Raja Pedang

Raja Pedang
#99. Kota Babilang Kaum


__ADS_3

Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi berdiri diserambi istana Madania. Hari ini mereka akan pergi ke kota Babilang Kaum.


Mangaraja Tohir, Ratu Shima, Kaisar Dharma Andaleh, Kale Lepak Sakti dan lainnya berdiri mengantar mereka.


"Ayahanda Kaisar, kami pergi sekarang" Bidadari Suvarnabhumi menjura pada Kaisar Dharma Andaleh. Kaisar Dharma Andaleh memeluk putrinya dan menepuk bahu Raja Pedang.


"Kalian berdua hati-hati dan harus selalu berdekatan." Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi mengangguk.


"Bunda Ratu, Ayah Mangaraja, kami pamit." Raja Pedang menjura dalam, dan Bidadari Suvarnabhumi memeluk erat Ratu Shima.


"Hati-hatilah anakku. Lindu jangan jauh-jauh dari Mayang."


Lindu mengangguk khidmat.


Setelah mengucapkan salam kepada semua. Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi melesat keudara. Keduanya terbang dengan kecepatan tinggi. Hanya sekejap saja, mereka berdua hilang dari pandangan mata.


Selain Kaisar Dharma Andaleh dan Ratu Shima terkejut dan mulut mereka terbuka melihat dua pendekar muda itu bisa terbang.


Malin dan Nuri baru saja memasuki kota Babilang Kaum. Setelah berpisah dari Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi di kota Rura Silindung hampir seminggu yang lalu. Mereka berjalan santai dengan kereta kuda dari kota Rura Silindung.


Setelah makan siang mereka langsung menuju markas pendekar gabungan yang telah disediakan untuk pusat kegiatan di kota Babilang Kaum. Dua orang pendekar muda menerima kedatangan mereka.


"Maaf, bisa jelaskan siapa kalian dan ada keperluan apa kesini ?" Pangarabu salah seorang wakil klan Mangaraja yang lagi bertugas bertanya kepada Nuri dan Malin. Meski suara Pangarabu terdengar seperti orang marah, namun pemuda itu tersenyum ramah kepada Nuri dan Malin.


Nuri dan Malin saling bertukar pandang mendengar suara dan melihat sikap Pangarabu.


"Saudara Pangarabu memang suara dan gaya bicaranya begitu. Tidak usah bingung." sebuah suara halus, renyah bersahabat terdengar. Malin dan Nuri melihat seorang gadis hitam manis tersenyum ramah.


"Aku Malin dan dia Nuri. Kami berdua dari sekte Tapak Dewa di Suvarnabhumi."

__ADS_1


"Oh, saya Nira. Apakah sekte Tapak Dewa hanya diwakili oleh kalian berdua saja ?" Gadis hitam manis yang ternyata bernama Nira bertanya dengan dengan nada heran.


"Lho... memangnya rekan kami yang lain dan Tetua kami belum pada datang ?" Nuri sedikit bingung.


"Nuri... Sekte yang sudah datang baru sekte Alang Barat, sekte Secabik Kafan, klan Caniago, klan Mangaraja dan lainnya. Tapi sekte Tapak Dewa belum datang.


"Oh, sekte Secabik Kafan sudah datang. Apakah saudara Wisesa juga sudah datang ?"


Tiba-tiba terdengar suara lantang Wisesa menyapa.


"Saudara Malin, Nuri. Kalian berdua baru datang ? Bukankah jauh lebih dulu jalan dari ku ?!"


"Hai Wisesa... Wah panjang ceritanya." Malin menanggapi.


"Oh... kalian berdua kenal dengan Pendekar Kerambit Maut. Kalau begitu silahkan masuk." Nira mempersilahkan Nuri dan Malin masuk ke posko.


"Ayo, kalian berdua ikut aku. Kita makan dulu, setelah itu aku antar kalian ke bangunan khusus untuk sekte Tapak Dewa." Malin dan Nuri mengikuti Wisesa menuju sebuah bangunan besar.


Bangunan besar itu ternyata sebuah rumah makan. Ketika memasuki rumah makan itu, banyak orang tengah makan siang. Mereka semua adalah anggota dari berbagai klan dan sekte yang akan ikut penyerbuan ke markas Tengkorak Merah di Tano Niha.


Mereka memilih meja kosong yang ada dekat jendela. Seorang pelayan datang menanyakan pesanan mereka. Setelah pelayanan pergi menyiapkan pesanan mereka.


"Jadi, kenapa kau terlambat sampai dimarkas gabungan pendekar ini Malin ?" Wisesa si Kerambit Maut langsung bertanya setelah pelayan itu pergi. Malin dan Nuri menceritakan semua kejadian secara detail. Mulai dari mereka berdua bertemu dengan Lindu, Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi.


"Setelah kami menolong klan Manusia Harimau, Nirmala pergi bersama Lenggo putri Pimpinan klan Manusia Harimau.


Ketika mereka berdua kembali ke perkampungan klan Manusia Harimau. Di perkampungan klan Manusia Harimau itu pula Nirmala istri Lindu tewas ditangan Ang Coa Mosin." Malin berhenti sejenak. Wisesa berubah pucat. Dia bertanya dengan suara penuh tekanan. Jiwanya terguncang hebat mendengar berita kematian Nirmala.


Wisesa masih menyimpan rasa dihatinya untuk Nirmala. Dia teringat pertemuan perjalanan bersama Nirmala menuju padepokan sekte Alang Barat.

__ADS_1


Dia yang sangat menyukai Nirmala. Akhirnya harus merelakan gadis yang selalu menghiasi mimpinya kepada Lindu si Raja Pedang. Akhirnya perasaan yang tidak sempat dinyatakan itu, terkubur dilekuk hatinya yang paling dalam. Hal itu juga menjadi pemicu utama Wisesa untuk mendalami ilmu silatnya dan berlatih gila-gilaan.


"Coba jelaskan kejadiannya Malin." meski mendesis dan penuh tekanan, getar lara terdengar cukup jelas dalam suara Wisesa."


"Jadi ketika Nirmala dan Lenggo kembali, Klan sedang dikunjungi oleh sekitar dua puluhan orang dari sekte Tengkorak Merah. Ada empat orang tetua dalam rombongan Tengkorak Merah. Tengkorak merah dipimpin oleh Ang Coa Mosin salah seorang tetua Tengkorak Merah dari markas utama di Tionggoan. Dia didampingi oleh Iblis Binal Lembah Tengkorak dan Siampa Hitam dari sekte Iblis Tambun Tulang dan Setan Bangkai seorang pendekar golongan hitam tingkat suci, yang sudah bergabung dengan Tengkorak Merah.


Ketika Nirmala melihat ada anggota Tengkorak Merah, Dia langsung menyerang dan membunuh mereka. Setelah membunuh sepuluh orang anggota Tengkorak Merah. Tiba-tiba muncul Ang Coa Mosin. Orang Tionggoan itu langsung bertarung dengan Nirmala. Meski Nirmala sudah ditingkat suci menengah, namun Ang Coa Mosin sudah berada ditingkat agung.


Pada saat itu kami berempat, Aku, Nuri, Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi sedang ngobrol dipendopo belakang.


Raja Pedang tiba-tiba melesat kearah depan. Sesaat kemudian terdengar dentuman pertarungan. Kami segera menyusul. Ketika kami sampai didepan, kami melihat Raja Pedang tengah memeluk Nirmala. Gadis itu ternyata sudah tidak bisa tertolong." Malin kembali berhenti untuk menarik nafas dalam-dalam. Wisesa menggenggam kepalan tangannya dengan keras. Sampai buku tangannya memutih.


"Terus...???!" Wisesa bertanya dengan suara bergetar.


"Tentu saja Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi marah besar.


Ang Coa Mosin disiksa oleh Raja Pedang sebelum dibunuh. Siampa Hitam dirobah menjadi bubur daging.


Iblis Binal Lembah Tengkorak mengalami perlakuan yang hampir sama dengan Ang Coa Mosin. Namun dia menerima perlakuan pembunuhan yang sadis itu dari Bidadari Suvarnabhumi." Malin kembali berhenti. Dia melihat kearah Nuri. Gadis berambut pendek itu mengerti arti tatapan mata Malin.


"Kami melanjutkan perjalanan ke kota Rura Silindung. Sebelumnya Datuk Rao Api pimpinan Klan Manusia Harimau menyatakan akan ikut dalam penyerbuan ke Tano Niha.


Kami berpisah dengan Lindu dan Mayang dikota Rura Silindung. Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi menemui Ratu Shima dan Mangaraja Tohir, orang tua Nirmala. Kami berdua langsung kesini."


Pelayan datang membawa pesanan makanan mereka. Setelah menatanya, pelayan kembali meninggalkan mereka.


Tidak ada lagi yang bicara diantara mereka bertiga. Mereka menatap makanan lezat yang sudah terhidang tanpa selera.


\=\=\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2