
Menjelang tengah hari, terasa sangat panas. Sang surya seakan berkacak pinggang menatap bumi dengan sinar teriknya. Sebuah kereta ditarik dua ekor kuda berhenti untuk ikut antrian. Ada puluhan orang dan rombongan yang telah antri terlebih dulu. Nuri duduk disebelah Malin yang menjadi sais kereta. Gadis cantik berambut pendek itu menarik nafas dalam.
"Akhirnya kita sampai juga di kota Rura Silindung" gadis itu berkata dengan suara lirih. Malin menganggukan kepala.
Empat hari lalu mereka meninggalkan perkampungan klan Manusia Harimau. Tepatnya sehari setelah jasad Nirmala dikubur. Setelah proses penguburan Nirmala selesai. Lindu tetap duduk disamping pusara. Tidak pernah dibayangkan gadis cantik yang selalu ceria itu, terlalu pendek umurnya.
"Aku akan menghancurkan seluruh markas Tengkorak Merah, untuk membalaskan dendam mu Lala. Termasuk markas utama mereka di Tionggoan.
Maafkan aku yang telah lalai dalam menjaga dan melindungi mu." Satu hari satu malam telah berlalu. Dhamma Mayang mendatangi Lindu yang masih diam tertunduk dipusara Nirmala.
"Uda... rasanya Nirmala lebih sedih melihat uda Lindu seperti ini. Ayo kita berangkat menuju Tano Niha, kita ratakan dan musnahkan semua anggota dan markas Tengkorak Merah.
Lindu menatap Dhamma Mayang. Wanita cantik jelita itu tampak kuyu dan lelah. Namun ada api kemarahan yang besar dan kuat dibalik luka dibola matanya.
"Maafkan Uda Yayang, karena telah lalai dan tidak menjaga mu beberapa hari ini."
"Jangan difikirkan Uda. Aku akan menemani sampai kedunia lain sekalipun, jika disana ada markas Tengkorak Merah. Pasti kita datangi untuk kita hancurkan, untuk membalaskan apa yang telah dilakukan kelompok itu kepada Nirmala."
Antrian terus bergerak maju. Masih ada lima rombongan lagi sebelum giliran kereta Malin. Tiba-tiba terjadi suara ribut-ribut dari arah belakang langsung bergeser maju ke depan. Tujuh orang dengan seragam sekte Tengkorak Merah maju melewati semua antrian. Banyak yang tidak senang, tapi tidak ada yang berani menentang. Para pengawal penjaga gerbang juga hanya diam saja. Apalagi kelompok dipimpin oleh seorang yang berada ditingkat suci awal.
"Hmm... apakah makhluk hina dari gerombolan Tengkorak Merah merasa begitu hebat ?" Tiba-tiba terdengar suara pelan namun sangat jelas ketika kelompok Tengkorak Merah sampai dekat kereta yang dibawa Malin.
"Tuan yang didalam kereta silahkan keluar. Apakah kau akan terus bersembunyi di balik punggung seorang wanita ?" Pimpinan kelompok Tengkorak Merah berkata dengan nada suara menghina. Tiba-tiba sebuah bayangan muncul didepan kelompok Tengkorak Merah. Perlahan bayangan itu menebal dan seorang pemuda tampan berdiri didepan tujuh orang sekte Tengkorak Merah.
__ADS_1
"Hemm... kau yang merasa sangat hebat. Sebutkan siapa namamu ?" Raja Pedang berkata dengan suara yang dingin. Pria yang menjadi pemimpin kelompok itu tersenyum jumawa. Dia memantau kekuatan pemuda tampan di depannya berada dilangit puncak, setengah langkah dari tingkat suci awal. Lindu dengan sengaja telah menekan auranya jauh kebawah kekuatan dia yang sebenarnya di tingkat agung menengah puncak.
"Ketahuilah anak muda tampan yang telah meminta kematian menemui mu. Tuan besar didepen mu ini adalah Hantu Pengutil Jiwa Bonang pembunuh khusus dari Tengkorak Merah." Raja Pedang tersenyum ringan.
Hantu Pengutil Jiwa menyerang Raja Pedang dengan aura kematian. Esensi energi mendalam tingkat suci menengah terpancar sangat kuat.
Namun Raja Pedang diam dan tampak biasa saja. Lalu Raja Pedang melepas aura energi tingkat agung. Hantu Pengutil Jiwa dan semua anggota Tengkorak Merah yang ikut bersamanya langsung jatuh berlutut. Dua dari mereka muntah darah dan tewas karena tidak mampu menahan aura energi yang dilepaskan Raja Pedang.
Raja Pedang menunjuk Hantu Pengutil Jiwa dan...
Pukulan tanpa ujud...!!
Lindu berseru dalam hati. Semua melihat Raja Pedang menunjuk Hantu Pengutil Jiwa dan tidak ada melihat ataupun merasakan hal lainnya.
Kraakkk...!! Aaaaaaahhh...!!
Dalam jeritan panjang menyayat itu, mata Hantu Pengutil Jiwa terbelalak tidak percaya. Kematian datang begitu saja. Dia masih bisa menatap Lindu sebelum semua menjadi gelap.
Tidak mau membuang waktu, Raja Pedang menyerang sisa anggota Tengkorak Merah. Mereka semua berobat menjadi kabut darah tanpa sempat mengeluarkan suara.
Berbeda dengan semua orang yang menggigil ketakutan melihat Raja Pedang. Malin dan Nuri hanya diam melihat kejadian itu.
Mereka berdua sangat paham apa dan bagaimana suasana hati Lindu saat ini.
__ADS_1
Semua orang langsung membuka jalan, mendahulukan kereta mereka memasuki kota Rura Silindung. Pengawal penjaga gerbang menjura dalam memberi hormat kepada kereta yang ditumpangi Lindu ketika lewat.
"Saudara pengawal, tolong tunjukan kami jalan tercepat menuju pasenggrahan klan Mangaraja." Malin bertanya setelah menghentikan kereta sejenak begitu melewati gerbang.
"Tuan pendekar, anda lurus saja dari sini. Setelah bertemu pohon beringin besar anda belok kanan. Setelah tiga ratus meter, ada kolam teratai. Disitulah pasenggrahan klan Mangaraja."
"Terimakasih saudara ku." Ucap Malin lalu menarik tali kekang kuda. Kereta segera melaju menuju klan Mangaraja.
"Sabarlah Shima, mestinya hari ini Lindu akan sampai disini." Mangaraja Tohir menenangkan Ratu Shima istrinya.
Ratu Shima adalah penguasa negeri Bunian. Istananya berada di Bukit Gunung Ledang. Dia kaget, risau dan kalut melihat batu Kemala milik Nirmala yang selalu ada dikamar nya pecah. Pecahnya batu Kemala itu menandakan bahwa Nirmala putrinya sudah tewas. Istana bunian langsung diselimuti suasana duka.
Dua hari kemudian, Ratu Shima menemui suaminya Mangaraja Tohir. Patriak klan Mangaraja itu tentu saja sangat terkejut menerima kedatangan istrinya.
"Ada apa Shima, kenapa kau tiba-tiba datang dengan wajah lara begini ??" Mangaraja Tohir bertanya sambil memeluk lembut istrinya.
Tangis penguasa negeri Bunian, Ratu Shima meledak. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
"Nirmala putri kita. Nirmala sudah tidak ada." Berita itu bagai ledakan gempa yang mengguncang jiwa Mangaraja Tohir.
"Apa maksudmu Shima ? Bukankah Nirmala akan datang bersama Lindu dan Mayang untuk bertemu kita di kota Rura Silindung. Tepatnya di Pasenggrahan Teratai. Kita sebaiknya berangkat kesana hari ini."
Kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda perlahan berhenti di depan sebuah bangunan besar. Perlahan Lindu turun dari kereta diikuti oleh Dhamma Mayang. Mangaraja Tohir dan Ratus Shima berdiri di beranda rumah besar, menunggu sosok Nirmala keluar dari kereta. Setelah menunggu cukup lama, namun Nirmala tidak kunjung turun dari kereta. Ratu Shima mulai menangis.
__ADS_1
"Bunda..." suara Lindu dan Mayang tercekat di tenggorokan. Mayang berlari dan memeluk Ratu Shima. Kedua wanita cantik itu menangis bersama. Tangis Mayang terdengar lebih keras. Tangis yang selama ini dia tahan-tahan akhirnya lepas, buncah.
\=\=\=\=\=***