
Rombongan Lindu, Seriti Merah dan Nirmala beserta Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa sampai di gerbang kota Pariaman. Mereka ikut berbaris dalam antrian orang orang yang ingin memasuki kota.
Hampir dua jam mengantri, akhirnya giliran mereka sampai didepan pengawal penjaga gerbang kota. Kebetulan pengawal penjaga gerbang adalah orang baru. Mereka tidak ada yang mengenal Seriti Merah dan Nirmala. Pada hal Seriti Merah sangat terkenal di kota Pariaman. Terutama para pengawal kota Pariaman, mereka sangat mengenal Seriti Merah. Karena dengan bantuan Seriti Merah, mereka bisa menghancurkan markas perampok Sungai Api. Para perampok Sungai Api dulunya sangat sering mengganggu keamanan kota Pariaman. Dengan bantuan sekte Angso Duo yang dipimpin oleh Seriti Merah, pasukan pengawal penguasa kota Pariaman berhasil menumpas habis perampok Sungai Api. Markas besar perampok Sungai Api yang ada di teluk Garinggiang, dibikin rata dengan tanah. Pemimpin perampok dihukum pancung di alun-alun kota Pariaman.
Melihat seorang wanita cantik menawan timbul niat buruk dalam hatinya pengawal penjaga gerbang kota. Ketika niat busuk mulai muncul didalam hati, meski hanya setitik, setan setan mulai membisikkan berbagai alternatif akal bulus. Tentu saja agar niat busuk itu bisa terlaksana.
"Kalian semua diperiksa dulu, penampilan kalian mencurigakan." Penjaga gerbang menyuruh mereka masuk kedalam posko satu persatu untuk pemeriksaan. Tentu saja semua itu akal akalan pengawal penjaga gerbang saja. Niatnya hanya satu, ingin menggerayangi Seriti Merah yang cantik dan sensual. Setelah pengawal itu masuk, dia memanggil Seriti Merah untuk mulai diperiksa.
"Kamu nona berbaju merah, masuk !"
Seriti Merah melenggang masuk dengan santai. Dia sangat paham kalau pengawal itu punya niat busuk. Pengawal penjaga gerbang itu menatap Seriti Merah dengan nafsu yang terlihat jelas di matanya. Dia berdiri mendekati Seriti Merah dengan seulas senyum mesum dibibirnya.
"Aku akan memeriksa mu" dan pengawal itu bersiap untuk meraba setiap jengkal tubuh Seriti Merah. Ketika tangan pengawal mulai terulur untuk menyentuh Seriti Merah, terdengar suara nyaring.
Plakk !!
Pengawal itu terlempar menabrak dinding di belakangnya. Pipi kirinya bengkak membiru. Pengawal itu meludahkan darah dan dua gigi geraham dari mulutnya.
Pengawal penjaga gerbang itu langsung berdiri, dia memaki Seriti Merah.
"Perempuan ja****....!! Kau rasakan akibat dari perbuatanmu ini !". Pengawal itu menyerang Seriti Merah. Tapi apalah artinya serangan tingkat perak. Tak lebih dari seekor semut di mata seorang pendekar tingkat bumi.
Pletak...!! Krack...!!
Terdengar bunyi tulang patah dan lolongan kesakitan keluar dari mulut pengawal itu. Dua orang pengawal lain langsung masuk hendak menolong temannya. Namun begitu mereka menyerang, tak tau bagaimana kejadiannya. Tiba-tiba mereka terlempar bergulingan menumpuk dengan temannya yang hendak berbuat mesum.
"Hentikan...!!" Satu teriakan keras terdengar. Komandan pengawal penjaga gerbang kota muncul dengan wajah sangar.
Melihat anak buahnya sudah babak belur komandan itu menjadi marah. Dia kemudian memalingkan wajah melihat perempuan berpakaian merah yang berdiri di tengah ruangan. Namun amarah yang di dadanya langsung menguap hilang tanpa bekas. Dengan cepat komandan pengawal itu membungkuk memberi penghormatan.
__ADS_1
"Maaf nona Seriti Merah. Apakah anak buahku sudah berlaku kurang ajar ?" Komandan pengawal menyapa ramah Seriti Merah, kemudian menatap dengan penuh amarah pada anak buahnya. Dia tau betul siapa Seriti Merah. Seorang perempuan dingin yang tegaan. Salah satu tetua sekte Angso Duo yang berada dilepas pantai Pariaman.
"Apa yang sudah kalian lakukan !!". Komandan pengawal penjaga gerbang itu membentak anak buahnya. Para pengawal yang sempat merasa senang ketika komandan mereka datang langsung menjadi pucat pasi. Seorang dari pengawal yang tadi mau membantu menjawab...
"Perempuan ja***** itu memukul Pari, jadi kami datang untuk menolongnya."
Plak...! Plak...! Plaakkk...!!
Tamparan keras diterima oleh ketiga pengawal itu. Pari menerima tamparan paling keras. Bibirnya pecah berdarah, pipinya yang sebelah lagi bengkak dan satu geraham lagi copot. Ketiga pengawal itu buru-buru bangkit dan minta pada maaf atasan mereka. Sebetulnya mereka bertiga heran melihat sikap komandan mereka pada Seriti Merah. Mereka bertiga tidak tau siapa Seriti Merah. Ketiganya berasal dari desa desa kecil dekat hutan Rimbo Toboh dan baru dua bulan ini menjadi pengawal penguasa kota Pariaman.
"Nona Seriti Merah, kami mohon maaf. Mereka semua pengawal baru. Sekali lagi aku mohon maaf karena lalai mengawasi mereka." Komandan pengawal kembali membungkuk memberi hormat kepada Seriti Merah. Seriti Merah menatap Limin komandan pengawal penjaga gerbang kota. Kemudian beralih menatap dingin tiga pengawal yang sudah babak belur.
"Cepat kalian mohon maaf !" Komandan pengawal teriak mengingatkan anak buahnya.
"Mohon maaf atas sikap kami Nona." Mereka bertiga membungkuk dalam-dalam meminta maaf pada Seriti Merah. Tubuh mereka gemetar oleh rasa takut.
Lindu dan Wisesa terkagum kagum melihat betapa majunya kota Pariaman. Bangunan bertingkat berjejer di sepanjang jalanan kota. Tampak megah namun asri. Karena didepan bangunan tersebut selalu ada taman mungil dan disudut taman ada satu atau dua pohon nyiur.
Nirmala menjelaskan pada Lindu dan Wisesa bahwa Pariaman adalah kota pelabuhan dan perdagangan. Kota ini menjadi tempat bertemunya pedagang dari koto-koto di darek dengan pedagang dari benua lain. Karena itu kota Pariaman sangat ramai dan banyak pendatang dan kemudian menetap di kota Pariaman.
Lindu dan Wisesa terkagum kagum mendengar penjelasan Nirmala.
"Guru... Kita makan di restoran One dulu ya. Lala ingin makan gulai kepala ikan Capa dan rakik udangnya." Nirmala berkata pada gurunya Seriti Merah. Seriti Merah mengangguk setuju. Mereka kemudian menuju restoran One.
Restoran One terletak disebuah lahan luas di pinggir pantai. Ada dua bangunan besar lahan luas itu. Satu bangunan satu lantai, terlihat banyak orang yang makan di dalamnya. Disebelahnya dibatasi oleh sebuah taman yang indah, ada bangunan besar dua lantai. Diatas atap bangunan ada tulisan PENGINAPAN ONE.
Mereka memasuki restoran. Terlihat banyak sekali tamu yang sedang makan. Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan mereka.
"Nona Seriti Merah, sudah lama tidak berkunjung kesini" sapanya dengan ramah. Seriti Merah tersenyum.
__ADS_1
"Masih ada ruangan khusus yang kosong Nur ?" Seriti Merah bertanya sambil menyapa nama pelayanan itu dengan ramah. Sepertinya pelayan itu seorang kenalan lama. Pelayan itu mengangguk.
"Kebetulan ada satu yang kosong. Tamu yang memakai sebelumnya baru saja pergi." Nur menjawab sambil mengantar mereka keruangan khusus.
Ruangan khusus itu cukup besar, ada sebuah meja bundar besar dengan delapan kursi. Bagian atas meja terdiri atas dua lapis batu marmer. Marmer yang diatas berukuran lebih kecil dan bisa digeser berputar. Ada sebuah jendela sangat besar menghadap ke laut. Sehingga mereka yang makan dalam ruangan itu bisa menikmati pemandangan dan hembusan sepoi-sepoi angin laut yang sejuk.
Tidak lama beberapa pelayan menata aneka hidangan laut di meja besar di hadapan mereka. Ada tiga gulai kepala ikan Capa yang besar, dua ikan kerapu minyak bakar, udang gede bakar, cumi bakar, rakik udang, uwok taruang samba lado tanak, dan aneka menu makanan lainnya. Nirmala tersenyum lebar melihat semua hidangan itu.
"Naaah... ini baru makan enak..." teriak Nirmala penuh semangat.
Mereka berlima menikmati semua hidangan yang tersedia sambil bertukar cerita. Semua hidangan itu sangat-sangat lezat. Lindu kali ini makan paling banyak. Pemuda itu bingung ada makanan seenak itu.
Setelah semua hidangan habis tak bersisa, pelayan datang lagi membawa kelapa muda dari kelapa hijau yang telah dipapas ujung ujungnya. Mereka lanjut menikmati segar dan ueeenak nya air kelapa hijau itu.
"Enak uda...?" Nirmala bertanya sambil tersenyum manis pada Lindu. Lindu mengangguk dan menjawab dengan pertanyaan...
"Apakah makanan istana kaisar seenak ini Lala ?" Semua yang mendengar ucapan Lindu tertawa lepas.
"Ada yang lebih enak dari semua makanan tadi." ucap Nirmala. Lindu menatap Nirmala dengan penuh rasa takjub.
"Ada lagi ? Makanan apa ??" Lindu bertanya kepada Nirmala.
"Masakan buatan Lala..." kata gadis itu sambil membusungkan dadanya. Wisesa terbatuk keselek air kelapa yang lagi diteguknya, mendengar jawaban Nirmala. Seriti Merah dan Datuak Batungkek Ameh tersenyum lebar. Lindu menatap Nirmala dengan takjub, lalu melihat kearah Seriti Merah.
Selesai makan, mereka menuju Penginapan One dan menginap satu malam disana. Setiap mereka memilih kamar yang jendelanya menghadap ke laut.
Restoran One dan penginapan One sebetulnya adalah milik sekte Angso Duo. Selain menjadi salah satu sumber penghasilan sekte juga tempat sekte Angso Duo mengumpulkan berbagai informasi. Sehingga bisa dibilang sekte Angso Duo merupakan sekte yang paling banyak mengetahui apa yang terjadi di benua Emas.
\=\=\=\*\*\*\=\=\=
__ADS_1