
Nirmala masih melongo ketika Yu Lien dan seorang pelayan masuk keruangan yang mereka tempati. Pelayan meletakkan kotak besar berisi bunga Wijaya Kusuma Ungu. Meski berada dalam kotak tertutup rapat, aura esensi energinya tetap merembes keluar meskipun sedikit.
Semua yang ada di dalam ruangan memperhatikan bunga Wijaya Kusuma Ungu dengan tatapan kagum. Lindu sedikit mengernyitkan dahi nya.
Kelabang Iblis datang bersama Banowati si Iblis Cantik Tambun Tulang dan dua orang pelayan mereka. Inyiak Karambit Sati langsung menyambut mereka begitu keluar dari balai lelang Menara Gading.
Mereka memasuki ruangan khusus yang memang disediakan di kedai minuman tersebut. Ruangan khusus itu biasanya disewakan untuk tamu-tamu yang ada urusan pribadi. Kedai minuman yang ada didepan balai lelang Menara Gading itu lumayan besar. Mereka menyediakan tiga ruangan khusus.
"Maaf Kelabang Iblis, kita minum dulu sambil menunggu Ular Hitam dan Biso Pati dari sekte Selaksa Racun." Inyiak Karambit Sati menyilahkan Kelabang Iblis dan Iblis Cantik Tambun Tulang duduk dan minum.
Tidak ada lima menit Ular Hitam dan Biso Pati datang bergabung dengan mereka. Inyiak Karambit Sati menyampaikan niatnya untuk merampas Kerambit Kumala dari tangan penyewa ruangan VIP-15. Adapun Kelabang Iblis dan Ular Hitam berkeinginan merampas bunga Wijaya Kusuma Ungu dari tangan penyewa ruangan VIP-3. Setelah ada kesepakatan untuk saling bantu dan jaga mereka berembuk mengatur strategi untuk merampok rombongan sekte Tapak Dewa dan rombongan Lindu.
Lindu beserta semua rombongan di bawa kesebuah ruangan besar. Aroma herbal yang cukup kuat tercium begitu mereka memasuki ruangan.
Ruangan itu adalah ruangan khusus Marah Zainal si Raja Alkhemis jika dia berkunjung ke balai lelang Menara Gading cabang kota Pariaman. Dalam ruangan itu ada sebuah meja besar dengan 11 kursi mengelilinginya. Disebelah dalam ruangan ada dua tungku dan balango untuk meracik pil.
"Ah... ada Datuak Batungkek Ameh rupanya..." Raja Alkhemis tersenyum melihat Datuak Batungkek Ameh.
"Lama tidak jumpa Marah, kau tampak semakin hebat ha haa haaa..." Datuak Batungkek Ameh balas menyapa dengan hangat. Mereka saling memberi hormat dan berpelukan.
Raja Alkhemis dan Datuak Batungkek Ameh adalah dua sahabat yang sudah lama tidak pernah bertemu. Diwaktu muda mereka bertualang bersama sampai ke benua Javana atau Javadwipa. Hampir dua puluh tahun yang lalu mereka berpisah karena mengikatkan diri disekte berbeda. Datuak Batungkek Ameh bergabung dengan sekte Secabik Kafan dan Marah Zainal yang lebih condong kepada alkhemis bergabung dengan sekte Marunggai Ameh.
Dhamma Mayang, Bidadari Suvarnabhumi meninggalkan balai lelang Menara Gading bersama rombongan sekte Tapak Dewa. Mereka melangkah santai sambil menikmati suasana kota Pariaman, menuju restoran One. Mereka mendengar restoran One merupakan restoran terbaik di kota Pariaman.
Seorang komandan pengawal keamanan kota bersama dua pengawal menemui mereka.
"Maaf mengganggu perjalanan anda dan rombongan tuan pendekar" Komandan pengawal bicara pada Halimun. Halimun menatap komandan pengawal sejenak lalu mengangguk.
__ADS_1
"Ada apa kalian menemui kami ?"
Halimun bertanya balik. Semua anggota rombongan sekte Tapak Dewa menatap tajam kepada ketiga pengawal yang menghentikan langkah mereka.
"Yang Dipertuan penguasa kota, Tuanku Bandaro Sati mengundang rombongan anda Tuan" Komandan pengawal kota menjelaskan.
"Ada urusan apa penguasa kota mengundang kami ?" Halimun bertanya, namun hatinya berdetak.
"Apa mungkin ini berkaitan dengan pil tanchi. Apakah yang di ruangan VIP-1 tadi adalah penguasa kota ?" Fikir Halimun dalam hati. Akhirnya rombongan sekte Tapak Dewa mengikuti para pengawal, merobah arah menuju istana penguasa kota.
Raja Alkhemis, Yu Lien dan rombongan Lindu duduk bersama bercengkrama. Mereka bertukar kabar dan membahas kondisi rimba persilatan di benua Emas. Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa menceritakan tentang kelompok Tengkorak Merah. Raja Alkhemis juga mendengar kelompok Tengkorak Merah sudah beberapa kali melakukan penjarahan dan pembunuhan di desa Banda Buek dan Gunung Sariak.
Setelah membicarakan banyak persoalan rimba persilatan, Raja Alkhemis menatap pada Lindu.
"Raja Pedang..." Raja Alkhemis mulai bicara dengan Lindu. Namun dia memanggil Lindu dengan gelarnya sebagai bentuk penghargaan.
Lindu tersenyum kecil balik menatap Marah Zainal. Dia kemudian bicara,
"Pil tanchi itu buatan aku sendiri."
Raja Alkhemis terdiam sejenak dan menatap dalam pada Lindu. Sebagai seorang master alkhemis dia sangat mengerti bahwa membuat pil dengan kemurnian 100% hanya bisa dibuat oleh master alkhemis tingkat 8. Dia juga tau persis bahwa di benua Emas dia adalah satu-satunya master alkhemis dengan tingkat tertinggi. Karena itu dia dipanggil sebagai Raja Alkhemis. Apa mungkin ada seorang master alkhemis misterius yang menjadi guru Lindu. Tapi tidak pernah ada khabar angin tentang master alkhemis tingkat 8 selama ini. Jika ada guru hebat yang mengajari Lindu alkhemis, berdasarkan umur, menjadi master alkhemis tingkat 6 pun tidak mungkin bagi Lindu. Raja Alkhemis benar benar tidak habis pikir.
"Bisakah kau membuat pil tanchi sekarang ?"
Raja Alkhemis bertanya setengah memberi tantangan pada Lindu. Lindu merasa ada keraguan dalam hati Raja Alkhemis pada dirinya.
"Jika bahannya lengkap, tentu bisa" jawab Lindu tersenyum. Angku Tambusai yang belum lama ikut bergabung langsung minta seorang pegawai mengambil herbal yang dibutuhkan untuk membuat pil tanchi.
__ADS_1
Tidak lama, pegawai itu kembali dengan membawa setumpuk herbal. Setelah meletakkan semua herbal di meja dekat tungku alkhemi, dia meninggalkan ruangan.
Lindu mulai memilah-milah herbal yang ada. Dia mengambil tiga kuntum bunga Eidel, lima kuntum bunga marunggai merah, rumput bintang, daun dewa dan beberapa herbal lainnya. Raja Alkhemis, Yu Lien dan Angku Tambusai berdiri dekat Lindu. Begitu juga dengan Datuak Batungkek Ameh dan Seriti Merah. Sementara Nirmala dan Wisesa ngobrol dan menikmati makanan kecil.
Lindu mengeluarkan api di telapak tangannya. Api itu bewarna putih kebiruan. Hawa dalam ruangan itu terasa hangat. Lindu melemparkan herbal yang sudah pisahkan satu demi satu. Pertama dia memasukkan kembang marunggai merah, terus daun dewa, disusul dengan rumput bintang. Setelah menunggu sejenak baru kembang Eidel disusul dengan herbal lainnya.
Semua yang hadir terbelalak melihat apa yang dilakukan Lindu. Raja Alkhemis terkagum kagum. Meracik pil tanpa menggunakan tungku dan balango hanya dilakukan oleh master alkhemis tingkat 8. Dia sebagai Raja Alkhemis juga tidak mampu melakukan.
Meskipun Raja Alkhemis juga menguasai energi inti api, namun kalah dengan sumber dasar energi inti api milik Lindu. Selain itu juga harus memiliki lingkar energi yang sangat banyak agar api bisa tetap stabil. Terutama saat memisahkan bahan racun yang muncul ketika herbal menjadi elksir.
Lindu dengan tenang membakar semua herbal, setelah muncul eliksir dia menarik semua residu yang mengandung racun, membakar semua residu beracun. Sisanya berupa eliksir esensial kemudian dicampurkan perlahan.
Setelah semua eliksir esensial tercampur, Lindu meningkatkan panas api, sehingga api ditangannya berubah menjadi putih sempurna. Setelah beberapa waktu eliksir esensial mulai menggumpal. Lindu kembali mengurangi tingkat panas api sedangkan gumpalan eliksir esensial berputar dengan kencang, lalu terpecah menjadi 10 butir pil tanchi dengan kemurnian 100%. Aroma wangi pil tanchi menyebar kuat dalam ruangan Raja Alkhemis.
Sekarang ditelapak tangan Lindu terdapat 10 butir pil tanchi.
Lindu memberikan satu butir pil tanchi untuk semua orang yang hadir. Tiga butir pil tanchi yang tersisa disimpannya sendiri.
Semua orang yang ada sangat gembira mendapatkan sebutir pil tanchi. Suasana berubah cepat menjadi aneh ketika Raja Alkhemis berlutut di depan Lindu.
"Raja Pedang, aku mohon untuk diangkat jadi murid mu di bidang alkhemis." Lelaki setengah baya itu membenturkan keningnya tiga kali ke lantai dan memanggil Lindu
"Guru !"
Semua yang hadir terkejut mendengarnya. Lindu terlebih lagi. Seorang alkhemis terbaik benua Emas. Juga kepala divisi alkhemi sekte Marunggai Ameh. Orang sangat dihormati dan disegani di benua Emas. Sekarang berlutut memohon untuk diangkat menjadi murid seorang pemuda belasan tahun ? Siapa yang tidak kaget.
Tapi Raja Alkhemis tidak peduli. Apapun pandangan dan tanggapan orang dia sama sekali tidak peduli. Dia merasa menemukan apa yang selama ini dia cari. Dia ingin, sangat ingin bisa menjadi murid Lindu.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=