
"Patriak sekte Kala Hitam dan juga Raja Penyamun Tanjung Marwo." Tungka Bulian sangat terkejut mendengar perkataan Rimba Rasam. Sedangkan Rimba Rasam melanjutkan perkataannya.
"Andaikan tidak ada kejadian sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Dengan posisi sebagai Patriak sekte Kala Hitam yang berilmu sangat tinggi. Meski sekarang usiamu lebih dari enam puluh tahun. Wajah mu sama sekali tidak berbeda dengan wajah mu tiga puluh tahun yang lalu. Bahkan terlihat lebih baik dan..."
Tungka Bulian memotong ucapan Rimba Rasam dan bicara dengan lantang.
"Apa maksud omongan mu ini Rimba Rasam. Tidak usah bertele-tele kau pak tua." Semua anggota rombongan sekte Kala Hitam langsung memasang sikap siaga, begitu juga dengan empat orang Tetua yang ikut menjadi pendamping Tungka Bulian.
Tungka Bulian menatap tajam kepada Rimba Rasam dan matanya menyapu semua orang yang ada didepannya. Tungka Bulian melihat Komandan pengawal desa Semak, seorang pemuda tampan dan dia tidak bisa meraba kekuatan pemuda itu. Bahkan seperti tidak memiliki energi mendalam. Lalu ada dua wanita cantik menawan berdiri bersama Mayang Mangurai yang ingin dia nikahi secara baik. Bukan sekedar pemuas hasrat purbanya.
"Mungkin kau sudah lupa apa yang telah kau lakukan lebih dari tiga puluh tahun lalu Tungka Bulian. Apa yang telah kau lakukan terhadap seluruh rombongan didataran sungai Besi sebelum kota Tanjung Marwo. Kau membunuh semua anggota rombongan itu. Bahkan kau hampir saja menggagahi istri pemimpin rombongan jika dadamu tidak disobeknya dengan sebuah Piso tumbak lada miliknya. Mata Tungka Bulian terbelalak melihat kepada Rimba Rasam.
"Bagaimana kau tau dengan kejadian itu ??" Tungka Bulian bertanya kepada Rimba Rasam. Sikapnya sudah berubah bertolak belakang dengan sikap ketika dia baru datang.
"Aku adalah anak dari Datuk Rasam Gunung yang menjadi kepala rombongan dengan tiga kereta kuda dan delapan pedati yang kau rampok. Wanita yang akhirnya juga kau bunuh karena tidak bisa memenuhi keinginan iblismu itu adalah ibu ku. Aku menjadi saksi atas semua perbuatan yang telah perbuat. Aku melihat semua kejadian itu dari balik semak didalam sungai Besi." Rimba Rasam menguraikan semua kejadian lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.
"Sekarang aku juga berfikir semua kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng Tanjung Marwo, Bulian dan negeri sekitar sini juga adalah perbuatan kalian, sekte Kala Hitam.
Itu artinya kalian sekte Kala Hitam adalah penjahat dari golongan hitam yang berkedok golongan netral."
Tungka Bulian terdiam sesaat mendengar semua yang dikatakan oleh Rimba Rasam. Lindu, Nirmala dan Mayang saling berpandangan. Mayang Mangurai menutup mulutnya yang terbuka mendengar penuturan ayahnya. Air mata lara mengambang didua bola matanya.
Tungka Bulian tertawa keras. Dia tidak bisa lagi menghindar dari apa yang dikatakan Rimba Rasam. Semua yang dikatakan Kepala Desa Semak itu benar adanya.
"Apakah kau sekarang mau menuntaskan dendam mu ?" Tungka Bulian bertanya dengan nada mengejek kepada Rimba Rasam.
Rimba Rasam tersenyum kecil melihat Tungka Bulian.
__ADS_1
"Langit tidak pernah setuju dengan balas dendam. Tapi langit punya cara sendiri kalau sudah mau menghapus kejahatan. Pemuda tampan ini," Rimba Rasam menoleh dan menunjuk Lindu.
"Dia memberikan pencerahan kepada ku tentang lingkaran dendam yang menjadi cara iblis menyesatkan manusia."
"Ha haa haaa.... Terus dengan bocah hijau seperti itu. Apa yang akan dilakukan langit pada kami ??" Tungka Bulian tertawa ngakak dan bertanya dengan suara mengejek. Rimba Rasam hanya tersenyum kecil dan berkata.
"Pemuda yang kau bilang bocah hijau ini,..." Rimba Rasam memberi tekanan pada kata bocah hijau.
"Adalah Raja Pedang dan Sepasang Bidadari. Tunggu tidak usah panik dulu. Raja Pedang tidak ada niat mencari kalian kesini. Mereka bertiga hanya kebetulan lewat. Tapi itulah cara langit berbuat untuk melenyapkan kejahatan sekte Kala Hitam yang kini juga menjadi pengikut Tengkorak Merah."
Rimba Rasam mengakhiri ucapannya dengan senyuman penuh ejekan. Tungka Bulian bergetar hatinya mendengar nama Raja Pedang. Merasa tidak ada lagi yang perlu dikatakan, Patriak sekte Kala Hitam berteriak keras.
"Seraaang... bunuh mereka semua...!!"
Empat Tetua dan semua anggota rombongan sekte Kala Hitam bergerak dan menyerang.
Tiba-tiba lima orang pendekar pengawal khusus muncul dari lima arah dan menyerang rombongan sekte Kala Hitam. Keempat orang Tetua disambut oleh Rimba Rasam, Komandan pengawal, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Adapun Tungka Bulian berdiri berhadapan dengan Raja Pedang.
"Raja Pedang, tidak pernah ada silang sengketa selama ini diantara kita. Aku merasa lebih baik kau tidak ikut campur dalam urusan kami." Lindu menatap balik kepada Tungka Bulian. Pemuda yang sangat tampan itu tersenyum ringan. Senyuman unik, khas dan sangat menakutkan bagi mereka yang sudah tau.
"Aku tidak akan ikut campur urusan pribadi mu. Tapi aku sudah bertekad untuk selalu menghancurkan gerombolan Tengkorak Merah dan semua antek-anteknya dimana saja bertemu." suara Lindu terdengar sangat dingin.
Tangan iblis membasmi dewa
Tungka Bulian langsung menyerang Raja Pedang. Satu dari ilmu andalan miliknya. Dua tangan besar dari kabut hitam bergerak sangat cepat menuju Raja Pedang. Lindu tersenyum ringan, ditangan kanannya sudah terhunus Pedang Mustika Embun. Lalu kilatan sinar pedang muncul menyilang menyambut kedua tangan kabut yang datang.
Craasssh...!! Jeeesszz...!!
__ADS_1
Blaarrr...!! Dhuaarr...!!
Terdengar bunyi benda terbelah dan ledakan besar. Tungka Bulian terlempar sepuluh tombak.
Patriak sekte Kala Hitam, memuntahkan seteguk darah. Raja Pedang tidak bergeming dari tempatnya. Raja Pedang tersenyum ringan melihat kearah Tungka Bulian. Dia melesat dan mengayunkan pedang Mustika Embun dalam gerakan ilmu pedang langit dan bumi. Kesiutan angin yang sangat tajam terdengar membelah udara tipis. Tungka Bulian yang belum begitu siap melenting menjauh. Sambil mengayunkan pedang yang sudah ada ditangannya.
Trangg...!! Tringg...!! suara nyaring benturan dua pedang bergetar mengisi udara.
Tungka Bulian kembali berdiri tegak dengan kuda-kuda siap menyerang. Patriak sekte Kala Hitam itu merasa kagum, kesal dan sekali gus was-was melihat Raja Pedang yang masih sangat muda.
Rimba Rasam bertarung seimbang dengan Kala Merah, Tetua keempat sekte Kala Hitam. Beberapa luka terukir ditubuh mereka. Pertarungan berlangsung sengit. Jual beli serangan berlangsung cepat dan ketat.
Berbeda dengan Kepala Desa, Komandan pengawal mulai keteter menghadapi lawannya Kala Biru. Tetua kelima sekte Kala Hitam itu bukanlah lawan yang sesuai untuk Komandan pengawal.
Slah....!! Crassz...!!
Duugh...!!
Satu tebasan lagi menyobek pundak hingga dada sang Komandan. Sebuah tendangan juga bersarang mulus diperutnya. Komandan pengawal terlempar jauh dan jatuh dalam kondisi setengah berlutut. Tidak bisa ditahan, Komandan pengawal memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dia merasa organ dalam tubuhnya pindah posisi.
Kala Putih, tetua kedua sekte Kala Hitam berhadapan lawan Bidadari Suvarnabhumi. Pria itu sudah babak belur dan bonyok setengah mati. Tubuh Kala Putih sudah dipenuhi oleh darahnya sendiri. Ilmu pedang Tarian Bidadari terlalu sulit dia hadapi.
Sobekan luka tersebar hampir di semua bagian tubuhnya. Beberapa adalah luka dalam yang cukup berbahaya. Kala Putih menggerutu dalam hati.
"Mimpi apa aku semalam sehingga hari ini harus mati ditangan gadis muda ini ?"
Bidadari memetik bunga menebas bulan
__ADS_1
Kesiutan angin yang sangat tajam mendenging ditelinga Kala Putih, ketika dua tusukan menembus perut dan pundak kirinya. Pedang Mutiara Biru belum berhenti. Pedang Mutiara Biru terus bergerak sangat cepat menebas leher Kala Putih.
\=\=\=***\=\=\=