Raja Pedang

Raja Pedang
#87. Memasuki Hutan Purba Gunung Tua


__ADS_3

Nuri tersenyum lebar. Dia merasa seru sendiri dengan pertarungan melawan srigala srigala itu.


Kawanan srigala kembali bangkit dan bersiap untuk menyerang Nuri. Geraman srigala terdengar cukup menakutkan. Sesekali ada yang menyalak membuat jiwa ikut tergetar.


Ggrrrhhh... Ggrrrhhh...


Aauuu....!! Aauuu... Aaauu..!!


Mereka semakin riuh dan mulai bergerak memutari Nuri. Gadis berambut pendek itu menaikan sebelah alis matanya. Dia merasa heran melihat gerakan kawanan srigala yang menyerangnya.


"Sepintar itukah srigala srigala ini ?" pikirnya dalam hati.


Saat itu kawanan srigala mulai berlari mengitari Nuri. Gerakan kawanan srigala itu semakin cepat dan mulai berbentuk bayangan.


Tiba-tiba beberapa ekor keluar barisan dengan sangat cepat menerjang kearah Nuri. Gadis berambut pendek itu berteriak melenting tinggi lalu menyerang balik dengan kekuatan tingkat bumi.


Tapak dewa menekan bumi


Sebuah bayangan tapak sangat besar turun dengan suara gemuruh. Tapak tangan besar itu menghantam tiga ekor srigala yang datang menyerang Nuri.


Whuuuuzzzh...!!


Baaamm...!! Dhuuuaaaarrr...!!


Tapak tangan berkekuatan besar itu menekan tiga srigala ketanah dan meledak. Serpihan daging srigala beterbangan dan menghatam kawanan srigala yang sedang berlari cepat mengelilingi Nuri. Srigala srigala itu terlempar berhamburan. Namun semua berbalik langsung menerjang Nuri. Belasan ekor srigala spiritual yang besar menerkam dan mencabik cabik Nuri dengan cakar dan giginya.


Nuri mencabut pedangnya. Dia melenting berkelit dan menebas.


Triiiingg...!! Triiiingg...!!


Buughh...!! Crash...!!


Pedang Nuri beradu dengan cakar srigala yang sekeras baja. Bulu binatang spiritual itu juga keras begitu juga dengan kulitnya. Sehingga pedang Nuri tidak mampu melukai kulit srigala spirit itu.


Malin sedikit lebih buruk. Kawanan srigala itu terlalu kuat untuknya. Ada sekitar dua puluh srigala yang mengerubutinya. Sebetulnya Malin sempat membunuh satu srigala ketika pedangnya menebas bagian perut dekat kaki belakang srigala. Namun dia tidak menyadari kalau itu adalah titik srigala. Dan kini Malin mulai terluka oleh sabetan cakar srigala.

__ADS_1


Bidadari menyajikan arak


Dhamma Mayang bergerak menebaskan Pedang Mustika Embun dan menyusul dengan seribu tusukan.


Baaamm...!! Dar.. Derr... Dar...


Terdengar benturan teramat keras dan tusukan beruntun. Namun sebetan dan tusukan itu tidak melukai srigala type alpha. Srigala itu hanya terdorong mundur dan kembali menyerang Bidadari Suvarnabhumi.


Meski energi yang digunakan merupakan esensi energi mendalam tingkat suci, namun kekebalan tubuh srigala type alpha benar benar luar biasa.


"Tusuk matanya, terus tebas bagian belakang tengkorak kepala srigala itu." Tiba-tiba ada transmisi suara dari Lindu bergema dalam kepala Bidadari Suvarnabhumi. Gadis itu melirik Raja Pedang dan tersenyum sekilas.


Bidadari Suvarnabhumi menata kembali kembali posisi serangan nya.


Hujan pedang membasahi bumi


Bidadari Suvarnabhumi berjumpalitan di udara lalu tubuhnya lurus menukik tajam. Ribuan tusukan pedang seperti hujan menerjang ke berbagai bagian tubuh Srigala type alpha.


Srigala type alpha menggeram keras dan menyambut serangan Bidadari Suvarnabhumi dengan cakar dan gigitan nya yang ganas.


Craaangg...!! Triiiingg...!!


Aaauuuuoo...!!


Terjadi beberapa kali benturan pedang Mustika Embun dengan cakar kaki srigala type alpha. Bidadari Suvarnabhumi meliukkan tubuhnya dan berputar diudara. Pedang Mustika Embun menusuk satu mata srigala type alpha dan membeset.


Srigala type alpha melolong keras, dan jatuh terbanting ke tanah. Bidadari Merah segera memburunya. Srigala type alpha berbalik mau melarikan diri. Namun gerakan Bidadari Suvarnabhumi lebih cepat. Dia mengayunkan pedang Mustika Embun dan menebas bagian belakang tengkorak kepala srigala type alpha.


Craasssh...!! Kaaiiing...!!


Srigala type alpha tersungkur mencium tanah. Darah segar mengalir dari luka besar yang mengaga di bagian belakang tengkorak kepala nya.


Bidadari Suvarnabhumi kembali menyerang srigala type alpha pada bagian belakang tengkorak yang sudah terluka.


Craasssh...!! Craakk...!!

__ADS_1


Luka yang lebih dalam terbentuk dan sebuah kristal spiritual bewarna merah terlempar keluar. Bidadari Suvarnabhumi segera meraih kristal spiritual sebesar bola tenis dan menyimpannya.


Melihat srigala type alpha sudah mati. Seluruh kawanan srigala yang masih hidup meraung. Mereka berbalik dan melesat menghilang meninggalkan belasan mayat rekan mereka.


Bidadari Suvarnabhumi menghela nafas panjang dan berjalan kearah Lindu. Dia juga berteriak kepada Nuri dan Malin...


"Nuri, Malin... jangan lupa mengumpulkan kristal spiritual semua srigala itu."


"Ambil juga kulitnya, nanti kita bisa jual di kota Rura Silindung. Harga kulit srigala spirit api itu lumayan tinggi." terdengar suara Lindu menambahkan ucapan Bidadari Suvarnabhumi.


"Uda... kenapa uda duduk saja menonton...!" teriak Nirmala sambil merajuk. Lindu hanya tersenyum kecut melihat istri mudanya bertingkah begitu.


"Ayo Lala, kita membersihkan tubuh dulu disungai kecil di sana." Bidadari Suvarnabhumi mengajak Nirmala untuk membersihkan tubuhnya. Nirmala mengangguk setuju. Dia lalu menoleh kearah Nuri dan berteriak.


"Nuriii... ayo mandi. Biar Malin saja yang ngurusin." Nuri melirik kearah Malin. Pemuda tampan itu mengangguk dan tersenyum.


"Pergilah Nur, biar aku menuntaskan kerjaan ini." Nuri mengangguk mendengar ucapan Malin. Dia memberikan senyum nya yang paling indah untuk Malin. Lalu dia menjejeri langkah Nirmala yang menyusul Bidadari Suvarnabhumi.


Sore bergeser makin jauh namun di hutan gunung Tua sudah tua sudah sangat gelap seperti malam. Lindu segera membuat api unggun. Dia telah mendapat seekor rusa muda yang gemuk ketika Mayang, Nirmala dan Nuri mandi.


Malam itu mereka bermalam dipinggir hutan gunung Tua.


"Kira-kira berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk bisa melewati hutan misterus ini Raja Pedang ?" Malin bertanya pada Lindu.


"Kita mestinya masih akan bermalam dua kali lagi dalam hutan ini sebelum benar-benar meninggalkan nya.


Habis makan nanti, kau telan pil tanchi ini Malin. Lalu kau lakukan siulian total dan manfaat esensi energi langit dan bumi dihutan ini. Mestinya kau bisa menerobos level bumi menengah menjelang pagi." Malin dengan senang hati menerima pil tanchi dari Lindu dan menyimpannya. Setelah tembus tingkat bumi menengah, aku akan menggunakan kristal spiritual srigala api. Mudah-mudahan bisa tembus level bumi tinggi sebelum meninggalkan hutan ini, pikir Malin penuh semangat.


Lindu tersenyum melihat sikap Malin. Dia sangat memahami apa yang ada di dalam kepala Malin.


Malam berjalan lambat dihutan purba gunung Tua. Nuri, Mayang dan Nirmala melihat Malin melakukan siulian, mereka pun melakukan hal yang sama. Tinggallah Lindu yang terbengong sendirian. Dia ternyata harus tugas menjadi penjaga keempat manusia yang sedang melakukan siulian.


Gelam pekat terus merangkak dipendakian malam. Udara malam terasa sangat dingin. Lindu menambahkan kayu kedalam api ditangan. Dia lalu menyeruput kopi pahit panas. Setelah itu dia melihat kearah Dhamma Mayang. Dia melahap wajah cantik menawan milik Dhamma Mayang. Dia melihat kulit halus mulus diwajah cantik Mayang. Bibir mungilnya tampak indah serasi dengan hidung yang runcing dan bulu mata lentik. Pipinya merah ranum seperti paruh selayang dan alis matanya tampak seperti burung camar yang terbang melayang. Sungguh cantik sekali.


Lindu tersenyum melihat semua keindahan sempurna di depan matanya. Tiba-tiba Dhamma Mayang membuka matanya dan tersenyum sangat manis. Lindu jadi gelagapan. Dia melihat Mayang bangkit berdiri dan menuju kearah Lindu.

__ADS_1


Cahaya api unggun menciptakan nuansa indah tubuh sempurna Mayang. Lindu tertegun, dia terpesona merasa seorang bidadari mendatangi dirinya.


\=\=\=\=\=***\=\=


__ADS_2