
Lindu berjalan mendekati semua orang. Pemuda itu membiarkan Nirmala bergayut dilengannya.
"Terimakasih Raja Pedang atas pertolongan mu kepada kami. Sungguh kami telah berhutang kepada anda." Dewi Rambut Emas, Pendekar Kabut Maut dan semua murid sekte Tapak Dewa menjura kepada Lindu. Lindu buru-buru balas menjura.
"Tidak ada hutang apapun diantara kita. Bukankah sudah seharusnya kita saling membantu ?" Lindu tersenyum ramah pada mereka semua. Dia menatap Pendekar Kabut Maut.
"Bagaimana kondisi anda sekarang Tuan ?"
"Sekali lagi terimakasih Raja Pedang. Pil yang anda berikan sungguh luar biasa. Aku kembali merasa sangat sehat"
Bidadari Suvarnabhumi mendekati Lindu, gadis itu tersenyum lembut dan menjura pada Lindu.
"Aku Dhamma Mayang sering dipanggil dengan Bidadari Suvarnabhumi. Aku sangat berterima kasih kepada anda Raja Pedang. Anda telah menyelamatkan nyawaku dari tangan Inyiak Karambit Sati. Berkat pil yang anda berikan aku kembali prima dan tidak ada bekas luka satupun ditububuhku. Bolehkah anda menolong Nuri sahabat ku ?" Bidadari Suvarnabhumi minta Lindu memeriksa Nuri yang masih pingsan.
Lindu tersenyum ramah. Dia mengikuti langkah Bidadari Suvarnabhumi dan memeriksa Nuri.
Setelah memeriksa kondisi Nuri dan mengobatinya, Lindu memberikan pil penyembuh. Terdengar rintihan halus dari gadis manis berambut pendek itu. Semua orang melakukan siulian setelah menerima pil penyembuh dari Lindu. Butuh waktu sekitar satu sampai dua jam untuk mereka pulih kembali.
Bidadari Suvarnabhumi, Pendekar Kabut Maut dan Datuak Batungkek Ameh ngobrol dan saling berkenalan bersama dengan Lindu.
"Raja Pedang, aku dikenal sebagai Pendekar Kabut Maut. Kami berasal dari kekaisaran Suvarnabhumi, tepatnya sekte Tapak Dewa. Nama aku sebenarnya Halimun dan aku seorang tetua termuda di sekte Tapak Dewa."
Kemudian Pendekar Kabut Maut menyebutkan semua anggota sekte Tapak Dewa yang ikut. Termasuk anggota baru mereka Malin Tanjung. Malin Tanjung adalah putra Tuanku Bandaro Sati, penguasa kota Pariaman. Pemuda itu baru saja bergabung dengan sekte Tapak Dewa. Pendekar Kabut Maut menjelaskan.
Lindu juga memperkenalkan dirinya beserta seluruh rombongannya. Setelah saling mengenal mereka bercerita dan bertukar informasi tentang dunia rimba persilatan. Kembali tentang munculnya gerombolan Tengkorak Merah menjadi hal serius diperbincangkan.
"Kekaisaran Suvarnabhumi sepertinya juga ada gerombolan Tengkorak Merah. Apakah gerombolan ini begitu besar ?" Pendekar Kabut Maut mengemukakan pandangannya.
"Mestinya gerombolan Tengkorak Merah merupakan suatu kekuatan besar. Ketika kami menghancurkan markas cabang mereka di hutan Tebo, kepala markas cabang kecil itu berada ditingkat langit menengah" Datuak Batungkek Ameh memberikan masukan. Lindu serius mendengarkan semua informasi tentang gerombolan Tengkorak Merah.
"Dimana markas induk gerombolan Tengkorak Merah dan ada beberapa banyak cabang-cabang mereka ? Jika gerombolan Tengkorak Merah ada didua kekaisaran, kekaisaran Pagaralam dan kekaisaran Suvarnabhumi. Maka tidak menutup kemungkinan mereka juga ada di kekaisaran Madania di Utara sana." Bidadari Suvarnabhumi ikut memberi pandangan.
__ADS_1
"Aku akan minta kaisar Suvarnabhumi untuk lebih mengawasi pergerakan gerombolan Tengkorak Merah di Suvarnabhumi" katanya melanjutkan. Lindu melihat kepada Bidadari Suvarnabhumi.
"Bidadari Suvarnabhumi adalah tuan putri kekaisaran Suvarnabhumi" Pendekar Kabut Maut menjelaskan pada Lindu. Pemuda tampan itu mengangguk, kemudian menatap Bidadari Suvarnabhumi lebih lama. Gadis cantik jelita itu buru-buru menunduk, namun rona merah muncul terang di pipinya. Pendekar Kabut Maut dan Datuak Batungkek Ameh melihat dua remaja itu bergantian dan tersenyum kecil. Pendekar Kabut Maut bertanya-tanya dalam hati, apakah Bidadari Suvarnabhumi telah membuka hatinya terhadap Lindu. Bisa jadi bener. Selama gadis cantik jelita ini selalu menampilkan wajah dingin pada siapapun. Pendekar Kabut Maut baru tersadar jika wajah gadis cantik itu tidak seperti biasa.
Satu demi satu mereka yang melakukan siulian mulai bangun. Semua merasa sangat senang karena sudah pulih seperti sedia kala. Nirmala langsung bangkit dan pindah duduk disebelah kanan Lindu, karena sebelah kiri Lindu ada Bidadari Suvarnabhumi.
"Lala, ini Dhamma Mayang dari sekte Tapak Dewa. Mayang ini Lala, tepatnya Nirmala. Mestinya kalian berdua bisa jadi sahabat baik" Lindu mengenalkan Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Kedua gadis cantik itu berjabat tangan agak lama. Melalui jabat tangan itu, mereka berdua saling memahami niat hati masing-masing.
"Ayo Nirmala kita ngobrol berdua ditempat lain" Bidadari Suvarnabhumi mengajak Nirmala menjauh. Nirmala mengikuti Bidadari Suvarnabhumi yang melangkah menuju pantai. Kedua gadis cantik jelita itu duduk dipinggir pantai sambil menatap ombak yang menghempas di pasir pantai saling berkejaran.
Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi ngobrol serius sampai akhirnya muncul kesepakatan diantara mereka berdua. Tentu saja itu berkaitan dengan diri Lindu.
Menjelang pagi, mereka menyusuri pantai melanjutkan perjalanan menuju sekte Alang Barat. Malin Tanjung menjadi pemandu jalan dibantu Seriti Merah. Datuak Batungkek Ameh dan Pendekar Kabut Maut ngobrol banyak hal sambil berjalan. Bidadari Suvarnabhumi, Nirmala dan Murni jalan bertiga. Kadang terdengar cekikikan mereka. Suasana perjalanan pagi itu terasa sangat menyenangkan hati. Sehingga desau angin laut dan deburan ombak yang menghempas di pantai terasa bagaikan alunan musik indah mengiringi langkah mereka.
Menjelang siang mereka berhenti untuk makan di warung makan Tek Bida di pantai Gandoriah. Warung makan ini menyediakan menu khusus masakan laut.
Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala bahu membahu melayani Lindu. Lindu merasa sedikit bingung melihat sikap kedua gadis cantik itu. Malin Tanjung dan Wisesa melirik mereka dengan sedikit masgul.
Dari kejauhan Lindu melihat dengan jelas ada lima orang murid didepan gerbang sedang menyambut satu rombongan berseragam biru muda. Lindu memperhatikan murid-murid Alang Barat yang menyambut para tamu. Meski jarak mereka masih sangat jauh. Lindu bisa membaca tingkatan mereka. Empat orang berada ditingkat perak dan yang satunya ditingkat emas.
Dalam waktu sepenanakan nasi, mereka sampai didepan gerbang sekte Alang Barat. Murid-murid yang bertugas menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang di sekte Alang Barat. Maaf, boleh kami diberi tau, para Tetua dan saudara saudari semua dari sekte mana ?" pemuda yang ditingkat emas menyapa dengan ramah. Dewi Rambut Emas maju dan memberikan sebuah plakat undangan.
"Kami tetua sekte Tapak Dewa dari kekaisaran Suvarnabhumi, membawa delapan murid." semua murid yang berjaga menjura menyambut kedatangan sekte Tapak Dewa.
Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa maju mengenalkan diri.
"Aku Datuak Batungkek Ameh dan muridku Wisesa datang dari Lahat, sekte Secabik Kafan."
"Selamat datang tetua Datuak, apakah sekte Secabik Kafan hanya datang berdua saja ?" murid yang bertindak sebagai kepala penjaga bertanya sopan.
__ADS_1
"Oh... berarti rombongan lain dari sekte Secabik Kafan belum pada sampai ?" Datuak Batungkek Ameh menjawab retoris. Setelah menyambut dan menyuruh dua orang murid penjaga mengantar rombongan sekte Tapak Dewa dan Secabik Kafan ke bungalow yang disiapkan untuk setiap sekte, kepala penjaga melihat kearah Seriti Merah dan menjura dalam.
"Selamat datang tetua Seriti Merah, rombongan sekte Angso Duo sudah datang sejak dua hari lalu." Pemuda itu sudah tau dengan Seriti Merah dan sudah menerima informasi bahwa Seriti Merah akan menyusul bersama murid pribadinya Nirmala. Murid penjaga itu melihat kearah Lindu.
"Maaf, apakah saudara ku juga dari sekte Angso Duo ?" Pemuda itu bertanya dengan sedikit rasa heran. Sejauh yang dia ketahui sekte Angso Duo adalah sekte khusus beranggotakan perempuan semua. Lindu agak sedikit celingukan. Nirmala segera menjelaskan,
"Dia adalah Raja Pedang, ikut bersama kami. Mungkin saudara bisa memberitahu pada kakek Alang Bangkeh lebih dahulu ?"
Menanggapi penjelasan Nirmala, murid yang menjadi kepala penjaga minta izin sebentar dan langsung menghilang. Kelebihan murid-murid Alang Barat, mereka memiliki ilmu meringankan tubuh yang baik. Tidak berapa lama pemuda itu sudah kembali bersama Patriak sekte Alang Barat dan dua orang tetua. Seriti Merah buru-buru menjura memberi penghormatan. Nirmala berjalan kedepan mencium tangan Alang Bangkeh.
"Adakah kakek Tuangku sehat dan senang-senang saja ?" Tuangku Nan Sati tersenyum dan mengusap kepala Nirmala.
"Apakah ini Nirmala gadis kecil yang centil dan usil kesayangan kakek ? Waaah wah, kamu udah besar dan cantik banget sekarang yaa ?" Tuangku Nan Sati menjawab Nirmala dengan penuh kasih sayang. Lelaki tua itu sudah beberapa kali bertemu Nirmala. Dia tau siapa Nirmala, namun dia sangat menyayangi Nirmala.
Tuangku Nan Sati menatap lurus-lurus dan dalam pada Lindu. Matanya yang tajam mulai mengembun. Meski telah tumbuh menjadi pemuda belia lelaki tua itu tetap mengenal tetap mengenal Lindu dengan baik. Kedua lengan lelaki tua itu terkembang dari mulutnya terdengar suara seperti rintihan.
"Lin...... du...," suara Tuangku Nan Sati terdengar bercampur tangis. Kerinduan dan kesedihan yang selama sepuluh tahun menggayuti dada dan pundaknya buncah.
"Ungku..." Lindu memeluk erat lelaki tua itu. Pemuda tampan yang sangat sakti itu tidak mengira kakeknya bisa langsung mengenal dirinya. Sungguh dia merasa sangat terharu dan bahagia. Air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya.
Seriti Merah dan Nirmala serta semua yang ada di gerbang sekte Alang Barat tergugu, lalu tersenyum haru.
"Jadi uda Lindu adalah cucu kakek Tuangku yang hilang waktu berusia empat tahun ?" Nirmala tak mampu menahan rasa ingin tahunya.
Tuangku Nan Sati dan Lindu melepaskan diri dan menatap Nirmala.
"Benar Lala..."
"Ayo kita ke rumah dulu. Kau juga ikut Seriti dan Nirmala" Tuangku Nan Sati mengajak mereka masuk.
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1