiba-tiba merembes, bocor. Tungka Bulian merasa sakit'yang amat sangat antara pusar dan ***********.
Patriak sekte Kala Hitam itu, merasakan sakit yang jauh lebih dan lebih besar lagi dalam hatinya. Kehancuran dantien miliknya, merubah dia menjadi manusia biasa.
"Bunuh aku Raja Pedang. Tak ada gunanya lagi aku hidup." Tungka Bulian berteriak keras kepada Lindu. Tapi nadanya lebih terdengar memelas dan putus asa. Lindu melihat keliling dan berhenti kearah Rimba Rasam.
"Rimba Rasam, aku serahkan Patriak sekte Kala Hitam ini untuk kau beri keadilan. Lalu Raja Pedang melihat Nirmala yang masih bertarung dengan Tetua Agung sekte Kala Hitam.
__ADS_1
Nirmala terlihat melesat tinggi keudara. Setelah bersalto dua kali, gadis cantik dengan lesung pipi itu menukik sangat cepat kearah lawannya.
\=\=\=***\=\=\=