Raja Pedang

Raja Pedang
#7. Seriti Merah (2)


__ADS_3

Lindu melihat kearah Nirmala sekilas. Gadis remaja itu tersenyum dan sebuah lesung pipit di pipi kanannya. Kulitnya halus lembut bewarna kuning langsat. Hidung mancung dengan bibir bagai asam seulas. Cantik sekali.


Nirmala menatap Lindu dengan mata bintang nya.


"Salam kenal uda Lindu..."


"Sama sama Nirmala"


Lindu membalas salam Nirmala sambil mengulas sebuah senyuman ringan dan kembali menatap Seriti Merah.


"Ayo pendekar muda, kita duduk dulu. Ga masalahkan Tinju Gledek ?" Seriti Merah langsung duduk disamping Lindu. Limbubu si Tinju Gledek hanya tersenyum lebar dan ikut duduk. Nirmala juga duduk diseberang Seriti Merah.


"Apa rencana mu selanjutnya Lindu ?" Seriti Merah menatap Lindu.


"Besok aku meninggalkan Koto Panjang menuju pesisir Pariaman."


"Ada sesuatu yang mau kamu cari atau datangi di Pariaman ?"


"Aku mau berkunjung ke sekte Alang Barat." Lindu tidak menjelaskan lebih banyak meski Seriti Merah dan Tinju Gledek bertanya lebih banyak.


Lindu tidak mau menceritakan untuk apa dia ke Pariaman. Karena itu adalah urusan yang sangat pribadinya. Lindu sebetulnya ingin mencari jejak keluarganya. Dewa Tanpa Bayangan gurunya telah menjelaskan siapa Lindu seminggu sebelum turun gunung.


---***


Sore itu hujan gerimis turun di talago Dewi. Dewa Tanpa Bayangan duduk di langkan rumahnya. Menikmati segelas kopi pahit dan keladi rebus. Meski hampir sepuluh tahun berlalu sejak dia menyelamatkan Lindu. Dewa Tanpa Bayangan malah kelihatan lebih muda. Kalau dulu terlihat setengah baya, saat ini malah seperti berusia tiga puluh. Itu terjadi karena tingkat kultivasinya telah menembus tingkat dewa puncak.


Saat seorang pendekar tahap kultivasinya suci. Pendekar itu naik tingkatan menjadi kultivator. Mereka mulai tidak dipengaruhi usia. Mereka bisa hidup sampai 1000 tahun lebih. Semakin tinggi tingkat kultivasinya, semakin muda kondisi mereka. Mereka akan bertahan dengan manusia berusia 25 tahun. Meski mereka baru bisa memasuki tingkatan kultivator pada usia 80 tahun. Itulah makanya para pendekar berlomba memacu diri mereka untuk bisa masuk ke tingkatan kultivator zhenqi.


Lindu duduk dihadapan gurunya.


Gerimis masih terlihat turun membasahi persada, saat Dewa Tanpa Bayangan bertutur tentang jati diri Lindu.


"Guru sudah mendapatkan petunjuk tetang keluarga mu Lindu." Dewa Tanpa Bayangan mulai membuka identitas Lindu. Lindu diam, mendengarkan gurunya.

__ADS_1


"Walau abak (orang tua laki) dan mendeh (orang tua perempuan) dibegal dan terbunuh oleh Kalo Mantiko bersama anggota sekte Iblis Tambun Tulang, kakek mu masih ada."


"Kakekmu bernama Tuanku Nan Sati si Alang Bankeh. Pendekar hebat yang juga patriak sekte besar Alang Barat.". Lindu menatap gurunya. Nafasnya menjadi agak cepat. Muncul genangan air dimatanya. Tiba tiba Lindu ingat dengan ungku (kakek) nya. Seorang lelaki sudah agak tua, berkharisma yang amat menyanginya.


" Nanti ketika kamu sudah turun gunung. Pergilah ke kota pesisir Pariaman. Teruslah ke Sunua, disitulah sekte Alang Barat berada. Temuilah kakek mu disana."


"Yang guru tau, Alang Bangkeh tidak pernah berhenti mencari mu. Dia pasti sangat bahagia bertemu kamu." Dewa Tanpa Bayangan mengakhiri penjelasannya. Lindu mengepal tangannya kuat kuat. Ia bertikat segera menemui kakeknya begitu turun gunung.


---***


Sekte Angso Duo bermarkas di pulau Angso Duo yang berada di lepas pantai Pariaman. Pulau Angso duo dikelilingi oleh terumbu karang selebar tiga kilo meter. Sangat sulit mendatangi pulau Angso Duo. Tidak ada yang bisa mendekati pulau Angso Duo. Hanya ada satu jalur yang bisa dilewati untuk masuk dan keluar pulau Angso Duo. Kondisi alam Angso Duo telah beratus ratus tahun melindungi sekte Angso Duo dari serangan musuh musuhnya.


Untuk mencapai sekte Angso Duo dari pantai Sunua butuh waktu dua hari jika cuca di laut bagus. Biasanya anggota sekte Angso Duo lebih sering melewati pelabuhan Pariaman.


Patriak sekte Angso Duo bernama Dewi Bulan, seorang kultivator ditingkat langit tinggi. Dewi Bulan berteman baik dengan Tuanku Nan Sati, kakek Lindu.


Sekte Alang Barat dan sekte Angso Duo sepakat bekerja sama dan saling bantu sejak masa patriak mereka sebelum patriak yang sekarang. Setiap tiga tahun sekali sekte Angso Duo dan sekte Alang Barat selalu mengadakan pertandingan persahabatan dan ditutup dengan latihan bersama seminggu.


"Lindu..." Lindu tersentak dari renungan ketika mendegar suara Seriti Merah memanggil namanya.


"Jika kau tetap pergi dan meninggalkan kota ini besok. Mungkin kota indah ini akan porak poranda, ketika mereka datang."


Limbubu si Tinju Gledek kaget. Pria setengah banyak itu menatap Lindu dengan penuh tanya. Tinju Gledek hanya merasakan kultivasi ditingkat raja awal dari Lindu.


"Kematian Arit Setan tidak akan di diamkan oleh sekte Iblis Tambun Tulang," Seriti Merah menambahkan. Ia menatap Lindu dengan senyuman kecil dibibirnya. Tinju Gledek makin kaget mendengar omongan Seriti Merah.


"Apakah kau yang membunuh Arit Setan dengan tiga orang anggota sekte Iblis Tambun Tulang, dua hari lalu ?" Tinju Gledek bertanya setengah tidak percaya.


"Apa bocah ini menekan tingkat kultivasinya ? Aku harus menjalin hubungan baik dengan bocah ini" bisiknya dalam hati.


Lindu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Tinju Gledek.


"Baiklah, aku akan menunda perjalanan ku untuk dua hari lagi.". Lindu menyetujui pendapat Seriti Merah. Lindu akan dibebani rasa bersalah jika anggota sekte Iblis Tambun Tulang membuat masalah ketika dia pergi.

__ADS_1


"Seriti Merah dan Nirmala mau kemana setelah dari kota ini ?" Lindu menanyakan tujuan Seriti Merah dan Nirmala.


"Kami akan menunggu uda Lindu menghadapi sekte Iblis Tambun Tulang. Setelah itu kami akan menuju sekte Alang Barat di Sunua". Nirmala yang memberi jawaban kepada Lindu.


" Ada apa di sekte Alang Barat ?" hati Lindu berdenyut ketika mendengar nama sekte Alang Barat. Ia juga mau ke sekte Alang Barat, meski hanya bilang mau ke kota pesisir Pariaman. Seriti Merah melihat sekilas perobahan diwajah Lindu.


"Kurang lebih satu purnama dari sekarang, ada kegiatan bersama sekte Angso Duo dengan sekte Alang Barat." Seriti Merah menjelaskan pada Lindu. Ia kemudian menambahkan, "Nirmala akan ikut pertandingan antar murid berbakat."


Lindu melihat kearah Nirmala, dan Nirmala manganggukan kepala membenarkan. Gadis remaja sepuluh sebelas tahun dengan kultivasi tingkat emas, pastilah seorang jenius, pikir Lindu.


"Apakah aku boleh ikut menonton acara itu ?". Lindu berfikir akan lebih mudah ke tujuannya jika bisa pergi bareng Seriti Merah dan Nirmala. Yang pasti dia tidak perlu bertanya tanya arah ke sekte Alang Barat. Selain itu, dia akan bisa mendapatkan banyak informasi tentang sekte Alang Barat dan tentu saja informasi tentang kakeknya Tuanku Nan Sati.


" Boleh lah uda Lindu. Malah bagus ada teman seperjalanan, betulkan guru ?". Nirmala melihat ke gurunya Seriti Merah dengan wajah penuh harap. Seriti Merah tersenyum setuju dengan muridnya.


"Oh iya, kalian nginap dimana ?" Lindu kembali bertanya.


"Air Badarun" jawab Nirmala.


"Ini sudah sore, aku akan kembali duluan. Kebetulan aku juga nginap disana" kata Lindu sekalian pamit.


"Wah kalau gitu bareng aja. Ayo guru..." Nirmala mengajak gurunya ikut balik.


"Tunggu... Ini untuk mu Lindu" Limbubu memberikan sebuah token dari emas ke Lindu.


"Perlihatkan token ini disetiap toko Menara Gading, mereka akan melayani dengan baik. Selain itu, kamu akan mendapatkan potongan harga sebesar 20% untuk setiap pembelian mu."


Seriti Merah tersenyum kecil melihat itu. Ia tau, Tinju Gledek lagi berusaha sedikit menjilat Lindu, untuk bisa membangun hubungan jangka panjang tentunya.


Lindu menerima token emas itu dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu menyimpan token emas di cincin semesta miliknya.


Sesaat kemudian, Lindu, Seriti Merah dan Nirmala meninggalkan Menara Gading, menuju penginapan.


Angin semilir bertiup sore itu, terasa sangat dingin. Mereka melangkah dengan santai sambil ngobrol ringan.

__ADS_1


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2