
Beberapa bulan lalu di Lahat wilayah tengah benua Emas. Tepatnya di aula utama sekte Secabik Kafan. Patriak sekte Pendekar Tombak Maut, tetua agung Datuak Batungkek Ameh, bersama delapan tetua dan semua murid berkumpul.
Sekte Secabik Kafan adalah satu dari lima sekte utama. Dari sembilan sekte besar golongan putih, ada lima sekte disebut utama karena kekuatan mereka paling besar diantara sembilan sekte besar golongan putih. Mereka yang termasuk sekte utama, karena Patriak sekte sudah berada di tingkat suci. Sedangkan empat Patriak dari sekte yang lain berada ditingkat langit puncak.
Suara gaduh yang terdengar memenuhi aula menjadi hening ketika Patriak sekte berdehem dan mengangkat tangan. Semua perhatian dari yang hadir tertuju kepada Patriak sekte. Suara berat Pendekar Tombak Maut menggema dalam aula ketika ia bicara.
"Aku sengaja mengumpulkan kalian semua terkait dengan undangan dari sekte Alang Barat. Sekitar enam bulan dari sekarang, tepatnya bulan carai purnama tujuah akan diadakan latihan bersama untuk meningkatkan kemampuan personal murid sekte golongan putih. Kegiatan latihan bersama itu, akan diawali dengan turnamen murid murid yang akan ikut pelatihan."
Patriak sekte Secabik Kafan membuka pertemuan dengan informasi pelatihan bersama.
"Setiap sekte yang diundang, boleh mengirimkan tujuh sampai sepuluh orang murid. Aku berfikir, pada kesempatan kali ini kita cukup mengirimkan tujuh murid saja. Bagaimana menurut tetua semua ?"
Patriak sekte Secabik Kafan mengakhiri penjelasan dan minta pendapat para tetua yang hadir. Datuak Batungkek Ameh memberikan masukan dengan menyetujui pendapat Patriak sekte.
"Ya, aku setuju, cukup tujuh orang yang ikut. Kita kirim tujuh murid terbaik yang berusia dibawah dua puluh tahun. Karena jumlah murid ada 1750 orang yang terdiri atas 1200 orang murid luar, 530 orang murid dalam dan 20 orang murid inti. Itu semua adalah murid murid yang berumur kurang dari 20 tahun. Bagi mereka yang tingkatan kemampuannya setara dengan tingkat emas boleh mengajukan dirinya. Jika yang mengajukan diri lebih dari tujuh orang, maka adakan kompetisi diantara mereka."
Datuak Batungkek Ameh melanjutkan "Patriak, apa hadiah turnamen yang akan diadakan di sekte Alang Barat ?"
"Ya, ada hadiah yang akan diterima oleh tiga orang pemenang diturnanen itu. Hadiah turnamen tersebut adalah sebagai berikut :
- Pemenang pertama akan mendapatkan hadiah sepuluh kristal spiritual tingkat langit dan sepuluh ribu koin emas. Selain itu pemenang pertama akan mendapatkan pelatihan khusus dari Patriak sekte Alang Barat secara langsung.
- Pemenang kedua akan mendapatkan sepuluh kristal spiritual tingkat bumi dan lima ribu koin perak.
- Pemenang ketiga akan mendapatkan lima batu kristal spiritual tingkat bumi dan dua ribu koin emas."
Patriak sekte Pendekar Tombak Maut menjelaskan hadiah yang akan diterima oleh peserta yang menjadi pemenang. Mendengar hadiah yang sangat besar, banyak murid yang mendaftar untuk ikut. Batu kristal spiritual tingkat langit adalah kristal spiritual tingkat tinggi. Hanya dengan menyerap esensi energi satu batu kristal spiritual, mereka yang sudah ditingkat emas menengah akan naik satu level ke tingkat emas tinggi. Itu artinya dengan sepuluh batu kristal spiritual tingkat langit, dipastikan akan meroket jadi pendekar raja. Semua yang hadir tau pasti, harga batu kristal spiritual spiritual sangat mahal. Satu batu kristal spiritual tingkat langit, harga terendahnya adalah lima ribu koin emas. Mendengar hadiah tersebut ada seratus lima puluh orang yang berniat ikut. Akhirnya Patriak dan para Tetua setuju dengan usul Datuak Batungkek Ameh. Diadakanlah kompetisi internal bagi murid untuk mendapatkan tiket bisa ikut memenuhi kuota undangan ke sekte Alang Barat.
__ADS_1
Seminggu kemudian diadakan kompetisi internal di sekte Secabik Kafan. Dari kompetisi itu, terpilih tujuh orang murid yang terdiri dari dua orang murid inti dan empat orang murid dalam dan satu dari murid luar yang menjadi kuda hitam kompetisi internal itu. Ketujuh murid terpilih adalah :
Wisesa, seorang jenius. Dia adalah murid langsung dari Datuak Batungkek Ameh, salah satu murid jenius karena diusianya yang delapan belas tahun sudah berada ditingkat emas tinggi.
Dahlia, gadis belia berusia lima belas tahun. Memiliki wajah cantik dan tubuh sintal. Banyak murid lelaki yang menaruh hati pada gadis cantik ini. Tapi tidak ada satupun yang menarik hatinya. Diam diam Dahlia telah jatuh hati pada Wisesa, namun pemuda yang disukai nya bersikap biasa saja. Dahlia adalah murid paling jenius sekte Secabik Kafan. Dia adalah murid langsung satu satunya tetua wanita sekte Secabik Kafan yang bernama Upik Intani. Tetua Upik Intani dirimba persilatan terkenal dengan nama Padusi Pedang Kembar. Pendekar wanita itu menggunakan sepasang pedang sebagai senjata andalannya.
Wisesa dan Dahlia adalah dua orang murid inti yang ikut mendaftarkan diri untuk ikut turnamen di sekte Alang Barat.
Lima murid yang lain adalah Wisnu, Mila, Fitri, Marda dan murid luar yang baru saja menjadi murid inti Panca. Dipilih dua Tetua yang akan mendampingi mereka telah pula ditetapkan yaitu tetua Upik dan tetua Kundi. Rombongan dari sekte Secabik Kafan akan berangkat denga pincalang angin.
Kecuali Wisesa. Pemuda itu akan berangkat besok pagi bersama gurunya Datuak Batungkek Ameh. Pemuda itu akan ikut berkelana dengan gurunya mengunjungi Klan Tanjung di koto Tangah. Selama diperjalanan akan ada kesempatan untuk terus meningkatkan kemampuan Wisesa bertarung. Seperti menghadapi gerombolan perampok di Tebo.
Siang itu Datuak Batungkek Ameh dan memasuki desa Tebo. Desa Tebo termasuk desa yang maju. Pertanian dan peternakan berkembang dengan sangat baik, sehingga kehidupan warga desa bisa dibilang makmur. Banyak rumah rumah bagus, toko toko besar kecil ada dipusat desa.
Pengunjung rumah makan itu sangat ramai. Banyak pendekar pengelana dan beberapa tuan muda kaya makan bersama teman temannya disana. Berbagai obrolan terdengar campur baur di rumah makan itu.
Pelayan mengantarkan Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa ke meja kosong agak kebelakang dekat jendela. Meja sebelah mereka di tempati oleh sekelompok pendekar pendekar muda. Obrolan mereka terdengar jelas oleh Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa.
"Setelah membunuh Arit Setan, pendekar muda itu juga mengalahkan Dewi Kematian."
"Apakah kau melihat sendiri kejadian itu A Siong ?" Kutar bertanya pada pendekar yang wajahnya seperti orang benua Tionggoan.
"Aku tidak melihat langsung, tapi berita itu sudah jadi tranding topik di koto Panjang. Juga ada berita santer Duo Baruak dan sekte Iblis Tambun Tulang sedang memburu pendekar muda itu." A Siong menambahkan. Seorang pemuda berpakaian serba biru tiba-tiba nyelutuk.
"Gerombolan perampok Tengkorak Merah akhir akhir ini semakin merajalela. Dua hari lalu, ketika aku melewati desa Bungo, desa itu sudah porak poranda. Dari seorang warga yang sudah sekarat, dikasih tau mereka diserang oleh gerombolan Tengkorak Merah".
__ADS_1
"Aku juga dengar gerombolan Tengkorak Merah memiliki jaringan yang luas. Mereka memiliki banyak cabang yang tersebar di tiga kekaisaran benua Emas." A Siong melanjutkan informasinya. Pendekar keturunan benua Tionggoan itu sungguh memiliki banyak informasi.
"Hutan kegelapan diluar desa Tebo menuju desa Bungo, juga ada markas cabang dari gerombolan Tengkorak Merah." A Siong menambahkan.
Wisesa menatap Datuak Batungkek Ameh. Gurunya mengangguk memahami makna tatapan Wisesa.
"Pendekar muda, apakah kau juga punya informasi ketua cabang gerombolan Tengkorak Merah ditingkat apa ?" Datuak Batungkek Ameh bertanya pada A Siong. Pendekar muda keturunan benua Tionggoan itu menjawab dengan nada pasti.
"Bumi puncak."
Sehabis makan, Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa melanjutkan perjalanan mereka.
Markas cabang gerombolan Tengkorak Merah berada ditengah hutan kegelapan. Jalan menuju markas ditutupi dengan formasi kamuflase. Sehingga persimpangan jalan menuju markas tidak bisa ditemukan orang. Hal ini menunjukkan bahwa gerombolan Tengkorak Merah bukan gerombolan biasa.
Setan Tengkorak sedang mengatur rencana penyerangan desa Tebo. Tiba tiba terdengar ledakan yang keras.
Bomm....!!
Dhuaarr...!!
Aaaachhh....!!
Ledakan itu diikuti dengan teriakan kesakitan dan kematian anggota gerombolan. Setan Tengkorak beserta pentolan gerombolan segera melesat keluar. Setan Tengkorak sangat terkejut melihat lelaki setengah tua memegang tongkat dari akar bahar dililit emas. Disebelahnya berdiri gagah seorang pemuda berambut panjang. Kedua lelaki itu dikelilingi oleh anggota gerombolan dengan senjata terhunus. Juga banyak anggota gerombolan yang tergeletak tak bernyawa disekitarnya.
"Oooo... Datuak Batungkek Ameh, mau apa kau ketempat kami ?"
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1