Raja Pedang

Raja Pedang
#8. Menunggu Sekte Iblis Tambun Tulang


__ADS_3

Sesampai di Aia Badarun. Ternyata kamar mereka sama sama dilantai empat. Lindu berada diujung sayap kiri bangunan. Nirmala bersama gurunya di sayap kanan bangunan. Mereka bertiga janjian untuk bertemu makan malam bareng di restoran lantai dua Aia Badarun.


Setelah relaks sejenak di kamar nya. Lindu mandi air hangat yang sudah disiapkan pelayan. Rasanya nyaman sekali mandi dengan air hangat di tempat berhawa dingin.


Usai mandi Lindu merasakan badannya segar banget. Sambil bersiul, Lindu mengganti pakaiannya. Rambutnya yang diikat ekor kuda, tergerai lepas dipundak. Lindu tampak semakin tampan dengan pakaian barunya.


Menunggu waktu makan malam, Lindu mengambil pedang Mustika Embun dari dari cincin semesta. Perlahan ditariknya pedang Mustika Embun keluar dari sarungnya. Aura dingin langsung memancar begitu pedang keluar dari sarungnya.


Lindu memperhatikan pedang Mustika Embun dengan teliti.


Pedang Mustika Embun dibuat sangat, halus dan teliti. Gagang pedang ada sebutir kristal embun bening dikepalanya. Gagang terasa sangat pas dalam genggaman. Kabut sangat tipis tampak melapisi bilah pedang. Mata pedang tampak sangat tajam seakan mampu memotong apa saja yang dilewatinya.


Lindu menyalurkan energi mendalam nya ke pedang, pedang Mustika Embun tampak bersinar terang berkilauan. Lindu menarik kembali energi mendalam nya. Ketika ia mengisi pedang Mustika Embun dengan menyalurkan qi, pedang itu bergetar dan mendengung halus. Kabut yang menutupi pedang menebal dan aura dingin memancar sangat kuat. Memberi tekanan hebat pada setiap makhluk hidup yang ada disekitarnya. Tentu saja aura dingin menekan itu tidak berefek pada Lindu. Berasa ada kesesuaian dan rasa sangat akrap antara Lindu dengan pedang Mustika Embun.


Ada muncul sedikit perasaan baru saat Lindu menyalurkan zhenqi nya. Aura yang dipancarkan pedang Mustika Embun bukan lagi aura senjata pusaka tingkat langit. Aura yang dipancarkan naik dua tingkat menjadi pedang pusaka tingkat legenda !!


Lindu akhirnya memahami pedang Mustika Embun dan menarik sudut bibirnya sedikit. Menyimpan kembali pedang Mustika Embun ke cincin semesta. Lindu keluar dan turun ke restoran.


Sesampai di restoran ternyata Seriti Merah dan Nirmala sudah menunggu. Dihadapan mereka sudah terhidang berbagai jenis masakan. Lindu mengambil kursi, duduk dihadapan Seriti Merah.


"Maaf saya agak terlambat" Lindu minta maaf atas keterlambatannya pada Seriti Merah dan Nirmala.


"Jangan sungkan Lindu. Kami juga belum lama sampai. Ayo langsung makan saja." Seriti Merah mengansurkan nasi ke Lindu. Lindu mengisi pinggan nya dengan dua centong nasi. Mereka makan bersama dengan santai. Nirmala menjadi orang paling sibuk. Ia menawarkan berbagai menu pada Lindu. Gadis cantik itu begitu penuh semangat. Dia sangat senang jika Lindu menyicipi jenis masakan yang dia tawarkan.


"Ini cobain uda Lindu, itik lado ijo. Sedikit pedas, tapi taste nya gurih banget." Nirmala menawarkan menu itik dimasak dengan cabe muda. Tak terasa makanan yang ada dimeja ludes semuanya. Lindu dan Nirmala bersandar kekenyangan. Gadis kecil itu memperbaiki posisi duduknya setelah dicoel gurunya.


"Kenyang banget guru" ucapnya sayup sayup dalam upaya membela diri.


Seusai makan, mereka kembali ke kamar mereka. Lindu tidur dengan sangat lelap.


Dua malam berlalu dengan suasana damai.


Setelah sarapan Lindu pergi ketaman kota. Dibagian utara taman ada sebuah lapangan yang cukup besar. Banyak bangku bangku batu yang susun di pinggir lapangan.

__ADS_1


"Kenapa ada lapangan begini dalam kota ?" Lindu menatap Nirmala menunggu jawaban dan penjelasannya.


"Hampir ditiap taman kota ada lapangan seperti ini uda. Lapangan terbuka seperti ini dinamakan medan nan bapaneh. Di tempat ini biasa diadakan keramaian. Bahkan kalau kalau penguasa kota mengadakan turnamen murid berbakat, akan diadakan di medan nan bapaneh." Nirmala menjelaskan pada Lindu. Nirmala sejak usia delapan tahun sudah ikut dengan gurunya Seriti Merah untuk menjalankan misi misi tidak terlalu berat.


Kali inipun mereka habis menyelesaikan misi di Koto Baru. Karena itu Nirmala cukup banyak tau berbagai hal. Tidak seperti Lindu yang sepuluh tahun mendekam tak pernah keluar dari Talago Dewi di puncak Singgalang.


Mereka duduk disalah satu bangku menghadap taman membelakangi medan nan bapaneh. Menikmati suasana taman yang asri dan indah dan hawa sejuk.


Banyak orang berjalan jalan menikmati suasana taman kota. Ada banyak pedagang kecil menjual makanan dan perhiasan untuk wanita di berbagai sudut taman.


Lindu menarik nafas panjang. Ia menikmati suasana taman yang damai. Sesekali Lindu melirik ke Nirmala, mengagumi makhluk cantik di sampingnya. Ada rasa kagum dihatinya yang kadang terlintas dari matanya. Terutama ketika Nirmala menjelaskan berbagai hal baru padanya. Lindu kadang heran ada begitu banyak pengetahuan di kepala mungil gadis itu.


Lagi asik menikmati suasana taman kota. Seorang pemuda parlente bersama dua orang teman nya berhenti di depan mereka. Empat orang pendekar, mungkin pengawalnya berhenti tak jauh dari Lindu dan Nirmala.


Pemuda parlente itu berwajah tampan. Namun diwajahnya sangat terlihat garis keangkuhan. Pemuda itu menatap hina pada Lindu. Namun matanya menatap serakah pada Nirmala. Meski baru berusia 10 tahun, Nirmala kelihatan sangat cantik dan tubuhnya mulai terbentuk lekukan meski belum sempurna. Lindu sekilas melirik pemuda itu dan temannya serta empat orang pengawal dengan tampilan pendekar yang berdiri tidak jauh dari mereka. Lindu langsung membaca tingkat kultivasi mereka. Paling tinggi hanya tingkat emas tinggi dua tingkat Di atas kultivasi Nirmala. Itu adalah dua dari empat pendekar yang sesekali melirik kearahnya. Pemuda parlente itu berada di tingkat perak tinggi. Pasti bakal bisa dilibas oleh Nirmala, karena kultivasi Nirmala ada Di tingkat emas awal.


Pemuda parlente itu maju mendekat dan mengulurkan tangan untuk meraih Nirmala.


"Nona, ayo ikut dengan ku. Kita bisa ngobrol sambil makan dan minum di kedai sana" ajak pemuda songong itu dengan gaya nakal sambil menunjuk sebuah kedai mewah di dekat taman. Nirmala menghindar dengan merapatkan diri ke Lindu. Karena menghindari pemuda parlente itu, bukit kecil Nirmala menempel di lengan Lindu. Wajah Nirmala menjadi merah karena rasa malu dan marah. Malu karena bagian sensitif nya menempel ke Lindu dan marah karena semua terjadi gara gara pemuda bre**** itu. Nirmala langsung berdiri. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan dingin.


Plaaakk....!!


terdengar suara cukup nyaring. Pemuda parlente itu terjengkang. Pemuda itu segera bangkit dengan amarah yang meluap. Pipi kanan nya bengkak dan ada sedikit darah diujung bibirnya.


"Dibaikin malah kurang ajar kau ja****. Rasakan ini...!" Pemuda itu menyerang Nirmala. Terdengar lagi suara nyaring.


PLAKK...!!


PLAAKK...!!


BUAGH....!!


" AAACHK..."

__ADS_1


Pemuda itu kembali terlempar dan berteriak kesakitan. Pipi nya makin bengkak. Bukan sebelah. Keduanya. Gerahamnya juga copot. Pemuda itu berdiri gemetar menahan marah.


"Puaahhh....!!"


Ia meludahkan satu geraham yang lepas bersama darah dari mulutnya. Orang orang mulai berdatangan menonton kejadian itu. Banyak diantara mereka yang mengenal pemuda songong itu.


"Kurang ajar. Kau harus mati ja****...!! Binu, tuan muda klan Caniago ini akan membunuh mu !!!". Binu pemuda parlente itu, dengan ke dua temannya kembali menyerang Nirmala. Gadis cantik itu dengan mudah menangkis dan menghindar dari semua serangan. Lindu diam saja menonton perkelahian mereka. Dia sudah tau Nirmala akan aman aman saja.


Binu kembali menyerang, dia menyerang dengan jurus Harimau menerkam kelinci. Angin pukulannya Binu menderu menuju leher dan kepala Nirmala. Kedua teman Binu juga menyerang serentak.


"Tendangan Angin puyuh"


"Tinju memecah ombak"


Buugh...!


Baammm...!!


Pletak, krak...!!!


Nirmala menyonsong semua serangan pemuda tersebut.


Seriti meniti ombak, Nirmala berbisik dan tiga pemuda itu terhempas bergulingan. Binu mengalami luka dalam yang cukup parah. Lengan kirinya patah. Mulutnya merah oleh darah yang muncrat keluar. Kedua temannya lebih parah lagi. Mereka merasa dada remuk dan perut hancur. Setelah memuntahkan banyak darah, keduanya tak sadarkan diri.


Pingsan !!


Warga yang menonton pertarungan pada tersenyum senang, melihat tuan muda klan Caniago itu babak belur.


Pendekar yang berdiri tidak jauh langsung menolong Binu.


"Tuan Muda...." Binu langsung memotong ucapan mereka.


"Bunuh gadis itu...!!" Teriak Binu marah. Ke empat pendekar itu bergerak mengurung Nirmala. Gadis cantik itu tau tidak akan menang melawan semua pendekar dari klan Caniago itu. Nirmala mengeraskan rahangnya dan mencabut pedang Bintang miliknya. Pedang Bintang hadiah dari gurunya ketika menembus tingkat kultivasi emas awal. Pedang Bintang merupakan pusaka tingkat fana. Pedang itu berkilauan sangat tajam.

__ADS_1


Nirmala dan Lindu yang tadinya mau bersantai sambil menunggu kedatangan sekte Iblis Tambun Tulang dengan menikmati taman kota berantakan sudah.


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2