Raja Pedang

Raja Pedang
#114. Bidadari Suvarnabhumi vs Mo Sin Xianseng


__ADS_3

Mo Sin Xianseng melirik kearah Tun Dayak yang berupaya untuk melarikan diri. Dia sudah cukup terguncang melihat kematian Gu Xiang dan Kuto Arik. Dia tidak mengerti, kapan dan bagaimana Raja Pedang menyerang dua orang yang posisinya berjauhan. Tiba-tiba dalam waktu bersamaan kedua orang itu tersentak dan terpelanting. Lalu mati begitu saja.


'Setinggi apa kesaktian Raja Pedang ini. Apakah dia berada ditingkat yang sama denga Patriak Agung ??' Mo Sin Xianseng bertanya tanya dalam hati. Dia ingat ketika Patriak Agung Ang Mo Ong membunuh lawannya hanya dengan berkata Mati ! dan lawannya tewas begitu saja.


"Masih berani mengalihkan perhatian disaat begini..."


Slaash...!!


Pedang Mustika Embun melintas kearah batang leher Mo Sin Xianseng. Patriak cabang sekte Tengkorak Merah dari satu wilayah di Tionggoan itu tersentak. Dia segera membuang diri untuk menjauh. Pundaknya robek lebar dan darah langsung mengucur membasahi bajunya.


Mo Sin Xianseng merasakan kebimbangan dalam hatinya. 'Menghadapi pendekar wanita yang cantik bagaikan bidadari ini saja, sangat sulit untuk menang. Apalagi sekarang aku mulai terluka. Meski tidak terlalu parah, tapi sedikit banyak mengganggu gerakan yang hendak dilakukan.


Tidak ada pilihan, aku harus segera kabur dari sini.'


Mo Sin Xianseng berkata kata dalam hatinya. Pria dari Tionggoan itu mulai mencari peluang untuk bisa kabur.


"Tuan pendekar. Sejak semula diantara kita tidak pernah ada dendam. Kalian telah membunuh empat orang rekan kami.


Kita sudahi saja pertikaian ini sampai disini. Aku akan melupakan semua yang telah terjadi." Raja Pedang menatap tajam kepada Tun Dayak. Senyuman ringan masih ada dibibirnya.


"Siapa bilang tidak ada ? Sekte Tengkorak Merah telah membunuh istriku. Untuk menebus semua itu, hanya ada satu cara. Sekte Tengkorak Merah dan segenap anggotanya harus lenyap dari dunia ini.


Kesalahan yang engkau miliki adalah menjadi anggota sekte Tengkorak Merah." suara Raja Pedang terdengar sangat mengerikan. Bergema seperti datang dari lobang yang dalam.


Tun Dayak terdiam. Dia sadar tidak ada lagi jalan, kecuali bertarung sampai mati. Sekilas dia melirik Mo Sin Xianseng yang sedang bertarung seru melawan gadis cantik yang telah membunuh dua orang rekan mereka.


"Baiklah Raja Pedang. Aku, Tun Dayak seorang tetua Tengkorak Merah dari Semenanjung Malayana, hari ini akan mengadu nyawa dengan mu." Raja Pedang tersenyum ringan mendengar ucapan Tun Dayak.


"Tidak usah bersikap sok keren begitu Tun Dayak. Kita tidak akan mengadu nyawa. Tapi aku akan membunuhmu dengan cepat dalam satu serangan agar kau tidak perlu menderita sebelum mati."


Dhaaar...!! ucapan dari Raja Pedang begitu sombong terdengar sampai ditelinga Tun Dayak. Wajah tetua sekte Tengkorak Merah dari Semenanjung Malayana menjadi merah padam. Rasa terhina menimbulkan amarah besar dalam hatinya.


"Baiklah Raja Pedang, mari kita mulai." Tun Dayak menata posisinya lalu melesat dengan sangat cepat menerjang Raja Pedang.


Melihat serangan Tun Dayak, Raja Pedang tersenyum kecil. Bukannya membuat langkah menghindar ataupun menahan serangan. Raja Pedang melesat lebih cepat dari Tun Dayak. Pedang Penakluk Iblis yang sudah ada ditangannya meluncur meliuk. Tau-tau Pedang Penakluk Iblis telah melewati tubuh Tun Dayak. Hanya terdengar suara daging tersayat dan tulang dipotong.


Slaash...!! Craasssh...!!

__ADS_1


Tubuh Tun Dayak tiba-tiba terhenti, dia menatap tidak percaya kepada Raja Pedang. Perlahan darah bercampur cairan bening merembes dari pinggangnya. Perlahan cahaya dimatanya meredup. Tun Dayak tersungkur jatuh ke bumi. Kematian yang buruk menemuinya.


Mo Sin Xianseng berbalik melesat melarikan diri. Tapi tidak tahu bagaimana. Raja Pedang tau-tau telah ada didepannya.


"Perlahan dulu rambut kepang." Mo Sin Xianseng berhenti bukan karena mengerti atau paham dengan apa yang diucapkan oleh Raja Pedang. Dia berhenti karena Raja Pedang telah berdiri menghadang jalur larinya.


Mo Sin Xianseng sama sekali tidak mengerti dengan bahasa Raja Pedang. Wajahnya terlihat agak panik dan nervous. Dia bingung bagaimana harus bicara agar bisa lolos.


"Yayaang, apakah kau akan menuntaskan pertarunganmu atau..." ucapan Raja Pedang terputus karena Bidadari Suvarnabhumi melesat dan telah berdiri didepan Mo Sin Xianseng.


Melihat tidak ada jalan untuk lolos, Mo Sin Xianseng menata kembali posisi dan langkahnya. Dia bersiap untuk menyerang Bidadari Suvarnabhumi.


Bidadari Suvarnabhumi melesat naik tinggi. Dengan gerakan yang sangat indah dia meliuk, dan berputar di udara. Lalu dengan cepat menukik tajam.


Bidadari menebar kasih...


Wanita cantik itu berseru. Hujan tusukan ratusan pedang Mustika Embun turun menuju Mo Sin Xianseng.


Melihat serangan yang datang Mo Sin Xianseng memutar senjatanya bagai kintiran. Deru angin terkoyak koyak terdengar mengaum diiringi dentingan bunyi logam keras beradu.


Traaanggg...!! Triiiingg...!!


Traaanggg...!! Traaanggg...!!


Zhiiiiingg...!! Zhiiiiingg...!!


Ratusan ujung pedang turun bagaikan hujan. Tidak ada celah untuk menghindar. Mo Sin Xianseng kembali memutar senjatanya bagaikan kintiran.


Traaanggg...!! Triiiingg...!!


Jleb...!! Jleb...!! Jleebb...!!


Triiiingg...!!


Kali ini selain denting keras benturan logam padat ada bunyian lain. Bunyi tubuh tertusuk benda tajam.


Aaachhhh...!!

__ADS_1


Teriakkan karena rasa sakit dan ketidak puasan keluar dari mulut Mo Sin Xianseng bagai raungan binatang buas.


Darah membasahi tubuh Mo Sin Xianseng. Mengalir keluar dari luka-luka ditubuhnya akibat tusukan pedang berkali kali.


Mo Sin Xianseng segera menata ulang posisinya setelah berantakan. Dia melintangkan senjata didepan dada. Tangannya yang lain mengembang menghadap langit. Perlahan senjata dan tangannya mulai berubah dan mulai memutih berkilau.


Udara mengawang dan beriak tak terkendali.


Hiiiaaaaatt...!!


Mo Sin Xianseng berteriak keras. Selarik sinar putih berkilau meluncur deras menuju Bidadari Suvarnabhumi. Mo Sin Xianseng melenting tinggi melesat kearah Bidadari Suvarnabhumi.


Zhuiiiiingg...!!


Dengingan tajam ketika senjata Mo Sin Xianseng terdengar menggiris jiwa ketika menbelah udara yang tipis.


Melihat serangan yang sangat kuat dan mengerikan dari Mo Sin Xianseng. Bidadari Suvarnabhumi memadukan dua belas langkah ajaib dan ilmu pedang Tarian Bidadari. Wanita cantik menawan itu bergerak bagaikan kilat. Tubuhnya bergerak maju mundur meliuk dan memutar.


Serangan pukulan jarak jauh berupa cahaya putih berkilau lewat disamping tubuh indah Bidadari Suvarnabhumi menghantam sebongkah batu besar.


Dhuuuaaaarrr...!!


Bongkahan batu besar itu meledak hancur menjadi debu dihantam pukulan jarak jauh Mo Sin Xianseng.


Traaanggg...!! Traaanggg...!!


Craasssh...!!


Dua benturan keras terjadi dan suara daging robek terbelah pedang.


Mo Sin Xianseng terdorong mundur, dadanya robek lebar dan darah mengucur dari bekas luka yang menganga.


Bidadari Suvarnabhumi tidak menunggu lebih lama. Masih menggunakan dua belas langkah ajaib. Wanita cantik menawan itu tau-tau sudah berada disamping Mo Sin Xianseng.


Pedang Mustika Embun embun melesat berkelebat sangat cepat. Mo Sin Xianseng segera melenting membuang diri menghindar dari tebasan yang dilakukan Bidadari Suvarnabhumi.


Craasssh...!!

__ADS_1


\=\=\=\=\=***


__ADS_2