
Sepuluh hari berlalu dengan sangat cepat. Aura yang sangat besar memenuhi goa rembulan ganda. Nirmala dan Dhamma Mayang berdiri dan merapatkan tubuh mereka kedinding luar pintu goa.
Baammm....!!
Terdengar suara ledakan yang sangat keras. Formasi pelindung yang dibuat Lindu sebagai penahan efek ledakan saat Lindu menerobos tingkat agung, pecah berantakan. Aura yang sangat menekan merembes sampai ke seluruh wilayah sekte Alang Barat. Semua orang terkejut. Para Tetua yang sedang melatih para murid berbakat langsung berkumpul dengan Patriak dan semua Tetua yang lain.
Baidadari Suvarnabhumi dan Nirmala semakin merapatkan tubuh mereka kedinding luar dekat pintu goa rembulan ganda. Sesaat kemudian semua aura yang menyebar tertarik dan masuk meresap kedalam tubuh Lindu.
Awan hitam tebal berkumpul diatas lereng kupu-kupu. Hanya berada diatas lereng kupu-kupu. Semua orang heran melihat hal itu. Mereka semua berlari sangat cepat menuju tebing cula menjerit. Lindu melesat sangat cepat menuju dataran karang.
Tidak lama setelah Lindu berada ditengah dataran karang sebuah petir bewarna perak turun menyambar tubuh pemuda itu. Nirmala dan Dhamma Mayang terpekik melihatnya.
Zdaarrr....!!
Baammm...!! Aaaa......!!
Lindu menerjang keatas menyambut kedatangan petir. Tidak lama petir kedua dan ketiga datang menerjang pada Lindu.
Dhuaarr......!!
Zzzttaaarrr.....!!
Lindu terhempas kebawah. Pemuda tampan itu bertumpu dengan sebelah lututnya. Baju yang dipakainya compang camping dan terbakar. Lindu berdiri mengepalkan kedua tangannya. Dia merasakan aliran energi yang sangat besar. Pemuda itu melihat ke dalam tubuhnya, dia melihat semua simpul meridian dan dantiennya semakin luas. Bahkan dantiennya tidak kalah luas dengan samudera yang membentang didepan lereng kupu-kupu.
Lindu menatap kearah kedua gadisnya. Dhamma Mayang dan Nirmala menutup muka mereka dan berteriak bareng..
"Ganti pakaiannya dulu Uda"
Lindu kaget, langsung masuk menghilang kedalam goa rembulan ganda.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian Lindu duduk di bangku batu. Nirmala bersama Bidadari Suvarnabhumi langsung ikut duduk disampingnya.
"Ud....."
Belum sempat Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi bicara didepan mereka sudah berdiri Patriak sekte Alang Barat dan para Tetua sekte Alang Barat dan sekte lain. Semua orang menatap Lindu penuh tanya dan khawatir.
Lindu tersenyum pada semua orang dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku tidak apa-apa. Yang tadi itu adalah petir kesengsaraan"
__ADS_1
"Ap... apa... apakah kau baru saja menerobos tingkat ? Apa tingkatan mu sekarang ??" pertanyaan itu muncul dari Alang Bangkeh dan diaminkan oleh semua yang hadir. Lindu menatap mereka dengan rasa kurang nyaman, tapi tetap dia menjawab pertanyaan kakeknya...
"Baru tingkat agung awal Ungku..." katanya.
"Aaappaaaaa...!!"
Hampir semua orang teriak dan nyaris tidak percaya. Cara semua orang memandang Lindu tiba-tiba berubah. Rasa hormat dan kagum langsung terpancar dimata mereka. Sikap yang ditampilkan juga berubah. Lindu merasa sedikit tidak nyaman.
"Tolong bersikaplah seperti biasa kepada ku. Jangan para senior berobah sikap hanya karena hal itu" Lindu meminta pada semua orang.
Alang Bangkeh adalah orang pertama yang kembali normal baru diikuti yang lain. Setelah mereka berbincang sebentar semua kembali ketempatnya.
Hanya Seriti Merah dan Alang Babega yang masih berdiri disana.
"Ayo duduk dulu paman dan bibi." Lindu minta mereka berdua duduk. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi menyediakan minuman dan makanan ringan, menaruhnya di meja batu. Mempersilahkan untuk menyicip semua.
"Sepertinya ada sesuatu ingin bibi sampaikan ?" Lindu bertanya pada Seriti Merah setelah menguk air niro. Seriti Merah melihat kearah Nirmala sekilas. Lalu kembali menatap Lindu agak lama. Setelah menghela nafas panjang Seriti Merah mulai bicara...
"Ini terkait dengan Nirmala. Beberapa bulan lagi, Nirmala akan berusia tiga belas tahun" Kemudian Seriti Merah bicara panjang lebar. Menjelaskan bahwa Nirmala adalah tuan putri dari kerajaan Bunian dari bukit Gunuang Ledang. Bahwa Nirmala adalah putri dari Ratu Sijundai yang bernama Shima. Kerajaan negeri Bunian adalah kerajaan dunia ghaib yang meliputi kekaisaran Pagar Alam dan Suvarnabhumi."
Seriti Merah berhenti sejenak, dia melirik Alang Babega yang tersenyum kearahnya dan mengangguk. Perempuan itu sepertinya telah memiliki hubungan khusus dengan Alang Babega. Seriti Merah kembali menghela nafas. Dia melanjutkan...
"Ada sebuah segel jiwa yang unik, yang dipasang di dantien Nirmala. Segel itu menahan kultivasi Nirmala hanya bisa sampai tingkat raja. Jika segel jiwa tidak bisa dilepas sebelum berusia tiga belas tahun. Segel jiwa yang unik itu tidak akan bisa dilepaskan lagi. Hanya dua tahun setelah itu Nirmala akan menghilang dari dunia ini selamanya."
Seriti Merah kembali berhenti dan menghela nafas panjang. Air muka Nirmala beriak, dia menatap Lindu dan Dhamma Mayang bergantian. Ada kaca mengawang dimatanya. Lindu menggenggam tangan gadis cantik dengan lesung pipi itu penuh kasih sayang. Dhamma Mayang memeluk erat tubuh Nirmala. Seriti Merah lalu melanjutkan...
"Hanya dengan meminum ekstrak bunga Wijaya Kusuma Ungu segel jiwa unik itu baru bisa dihapuskan. Itulah sebabnya waktu itu aku berkata padamu, kami harus mendapatkan bunga Wijaya Kusuma Ungu apapun dan bagaimanapun caranya.
Tadinya setelah mendapatkan bunga Wijaya Kusuma Ungu aku akan mendatangi sekte Marunggai Ameh untuk minta bantuan Raja Alkhemis. Tapi setelah melihat Raja Alkhemis mengangkat dirimu sebagai gurunya aku merasa lebih tenang.
Setelah ekstrak bunga Wijaya Kusuma Ungu jadi. Nirmala harus meneguk habis dalam tiga kali tegukan dalam jeda waktu singkat. Kau Lindu, harus menyalurkan zhenqi ke Nirmala dan membimbing ekstrak bunga Wijaya Kusuma Ungu kearah dantien Nirmala. Sedikit kesalahan terjadi, bisa mengakibatkan dantien Nirmala meledak. Jika semua berjalan lancar, menurut Ratu Shima akan terjadi hal luar biasa pada Nirmala."
Seriti Merah kembali berhenti bicara dan menghela nafas.
"Apakah kau bersedia dan sanggup melakukann Lindu ?"
Seriti Merah mengakhiri semua penjelasannya dengan bertanya pada Lindu.
"Ya, uda Lindu bersedia dan pasti sanggup untuk melakukannya." Bidadari Suvarnabhumi menjawab pertanyaan Seriti Merah dan menatap Lindu. Nirmala memeluk Dhamma Mayang dengan erat. Lindu menatap semua dan mengangguk mantap.
__ADS_1
Seriti Merah mengeluarkan box berisi bunga Wijaya Kusuma Ungu dan menyerahkan pada Lingu. Tanpa menunggu waktu Lindu langsung mengekstraksi bunga Wijaya Kusuma Ungu setelah membuat formasi pelindung untuk Alang Babega Seriti Merah, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi.
Hampir dua jam Lindu membakar bunga Wijaya Kusuma Ungu dengan inti api es untuk mendapatkan hampir segelas ekstrak bunga Wijaya Kusuma Ungu.
Setelah istirahat sejenak, mereka semua memasuki goa rembulan ganda. Seriti Merah, Alang Babega dan Bidadari Suvarnabhumi duduk dikursi batu yang ada di dalam goa. Nirmala naik keatas divan dan duduk bersila. Lindu juga ikut naik dan duduk tenang di belakang Nirmala.
Nirmala meminum ekstrak bunga Wijaya Kusuma Ungu dalam tiga tegukan. Tanpa menunggu waktu Lindu menempel telapak tangannya di punggung Nirmala. Zhenqi dari Lindu memasuki tubuh Nirmala perlahan lahan. Lindu perlahan membimbing esensi energi dan ekstrak bunga Wijaya Kusuma Ungu menuju dantien Nirmala.
Rasa sakit dan hawa panas mulai terasa oleh Nirmala. Secara perlahan rasa sakit dan hawa panas itu terus meningkat. Setelah berjalan sekitar dua jam, keringat sebesar biji jagung mengucur di pipi dan tubuh Nirmala. Rasa sakit terasa semakin hebat. Nirmala merasa otot dan organ dalam tubuhnya di cabik-cabik. Nirmala mulai merintih menahan rasa sakit. Sesekali terdengar suara jerit tertahan dari mulutnya. Kulit wajah dan tubuhnya kadang bewarna merah, kadang bewarna ungu. Seriti Merah dan Bidadari Suvarnabhumi menghela dan menahan nafas berulang ulang. Alang Babega hanya diam membeku.
Teriakan kesakitan semakin sering terdengar dari mulut Nirmala. Air mata mengucur deras di pipinya. Lindu tetap tenang menjaga aliran zhenqi tetap stabil.
Enam jam berlalu. Lindu mulai pucat, darah mulai terlihat diantara bibirnya. Terdengar bunyi pecahan kaca dan jerit kesakitan dari mulut Nirmala.
Prangg.....!!
Zzzssstt....!!
Lalu terdengar suara balon kempes. Nirmala menjadi tenang. Hawa hangat nyaman mulai terasa oleh Nirmala merasukinya. Lindu melepas tangannya dari punggung Nirmala. Dhamma Mayang langsung memeluk Lindu dan membersihkan darah diantara bibir Lindu. Pemuda tampan itu mengangguk tersenyum pada Dhamma Mayang.
"Terimakasih Yayang... Semua berjalan lancar. Kita tunggu beberapa saat lagi." Lindu bangun dan pindah duduk ke kursi batu. Hanya ada tiga kursi, Dhamma Mayang berdiri dibelakang Lindu dan tangannya tetap melingkar di dada Lindu.
Nirmala masih tetap diam memejamkan matanya dan bernafas dengan tenang. Telah satu jam berlalu, gadis cantik dengan lesung pipi itu masih saja diam. Jam kedua lewat terus sampai empat jam terdengar bunyi kaca pecah dan ledakan beberapa kali..
Prangg.....!!
Prangg.....!!
Bamm....!!!
Setelah berulang beberapa kali, cahaya sangat cemerlang keemasan memancar lalu masuk melalui jidat Nirmala.
Nirmala merasa sakit dalam kepalanya. Berbagai informasi dan jurus-jurus aneh masuk ke otaknya.
Nirmala membuka matanya dan tersenyum kepada semua orang. Kemampuannya naik jauh sampai tingkat langit tinggi. Melewati tingkatan gurunya Seriti Merah. Nirmala mendekati Lindu dan Bidadari Suvarnabhumi, dia memeluk erat keduanya. Kemudian dia bersujud didepan Seriti Merah dan menatap dengan mata bergenang air mata
"Tet... terimakasih guru" Gadis cantik itu menaruh kepalanya dipangkuan Seriti Merah. Seriti Merah membelai rambut Nirmala lembut, penuh kasih sayang.
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1