
Lindu menimang nimang Pedang Bintang, lalu melihat kepada Dhamma Mayang.
Gadis cantik menawan itu mengangguk dengan wajah agak muram. Raja Pedang kembali menimang dan menatap Pedang Bintang.
Sesaat kemudian, setelah merasa lebih tenang. Lindu menyodorkan Pedang Bintang dan menyerahkan kepada Sabai.
"Ini untuk mu Sabai. Sesuai dengan pesan terakhir kakak mu Nirmala. Terimalah..." Sabai menatap pedang yang ada ditangan Lindu. Dia ingat saat saat mereka di Talago Dewi di puncak gunung Singgalang. Ketika Nirmala dengan telaten merapikan gerakan jurus-jurus ilmu pedangnya. Nirmala juga sering meminjamkan Pedang Bintang kepada Sabai. Sabai merasa sangat senang dan nyaman menggunakan Pedang Bintang. Pedang bening yang berkilau keemasan. Memberikan rasa hangat, aman dan nyaman dihatinya.
"Apakah kak Nirmala tau kalau aku sangat menyukai Pedang Bintang ini ?" Sabai bergumam dalam hatinya. Dia kemudian menatap Lindu dan Mayang bergantian dengan tatapan yang dalam.
"Terimalah Sabai. Uda dan kak Mayang juga tidak mengerti kenapa Nirmala minta kami mengantarkan Pedang Bintang ini kepada mu. Tapi Uda dan kak Mayang mengerti satu hal. Nirmala pasti sangat menyayangi kamu sebagai adiknya." suara Lindu halus terdengar sangat tenang dan lembut.
Perlahan lahan tangan gadis remaja itu terulur. Dia meraih Pedang Bintang dari tangan Lindu. Pedang Bintang dipeluk erat kepadanya. Air matanya jatuh bergulir dipipinya membentuk dua anak sungai. Lindu dan Mayang sengaja membiarkan Sabai menangis tanpa suara.
"Kak Nirmala, aku akan membalas kematian mu dengan menghancurkan semua kekuatan Tengkorak Merah...!!" tekad Sabai dalam hati. Namun apa yang dia bisikan terdengar sangat jelas oleh Lindu.
Setelah beberapa waktu, Sabai terlihat sudah tenang. Gadis remaja itu menyimpan pedang bintang dalam kalung penyimpanan miliknya.
"Bagaimana khabar guru, dan sebenarnya kamu dan paman Hampu dalam rangka apa ke kota Babilang Kaum ini ?" Lindu mengedarkan kekuatan spiritualnya secara halus untuk membaca tingkatan Sabai dan Hampu. Sabai dan Hampu tersenyum ketika merasakan benang halus spiritual Lindu memeriksa tingkatan mereka.
"Guru selalu dalam keadaan yang baik Uda, semoga terus begitu.
Kami kesini ingin bergabung dengan Laskar Gabungan Pendekar yang akan menyerang markas Tengkorak Merah di Tano Niha. Paman Hampu telah membangun kontak dengan Pendekar Kerambit Maut."
"Oh... paman Hampu kenal baik dengan Wisesa si pendekar Kerambit Maut ?" ucapan Sabai disela Dhamma Mayang.
"Kami sering berkomunikasi terkait masalah penyerangan ke Tano Niha ini" Hampu menjelaskan sambil tersenyum.
"Walaupun tingkat kami berdua hanya di tingkat suci awal. Mungkin kemampuan kami tidak banyak membantu. Tapi kami ingin bergabung dengan para pendekar.
Selain itu, ini juga kesempatan untuk ujicoba ilmu beladiri Sabai dalam pertarungan sebenarnya." Hampu menambahkan.
"Yaa... sekarang alasannya bertambah. Membalaskan kematian kak Nirmala." Sabai mendesis penuh niat dan tekad.
__ADS_1
"Aku telah menguasai ilmu pedang Awan Bararak dan Pukulan Guruah Patuih peninggalan ayah. Ilmu itu telah disempurnakan guru dan guru telah menambahkan ilmu menghimpun energi langit dan bumi.
Jadi Uda Lindu dan kak Mayang bisa tenang dan tidak ragu membawa aku ikut menumpas sekte Tengkorak Merah sampai ke benua Tionggoan." Sabai mengakhiri penuturannya sambil melihat kepada Lindu dan Mayang dengan penuh tekad.
Lindu bertukar pandang dengan istrinya Dhamma Mayang. Mereka berdua tersenyum melihat tekad kuat Sabai. Tetua Hampu hanya tersenyum kecil dan menyeruput kopinya dan menikmati sebuah lapek Sagan. Sejenis lepat yang dibuat dari tiga jenis beras ketan, kelapa muda parut dan gula enau.
"Kalau begitu besok kita bersama ke posko Laskar Gabungan." Setelah itu mereka masuk kekamar masing-masing untuk istirahat.
Matahari baru naik sepenggalan. Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi, Sabai dan tetua Hampu telah sampai di posko Laskar Gabungan.
"Raja Pedang, Bidadari Suvarnabhumi anda berdua sudah tiba ?!.
Eh maaf anda datang bersama Nona dan senior..." Malin yang dapat giliran piket jaga menyapa Lindu dan Mayang.
"Senior Hampu, anda jadi datang. Ah... apakah ini Nona Sabai yang anda pernah bilang ?" Wisesa muncul dan menyapa Tetua Hampu.
"Aaa... pendekar Kerambit Maut, terimakasih sudah menyambut kedatangan kami" tetua Hampu dan Sabai menjura kepada Wisesa dan Malin.
Jendral Nala Punta langsung turun dari kursinya begitu Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi memasuki ruangan.
"Yang Mulia Pengiran Lindu dan Putri Mayang" Jendral Nala Punta merangkapkan kedua tangannya didepan dada dan menjura dalam.
"Apa kabar paman Nala" Lindu dan Dhamma Mayang menyapa Jendral Nala Punta dengan ramah.
"Oh ya, izinkan saya untuk mengenalkan ini adik seperguruan ku Sabai dan ini tetua Hampu. Mereka ingin bergabung dengan Laskar Gabungan." Lindu mengenalkan Sabai dan tetua Hampu.
"Sabai, paman Hampu, beliau Jendral Nala Punta pimpinan tertinggi Laskar Gabungan ini"
Sabai dan Hampu buru-buru menjura dan menyapa Jendral Nala Punta.
"Salam Jendral Nala, kami izin untuk bergabung dengan Laskar Gabungan." Tetua Hampu dan Sabai menyapa.
"Dengan senang hati tetua Hampu. Eh... hm... Nona Sabai apakah anda tidak terlalu muda untuk ikut bergabung ?"
__ADS_1
"Ha haa haaa paman Nala. Sabai itu seorang pendekar wanita tingkat suci, meski usianya masih lima belasan." Jendral Nala Punta tersenyum mendengar ucapan Lindu.
"Saya tidak meragukan kemampuan Nona Sabai yang notabene adalah adik seperguruan Yang Mulia Pengiran Lindu."
"Paman Nala Punta, ada apa paman mencari aku dan Mayang ?" Jendral Nala Punta mengangguk tegas.
"Aku ingin tau hasil pertemuan di Madania."
"Oh begitu. Rencana minggu ini semua perwakilan dan Kaisar Dharma Andaleh sudah akan tiba." Lindu kemudian menjelaskan secara rinci hasil pertemuan di Madania. Termasuk sekte dan klan mana saja yang akan segera datang.
"Paman, apakah rombongan Datuk Rao Api dan anggota klan Manusia Harimau sudah sampai ?"
"Ya sudah datang dua hari yang lalu. Mereka disambut dan dilayani oleh Malin, Nuri, Wisesa dan Binu."
"Oh... Binu dari klan Caniago ?
Apakah pendekar Pedang Kilat dan Dewi Kematian Juda ikut bergabung ?" Jendral Nala Punta mengangguk membenarkan.
"Baiklah aku akan bertemu kakek Alang Bangkeh dan paman Alang Babega dan bibi Seriti Merah terlebih dahulu. Baru nanti kalau sempat bertemu yang lain.
Oh iya, besok aku dan Mayang akan langsung pergi ke Tano Niha."
"Baik Pengiran, tapi kalau bisa pergi ke Tano Niha nya lusa saja. Karena lusa memang ada jadwal kapal. selain itu masih ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Pengiran."
"Baiklah paman Nala.
Ayo Yayang, dan kamu juga Sabai. Belum jadi bertemu dengan paman Alang Babega bukan ?"
Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi lalu meninggalkan ruangan Jendral Nala Punta. Sabai dan tetua Hampu mengikuti Raja Pedang.
Bidadari Suvarnabhumi berjalan sambil menggenggam tangan Lindu. Wajahnya berubah sendu.
\=\=\=\=\=***\=©
__ADS_1