Raja Pedang

Raja Pedang
#38. Ikatan Perjodohan


__ADS_3

Pertarungan semifinal kedua terjadi antara Bangtuah dari sekte Patuih Tongga berhadapan dengan Midun dari sekte Marunggai Ameh. Kedua pemuda itu berdiri berhadapan diatas panggung.


Menjadi wasit untuk duel antara Bangtuah dan Midun adalah Alang Babega, saudara misan dari Alang Bangkeh. Alang Babega juga seorang tetua di sekte Alang Barat. Alang Babega masih sangat muda, baru berusia 29 tahun. Dia saat ini adalah tetua termuda dari semua tetua sekte besar golongan putih yang ada di benua Emas. Alang Babega adalah jenius super dizamannya. Saat ini Alang Babega berada ditingkat langit puncak, sama seperti Alang Bangkeh. Sulit menemukan lawan yang ilmu meringankan tubuh mendekati kemampuannya.


Alang Babega mengingatkan kembali aturan pertarungan kepada Bangtuah dan Midun.


Midun membuka langkah ulu ambek suatu jurus tingkat tinggi. Bangtuah melompat tinggi menyerang menggunakan jari jari tangan yang ditekuk membentuk cakar naga.


Naga merebut mustika


Bangtuah menukik dengan sangat cepat menyerang ubun ubun dan leher Mindun. Angin tajam mencericit melintasi lapisan udara. Serangan dari Bangtuah disambut Midun dengan memiringkan tubuh kearah belakang. Midun mengikuti dorongan energi serangan. Sambil merebahkan badan kakinya mencuat untuk menendang kearah lambung Bangtuah. Namun pemuda dari semenanjung Malayana juga memanfaatkan kekuatan benturan. Dia berjumpalitan sambil menyerang tengkuk Midun. Midun yang sedang jatuh dengan posisi telentang menyetak tumitnya, terus membalikkan tubuh. Serangan Bangtuah lolos disamping Midun. Gerakan itu terjadi sangat cepat.


Penonton bersorak melihat kedua pemuda itu sangat piawai dan trengginas. Midun dan Bangtuah kembali ke posisi siaga. Midun membuka serangan


Galuik harimau


Pemuda dari sekte Marunggai Ameh menerjang seperti harimau menerkam mangsa. Bangtuah menyambut Midun dengan jurus


Patuih tongga manyantak buliah


Dua jurus hebat itu bertemu dan


Bamm... Dhuaarr....


Midun terlempar cukup jauh, pemuda itu memuntahkan seteguk darah. Bangtuah juga bergulingan kebelakang. Bahu dan dadanya robek selapis kulit. Darah mengalir dari dua luka itu.


Mereka kembali berhadapan. Bangtuah menyerang kembali


Naga sakti keluar sarang


Patuih tongga menembus gunung


Serangkaian serangan sangat kuat menerjang kearah Midun dengan ganas. Pemuda membuat benteng dan juga mengirimkan serangan kuat


Paga panahan badai

__ADS_1


Kilek beliung jatuah di badan


Serangan mereka kembali berbenturan. Benteng bening yang muncul dari jurus paga panahan badai hancur berantakan.


Prangg.... Dhuaarr...


Kilek beliung berbenturan dengan jurus naga keluar sarang. Mereka sama-sama terdorong lima tombak. Midun mendarat dengan kedua lutut diluar panggung. Posisinya saat terjadi benturan tidak terlalu jauh dari pinggir panggung. Bangtuah juga jatuh dengan posisi terduduk dengan lutut. Hanya masih di atas panggung. Bangtuah dan Midun sama memuntahkan seteguk darah.


Meski mereka berdua sama kuat dan seimbang, namun tempat jatuh mereka berbeda. Satu masih di panggung, satu lagi diluar panggung. Karena itu, sesuai dengan peraturan Bangtuah dinyatakan menang oleh Alang Babega karena masih tetap berada di atas panggung.


Selesai sudah babak semifinal dan untuk pertandingan final ditunda selama dua jam. Peserta diminta istirahat dan mengobati luka-luka yang diterimanya. Peserta yang terluka memanfaatkan pil penyembuhan dan melakukan siulian untuk mengembalikan energi yang sudah terkuras.


Pertarungan final untuk juara ketiga dilanjutkan dengan pertarungan Dahlia melawan Midun. Pertarungan mereka berlangsung sengit. Namun berakhir dengan kemenangan oleh Midun. Walaupun Midun sudah terluka dipertarungan sebelumnya. Daya serang dan kelincahan pemuda itu masih bagus. Kesempatan selama dua jam dimanfaatkan secara maksimal oleh murid sekte Marunggai Ameh itu.


Pertarungan puncak antara Bidadari Suvarnabhumi dan Bangtuah tidak berlangsung lama. Setelah beradu jurus beberapa kali. Bangtuah yang sudah terluka mulai keteter. Menggunakan gerakan


Bidadari mengoyak awan menggetarkan langit


Jurus itu adalah bagian kelima dari ilmu pedang Tarian Bidadari. Bangtuah tak lagi mampu bertahan, dia harus mengakui keunggulan Bidadari Suvarnabhumi.


Crassz....


pundak dan paha Bangtuah terluka lebar. Luka lebar di paha menjadikan Bangtuah tidak sanggup melanjutkan pertarungan.


Bidadari Suvarnabhumi dinyatakan sebagai juara pertama dari kompetisi murid berbakat.


Berakhir sudah kompetisi murid berbakat. Setelah istirahat selama dua hari. Semua murid akan mengikuti latihan bersama selama tiga bulan.


Malam besoknya pihak tuan rumah mengadakan jemuan makan sangat istimewa. Selain para Patriak, Matriak dan para Tetua. Seluruh peserta pelatihan bersama juga hadir. Juga ikut ratusan murid inti dan murid dalam sekte Alang Barat.


Acara jamuan makan terasa sangat meriah. Para Tetua berkelakar sambil tertawa. Tetua Alang Babega terlihat asik ngobrol berdua Seriti Merah. Wanita yang selalu berpakaian serba merah itu tampak cantik sekali malam itu. Sikap dingin yang selama ini menutupinya terlihat telah hilang sejak kematian Duo Baruak. Mereka berdua jika diperhatikan tampak sangat serasi.


Malin Tanjung juga tampak akrab dengan Nuri. Pemuda itu menyadari tidak mungkin lagi mengharapkan Bidadari Suvarnabhumi. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya kepada Nuri. Namun Nuri menanggapi dengan cara biasa saja.


Pada acara jamuan itu, Alang Bangkeh maju berdiri. Setelah berdehem dua sampai tiga kali, lelaki tua itu tersenyum mengumumkan ikatan perjodohan antara Nirmala dengan Lindu, dan juga ikatan perjodohan Bidadari Suvarnabhumi dengan Lindu. Semua yang hadir tersentak kabet, meski hal itu suatu hari nanti akan terjadi juga. Alang Bangkeh juga memjeladkan bahwa Lindu akan datang menuju kekaisaran Suvarnabhumi untuk minta restu pada calon mertuanya kaisar Dharma Andaleh, setelah kegiatan pelatihan bersama tentunya.

__ADS_1


Wisesa maju, menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuk Lindu.


"Kau sungguh beruntung sobat, mendapatkan dua makhluk tercantik di benua Emas ini" dia memeluk Lindu dengan erat. Lindu membalas pelukan Wisesa sambil dan mengedipkan sebelah matanya.


Sehari yang lalu. Tuangku Nan Sati, Kale Lepak Sakti dan Dewi Bulan beserta Seriti Merah dan Dewi Rambut Emas duduk bersama diruang keluarga kediaman Tuangku Nan Sati. Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi juga dipanggil untuk turut hadir dipertemuan itu.


Mereka membahas rencana ikatan perjodohan untuk Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Kedua gadis cantik jelita itu mengangguk dengan mantap ketika ditanya pendapat mereka tentang ikatan perjodohan. Sebelumnya mereka sudah sepakat berdua untuk menjadi pendamping Lindu. Kesepakatan itu mereka buat waktu bicara berdua dipinggir pantai Gandoriah setelah Lindu mengalahkan serangan Inyiak Karambit Sati dan kroni nya. Pada waktu itu juga Kelabang Iblis mati terbunuh.


Melihat keseriusan dari kedua gadis cantik itu, Lindu mengangkat sumpah bahwa kelak hanya akan menikahi ke dua gadis itu saja. Dia berjanji akan menjaga Nirmala dan Dhamma Mayang dengan jiwa dan raganya. Lindu juga bersumpah tidak akan pernah melirik wanita manapun lagi sejak saat ini. Usai Lindu mengucapkan sumpahnya, petir tunggal meledak sangat kencang membelah langit.


"Sumpah mu sudah diterima langit cucuku" Tuangku Nan Sati berucap. Kale Lepak Sakti kemudian berkata...


"Jika pada acara jamuan akan diumumkan ikatan perjodohan ini. Mungkin untuk Bidadari Suvarnabhumi akan kita umumkan setelah bertemu dan mendapatkan restu dari kaisar Dharma Andaleh."


"Tidak perlu Patriak, biarlah Uda Lindu ikut ke kekaisaran Suvarnabhumi nanti setelah kegiatan pelatihan bersama selesai" Dhamma Mayang melihat kearah Lindu. Pemuda itu mengangguk setuju.


Sudah menjadi adat serta alur dan patut dalam kehidupan masyarakat kekaisaran Pagar Alam seorang lelaki perkasa beristri empat, bahkan lebih.


Acara jamuan makan masih terus berlangsung. Lindu terus menerima ucapan selamat dari semua yang hadir. Nirmala dan Dhamma Mayang selalu ada dikiri dan kanannya, ikut menerima ucapan selamat.


Seriti Merah dan Alang Babega terlihat semakin dekat dan semakin akrab. Selama acara jamuan mereka selalu tampak berduaan.


Hari pelatihan bersama dimulai. Semua murid berbakat berkumpul dengan rapi di sebuah lapangan. Para Tetua berdiri bersisian di depan mereka. Alang Babega mengucapkan kata-kata pembuka. Kalimat yang selalu akan diingat oleh murid-murid berbakat itu adalah...


"Biasanya diakhir kegiatan latihan bersama. Kemampuan para peserta yang sanggup mengikuti pelatihan sampai tuntas, biasanya akan naik tinggi. Kondisi terjelek kalian akan naik dua level."


Ucapan Alang Babega suguh meningkatkan semangat para peserta. Tentu saja pelatihan bersama ini akan sangat berat adanya.


Namun begitu, mereka sangat beruntung karena akan dapat bimbingan oleh para Tetua dari tujuh sekte besar yang berbeda. Selain kekuatan, pemahaman atas jurus jurus yang mereka miliki akan juga akan meningkat pesat.


Setelah pembukaan dan pembekalan mental, mereka di bagi dalam kelompok kelompok kecil. Kelompok kecil itu akan ditangani oleh seorang Tetua. Kemudian akan digilir tiap minggu kepada Tetua yang lain. Setiap malam minimal tiga malam mereka harus melakukan kultivasi. Mereka boleh tidur dimalam ke empat.


Setelah pembentukan kelompok mereka tidak menemukan Nirmala ataupun Bidadari Suvarnabhumi. Gadis cantik itu sedang bersimpuh di samping Lindu menghada Kale Lepak Sakti, Dewi Bulan dan Tuangku Nan Sati. Lindu meminta izin untuk membawa Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala berlatih khusus di lereng kupu-kupu.


"Sepuluh hari kedepan, Seriti Merah akan menemui kalian ditemani Tuangku Nan Sati.

__ADS_1


Setelah menghaturkan sembah, Lindu bersama kedua gadisnya berangkat menuju lereng kupu-kupu.


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2