
Langit sedikit mendung pagi itu. Udara berangin agak sedikit kencang. Tapi itu tidak menghalangi banyak orang pribadi dan rombongan menuju balai lelang Menara Gading. Mereka semua berharap bisa mendapatkan barang yang mereka inginkan dari lelang kali ini.
Lindu bersama rombongan baru memasuki halaman ketika sebuah suara menyapa.
"Tuan muda Lindu dan nona Nirmala ? Senang sekali bisa bertemu anda disini." Lindu dan Nirmala menoleh kearah suara yang memiliki aura energi cukup familiar. Lindu tersenyum melihat Binu yang tersenyum lebar berdiri disebelah Dewi Kematian dan tiga orang lainnya. Nirmala sedikit mengernyit masih ada sedikit kesal dihatinya melihat Binu.
"Jumpa lagi Raja Pedang" Dewi Kematian menyapa ikut menyapa Lindu.
"Senang bisa bertemu kalian lagi" ucap Lindu tersenyum ramah. Kemudian menatap Binu yang tersenyum penuh semangat.
"Kamu banyak berkembang Binu" ucap Lindu sambil menepuk bahu Binu. Lindu merasakan aura pendekar tingkat emas terpancar dari Binu.
"Dia banyak berubah setelah bertemu dengan mu Raja Pedang" Dewi Kematian menimpali.
"Ya... tuan muda Lindu adalah panutan ku sekarang. Semoga ada kesempatan kelak mengikuti tuan muda Lindu berkelana" Binu berucap penuh harap. Ia kemudian menatap Nirmala.
"Nona Nirmala, terimakasih atas kesempatan yang kau mintakan untuk ku pada tuan muda Lindu. Kesempatan ini aku mohon maaf atas tindakan ku dulu" Binu menundukkan kepalanya kepada Nirmala. Dari sikap dan ucapannya terasa tulus. Tidak ada lagi aura sombong dan dibuat-buat. Binu pemuda itu telah berubah, luar biasa. Sungguh luar biasa sikap yang diperlihatkan Binu. Seorang tuan muda dari klan Caniago yang besar bisa bersikap tulus dalam meminta maaf.
Lindu mengenalkan Seriti Merah, Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa kepada Dewi Kematian. Dengan cepat mereka menjadi akrab. Mereka sudah saling mengenal nama, meski baru kali ini bertemu orangnya.
Pintu balai lelang Menara Gading dibuka. Para tamu dan undangan mulai masuk satu persatu. Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Lindu dan rombongan. Pelayan melihat plakat undangan Lindu dan mengantarkan Lindu dan rombongannya ke ruang VIP nomor tiga.
Untuk mencapai ruangan itu, mereka melewati lorong yang cukup berliku. Setelah naik ke lantai dua, mereka berbelok ke kanan. Setelah melewati lorong cukup lebar dan panjang mereka berhenti didepan sebuah pintu lebar yang hanya ditutup dengan tirai tebal.
Lindu bersama rombongan memasuki ruangan besar dan mewah. Ada sebuah meja dari kayu Meranti tebal diukir pada bagian pinggir dan pangkal kaki meja. Ada lima kursi menghadap di belakang meja. Sudah ada cerek dan cangkir dari tembikar. Juga ada bumbung bambu berisikan air niro dan cangkir terbuat dari tempurung kelapa. Ada juga dua piring besar makanan kecil dan satu piring tembikar berisi aneka buah. Dari ruangan itu mereka bisa melihat jelas ke panggung lelang.
Dilantai satu ada bangku di susun melingkari panggung. Bangku bagian belakang lebih tinggi daripada bangku bagian depan. Bangku bangku itu sudah diduduki para tamu
Ruangan VIP berjejer dilantai dua. Semua ruangan VIP menghadap kepangung. Ada empat ruangan VIP istimewa dengan ukuran lebih besar dari ruangan VIP yang lain, yaitu VIP 1, 2, 3 dan VIP 4. Ruangan VIP yang lebih kecil berada di kiri kanan VIP istimewa, berjejer lima ruangan. Klan Caniago berada di ruangan VIP 11, diseberang ruangan Lindu.
__ADS_1
Acara dibuka dengan tarian Indang sebuah tarian selamat datang yang dipersembahkan untuk para undangan. Setelah tarian Indang, seorang pria naik ke panggung. Aura energi tingkat langit tinggi keluar merembes dari tubuhnya. Dia membungkukkan badan memberi hormat kepada para tamu.
"Selamat datang saudara saudari semua."
"Perkenalkan saya Marah Zainal. Saya membuka acara lelang ini. Ada 125 item barang yang akan kami lelang. Barang barang itu akan kami lelang dalam dua sesi."
Marah Zainal adalah seorang tetua di sekte Marunggai Ameh. Dia adalah seorang alkhemis tingkat enam. Tingkatan yang sangat tinggi, karena tingkatan dalam dunia alkhemis hanya sampai tingkat delapan. Namun demikian alkhemis tingkat enam adalah yang tertinggi, untuk saat ini di benua Emas.
Marah Zainal mengepalai unit alkhemis di sekte Marunggai Ameh.
Kedatangannya ke balai lelang Menara Gading terkait dengan bunga Wijaya Kusuma warna ungu. Dia harus memastikan keaslian bunga Wijaya Kusuma warna ungu. Sebagai seorang alkhemis tingkat enam, dia sangat mengerti dengan tanaman spirit yang sangat langka itu.
Marah Zainal datang ke balai lelang Menara Gading dua hari lalu. Kemaren sore Angku Tambusai memperlihatkan pil tanchi yang ditinggal Lindu utama dilelang. Sebagai raja alkhemis benua Emas tentu saja Marah Zainal kaget luar biasa. Dia merasa melihat pil buatan dewa. Melihat warna dan aroma pil tanchi itu, Marah Zainal terpesona. Sebagai raja alkhemis dia hanya mampu membuat pil tanchi dengan kemurnian 75%. Itupun tidak mudah membuatnya. Sehingga harga pil tanchi dengan kemurnian 75% itu sangat tinggi. Bisa mencapai limapuluh ribu koin emas.
"Baiklah, acara lelang segera kita mulai. Untuk itu kami panggil pemandu lelang nona Yu Lien."
Seorang wanita dengan kecantikan oriental naik keatas panggung sebagai pemandu lelang. Yu Lien adalah orang asli dari benua Tionggoan. Wajah cantik dengan kulit putih dan tubuh aduhai. Kebanyakan lelaki yang ikut acara lelang terpesona. Yu Lien dibawa dari balai lelang Menara Gading pusat di pasa Gadang. Perempuan sensual itu adalah pemimpin tertinggi seluruh balai lelang Menara Gading. Yu Lien seorang pendekar wanita yang sangat kuat. Wanita sensual itu sudah berada ditingkat langit puncak.
"Lelang sesi pertama ini kami mulai dengan sebuah pusaka tingkat langit." Seorang pria muda membawa kotak kayu hitam berukir. Menaruh kotak itu diatas meja kecil yang ada dekat Yu Lien.
"Pusaka ini adalah Kerambit Kumala." Semua yang hadir terkejut melihat senjata mungil itu ketika kotak kayu dibuka.
Tampak sebuah Kerambit dengan gagang dari batu Kumala berwarna hijau kebiruan. Warangka Kerambit itu terbuat dari kayu ulin bewarna hitam mengkilap. Ada ukuran kupu kupu hinggap di atas kembang teratai. Senjata mungil itu sangat indah.
Tapi bukan ukiran atau bentuknya yang membikin heboh. Senjata Kerambit Kumala itu sudah hampir seribu tahun menghilang, bersama pemiliknya. Semua orang di rimba persilatan tau bahwa senjata pusaka itu adalah milik Bidadari Rembulan Suci. Seorang wanita cantik jelita dan tidak pernah menjadi tua. Bidadari Rembulan Suci juga pendekar wanita sangat sakti yang hidup lebih dari seribu tahun lalu. Dia adalah orang yang menciptakan jurus Pukulan Tanpa Ujud dan jurus pedang Tarian Bidadari.
Senjata Bidadari Rembulan Suci ada dua, sebuah pedang yang tidak terlalu panjang. Pedang itu adalah pedang yang sekarang menjadi milik Lindu, yaitu Pedang Mustika Embun. Senjata khususnya namun sangat jarang digunakan adalah Kerambit Kumala yang sekarang dilelang.
"Anda tentu tau, senjata pusaka ini milik siapa, yaa... Kerambit Kumala ini adalah senjata Bidadari Rembulan Suci dulunya. Kami memulai harga lelangnya dengan harga seribu keping emas dengan kenaikan minimal seratus keping."
__ADS_1
"Seribu seratus" terdengar suara perempuan dari ruangan VIP 2 menawar.
"Seribu lima ratus" sebuah suara lembut merdu terdengar dari ruangan VIP 15. Hampir semua lelaki yang hadir melihat kearah ruangan VIP 15. Mereka punya satu keinginan yang sama, ingin tau siapa pemilik suara itu. Dari ruangan VIP 24 terdengar suara lain menawar.
"Seribu delapan ratus"
"Dua ribu" terdengar lagi penawaran dari ruangan VIP 7
"Dua ribu lima ratus" kembali terdengar suara lembut merdu dari ruangan VIP 15. Ruangan VIP 15 di tempati oleh sekte Tapak Dewa. Mereka telah sampai di Pariaman sekitar tiga hari. Karena acara di sekte Alang Barat masih satu minggu kelagi, mereka nginap dulu di kota Pariaman. Ketika mendengar ada lelang mereka menunda perjalanan dengan mengikuti lelang terlebih dahulu.
Wisesa menatap gurunya Datuak Batungkek Ameh. Pria berambut abu itu mengangguk. Wisesa minta izin pada Lindu kemudian menawar.
"Dua ribu tujuh ratus"
"Tiga ribu" terdengar lagi suara dari ruangan VIP 7. Ruangan VIP 7, ditempati oleh sekte menengah dari wilayah Duo kali sabaleh Anam lingkuang. Sekte Kerambit Sakti. Harga Kerambit Kumala terus melejit makin tinggi. Sebetulnya harga dua puluh lima ribu keping emas pantas saja untuk senjata pusaka itu.
"Lima belas ribu keping" kembali terdengar suara Inyiak Karambit Sati, Patriak sekte Kerambit Sakti.
Lindu menatap Wisesa. Pemuda itu sudah berhenti menawar ketika penawaran harga sudah mencapai sepuluh ribu keping. Wisesa menggeleng sebagai jawaban atas tatapan Lindu. Suasana mulai memanas. Rombongan Tapak Dewa sedikit bingung melihat Dhamma Mayang si Bidadari Suvarnabhumi begitu menginginkan Kerambit Kumala. Mereka semua tau Bidadari Suvarnabhumi tidak pernah menggunakan kerambit sebagai senjata. Bidadari Suvarnabhumi juga bigung dengan dirinya. Dia merasa ada kedekatan dengan Kerambit Kumala itu. Ia juga mendengar ada bisikan halus, bahwa dia harus memiliki Kerambit Kumala itu. Itu saja !
Inyiak Karambit Sati juga sangat menginginkan Kerambit Kumala. Dia punya keyakinan, dengan mendapatkan Kerambit Kumala, sektenya akan berkembang menjadi sebuah sekte besar. Inyiak Karambit Sati ketika mendengar penawaran yang sangat tinggi dari ruangan VIP 15.
"Dua puluh lima ribu keping emas" Bidadari Suvarnabhumi kembali memberikan penawaran yang sangat tinggi. Aula lelang menjadi sepi mendengar penawaran tersebut. Tiba-tiba terdengar suara batuk dari ruangan VIP 7.
Ternyata Inyiak Karambit Sati mengirimkan serangan energi mendalam tingkat langit menengah ke ruang VIP 15. Namun serangan diam-diam itu dikembalikan. Akibatnya Inyiak Karambit Sati batuk darah. Lelaki usia lima puluh itu tidak mampu menerima pengembalian itu. Mukanya jadi pucat.
Lelang untuk Kerambit Kumala dimenangkan oleh ruangan VIP 15. Bidadari Suvarnabhumi menerima Kerambit Kumala yang diantar seorang pelayan dan membayarnya.
Inyiak Karambit Sati bersama rombongan meninggalkan ruangan VIP 7 yang dia tempati. Namun dia mengirim dua tetua sekte menuju ruangan VIP-2 yang ditempati oleh sekte Iblis Tambun Tulang, dan ruangan VIP-13 yang ditempati sekte Selaksa Racun.
__ADS_1
\=\=\=\=***\=\=\=\=