
Aula pertemuan kekaisaran di istana Madania berdengung. Semua yang hadir berbicara dengan rekan disebelahnya. Masalah yang dipaparkan oleh Kaisar Suvarnabhumi terkait dengan rencana penyerbuan markas Tengkorak Merah di Tano Niha menimbulkan gejolak. Tentu tidak semua klan, sekte dan pihak tiga kekaisaran menyetujui.
Ada sebagian kecil dari mereka yang hadir merasa keberatan. Hal itu disebabkan oleh berbagai kondisi.
Ada yang nyata mereka belum tersentuh oleh gerombolan Tengkorak Merah. Sehingga mereka bingung mendengar pemaparan yang sangat menakutkan dari gerakan sekte Tengkorak Merah. Reaksi ini muncul dari klan Tanjung, sekte menengah Tulang Bawang dan sekte Rilau Batang. Tiga kelompok ini sama sekali tidak pernah berurusan dengan Tengkorak Merah. Tentu saja ketika kaisar Suvarnabhumi Dharma Andaleh mereka cukup heran dan bingung.
Namun selain mereka semua mendukung rencana yang dipaparkan kaisar Dharma Andaleh. Rencana Tengkorak Merah untuk menyerang kekaisaran Suvarnabhumi kemudian akan berlanjut dengan kekaisaran Alam Persada dan terakhir Madania memang terdengar terlalu berlebihan. Tapi informasi itu telah dikonfirmasi kebenarannya oleh Patriak klan Mangaraja, Mangaraja Tohir, Raja Pedang dan Patriak sekte Tapak Dewa pendekar sakti Kale Lepak Sakti. Begitu juga dengan Datuak Batungkek Ameh dari sekte Secabik Kafan dan Sekte Angso Duo yang nota bene adalah penguasa segala informasi di rimba hijau dunia persilatan benua Emas.
"Paduka Kaisar Dharma Andaleh, tolong jelaskan kapan tindakan nyata dari rencana ini kita jalankan." Suara berat Mangaraja Tohir terdengar tegas mengandung aura membunuh yang kuat. Disebelah kiri Mangaraja Tohir duduk Ratu Sijundai alias Ratu Shima dengan wajah lara. Disampingnya duduk dengan anggun Bidadari Suvarnabhumi dan Raja Pedang.
Tangan Bidadari Suvarnabhumi menggenggam tangan Ratu Shima. Bidadari Suvarnabhumi menjadi tempat bagi Ratu Shima untuk melerai rindunya kepada Nirmala.
"Paling lambat dua Minggu dari sekarang kita akan berkumpul di kota Babilang Kaum. Selanjutnya kita bersama menyeberang ke Tano Niha.
Untuk detailnya kita akan bicarakan setelah ini." kaisar Dharma Andaleh mejelaskan kepada Mangaraja Tohir dan semua yang hadir.
"Kalau begitu sudah saatnya bagi kita membuat keputusan. Bagaimana menurutmu saudaraku Dharma Andaleh ?" kaisar Naga Suar penguasa kekaisaran Utara Madani memberi usulan. Setelah itu pemilihan suara dilakukan untuk membuat keputusan.
Galok Silap memberi hormat kepada Patriak gerombolan Tengkorak Merah. Setan Merah menatap tajam kepada Galok Silap seorang tetua yang dia minta membayangi kunjungan Ang Coa Mosin ke klan Manusia Harimau. Bukan tidak percaya kepada Ang Coa Mosin yang merupakan salah seorang tetua Tengkorak Merah dari markas utama di benua Tionggoan. Grand Master Pangcu Ang Mo Ong sendiri yang menempatkan Ang Coa Mosin untuk membantu cabang Tengkorak Merah benua Emas.
"Bagaimana perkembangan di klan Manusia Harimau, Galok Silap ?" Setan Merah bertanya dengan nada suara yang menunjukkan suasana hatinya yang sedang senang. Galok Silap merasa tidak enak hati. Muka lelaki itu menjadi kelam. Setan Merah menatap Galok Silap dengan jidat berkerut.
"Semua warga klan Manusia Harimau telah terbebas dari pengaruh pil racun darah."
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu ? Apa yang terjadi di klan Manusia Harimau ??" Suara Setan Merah terdengar kaget. Dia berfikir siapa yang mampu menghilangkan kekuatan racun darah itu ??
"Jelaskan semuanya Galok Silap. Jangan ada kurang satu juapun."
"Tetua Ang Coa Mosin, Iblis Binal Lembah Tengkorak dan Siampa Hitam serta semua anggota rombongan sekte Tengkorak Merah yang pergi ke perkampungan klan Manusia Harimau tewas terbunuh."
Aappaaa...!!
Setan Merah berteriak keras, memotong ucapan Galok Silap. Aura energi mendalam tingkat agung awal memancar dari tubuhnya. Galok Silap langsung jatuh berlutut. Aura energi tingkat agung itu terlalu kuat. Darah merembes lewat bibir Galok Silap.
"Patriak..." Suara serak Galok Silap menyadarkan Setan Merah. Patriak sekte Tengkorak Merah itu segera menarik auranya yang sempat terlepas.
Galok Silap menarik nafas lega setelah Setan Merah menarik kembali auranya.
"Lanjutkan cerita mu secara rinci." Galok Silap kemudian menceritakan secara detail kejadian di perkampungan klan Manusia Harimau.
"Begitulah ceritanya Patriak. Nirmala istri Raja Pedang terbunuh oleh Ang Coa Mosin. Raja Pedang sangat marah, dia menyiksa Ang Coa Mosin kemudian membunuh utusan Ang Coa Mosin setelah terlebih dahulu memotong tangan dan kaki Ang Coa Mosin satu demi satu. Lalu mematahkan tulang dada Ang Coa Mosin juga satu persatu.
Raja Pedang sepertinya sangat bertekad untuk menghancurkan seluruh markas gerombolan Tengkorak Merah. Dia membunuh Siampa Hitam, menjadikan bekas tetua sekte Iblis Tambun Tulang menjadi kabut darah.
Sedangkan Iblis Binal Lembah Tengkorak dibunuh oleh Bidadari Suvarnabhumi secara sadis. Hanya Setan Bangkai yang berhasil lolos. Namun kondisinya sudah terluka parah. Tidak tau dimana dia saat ini bersembunyi untuk menyembuhkan luka dalamnya." Galok Silap mengakhiri ceritanya. Setan Merah menggeram sangat marah.
"Raja Pedang, aku akan membunuhmu...!!" Setan Merah berbisik dalam hati.
__ADS_1
"Galok Silap, kumpulkan semua Tetua di aula khusus. Sekarang !!" Setean Merah memberi perintah dengan penuh kegeraman.
"Ayah, Bunda,... aku dan Mayang akan pergi lebih dulu ke kota Babilang Kaum." Lindu minta izin dan restu ayah dan ibu mertuanya Mangaraja Tohir dan Ratu Shima. Mangaraja Tohir menatap Lindu dengan perasaan campur aduk. Patriak klan Mangaraja Tohir dalam hatinya sangat mengagumi Raja Pedang. Ada satu rasa yang hilang jika melihat Lindu sejak kematian Nirmala.
Mangaraja Tohir tidak bisa marah ataupun kesal kepada Raja Pedang, apa lagi setelah mantunya itu bersumpah akan menghancurkan semua markas Tengkorak Merah. Bahkan sampai markas utama mereka di benua Tionggoan. Mangaraja Tohir mengangguk dan menepuk pundak Lindu.
Berbeda dengan Mangaraja Tohir, Ratu Shima memeluk erat Lindu.
"Bunda izinkan kamu pergi lebih dulu Lindu. Bunda dan Ayah akan segera ada disana, di Tano Niha."
"Mayang juga mohon restu Bunda dan Ayah Mangaraja."
Setelah minta restu dari Mangaraja Tohir dan Ratu Shima, Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi menemui Kaisar Dharma Andaleh.
"Sembah ananda berdua kepada Ayahanda Kaisar." Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi menghamparkan sembah kepada kaisas Suvarnabhumi Dharma Andaleh.
Sang kaisar yang sedang ngobrol ringan bersama Patriak sekte Tapak Dewa, Kale Lepak Sakti dan kaisar Madania dan kaisar Alam Persada.
Kaisar Dharma Andaleh menyambut kedatangan putri dan mantunya. Dharma Andaleh mengangkat bahu putrinya Dhamma Mayang dan menarik Lindu agar segera berdiri. Melihat ada dua kaisar yang lain dan Kale Lepak Sakti, Lindu dan Mayang segera menjura hormat.
"Ha haa haaa... Raja Pedang, akhirnya bertemu lagi. Bidadari Suvarnabhumi mana Nirmala ?" Kale Lepak Sakti menyapa Raja Pedang dengan ramah. Hanya ketika dia bertanya tentang Nirmala, wajah dua anak muda itu menjadi muram.
\=\=\=\=\=***
__ADS_1