
Traaanggg...!!
Trezjd....!!
Benturan keras terjadi antara Pedang Penakluk Iblis dengan pedang pusaka milik Datuk Hitam Parigi. Pedang Penakluk Iblis memotong langsung pedang pusaka lawan. Datuk Hitam Parigi terkejut melihat pedang pusaka miliknya dibabat putus oleh pedang Lindu.
Matanya terbelalak tidak percaya dengan penglihatan sendiri. Bagaimana mungkin pedang pusaka tingkat langit miliknya dibabat putus dalam satu kali benturan ? Datuk Hitam Parigi menatap pedang milik Lindu dengan tatapan serakah.
Pasti pedang pusaka tingkat nirwana atau mungkin legenda, pikir Datuk Hitam Parigi. Tapi bagaimana mungkin pemuda ini bisa memilikinya.
Pedang Setan milikku adalah pusaka tingkat langit. Pedang pusaka inipun sangat sulit menemukannya. Mestinya hanya pusaka tingkat legenda yang mampu memotongnya. Kalau pedang itu benar benar pusaka tingkat legenda... Timbul keinginan besar dihati Datuk Hitam Parigi untuk bisa memiliki pedang yang ada ditangan Lindu.
"Anak muda, pedang apa yang ada ditangan mu ?" Datuk Hitam Parigi tak mampu menahan rasa ingin tahunya. Lindu melirik pedang ditangan kanannya.
"Ini adalah Pedang Penakluk Iblis. Pedang ini sangat cocok untuk mu, untuk membasmi kau dan kelompok mu tentunya." Lindu berkata datar.
"Apa...!! Bukankah Pedang Penakluk Iblis hanya sebuah legenda ?? Pedang yang katanya akan membawa pemiliknya kepuncak dunia. Pantas aura yang dipancarkan pedang itu sangat menakutkan." pikir penguasa Rawa Hitam itu.
Datuk Hitam Parigi tidak menggubris perkataan Lindu. Pikirnya terfokus pada keinginan untuk menguasai pedang ditangan Lindu.
Dengan pedang milik pemuda itu, mestinya tidak akan ada lagi yang bisa melawanku.
"Anak muda, serahkan pedang itu dan anggap semua ini tidak pernah terjadi. Pergilah dengan damai bersama semua anggota rombongan mu. Aku akan melupakan semua yang sudah terjadi." Datuk Hitam Parigi mencoba untuk tawar menawar dengan Lindu.
"Apa kau berfikir pasti akan bisa mengalahkan kami ?" Lindu balik bertanya dengan suara datar dan senyuman ringan unik terukir diwajahnya.
Datuk Hitam Parigi menatap tajam kepada Lindu.
"Kau lupa berada dimana anak muda. Saat ini kau berada di markas Rawa Hitam. Disini ada tiga ribu pasukan elit yang berada ditingkat emas dan raja. Apakah kau berfikir mampu menghadapi kami ?"
Senyum ringan unik dan khas Lindu makin lebar. Matanya menatap dingin kepada Datuk Hitam Parigi.
"Mungkin sebentar lagi ada yang datang mengabarkan bahwa pasukan elit Rawa Hitam sudah musnah."
Baru saja Lindu selesai bicara, Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala bersama Lantera, Tari, Kubai dan Ubai muncul. Lentera, Tari bersama Kubai dan Ubai langsung masuk dalam pertarungan Andini, Antaroa dan Bayu.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tersenyum manis dan berdiri disamping Lindu.
"Tuntas Uda, bangunan yang ada juga sudah kami ratakan" Dhamma Mayang melaporkan kondisi barak kepada Lindu.
"Yaa... semua harta disana juga sudah kami jarah." Nirmala juga melaporkan pada Lindu.
Sikap kedua gadis cantik itu begitu senang dan tidak peduli dengan suasana sekitar mereka. Datuk Hitam Parigi benar-benar naik pitam. Mukanya menjadi merah kehitaman saking besarnya amarah membakar dada dan kepalanya.
"Kalian semua harus mati...!!" Datuk Hitam Parigi berkata dengan suara keras dan penuh tekanan.
__ADS_1
Penguasa Rawa Hitam itu mengempos esensi energi mendalam dan zhenqi pendekar tingkat agung tinggi. Aura berat yang sangat kuat menekan kearah Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Lindu dengan cepat melepaskan auranya, agar Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tidak terlalu menderita.
"Lala, Yayang, kalian berdua mundulah. Bantu panglima Andini." Nirmala dan Dhamma Mayang segera mengikuti perintah Lindu.
Lindu masih merasa sedikit tertekan oleh aura Datuk Hitam Parigi. Namun kualitas tubuhnya yang sudah mencapai kualitas tubuh naga secara perlahan menolak aura dari Datuk Hitam Parigi. Senyum ringan unik semakin kentara di wajah Lindu. Dia mempersiapkan jurus
Menyambut iblis mengantar nyawa
dari ilmu Pedang Penghancur Semesta yang sangat hebat.
Datuk Hitam Parigi melenting dengan kecepatan sangat tinggi menerjang Lindu. Pedang buntungnya bergerak melakukan serangkaian tebasan.
Sementara itu, Ratu Shima dan Larasati menyerang Matiko yang sudah terluka cukup parah.
"Apakah kalian beraninya hanya main keroyokan ? Dimana kegagahan kalian ??"
Mangkuto sengaja berucap menyinggung rasa harga diri Ratu Sijundai. Ratu Sijundai tersenyum mengejek.
"Membunuh iblis tidak perlu aturan segala. Matilah...!" ucapnya. Serangkaian serangan sangat kuat dilepas Ratu Sijundai dan Larasati menuju tujuh bagian tubuh Mangkuto yang mematikan.
Mangkuto menggunakan segala kemampuan untuk menghindar dan menangkis semua semua serangan yang datang.
Trangg....!! Tringg....!!
Dess....! Tagh...!
Namun tendangan menuju ulu hatinya tidak berhasil dihindari dengan baik. Tendangan melingkar yang dilepas Larasati itu mengenai pinggangnya. Mangkuto terseret mundur tiga langkah.
Panglima Rawa Hitam cepat menata kembali posisinya. Sangat cepat dia bergerak menyerang pelipis kanan dan jantung Larasati. Tak mungkin menghindar, Larasati menyambut kedatangan serangan itu pukulan Maguntur ledakan besar terjadi ketika dua tenaga besar berbenturan. Mangkuto dan Larasati terlempar sambil memuntahkan darah segar.
Pada saat benturan terjadi, Ratu Sijundai menyerang Mangkuto dengan dua ayunan melintang menuju leher dan lambung. Masih disusul satu tusukan mematikan menuju jantung. Panglima Mangkuto melihat serangan mematikan dari Ratu Sijundai berusaha memperbaiki posisinya. Dia memutar tubuhnya yang sedang malayang agar dapat menghindar. Namun...
Crassz...!!
Dua serangan berhasil dia hindari, namun tebasan kearah lambungnya tidak bisa lolos. Robek lebar dan dalam terbentuk. Darah mengalir deras, dan Mangkuto jatuh bertumpu pada lututnya. Saat itu Larasati datang dengan tusukan kearah jantung. Mangkuto membuat gerakan tangkisan keluar. Namun kembali satu tebasan menyobek lehernya.
Crezz...!! Walaupun darah mengalir mengalir deras.
Namun tebasan itu tidaklah mengenai aorta, tentu saja
Mangkuto masih tetap hidup. Serangan dari Larasati menyusul dengan beberapa tusukan. Satu tusukan berhasil menembus jantung pria melambai itu. Mangkuto tidak langsung mati. Lelaki melambai itu menangkap tangan Larasati yang masih menggenggam pedang yang menembus jantung Mangkuto. Matanya menatap Larasati dengan dalam dan saat itu pula tebasan pedang Ratu Sijundai memisahkan kepala Mangkuto dari tubuhnya. Darah memuncrat membasahi dada tubuh depan Larasati.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala berdiri didepan Andini menatap Mambang dengan tatapan merendahkan.
"Hei baruak celek..." Nirmala memanggil Mambang dengan cara yang sangat menyakiti perasaan Mambang.
__ADS_1
"Ternyata umurmu tidak cukup panjang. Tidak tau kalau bibi Andini masih berkenan membiarkan kau untuk hidup lebih lama." terdengar suara ironis dari Nirmala.
"Mari kita bersihkan Rawa Hitam ini dari nyawa manusia busuk ini" suara Andini terdengar dingin.
"Namun jangan terlalu cepat." terdengar lagi suara dingin menusuk jantung dari Andini.
"Apakah kalian tidak malu menyerang orang yang sudah terluka bersama sama ? Apa kalian tidak akan malu nama kalian akan dipandang rendah di rimba hijau dunia persilatan ?" suara Mambang terdengar merendahkan.
"He hee heee... Kalian dari golongan hitam memang banyak omong ketika kematian sudah didepan mata. Baiklah kami tidak akan menyerang bersamaan, tapi... bersusulan." jawab Nirmala dengan suara miring.
Seriti menyambar mangsa
Nirmala melayang cepat menyabet kepala dan leher Mambang.
Bidadari memetik kembang
Bidadari Suvarnabhumi menyusul dengan serangkaian serangan kuat.
Lelembut merenggut nyawa
Andini menyusul dengan serangan yang tidak kalah kuat.
Pertarungan itu benar-benar tidak mungkin lagi lagi diatasi Mambang. Murid kesayangan Datuk Hitam Parigi akhirnya menjemput kematian dengan hati penuh sesal dan kesal.
Trangg...!!
Trazz...! Trezjd...!
Benturan keras kembali terjadi ketika pedang pusaka Datuk Hitam Parigi bertemu dengan Pedang Penakluk Iblis.
Pedang pusaka langit milik Datuk Hitam Parigi putus menjadi tiga bagian. Dan Pedang Penakluk Iblis masih terus melintas meninggalkan luka melintang cukup dalam di dada Datuk Hitam Parigi.
Slash... Crezz...!!
Lindu tiba-tiba menghilang dan angin tajam melintas terasa dingin dibelakang Datuk Hitam Parigi.
Craasszzz...!!
Luka panjang merobek punggung Datuk Hitam Parigi dari pundak kiri kepinggang kanan. Meski tubuh Datuk Hitam Parigi sudah penuh berlumuran darah. Pedang Penakluk Iblis tetap bergerak sangat cepat seakan hidup. Pedang hitam dengan guratan emas itu melintasi leher dan pinggang Datuk Hitam Parigi.
Datuk Hitam Parigi menatap Lindu, perlahan penglihatan penguasa Rawa Hitam itu menjadi gelap. Pelan-pelan kepalanya lepas, jatuh diikuti tubuhnya. Penguasa Rawa Hitam itu mati ditangan Raja Pedang.
Lindu, Nirmala dan Dhamma Mayang menguras semua kekayaan yang ada di gudang harta dan cincin ruang milik petinggi Rawa Hitam. Mereka mengumpulkan jutaan keping emas dan ratusan ribu batu kristal spiritual tingkat menengah dan tinggi. Mereka juga menemukan berbagai senjata pusaka dan kitab ilmu ilmu tingkat langit dan nirwana.
Bidadari Suvarnabhumi adalah orang yang merasa paling senang karena menemukan sebuah kitab kuno yang tipis. Kitab yang sangat didambakan gadis cantik itu. Ia bersorak ketika membaca judul dikitab kuno itu
__ADS_1
Sembilan jurus Kerambit Kumala
\=\=\=***