Raja Pedang

Raja Pedang
#73. Hancurnya sekte Kala Hitam


__ADS_3

Tubuh Alang Babega bergetar hebat. Tangannya mengepal sangat kuat dan mukanya merah padam. Seriti Merah segera menggenggam tangan Alang Babega.


"Tenangkan hati mu uda Sutan" Seriti Merah berbisik lirih. Alang Babega menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. Pria gagah, tetua termuda sekte Alang Barat mengulang menarik nafas panjang beberapa kali. Perlahan dia kembali menjadi tenang.


Alang Babega dan Seriti Merah berdiri di sekte Awan Bararak yang sudah hancur berantakan. Banyak sekali mayat bergelimpangan. Bau bangkai sangat menusuk hidung.


"Seriti, gunakan zhenqi untuk menutup syaraf penciuman mu." Alang Babega berkata kepada istrinya. Seriti Merah melakukan apa yang dikatakan suaminya. Perlahan aroma bangkai yang sangat busuk menghilang.


Alang Babega mencari jasad Tuanku Labai Karat. Setelah mencari-cari cukup lama, dia menemukan kepala Labai Karat yang tergeletak berjarak enam tombak dari tubuhnya. Tubuh Alang Babega tiba-tiba menggigil hebat melihat jasad kakaknya. Kepala yang sudah banyak memar terpisah dari tubuh yang penuh luka.


Alang Babega mengubur jasad Tuanku Labai Karat setelah mengambil cincin ruangnya. Ia menggunakan pedang Labai Karat sebagai nisan. Bersama Seriti Merah, semua mayat dikubur secara bersamaan dalam satu lobang besar. Setelah itu dia mencari Sabai keberbagai tempat.


Alang Babega sudah mencari kemana mana, namun tidak bisa menemukan Sabai. Begitu juga dengan Seriti Merah. Mereka terus mencari kesegenap tempat sampai akhirnya mereka tiba dibekas ruangan milik Labai Karat. Satu satunya ruangan yang masih utuh yang ada di sekte Awan Bararak.


Paling lama waktu yang bagi Alang Babega dan Seriti Merah diam dan mengamati segala petunjuk yang ada di ruangan itu. Namun tetap tidak menemukan apapun disana. Akhirnya Alang Babega menyerah, dia lalu mengajak Seriti Merah kembali keluar. Saat itu pula Seriti Merah melihat ada kejanggalan pada dinding yang ada disudut ruangan.


"Tunggu...!"


Seriti Merah berkata sambil melangkah mendekati dinding itu. Dia mulai meraba raba bagian dinding itu. Tiba-tiba...


Ddrrrtt...!


Terdengar getaran halus dan terbuka sebuah pintu. Alang Babega segera berdiri didekat Seriti Merah dan melihat sebuah lorong tanah yang cukup lebar.


Alang Babega segera masuk diikuti oleh Seriti Merah. Lalu terdengar suara...


Ddrrrttt....! Bamm...!!


Pintu lorong itu menutup sendiri setelah Seriti Merah melewatinya. Kegelapan segera menyelimuti mereka. Saking gelapnya, tangan sendiri pun tidak terlihat. Alang Babega memejamkan matanya sejenak, lalu menyalurkan zhenqi ke mata. Perlahan semuanya kembali terlihat. Alang Babega melihat Seriti Merah masih meraba dalam gelap.


"Pejamkan dulu matamu Seriti dan salurkan zhenqi ke mata mu." Seriti Merah perlahan mulai bisa melihat dengan jelas lorong rahasia itu.


Mereka mulai menyusuri lorong rahasia itu. Tidak tau bakal keluar dimana nantinya. Lorong rahasia itu sangat panjang, berbelok belok dan naik turun. Alang Babega dan Seriti Merah terus menyusuri lorong rahasia itu.


---***


Raja Pedang dan Sepasang Bidadari melayang pelan diatas hutan Bulian. Setelah melintasi lembah Bajubang, mereka menemukan wilayah hutan yang ditumbuhi pohon andaleh. Tidak terlalu lama, mereka menemukan sebuah bangunan besar, dikelilingi oleh cukup banyak rumah panggung. Area bangunan itu dikelilingi oleh benteng kayu gelondongan setinggi hampir empat meter.

__ADS_1


Perlahan mereka turun dan berdiri diatas pagar benteng. Seorang anggota Kala Hitam melihat mereka. Dia berteriak keras sehingga semua orang yang mendengar teriakannya melihat kearah tunjuknya.


"Awaaass... Ada penyusup..!" orang itu langsung memukul kentongan. Dalam sekejap waktu ratusan orang berdiri di lapangan depan bangunan utama.


Lindu, Nirmala dan Mayang melayang turun ketengah lapangan. Semua orang langsung mengepung mereka. Tidak ada yang menyadari bahwa jarak antara benteng dengan tengah lapangan sangat jauh, dan tidak mungkin bisa dicapai dengan satu lompatan.


Seorang pria gemuk dengan rambut riap riapan mendekati mereka. Dia adalah Kala Hijau tetua ketiga sekte Kala Hitam.


"Siapa kalian, dan urusan apa kalian kesini ?" suaranya kecil dan melengking, sangat beda dengan tubuhnya yang gemuk. Lindu menatap lelaki gemuk itu.


"Gendut, sepertinya engkau adalah Kala Hijau tetua ketiga sekte Kala Hitam." Lindu berkata tanpa menjawab pertanyaan pria itu.


Kala Perak, Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak keluar dan berdiri disebelah Kala Hijau.


"Sudah tau tidak segera menyebutkan nama dan bersujud ?!!" suara keras khas melengking Kala Hijau, terdengar penuh ancaman.


"Kau pasti Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak" Lindu menunjuk Ang Coa Mosin dan Iblis Binal Lembah Tengkorak. Pria bermata sipit itu tiba-tiba tatapan matanya berubah jadi tajam dan mencorong penuh kekuatan magis. Iblis Binal Lembah Tengkorak tersenyum genit. Perempuan gatal itu langsung bergairah melihat Lindu.


"Aah... pemuda tampan, kau langsung bisa mengenalku. Kau pantas menjadi kekasih satu, dua malam bagiku." Iblis Binal Lembah Tengkorak melambaikan tangannya. Dia langsung mengirim sihir penakluk jiwa lewat lambaian. Lindu tersenyum dan berkata.


"Baiklah, kalian semua sudah berkumpul. Aku adalah Raja Pedang dan mereka adalah Sepasang Bidadari." Lindu menunjuk Nirmala dan Dhamma Mayang. Kedua nyonya muda cantik jelita itu tersenyum lebar. Keduanya terlihat sangat bersemangat.


Semua anggota dan Tetua sekte Kala Hitam dan kedua utusan Tengkorak Merah tertegun.


"Haiyyaaa... dicali kemana mana, kalian malah datang sendili mengantal nyawa, haa ha ha haa haaa..." Ang Coa Mosin berkata dengan suara cadel.


"Ha haa haaa... kalau ga bisa ngomong, upahkan saja ke orang lain, ha haa..." Lindu menanggapi Ang Coa Mosin sambil tertawa merendahkan.


"Tak pellu bicala lagi, selang dan bunuh meleka !!" Ang Coa Mosin berteriak keras dan melesat menyerang Raja Pedang.


Naga api membakal sulga


Bayangan seekor naga api menerjang kearah Lindu. Suara gemuruh menderu kencang dan udara menjadi panas. Ang Coa Mosin tidak main-main, dia menyerang dengan salah satu ilmu terbaiknya.


Raja Pedang tersenyum lebar dan ringan, senyuman unik yang selalu dia tampilkan saat bertarung. Dia langsung menyambut dengan menunjuk bayangan naga api dan Ang Coa Mosin.


Pukulan tanpa ujud

__ADS_1


Tidak ada angin tajam atau kesiutan angin terbelah. Tidak ada satupun yang menyadari, tiba-tiba...


Blaarr...!! Buaghhh...!!


Huk....!!


Terdengar ledakan besar dan Ang Coa Mosin tersentak ke belakang dan terbatuk. Pria Tionggoan itu memuntahkan seteguk darah. Sementara itu benturan dua esensi energi besar menimbulkan ledakan sangat keras. Percikan api sangat panas menyebar luas dan menghantam anggota sekte Kala Hitam. Puluhan orang bergelimpangan dan tewas. Tubuh mereka hangus terbakar. Semua anggota sekte Kala Hitam yang masih hidup bergerak menjauh dari pertarungan itu.


Sementara itu, Kala Perak, Kala Hijau dan Iblis Binal Lembah Tengkorak menyerang Nirmala dan Dhamma Mayang secara bersamaan. Kedua wanita cantik menawan itu saling lirik dan mengangguk.


Lelembut menembus bayangan


Nirmala melesat dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari pada Kala Hijau.


Kala Hijau yang juga sedang menyerang Nirmala pucat, melihat gerakan lawan yang melebihi nya. Pedang Bintang berkelebat. Nirmala menghilang sekejap dan sebuah sinar tajam melewati leher Kala Hijau.


Zzsst...!! Craasssh...!!


Pandangan Kala Hijau tiba-tiba menjadi gelap, pria gendut itu tersungkur. Kepala gemuknya menggelinding meninggalkan tubuhnya. Lehernya putus dibabat pedang Bintang.


Bidadari menebar bunga


Tubuh Bidadari Suvarnabhumi meliuk gemulai. Pedang Mutiara Biru bergerak maliuk turun naik.


Traaanggg...!! Traaack...!!


Benturan keras terjadi ketika pedang Mutiara Biru membentur pedang Iblis Binal Lembah Tengkorak dan capit baja Kala Perak.


Bidadari Suvarnabhumi surut terdorong mundur tiga langkah. Bukan meringis menahan tekanan tenaga mendalam sangat besar.


Bidadari Suvarnabhumi tersenyum lebar. Matanya berbinar senang menatap Kala Perak dan Iblis Binal Lembah Tengkorak. Nirmala muncul disebelah Bidadari Suvarnabhumi.


Kala Perak dan Iblis Binal Lembah Tengkorak tertegun. Mereka menoleh kearah Kala Biru. Tetua ketiga sekte Kala Hitam sudah tergeletak, dan kepalanya sudah berpisah dengan badan. Amarah besar membakar dadanya.


"Ayo kita mulai pestanya kakak !" Dhamma Mayang mengangguk dan tersenyum manis mendengar ajakan Nirmala.


"Ayo...!!" Kedua wanita cantik itu mulai menata posisi menyerang.

__ADS_1


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2