
Hari baru terang tanah. Lindu menyesap segelas kopi pahit. Nirmala duduk disebelah pemuda tampan itu dengan segelas teh manis hangat. Mereka berdua baru saja mau sarapan. Lindu dan Nirmala menjadi sangat dekat. Gadis cantik itu memesan lontong gulai jangek, sala lauak dan lopis untuk sarapan mereka.
Dua remaja tampan dan cantik itu sarapan dengan lahap. Sesekali terdengar suara tawa mereka. Membuat beberapa pengunjung restoran One melihat kearah mereka.
Rombongan Tapak Dewa ketika masih terang tanah sudah meninggalkan istana penguasa kota Pariaman. Rombongan itu bertambah jumlahnya menjadi sepuluh orang.
Malin Tanjung sejak semalam berhasil merayu Halimun untuk membawanya serta. Bukan hanya ke sekte Alang Barat, tapi juga ke sekte Tapak Dewa. Tidak tau bagaimana cara dia merayu Halimun, sehingga tetua termuda sekte Tapak Dewa mau menerima Malin Tanjung jadi murid pribadinya.
"Waaah... kalian sudah duluan sarapan ya ?"
Terdengar suara Wisesa yang melangkah kearah mereka bersama Seriti Merah dan Datuak Batungkek Ameh.
"Ayo Wisesa, mau sarapan apa ?" Nirmala menawarkan sarapan ke Wisesa.
Selesai sarapan mereka berangkat menuju sekte Alang Barat. Ada sedikit perasaan harap-harap cemas dalam diri Lindu. Namun perasaan itu tidak terlihat diwajahnya. Pemuda itu melangkah ringan di samping Nirmala. Menjelang siang mereka sampai dekat sungai rawa banyak pohon rumbia. Batang pohon rumbia diolah menjadi sagu. Mereka melenting dari pohon ke pohon untuk melewati rawa yang tidak terlalu luas.
Setelah melewati rawa itu, mereka disambut oleh hutan pinus. Semilir angin lembut menyapa mereka. Suara deburan ombak sayup-sayup sampai ke pendengaran mereka. Seriti Merah berjalan bersama Datuak Batungkek Ameh, berada diposisi paling depan.
"Tunggu, aku seperti mendengar denting benturan senjata. Sepertinya ada yang sedang bertarung." Lindu menghentikan langkah. Dia menatap Datuak Batungkek Ameh dan Seriti Merah. Sesaat kemudian mereka melesat kearah sumber suara.
Tidak lama mereka sampai ke pinggir hutan pinus yang dekat pantai. Mereka melihat pertempuran sengit sedang terjadi disana. Sepuluh orang sedang bertarung menghadapi sekitar tiga puluh orang lawan. Sepuluh orang yang dikeroyok itu terdiri atas tiga orang wanita dan tujuh orang pria.
Ketujuh pria itu memakai seragam dengan bordiran telapak tangan dibagian punggung. Sedangkan ketiga wanita juga memakai seragam putih dengan model berbeda. Lambang tapak tangan kecil tersulam di dada kiri sebelah atas. Mereka adalah rombongan sekte Tapak Dewa.
Mereka dihadang dan mau dihabisi oleh Inyiak Karambit Sati bersama kroni kroninya.
Lindu langsung memahami jika ke kelompok berseragam putih sudah terdesak. Seorang gadis yang sangat cantik jelita berhadapan dengan Inyiak Karambit Sati. Meski gadis itu dibantu temannya, mereka sudah mengalami banyak luka di sekujur tubuh. Gadis cantik jelita itu adalah Dhamma Mayang si Bidadari Suvarnabhumi dan temannya Nuri.
Dewi Rambut Emas berhadapan dengan Iblis Cantik Tambun Tulang dan beberapa anggota sekte Iblis Tambun Tulang dan anggota Tengkorak Merah. Kondisi Dewi Rambut Emas tidak jauh berbeda dengan Bidadari Suvarnabhumi. Pakaian Dewi Rambut Emas sudah berobah warna jadi merah oleh darahnya.
Kondisi Pendekar Kabut Maut lebih buruk lagi. Tetua termuda sekte Tapak Dewa itu harus menghadapi Ular Hitam, Biso Pati dan Kelabang Iblis. Jika hanya menghadapi Kelabang Iblis, Pendekar Kabut Maut yakin pasti bisa menang. Namun menghadapi tiga lawan yang kemampuan beda-beda tipis, Pendekar Kabut Maut benar-benar terdesak hebat.
Walaupun beberapa anggota gerombolan penghadang sudah ada yang tergeletak jadi mayat. Namun semua murid sekte Tapak Dewa tidak ada yang tidak terluka.
Datuak Batungkek Ameh langsung melesat membantu Pendekar Kabut Maut. Begitu juga dengan Seriti Merah, dia langsung menerjang Iblis Cantik Tambun Tulang yang tengah menyerang Dewi Rambut Emas yang sudah sangat terdesak.
Lindu minta Nirmala dan Wisesa membantu murid murid sekte Tapak Dewa. Kondisi pertarungan perlahan mulai berimbang.
Inyiak Karambit Sati melakukan serangkaian serangan kuat dengan kerambit nya kearah leher dan perut Nuri. Gadis itu menarik lehernya dan manangkis kerambit yang menuju perut dengan mengayunkan pedangnya.
Tring...!!
Crassz...!!
__ADS_1
Bugh....!!
ACH...!!!
Gadis manis berambut model pendek terlempar cukup jauh. Meski berhasil menahan kerambit yang menuju perut, kerambit yang menuju leher tidak sempurna dihindari. Sebuah luka baru terjadi pada pundak didekat leher. Satu tendangan memutar Inyiak Karambit Sati bersarang telak diperut Nuri.
Nuri terlempar dan muntah darah cukup banyak. Gadis itu jatuh pingsan. Mengira Nuri tewas, Bidadari Suvarnabhumi menjerit keras.
Srigunting menyambar mangsa
Bidadari Suvarnabhumi menerjang Inyiak Karambit Sati. Serangan yang seharusnya bergerak sangat cepat dan kuat tampak agak melambat karena jumlah energi mendalam Bidadari Suvarnabhumi sudah terkuras banyak.
Inyiak Karambit Sati dengan mudah menghalau serangan yang seharusnya sangat mematikan.
"Saatnya bagimu untuk mati !" Serangan balik yang dilakukan Inyiak Karambit Sati datang dengan sangat cepat. Tidak memungkinkan lagi bagi Bidadari Suvarnabhumi menangkis maupun menghindar. Bidadari Suvarnabhumi mencoba membuat pertahanan dengan menyalurkan energi mendalam secara maksimal kebagian leher dan kepalanya. Gadis cantik jelita itu pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dia memejamkan matanya menunggu kerambit sampai dilehernya.
Namun tampaknya langit belum mengizinkan gadis cantik jelita itu meninggalkan dunia. Sedetik sebelum kerambit tiba disasaran, selarik tipis angin dingin melintas membuat sobekan panjang pada tangan Inyiak Karambit Sati. Lelaki itu berteriak keras dan bergulingan mundur.
Aaachhhh....
Seorang pemuda sangat tampan berdiri membelakangi Bidadari Suvarnabhumi, menatap tajam Inyiak Karambit Sati. Perlahan pemuda itu berbalik melihat pada Bidadari Suvarnabhumi.
"Istirahat dulu Nona, biar aku bereskan orang tua itu."
"Sialan...!! Siapa kau yang berani ikut campur ??!"
Lindu berbalik menatap Inyiak Karambit Sati dengan tatapan yang sangat dingin.
"Aku tidak tau siapa kalian. Tapi hari ini adalah hari terakhir bagi kalian semua menikmati udara di dunia ini." Suara Lindu terdengar sangat dingin.
"Dengar baik-baik anak muda. Kami adalah aliansi Tengkorak Merah. Aku Inyiak Karambit Sati dari sekte Kerambit Sakti, dan kawan kawanku itu dari sekte Selaksa Racun dan Iblis Tambun Tulang. Bersiaplah untuk mati !!"
Karambit patuih manyacah gunuang
Inyiak Karambit Sati melesat dengan kecepatan tinggi. Sepasang kerambit ditangannya bersinar biru terang.
Lindu mengerutkan keningnya mendengar nama Iblis Tambun Tulang. Wajah tampan pemuda itu makin dingin membeku. Ditangannya terhunus Pedang Mustika Embun.
Benteng langit seribu petir
Lindu menyambut serangan Inyiak Karambit Sati. Pedang Mustika Embun bergerak melingkar. Selapis dinding tipis tercipta. Seribu lidah petir menyambar kearah Inyiak Karambit Sati.
Tak.... Tuk..... Tag....
__ADS_1
Ctar...! Dhaaar....! Tar...!
Aaachhhh...!!
Terdengar bunyi kerambit seperti membentur dinding yang tebal. Diikuti teriakan pilu dari mulut Inyiak Karambit Sati.
Lelaki setengah tua itu terlempar jauh. Badannya penuh bekas luka bakar. Inyiak Karambit Sati memuntahkan cukup banyak darah akibat luka dalam yang dia terima.
"Agar kau tidak mati penasaran. Kalau nanti ditanya penjaga neraka, katakan Raja Pedang yang mengirim mu !"
Lindu kembali menyerang Inyiak Karambit Sati. Pedang Mustika Embun bergerak memotong mendatar. Inyiak Karambit Sati membuat gerakan setengah melingkar dengan karambitnya.
Trak... Trazz...
Crassz....!!
Pedang Mustika Embun menunjukan kelasnya sebagai senjata pusaka tingkat legenda. Energi mendalam tingkat tinggi dilampiri sedikit zhenqi, disambut dengan dengungan seperti tawon. Kerambit pusaka milik Inyiak Karambit Sati dibabat putus beserta pergelangan tangan yang memegang kerambit.
Bukan hanya itu, sinar tajam dibungkus selapis kabut tipis terus memotong leher Inyiak Karambit Sati. Lelaki setengah tua itu tidak pernah membayangkan akan mati dengan mudah ditangan seorang pemuda belia.
Bidadari Suvarnabhumi sangat terkejut melihat ada kilat melewati Inyiak Karambit Sati, begitu dia membuka matanya. Kepala Inyiak Karambit Sati jatuh menggelinding. Ketika kepala itu berhenti pas menghadap kearah Bidadari Suvarnabhumi dengan mata terbelalak.
Aaaa...!!?
Bidadari Suvarnabhumi kaget, teriakan kaget keluar dari mulutnya. Lindu langsung memutar tubuhnya melihat pada Bidadari Suvarnabhumi. Gadis cantik jelita yang lagi awut-awutan itu melihat Lindu dan terdiam. Dadanya tiba-tiba berdebar aneh melihat pemuda tampan perkasa yang berdiri melihat padanya. Pipi Bidadari Suvarnabhumi merona merah. Gadis cantik itu buru-buru menundukkan wajahnya.
"Tet... terimakasih atas pertolongan tuan." Lindu tersenyum kecil.
"Tidak usah dipikirkan Nona. Harap bantu temanmu itu lebih dulu." Lindu menjawab dan menunjuk pada Nuri yang masih tergeletak pingsan. Pemuda itu melesat kearah Datuak Batungkek Ameh dan Pendekar Kabut Maut.
Pendekar Kabut Maut sudah tidak mampu bergerak. Tetua termuda sekte Tapak Dewa terduduk dengan tubuh penuh luka. Bagian yang terluka itu bewarna hitam keunguan. Senjata milik Ular Hitam dan Biso Pati mengandung racun yang mematikan. Untung energi mendalam Pendekar Kabut Maut sangat besar. Sehingga masih bisa menahan racun tidak menjalar sampai ke jantung.
Lindu membantu Pendekar Kabut Maut untuk duduk bersila setelah menotok titik penopang kehidupan di punggung nya. Lindu memberi satu pil bewarna merah yang langsung diterima dan ditelan oleh Pendekar Kabut Maut.
Lindu berdiri disebelah Datuak Batungkek Ameh. Iya menatap tajam pada Kelabang Iblis, Ular Hitam dan Biso Pati.
"Datuak, telanlah pil ini dan istirahatlah sejenak." Lindu berkata pada Datuak Batungkek Ameh sambil menyerahkan sebutir pil bewarna merah. Datuak Batungkek Ameh menerima dan menelan pil bewarna merah dari tangan Lindu.
"Aku akan membantu mu menghadapi mereka Raja Pedang." ucap Datuak Batungkek Ameh. Sesaat kemudian dia duduk bersila ketika hawa sangat panas bergerak dari perutnya. Pil Tangka sagalo Biso yang dia terima dari Lindu mulai bekerja.
Lindu menatap dingin dengan bibir tersenyum ringan. Tatapan matanya tajam mencorong menatap Kelabang Iblis, Ular Hitam dan Biso Pati.
"Sebutkan siapa kalian. Aku adalah Raja Pedang" Lindu berbicara dingin.
__ADS_1
\=\=\=***\=\=\=