
Sabai melirik sekilas kearah Rao Mudo. Gadis remaja yang cantik itu mengangguk.
Birong Bodat menyumpah dalam hatinya. Menghadapi gadis muda itu sangat sulit untuk menang. Jika sekarang diserang oleh gadis remaja dan pemuda dari klan Manusia Harimau akan jadi sangat berat baginya.
"Huh...!! Kalian dari golongan putih tapi masih suka berlaku tidak adil. Rao Mudo tertegun mendengar ucapan Birong Bodat. Sebelum pemuda itu menarik diri, Sabai menanggapi ucapan Birong Bodat.
"Hei pak Tua. Apakah kau takut mat melawan kami yang jelas-jelas hanya seumuran anak bagimu.
Apakah mata mu buta ? Sehingga empat orang rekan kami dikerubuti oleh ratusan orang anggota sekte mu ?
Kalau kau memang takut, hancurkan saja Kundalini mu. Maka kami akan membiarkan nyawa mu tetap nempel di tubuhmu." Rao Mudo tersenyum lebar mendengar ucapan Sabai. Birong Bodat wajahnya menjadi semakin muram. Gadis muda itu terlalu pintar untuk dikelabui.
Panatua sekte Darah Hitam itu diam dan bersiap menyerang. Namun ternyata Rao Mudo sudah bergerak menyerangnya. Birong Bodat tidak begitu pusing dengan serangan Tuan Muda klan Manusia Harimau itu. Disaat Birong Bodat bersiap menyambut serangan Rao Mudo.
Sabai datang dengan sangat cepat. Pedang Bintang ditangannya berkeredep melintas dengan puluhan bayangan pedang yang menebas tubuh Birong Bodat.
Traaanggg...!! Traaanggg...!!
Dhuuuaaaarrr...!! Dezz...!!
Dentingan nyaring suara pedang berbenturan dan ledakan energi besar yang bertumu terdengar sangat keras. Dalam kondisi seperti itu Birong Bodat masih sempat menahan tendangan Rao Mudo.
Tidak mau menunda waktu. Sabai kembali menyerang. Setatut bayangan pedang meluncur bagaikan curah hujan mengejar Birong Bodat. Rao Mudo juga menyusul dengan tamparan harimau yang sangat mengerikan.
Zhiiiiingg...!! Zhuiiiiingg...!!
Whhaaaammm...!!
Bukan hanya itu. Sabai menyusul dengan tebasan menyilang yang meluncur di belakang hujan tusukan seratus pedang.
Pertarungan Raja Pedang melawan Pandeta Iblis Haloan berjalan dengan ketat. Pandeta Iblis Haloan terus mencecar Raja Pedang dengan jurus-jurus tingkat tinggi yang mematikan. Raja Pedang terus mengimbangi sambil membagi perhatiannya kepada pertarungan Bidadari Suvarnabhumi dan pertarungan Sabai dan yang lainnya.
Tindakan Raja Pedang itu menjadikan Pandeta Iblis Haloan sangat-sangat marah. Sebagai tokoh papan atas dia merasa sangat terhina dengan sikap Raja Pedang. Dia sudah menyerang Raja Pedang dengan serius, dibantu oleh Sigulambak. Tapi pemuda yang bergelar Raja Pedang itu tetap santai.
__ADS_1
"Raja Pedang, terimalah kematian mu...!!" Pandeta Iblis Haloan mengembangkan kedua tangannya. Dua bayangan tapak tangan besar bewarna merah kehitaman seakan mau menggencet tubuh Raja Pedang dalam satu tepukan.
Tapak iblis darah hitam...!
Pandeta Iblis Haloan berseru. Angin menderu kuat terasa panas dingin. Raja Pedang tersenyum ringan. Pedang Penakluk Iblis sudah berada dalam genggamannya.
Sigulambak melenting tinggi dan menerjang kearah Raja Pedang diwaktu bersamaan.
Cengkraman iblis darah...!!
Sigulambak berseru. Angin tajam berbau amis meluncur sangat cepat. Raja Pedang menebas tiga kali. Tiga siluet pedang bewarna hitam keemasan meluncur kearah Pandeta Iblis Haloan dan menyambut cakar iblis Sigulambak. Saat itu pula Raja Pedang menunjuk kearah Sigulambak.
Pukulan tanpa ujud...
Raja Pedang mendesis.
"Awaaasss...!!"
Pandeta Iblis Haloan berteriak kepada Sigulambak. Sebelum dia memahami teriakan Patriak sekte Darah Hitam. Terdengar ledakan keras bersusulan dan garingnya suara tulang-tulang patah.
Dhuuuaaaarrr...!!
Tubuh Sigulambak terpental. Tulang dadanya patah tak beraturan. Sebagian patahan itu menusuk paru-paru dan jantungnya.
Panatua Sigulambak muntah banyak darah. Tubuhnya jatuh terbanting bergulingan. Dia berusaha bangkit meski tubuhnya sudah gontai.
"Aku akan mengadu nyawa dengan mu Raja Pedang ?" Suara parau mendesis dan putus-putus terdengar dari mulut panatu Sigulambak. Dia melesat kearah Raja Pedang. Tangannya terjulur membentuk cakar yang amat mengerikan. Saat itu pula Pandeta Iblis Haloan menyerang ganas. Melihat dua serangan maut itu, Raja Pedang tersenyum ringan.
"Matilah...!!" Raja Pedang bergerak sangat cepat.
Slaash... Craasssh...!!
Pedang Penakluk Iblis berkeredep. Menebas melintasi Sigulambak. Serangan dari Pandeta Iblis Haloan dihindari begitu saja. Serangan itu menghantam tubuh Sigulambak yang telah kehilangan kepala.
__ADS_1
Baaamm...!!
Tubuh tanpa kepala itu terlempar dalam keadaan remuk.
"Heemm... sekarang giliran mu Pandeta Iblis !" suara Raja Pedang terdengar halus tapi teramat dingin. Mungkin jika dinginnya suara itu, bisa terlihat. Tubuh Pandeta Iblis Haloan sudah dibungkus oleh es yang tebal.
Bidadari Suvarnabhumi terus menekan Walet Iblis dengan ilmu pedang Tarian Bidadari. Tubuh Walet Iblis telah basah oleh darahnya sendiri.
Pedang Mustika Embun yang digunakan Bidadari Suvarnabhumi, berulang kali merobek kulit Walet Iblis. Walet Iblis tidak pernah membayangkan dirinya dan semua rekan serta anggota sekte Darah Hitam akan mengantar nyawa percuma ke Tano Niha. Yang sangat menyakitkan dan memalukan, mereka semua dibantai sebelum sampai di markas besar yang menjadi markas utama sekte Tengkorak Merah.
Bidadari Suvarnabhumi kembali bergerak. Wanita yang sangat cantik itu berubah menjadi bayangan putih. Dia melesat kearah Walet Iblis.
Bidadari memetik bunga...
Pedang Mustika Embun tiba-tiba mencuat menikam rusuk Walet Iblis dari bawah keatas. Tanpa bisa dicegah, Pedang Mustika Embun membelah jantung dan paru-paru Walet Iblis. Disisa energi terakhir Walet Iblis menyerang Bidadari Suvarnabhumi. Tapi serangan itu luput karena Bidadari Suvarnabhumi sudah melesat kearah pertarungan Nuri dan kawan-kawan.
Walet Iblis menatap kearah Bidadari Suvarnabhumi dengan penuh kebencian. Tapi mungkin hanya sedetik, karena semuanya berobah menjadi gelap. Hitam !!
Pertarungan paling sengit terjadi antara Wisesa dengan Begu Homang. Berada dalam tingkatan yang sama. Menjadikan pertarungan mereka sulit untuk menentukan siapa yang akan memenangkan pertarungan itu.
Wisesa menyerang dengan cara bergulingan cepat lalu melenting tinggi. Sepasang kerambit pusaka meliuk melesat berkilauan. Kerambit menorehkan luka dalam melintang didada Begu Homang. Namun tebasan kearah leher berhasil dihalau dengan tusukan pedang yang menembus rusuk Wisesa meski tidak terlalu dalam.
Peluang besar muncul untuk Wisesa ketika Sigulambak terpental dan berteriak keras. Begu Homang sempat kaget melihat kearah Sigulambak. Peluang yang hanya sekejap itu dimanfaatkan secara maksimal oleh Wisesa.
Pendekar muda Kerambit Maut itu meluncur dengan kecepatan tinggi. Sepasang kerambit pusaka berkilau melewati Begu Homang.
"Jangan pernah lengah dari lawah kuatmu ibliss..."
Panatua sekte Darah Hitam itu merasakan hawa panas memanjang yang tiba-tiba muncul di batang lehernya.
Dia melihat kearah Wisesa dengan tidak percaya.
Dia berusaha memalingkan wajah kearah pertarungan Pandeta Iblis Haloan melawan Raja Pedang. Tapi tindakan itu membuka luka yang sangat lebar dilehernya. Darah memuncrat deras bagai pancuran. Semuanya berobah menjadi sangat gelap. Bagi Homang harus membayar sedikit kelengahan yang dia buat dengan selembar nyawanya.
__ADS_1
Pertempuran yang terjadi antara Nuri, Lenggo, Malin, Marda dan Binu yang kemudian dibantu oleh Bidadari Suvarnabhumi melawan ratusan anggota sekte Darah Hitam. Merupakan pertempuran yang paling menggenaskan. Pada pertempuran itu bukan lagi terjadi peristiwa pembunuhan. Pertempuran itu lebih tepatnya disebut dengan pembantaian terhadap tiga ratusan anggota sekte Darah Hitam. Kemanapun para pendekar muda itu bergerak. Pasti ada anggota sekte Darah Hitam yang tumbang. Kalau tidak mati, mereka pasti dalam kondisi terluka parah.
\=\=\=\=\=***