Raja Pedang

Raja Pedang
#112. Kisruh di Pelabuhan Luwahaziwara


__ADS_3

Lindu dan Mayang menatap lurus kearah pelabuhan Luwahaziwara. Pasangan pendekar muda itu telah menggemparkan jagad raya rimba hijau dunia persilatan benua Emas. Mereka berdua berdiri dibelakang jendela sebuah penginapan mewah dekat pelabuhan Luwahaziwara.


"Sepertinya kapal yang membawa Laskar Gabungan belum datang Uda." Lindu mengangguk kecil. Perlahan dia memeluk Dhamma Mayang. Perempuan cantik itu membenamkan kepalanya di dada Lindu.


"Yayaang... maafkan aku. Sejak kepergian Nirmala aku jadi kurang perhatian."


"Mayang ngerti kok Uda. Kita semua berduka dengan apa yang dialami Lala." Mayang memeluk erat tubuh Lindu suaminya.


Mereka berdua menghabiskan waktu sampai pagi. Mereka tenggelam menguraikan rindu yang terabaikan selama ini. Malam yang lembab itu diisi dengan rintihan dan jeritan kebahagiaan yang tertahan.


Pagi itu langit sedikit redup. Awan-awan kelabu bergayut menaungi kota pelabuhan Luwahaziwara.


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi duduk menikmati sarapan. Dari posisi duduknya, mereka bisa mengawasi kegiatan apapun yang terjadi dipelabuhan Luwahaziwara dengan baik.


"Uda... apakah hari ini kapal Laskar Gabungan akan datang ?" Bidadari Suvarnabhumi berbisik kepada Raja Pedang. Lindu menatap jauh melewati pelabuhan yang mulai sibuk.


Jauh ditengah laut tiga kapal bergerak pasti menuju pelabuhan Luwahaziwara.


"Mudah-mudahan kapal yang membawa Laskar Gabungan datangnya nanti malam."


"Kenapa Uda ?"


"Karena beberapa waktu lagi akan masuk kapal yang membawa bantuan untuk sekte Tengkorak Merah.


Sepertinya kita akan sibuk sepanjang hari ini." Raja Pedang menjelaskan dengan suara rendah kepada Bidadari Suvarnabhumi. Wanita cantik menawan itu hanya diam mendengarkan penjelasan Raja Pedang. Sesekali dia bertanya dan terkadang menganggukan kepalanya.


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi baru saja keluar penginapan. Ketika itu pula kapal yang membawa pasukan bantuan untuk sekte Tengkorak Merah merapat.


Mereka berjalan santai kearah pelabuhan. Kondisi pelabuhan Luwahaziwara semakin ramai. Banyak pendekar asing turun dari kapal yang merapat. Penampilan mereka juga banyak yang aneh. Ada pria yang berpakaian mengenakan pakaian yang dalam dengan belahan panjang sampai pinggul. Ada juga orang-orang yang bertelanjang dada dengan kalung bulat dari emas, perak atau tembaga melingkar dilehernya.

__ADS_1


Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi mengamati semua itu dari kejauhan. Matahari naik semakin tinggi. Udara mulai terasa panas. Jalanan semakin dipadati dengan orang-orang yang turun dari kapal. Raja Pedang mengajak Bidadari Suvarnabhumi untuk menikmati air kelapa muda. Mereka memasuki sebuah warung kelapa yang dibawah pohon beringin besar. Warung terbuka itu tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Angin yang berhembus memainkan anak anak rambut Bidadari Suvarnabhumi. Wanita yang sudah sangat cantik itu tampak semakin menggoda. Banyak mata lelaki yang terpesona melihat kearah Bidadari Suvarnabhumi yang memang sudah cantik.


Tiba-tiba lima orang pria muncul di warung kelapa. Dua dari mereka sepertinya dari sekte Tengkorak Merah. Sedangkan tiga lain terlihat seperti orang Tionggoan dan Semenanjung Malayana jika ditilik dari pakaian mereka. Semua melihat kearah Bidadari Suvarnabhumi dengan tatapan rakus. Mereka sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Raja Pedang yang duduk disebelah Dhamma Mayang yang jelita.


"Nona... dari pada hanya minum air kelapa disini. Lebih baik kau ikut kami. Kau bisa makan dan minum sepuasnya di rumah makan besar itu bersama kami." Seorang pria seperti anggota sekte Tengkorak Merah berkata, diikuti senyum-senyum mesum dari rekannya.


Bidadari Suvarnabhumi melihat kearah mereka berlima. Suaranya yang lembut terdengar ketika dia bertanya.


"Aku tidak kenal dengan kalian. Siapakah kalian berlima ini ?" Tanggapan yang diberikan Dhamma Mayang menjadikan lima orang itu jadi besar kepala.


"Ketahuilah Nona. Kami berdua adalah kepala divisi sekte Tengkorak Merah. Aku dikenal sebagai Golok Darah dan temanku ini Tombak Iblis. Adapun ketiga teman ini, adalah tamu-tamu kami. Itu saudara Hantu Burik dari Semenanjung Malayana. Sedangkan dua orang yang rambutnya dikepang itu adalah Gu Hui si Kerbau Gila dan Hek Tiaw si Elang Hitam.


"Apakah itu udah cukup untuk mu Nona cantik ?"


"Tentu saja cukup. Baiklah kalau begitu aku ucapkan selamat bertemu dengan raja akhirat !"


Slaash... Craasssh...!!


Pada saat Bidadari Suvarnabhumi bergerak, Raja Pedang juga melakukan tindakan yang sama menggunakan dua belas langkah ajaib. Raja Pedang menunjuk Kerbau Gila dan Pedang Penakluk Iblis berkelebat lebih cepat dari kilat menuju Hantu Burik.


Pukulan tanpa ujud...


Raja Pedang mendesis pelan. Kerbau Gila tiba-tiba dihantam esensi energi yang sangat kuat.


Blaaarrr...!! Kraakkk... kratak !! Zhiiiiingg...!!


Kerbau Gila terpelanting dengan dada remuk. Pria dari sekte Tengkorak Merah negri Atap Dunia itu langsung tewas tanpa sadar kenapa bisa tewas tiba-tiba.


Hantu Burik menghilang dari tempat dia berdiri. Tiba-tiba Hantu Burik muncul disamping Bidadari Suvarnabhumi. Pedangnya menebas dengan sangat cepat. Bidadari Suvarnabhumi menghindar menggunakan dua belas langkah ajaib yang telah dia pelajari dari Raja Pedang.

__ADS_1


Memadukan dua belas langkah ajaib dengan ilmu pedang Tarian Bidadari. Pedang Mustika Embun ditangan Bidadari Suvarnabhumi meliuk dalam selimut halimun tipis.


Bidadari memetik bunga...


Angin dingin melintas memotong bayangan tubuh Hantu Burik. Blass... Hantu Burik kembali menghilang. Itulah jurus menembus ruang dan waktu. Karena belum dikuasai dengan sempurna, Hantu Burik tidak bisa berpindah terlalu jauh. Namun selalu berhasil membantu dia menghindar dari serangan.


Raja Pedang sambil menahan dan menghindari serangan Tombak Iblis dan Elang Hitam memperhatikan ritme dan pola gerakan Hantu Burik. Beberapa kali Bidadari Suvarnabhumi hampir terluka oleh serangan mendadak Hantu Burik.


Dari kejauhan terlihat beberapa orang berlari cepat kearah pertarungan. Melihat itu Raja Pedang bergerak dengan sangat cepat bagaikan kilat. Pedang Penakluk Iblis meliuk melintas kearah Tombak Iblis.


Tass...!! Slaash...!!


Tombak Iblis menahan Pedang Penakluk Iblis dengan tombaknya. Namun tombak itu putus dua. Pedang Penakluk Iblis terus meluncur melewati Tombak Iblis. Tak bisa menghindar, Tombak Iblis langsung bertemu raja akhirat.


"Sebelah kiri mu Mayang !" Mendengar teriakkan Lindu, Bidadari Suvarnabhumi berputar meliukkan tubuhnya. Pedang Mustika Embun berkelebat menyilang.


Craasssh...!! Craasssh...!!


Hantu Burik yang tiba-tiba muncul langsung terbelah menjadi empat bagian. Matanya terbelalak melihat kepada Bidadari Suvarnabhumi.


Dia tidak mengerti bagaimana wanita itu tau bahwa dia akan muncul disamping kirinya. Sehingga pedang wanita itu memotong tubuhnya. Pendekar aliran hitam dari Semenanjung Malayana itu tidak mengira kedatangannya ke Tano Niha hanya untuk menjemput kematian.


Elang Hitam bergetar hatinya melihat rekan-rekannya tewas begitu saja. Dia berbalik mau melarikan diri. Namun Raja Pedang melesat dengan sangat cepat melintasi dirinya.


Craasssh...!!


Kepala Elang Hitam terlepas dan jatuh menggelinding.


Raja Pedang meraih tangan Bidadari Suvarnabhumi dan melesat menghilang dari area pertarungan.

__ADS_1


Belasan anggota sekte Tengkorak Merah dan para pendekar bantuan yang tiba di lokasi pertarungan hanya menemukan lima mayat bergelimpangan.


\=\=\=\=\=***


__ADS_2